
Pendekar agung dari Istana Naga Api menceritakan kepada Jing Yang jika mereka diperintahkan Patriark Istana Naga Api untuk menangkap anak muda berumur lima tahun yang dijaga pria dan wanita paruh baya.
Imbalan yang diberikan juga sangat besar bahkan sumber daya yang melimpah ruah membantu perkembangan Istana Naga Api.
“Jadi siapa orang yang memberikan perintah pada kalian dan memberikan imbalan itu?” Tanya Jing Yang. Dia yakin jika orang yang memberikan perintah pada Istana Naga Api memiliki kekayaan atau kekuatan yang besar. Mengingat Istana Naga Api adalah salah satu sekte terbesar di Kekaisaran Jiang.
Tidak ada jawaban dari pendekar agung tersebut. Sembari menyarungkan Pedang Dewa Naga, Jing Yang menusuk jantung pendekar agung tersebut dengan Pedang Gravitasi.
Dua orang yang melindungi seorang anak berumur lima tahun bernapas lega melihat sepuluh pendekar agung yang mengejar mereka telah mati. Tak lama mereka kembali dikejutkan dengan kondisi Jing Yang.
‘Bukankah pendekar muda ini adalah pendekar bumi?’ Pikir pria paruh baya.
“Terimakasih, jika bukan karena bantuan kalian berdua, mungkin kami telah mati...” Lalu Pria paruh baya itu memberi hormat pada Jing Yang dan Ye Xiaoya.
“Tidak perlu sungkan, lagipula aku bersama guruku sedang dalam perjalanan. Sudah sewajarnya membantu orang dalam kesulitan.” Jing Yang mengamati anak kecil yang berumur lima tahun. Melihatnya membuat Jing Yang mengingat masa lalunya.
Pria paruh baya memperkenalkan dirinya bernama Bai Huang sementara wanita paruh baya bernama Zhu Qian, dan anak kecil yang berumur lima tahun bernama Bai Lang.
“Mereka berdua adalah istri dan anakku, kami berdua sempat tinggal di desa yang dekat dengan Kota Shendu, tetapi beberapa bulan belakangan ini kami selalu dikejar-kejar pendekar.” Bai Huang menjelaskan situasinya jika mereka adalah penduduk dari Kekaisaran Qing.
Setelah mengungsi ke Kota Shendu, ada sekelompok pendekar yang membunuh penduduk Kekaisaran Qing.
Jing Yang mengangkat alisnya setelah mendengar nama Kekaisaran Qing, dia merasa tidak bisa membiarkan seorang anak yang lebih muda darinya hidup dalam pelarian. Entah mengapa melihat mata anak tersebut, membuat Jing Yang ingat ketika dirinya tidak dapat berbuat apapun di Kota Yunfei. Pancaran keputusasaan adalah yang dia lihat dari kedua bola anak berumur lima tahun itu.
“Guru Xiaoya, lebih baik kita menginap di Kota Cunfei. Aku ingin mereka menjadi bagian Rumah Lima Warna dan aku tidak bisa membiarkan mereka hidup dalam pelarian.” Jing Yang berkata pada Ye Xiaoya cukup pelan.
Ye Xiaoya tersenyum dan mengajak Bai Huang, Zhu Qian dan Bai Lang menuju Kota Cunfei. Perjalanan menuju Kota Cunfei sudah dekat sehingga mereka hanya perlu berjalan kaki.
__ADS_1
Penjaga gerbang yang menjaga Kota Cunfei mengenal Jing Yang karena pernah membantu mengurus Hewan Buas. Tidak butuh waktu lama bagi mereka memasuki Kota Cunfei.
Malam di Kota Cunfei cukup ramai. Jing Yang menatap Kediaman Walikota Kota Cunfei yang megah. Saat ini dia mencari sebuah penginapan untuk bermalam. Setelah berjalan mengelilingi Kota Cunfei, akhirnya Jing Yang sampai di penginapan yang memiliki tiga lantai. Di depan penginapan tertulis jelas nama penginapan tersebut. Nama yang tertera di batu bertuliskan Penginapan Batu Dinding.
Disamping Penginapan Batu Dinding ada restoran yang masih menjadi bagian dari penginapan.
“Silahkan masuk Tuan Muda, kamar yang tersisa hanya lantai tiga dan merupakan kamar terbaik di penginapan ini karena dapat melihat keindahan Kota Cunfei dari lantai atas.” Seorang pelayan perempuan menyambut kedatangan Jing Yang dengan penuh keramahan.
Satu kamar di lantai tiga seharga lima belas keping emas. Harga yang mahal karena kebanyakan yang menginap di Kota Cunfei adalah kaum bangsawan dan pedagang kaya. Jing Yang memberikan lima puluh keping emas kepada pelayan yang menyambutnya.
Tak lama pelayan penginapan mengantar mereka berlima menuju lantai tiga. Kamar yang disediakan Penginapan Batu Dinding memang sesuai harga. Tempat tidur yang nyaman dan luas kamar yang lebar.
“Selesai mandi, kita berkumpul di depan. Kalian bertiga juga ikut.” Ye Xiaoya membuka pintu kamar dan menutupnya setelah berkata demikian.
