
Gelapnya malam di Rongma terlihat berbeda. Dengan kedatangan Jing Yang yang membunuh prajurit militer Kekaisaran Ma membuat gempar seluruh penduduk asli Rongma. Jing Yang sendiri sudah mendapatkan kepercayaan dari penduduk asli Rongma dan berjanji akan membawa Hua Minha dan Hua Quin kembali.
Di Penginapan Teratai, terlihat Jing Yang sedang membasuh tubuhnya dengan kain putih selepas mandi. Jing Yang merasakan hawa keberadaan yang mendekati kamarnya. Secepat mungkin dia hendak memakai pakaiannya kembali, namun sangat disayangkan dirinya sedikit terlambat sehingga pintu kamar terbuka memperlihatkan wanita dewasa melongo melihat bentuk tubuhnya.
Wanita dewasa tak lain adalah Chu Yui. Tatapan matanya fokus kebawah perut Jing Yang. Kedua bola matanya terbelalak, ‘Monster...’
Jing Yang segera membalikkan badannya, Chu Yui menutup pintu dan tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
“Mataku tidak salah melihat bukan? Aku sudah melihat benda itu beberapa kali, tetapi aku belum pernah melihat yang seperkasa itu. Apa benar umurnya tiga belas tahun?” Chu Yui mengingat masa lalunya yang menipu pria yang haus belaian.
Jing Yang memegang kepalanya dan mendecakkan lidahnya, “Seenaknya saja memasuki kamarku! Apa yang sebenarnya dia pikirkan?!”
Setelah memakai pakaiannya, Jing Yang bergerak menuju ruangan yang telah disiapkan Chu Yui untuk menjamu kedatangannya.
“Bocah monster, apa benar umurmu tiga belas tahun?” Chu Yui memerah wajahnya sambil menyapa Jing Yang semanis mungkin.
Jing Yang risih, mungkin jika umurnya matang dia akan terpancing dengan Chu Yui. Namun saat ini Jing Yang tidak menunjukkan ketertarikan selain risih.
“Bocah monster? Bibi Yui, bisa memanggilku namaku dengan benar?” Jing Yang menatap sengit Chu Yui menunjukkan permusuhan yang luar biasa.
“Kau bukanlah Kaisar Ma, aku tidak memiliki hak untuk memanggilmu Yang Mulia. Aku akan memanggilmu Yang‘er, mmm, tidak aku akan memanggilmu bocah monster.” Chu Yui tersenyum menggoda dan membatin lirih.
‘Milikmu itu bukanlah milik seorang bocah. Mataku ternoda.’ Chu Yui berjalan didepan Jing Yang dan sengeja menggoyangkan pinggulnya.
Jing Yang justru tidak memperhatikan itu dan menyapu pandangannya memperhatikan sekelilingnya. Akhirnya Jing Yang berada diruangan yang disiapkan Chu Yui.
Selain ada Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Liwei. Disana juga ada wanita berumur yang usianya tiga puluh tujuh tahun sedang duduk disamping Fan Ziwei.
“Perkenalkan, dia adalah Nyonya Minha. Pemimpin Rongma.” Chu Yui memperkenalkan sosok perempuan itu.
Tatapan kosong perempuan itu dan terlihat dilehernya ada bekas memar dan ditangannya juga ada. Jing Yang memejamkan matanya saat Hua Minha menatapnya.
__ADS_1
“Duduklah, penguasa muda.” Hua Minha membuka suaranya. Jing Yang duduk disamping Xue Bingyue.
“Aku mendengar kau berniat mengembalikan Rongma seperti dahulu lagi?” Hua Minha memegang secangkir teh hangat yang cangkirnya terbuat dari bambu kemudian meminumnya secara anggun.
Chu Yui duduk disamping Jing Yang dan tersenyum, “Nyonya Minha, kita sudah membicarakan ini bukan? Bocah monster ini tidak bersalah atas ketidakpedulian pendahulunya. Niat baiknya sebaiknya kau terima, lagipula penduduk asli Rongma sudah menaruh harapan besar padanya untuk menyelamatkanmu.”
Hua Minha terlihat benci menatap Jing Yang sebelum akhirnya menarik nafas panjang dan membuangnya secara kasar.
“Aku mengerti. Tetapi aku mengalami masa sulit itu! Aku tidak menerima ini!” Hua Minha terlihat seperti ingin melampiaskan amarahnya dan kesedihannya kepada Jing Yang.
“Penguasa muda, aku akan menerima niat baikmu mengembalikan Rongma jika kau berjanji akan menikahi anak keduaku yang lumpuh.” Hua Minha tersenyum mengejek karena berpikir Jing Yang akan menolaknya.
“Walaupun bocah, kau tetaplah akan memilih pasangan hidup-”
“Aku berjanji.” Ucapan Jing Yang membuat seisi ruangan tercengang, Xue Bingyue tersedak dan Mei Hua menyemburkan air dari mulutnya karena terkejut.
“Kau mengatakan itu didepan Yueyue, Yang‘er.” Fan Ziwei menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
“Kau barusan mengatakan apa? Aku berjanji? Apa kau tidak memilih dan membuat keputusan yang tepat?!” Hua Minha memukul meja tanpa sadar.
