
“Yueyue, apa tidak ada yang ingin kau lakukan di Kekaisaran Jiang?” Bai Xianlin bertanya setelah perjalanan keduanya mencapai Kota Shendu.
Xue Bingyue memejamkan matanya untuk sesaat, “Bibi Xianlin, aku ingin pergi ke Pulau Salju Rembulan dan tempat dimana semuanya berawal, Kota Yunfei. Tetapi aku lebih ingin pergi ke Kekaisaran Shi.”
Xue Bingyue tersenyum sebelum menambahkan, “Aku ingin menanyakan sesuatu pada Yangyang secara langsung.”
Bai Xianlin tersenyum mendengar ucapan Xue Bingyue, kemudian dia melompat keatas dan terbang menjauh dari Kota Shendu. Xue Bingyue mengeluarkan Pedang Salju Suxue dan menggunakan Ilmu Pedang Terbang.
Saat terbang Xue Bingyue mengingat saat-saat dimana dirinya digendong Jing Yang. Jantungnya berdebar kencang saat memikirkan itu, terlebih ekspresi Jing Yang yang terkesan polos dan ketenangannya itu membuat hatinya semakin luluh.
Melihat pipi Xue Bingyue bersemu merah membuat Bai Xianlin tersenyum manis.
“Kenapa kau tersenyum sendiri Yueyue?” Bai Xianlin melirik kearah Xue Bingyue
“Ah, aku...” Xue Bingyue memalingkan wajahnya karena Bai Xianlin mendapati dirinya sedang memikirkan Jing Yang.
“Kalian berdua begitu manis. Ngomong-ngomong Yueyue, Yangyang mu itu bukan hanya berjanji pada Adik Rong saja.” Bai Xianlin dengan senyuman jahilnya berniat menggoda Xue Bingyue.
“Maksud Bibi Xianlin?” Xue Bingyue penasaran dengan janji yang dibuat Jing Yang pada orang selain Xue Rong.
“Dia berjanji padaku saat di Negeri Kabut Tersembunyi jika dirinya kelak menjadi seorang kaisar maka dia akan menjadikanku salah satu selirnya.” Bai Xianlin menatap dalam ekspresi wajah Xue Bingyue yang terkejut namun itu tidak berselang lama karena tak lama setelah itu Xue Bingyue tersenyum tipis.
“Bibi Xianlin, Yangyang adalah pewaris tahta Kekaisaran Jiang. Bukankah hal wajar jika seorang bangsawan besar sepertinya memiliki lebih dari satu istri dimasa depan. Kakak Que selalu mengatakan tentang itu padaku.” Tanggapan Xue Bingyue justru membuat Bai Xianlin tertawa kecil.
“Tetapi dibandingkan menjadi selirnya, Bibi Xianlin lebih cocok jadi Ibunya. Lagipula Bibi Xianlin sangat mirip dengan mendiang Ibuku walau sifat kalian berbeda. Aku yakin Yangyang juga sepemikiran denganku.” Xue Bingyue tertawa lirih membuat Bai Xianlin berhenti terbang dan menggelitik tubuh Xue Bingyue.
____
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu semenjak Xue Bingyue pergi meninggalkan Pegunungan Suxue bersama Bai Xianlin. Kini keduanya sedang menatap api unggun yang mereka buat dimalam hari.
“Bibi Xianlin bagaimana menurutmu tentang rumor Pulau Iblis Tengkorak?” Xue Bingyue bertanya karena sempat mendengar beberapa kabar burung dalam perjalanan tentang bentrokan Pulau Iblis Tengkorak melawan Istana Sembilan Naga.
Bai Xianlin sendiri sudah menebak jika Pulau Iblis Tengkorak akan menguasai dunia persilatan Kekaisaran Jiang mengingat sekte itu didukung Fu Xinghe dan Tang Mu.
“Yueyue, tidak ada yang kutakutkan dari Sembilan Jari Iblis, Bangsa Trost dan orang-orang Kekaisaran Tang. Cepat atau lambat benua ini akan jatuh dalam pergejolakan. Aku tidak ingin mengatakan ini tetapi Jing Yang adalah orang yang tepat menjadi pilar utama aliran lurus.” Bai Xianlin sendiri tidak ingin terlibat terlalu jauh berurusan dengan Pulau Iblis Tengkorak yang didukung Tang Mu dan Fu Xinghe.
“Setelah kita mengembalikan ingatan Jing Yang, aku akan membantu kalian berdua untuk bertempur melawan Pulau Iblis Tengkorak.” Bai Xianlin menghela nafas panjang setelah mengatakan itu, “Memang mudah mengatakan itu, tetapi situasi sekarang sudah sangat kacau dan tidak bisa dihentikan.”
Xue Bingyue sendiri menyadari kemampuannya masih jauh dibawah Jing Yang dan pembunuh orang tuanya yakni Mao Gang.