Bai Huang dan Zhu Qian mengucapkan terimakasih kepada Jing Yang sebelum masuk ke dalam kamar bersama Bai Lang. Tak lama Jing Yang juga masuk ke dalam kamar untuk membersihkan badannya di kamar mandi yang telah disediakan.
Ketika malam semakin gelap dan suasana di luar penginapan semakin ramai. Jing Yang meninggalkan penginapan bersama Ye Xiaoya dan ketiga orang yang mereka temui menuju restoran.
Jing Yang mengernyitkan dahinya ketika merasakan samar-samar aura milik seorang pendekar.
Kedatangan Jing Yang dan Ye Xiaoya cukup menarik perhatian karena keduanya membawa dua pedang yang tersarung rapi di pinggang. Tak lama seorang pelayan menuntun mereka menuju meja yang kosong dan kebetulan cukup untuk lima orang.
“Berikan hidangan terbaik buatan restoran ini.” Ye Xiaoya mulai memesan sementara Jing Yang memandang langit malam dari kursi yang dekat dengan jendela.
Tidak butuh waktu lama bagi pelayan restoran menyediakan hidangan lezat yang dipesan Ye Xiaoya. Kemudian mereka mulai menikmati hidangan lezat yang telah disajikan.
Jing Yang mengamati lima pendekar yang memakai tudung, beberapa dari mereka merupakan sekte yang pernah dia temui di Istana Sembilan Naga yakni Menara Pilar Hitam.
__ADS_1
Selesai makan malam bersama, Ye Xiaoya memberi isyarat kepada Jing Yang dengan matanya. Mereka menguping pembicaraan pendekar yang sedang menikmati arak. Dari pembicaraan yang dilakukan lima pendekar Menara Pilar Hitam, Jing Yang mendapatkan banyak informasi, salah satunya tentang tujuan mereka ke Kota Cunfei adalah menculik Lu Xiuyu.
Menara Pilar Hitam di sewa oleh Bangsawan Gu yang berniat melemahkan dan menguasai seluruh aset kekayaan Bangsawan Lu. Yang paling membuat Jing Yang terkejut adalah ambisi Bangsawan Gu menguasai tahta Kekaisaran Jiang.
Dengan tersebarnya berita kudeta dan reputasi Jiang En, sebagian kaum bangsawan tetap bekerjasama dengan Jiang En, tetapi Bangsawan Gu berniat melemahkan keluarga bangsawan yang lain sebelum menunjukkan taringnya pada Jiang En.
“Hah, benar-benar merepotkan.” Ye Xiaoya mendesah pelan setelah mendengar pembicaraan lima pendekar Menara Pilar Hitam.
Di seberang meja yang ditempati lima pendekar dari Menara Pilar Hitam ada dua pendekar suci yang berasal dari Gunung Pedang Tunggal.
“Tuan Muda mohon maaf, dua pendekar suci yang duduk disana mengincar kami. Jadi biarkan kami yang mengurus mereka.” Bai Huang dan Zhu Qian berdiri dari tempat duduk menuju luar restoran. Jing Yang membayar makanan yang telah mereka pesan, sementara Ye Xiaoya membawa Bai Lang.
“Sepertinya kalian tahu tujuan kami. Serahkan bocah ini, maka hidup kalian akan tenang.” Pendekar suci menghampiri Bai Huang sebelum keluar dari restoran.
“Sebagai pendatang aku tidak bisa melukai kalian, tetapi sampai matipun aku tidak menyerahkan anakku!” Bao Huang menabrak pendekar suci dan berjalan keluar restoran.
“Ternyata kau bisa berbicara? Disini tidak ada yang peduli terhadap orang asing sepertimu!” Kini pendekar suci yang lainnya melepaskan pukulan bertenaga kepada Bai Huang.
”Senior Bai, Senior Zhu, bunuh mereka.” Jing Yang berkata dengan cukup dingin dan berjalan melewati keduanya sambil menunjukkan lencana yang membuat mereka berdua terkejut.
“Bocah, kau pikir dirimu ini siapa...”
Zhu Qian mencekik leher pendekar suci dan menghancurkannya. Sementara Bai Huang membunuh pendekar suci yang masih mematung dalam keadaan terkejut.
Jing Yang tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnya di depan restoran. Kematian dua pendekar suci dari Gunung Pedang Tunggal mengundang orang-orang yang sedang menikmati suasana malam di Kota Cunfei menjadi ketakutan.
Bai Huang dan Zhu Qian langsung membawa jasad dua pendekar suci dan menguburkannya di suatu tempat.
__ADS_1
Ketika Jing Yang dan Ye Xiaoya hendak kembali ke penginapan. Jing Yang sekilas mendengar pembicaraan dari lima pendekar Menara Pilar Hitam jika salah satu pendekar agung dari sekte mereka berhasil menangkap Lu Xiuyu dan mengancam Lu Hen untuk memberikan posisi Walikota Kota Cunfei kepada Bangsawan Gu.
“Guru Xiaoya, aku pergi sebentar...” Jing Yang langsung mengikuti lima pendekar Menara Pilar Hitam menuju luar Kota Cunfei.