Jing Yang menjawab, “Memilih? Aku tidak begitu mengerti tentang masa depanku nanti dan siapa pasangan hidupku. Aku hanya ingin menolong semuanya dan tentu aku tidak akan memilih-milih untuk menolong orang yang membutuhkan pertolonganku.”
Mulut Hua Minha terbuka lebar, “Bocah rakus! Ucapanmu seolah-olah mengatakan dirimu menginginkan semua wanita dengan ekspresi polosmu itu!”
Chu Yui tertawa, “Bagaimana Nyonya Minha? Bocah monster ini menarik bukan? Selain itu dia merupakan pendekar kuat.”
“Bisa kita alihkan pembicaraan ini? Aku ingin membahas pergerakan Lentera Iblis Tunggal dua hari lagi. Mempertahankan Rongma dengan pendekar yang jumlahnya tidak melebihi sepuluh tentu itu hal mustahil.” Jing Yang akhirnya menunjukkan ekspresi serius.
Hua Minha tersenyum, “Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu sebelum membahas itu.”
Jing Yang menganggukkan kepalanya dan akhirnya dia makan malam bersama Hua Minha dan Chu Yui. Setelah makan malam, Chu Yui mengatakan kepada Jing Yang dan yang lainnya jika ingin menaklukkan Rongma maka harus menaklukkan Kota Jiyangma terlebih dahulu.
__ADS_1
“Seperti perkataan Adik Yui. Kota Jiyangma memiliki hubungan erat dengan Rongma dimasa lalu. Rongma terkenal akan tanahnya yang subur sedangkan Kota Jiyangma terkenal akan hasil lautnya yang melimpah.” Hua Minha menjelaskan.
Jing Yang memegang dagunya, “Hmmm...” Jing Yang berpikir jika dirinya harus mendapatkan kepercayaan penguasa Kota Jiyangma setelah berhasil mendapatkan kepercayaan Hua Minha.
“Seingatku ada lima orang yang kemampuannya mendekati Pendekar Roh di Lentera Iblis Tunggal. Kai Xuexuan, Yong Xiang, Fan Bao dan Iblis Kembar Mematikan.” Chu Yui menjelaskan jika kemungkinan besar Patriark Ho Xing akan mengirimkan salah satu dari lima orang ini.
“Menaklukan Kekaisaran Jiang dengan kemampuan seperti itu? Bukankah mereka terlalu percaya diri?” Jing Yang mengambil kesimpulan.
Chu Yui tertawa pelan, “Dan bukankah kau juga terlalu percaya diri, bocah monster? Situasi ini bukan seperti kejadian tadi siang. Dua hari lagi, aku rasa Kekaisaran Ma akan mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Jika mereka mempercepat rencana untuk berkumpul di Rongma tanpa sepengetahuanku, berarti dua hari lagi akan ada sepuluh ribu prajurit yang siap untuk menduduki Rongma.”
Wajah Hua Minha memburuk, begitu juga dengan Fan Ziwei, Xue Bingyue, Mei Hua dan Qiao Xi. Sedangkan Jing Yang tertawa pelan sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Tenang saja, aku memiliki tangan kanan yang kupercaya. Aku yakin dia akan melakukan sesuatu diluar pikiranku.” Jing Yang sangat yakin jika Murong Qiaomi sudah menebak keberhasilan dirinya mendapatkan hati para penduduk asli Rongma.
‘Aku yakin dia akan mengirimkan Senior Hua Ying...’ Jing Yang meminum teh hangat sambil memejamkan matanya.
“Sepuluh ribu... Jumlah ini sangat banyak. Dua hari ya? Aku harus mengembangkan tenaga dalamku dalam waktu satu hari.” Jing Yang justru terlihat santai-santai saja saat Chu Yui memberitahu jumlah pasukan militer Kekaisaran Ma.
Walaupun belum pasti, tetapi dengan jumlah seperti itu, tentu saja membuat orang berkeringat dingin mengingat pendekar yang jumlahnya kurang dari sepuluh melawan sepuluh ribuan pendekar itu sangat mustahil.
“Yang‘er, apa kau memiliki rencana?” Fan Ziwei bertanya.
Jing Yang menganggukkan kepalanya, “Aku memiliki rencana. Aku berasumsi jika Kekaisaran Ma mengerahkan pasukan itu untuk menguasai wilayah yang dekat dengan Rongma. Walaupun jaraknya jauh, tetapi Ibukota Huaran adalah yang paling dekat dengan Rongma.”
“Apa menurutmu mereka akan menyerang Ibukota Huaran saat pertempuran Festival Api?” Fan Ziwei mengerutkan keningnya.
“Iya, menurutku seperti itu. Jika aku menjadi pihak Kekaisaran Ma tentu aku akan melakukan hal yang sama. Pertempuran melawan Pulau Iblis Tengkorak akan memakan banyak korban jiwa. Setelah sejauh ini, aku dihadapkan dengan situasi rumit ini. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku akan menghadapi siapapun yang berani mengusik negeriku ini.”
Jing Yang menambahkan jika saat Festival Api, tentu pendekar yang berada dalam Lentera Naga Fajar akan berada di Pulau Iblis Tengkorak. Melemahnya pertahanan Ibukota Huaran serta beberapa kota diperbatasan menjadi alasan utama penyerangan Kekaisaran Ma.
Jing Yang mengepalkan tangannya dan mengatakan rencananya, “Ini rencanaku...”
__ADS_1