Tanpa Xue Bingyue dan Bai Xianlin sadari, pergejolakan hebat di Kekaisaran Jiang terjadi. Pergejolakan hebat yang membuat hancurnya Istana Sembilan Naga karena Pulau Iblis Tengkorak berhasil menyatukan seluruh sekte aliran hitam dibawah kekuasaannya bahkan beberapa campur tangan sekte aliran putih membuat Pulau Iblis Tengkorak dapat membinasakan Istana Sembilan Naga dengan mudah.
Setelah memulihkan tenaga dalam mereka, Xue Bingyue dan Bai Xianlin bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kekaisaran Shi. Keduanya terus bergerak melewati pegunungan dan hutan walau dalam perjalanan beberapa perampok menghadang namun semuanya bukan halangan.
Kemampuan Xue Bingyue bisa dibilang hebat namun gadis manis perlu sentuhan agar dapat menguasai bakatnya.
Bai Xianlin melihat kemiripan kemampuan Xue Bingyue dengan Jing Yang. Dari pernapasan yang digunakan sampai beberapa gerakan tarian pedangnya. Hanya saja gerakan Xue Bingyue lebih gemulai dan lembut.
Hingga tak terasa keduanya telah sampai diperbatasan. Sebuah tanah tandus yang tidak berpenghuni menjadi saksi bisu perbatasan dua Kekaisaran ini terlihat begitu sepi dan hanya dihuni Binatang Iblis.
“Ini pertama kalinya aku pergi ke Kekaisaran Shi.” Xue Bingyue terlihat penuh antusias melangkahkan kakinya melewati tanah tandus dihadapannya diikuti Bai Xianlin dari belakang.
“Berbeda dengan Kekaisaran Jiang dimana sekte dari ketiga aliran tidak terlihat dalam urusan pemerintahan, di Kekaisaran Shi sekte dari ketiga aliran terlibat dalam urusan pemerintahan.” Bai Xianlin menjelaskan jika sekte aliran hitam lebih mendominasi daripada sekte aliran putih.
Kekaisaran Shi telah mengalami masa-masa sulit saat perang besar terjadi antara ketiga aliran. Sekte aliran putih berperang melawan sekte aliran hitam dan netral.
__ADS_1
Peperangan panjang itu membuat banyak sekte aliran putih yang bersatu binasa. Pemenang perang besar itu adalah sekte aliran hitam, sementara sekte aliran netral yang bertahan mengikuti jejak sekte aliran hitam untuk tunduk pada Kaisar Shi.
“Ayah Shi Mubai memiliki koneksi dengan salah satu orang dari Kekaisaran Sembilan Iblis, Tang Mu, sama halnya yang terjadi di Kekaisaran Ma, kini Kekaisaran Shi secara perlahan jatuh ketangan Tang Mu.” Bai Xianlin selalu mengingatkan pada Xue Bingyue untuk berhati-hati dan tidak gegabah karena bagaimanapun terdapat beberapa sekte di Kekaisaran Shi yang terlibat langsung dalam pembunuhan orang tua Xue Bingyue.
“Aku mengerti, Bibi Xianlin. Tujuan kita adalah mengambil Kain Langit Suci lalu pergi meninggalkan Kekaisaran Shi.” Xue Bingyue sendiri tidak memungkiri ingin membalaskan kematian kedua orangtuanya, namun dia menyadari seberapa kuat dirinya.
Bai Xianlin mengawasi keadaan sekitar saat mereka berdua terus melangkah jauh memasuki wilayah Kekaisaran Shi. Tanah tandus yang kering itu membuat Bai Xianlin tidak menurunkan kewaspadaannya.
Xue Bingyue sendiri mencoba merasakan hawa keberadaan manusia disekitarnya. Namun semakin jauh dia memasuki wilayah Kekaisaran Shi, dia belum menemukan satupun manusia.
“Yueyue, kita akan melewati tanah tandus ini selama beberapa hari. Kota perbatasan masih jauh jadi jangan buang-buang tenagamu untuk hal yang tidak perlu.” Bai Xianlin menegur Xue Bingyue yang melepaskan aura tubuhnya.
Xue Bingyue tersenyum karena Bai Xianlin menyadarinya, “Baiklah, Bibi Xianlin.”
Perjalanan keduanya bisa dibilang lancar saat melewati tanah tandus, namun setelah Bai Xianlin mengatakan pada Xue Bingyue jika kota perbatasan terdekat sudah semakin mendekat jaraknya, sebuah semburan api muncul dari arah depan.
Xue Bingyue dan Bai Xianlin menghindari serangan itu dengan mudah. Keduanya tidak merasakan aura pembunuh ataupun hawa keberadaan manusia.
“Aku sudah menekan hawa keberadaanku tetapi kalian berdua dapat menghindari seranganku.” Pria berpenampilan kasar tersenyum menyeringai menatap lekuk tubuh Bai Xianlin.
“Sepertinya aku menemukan berlian yang harus diasah.” Pandangan pria itu jatuh kedada Bai Xianlin dan membuatnya meneteskan air liur, “Bentuk milikmu itu sangat indah. Dari luar sudah terlihat sangat kencang dan besar, aku jadi penasaran dengan bentuk yang sebenarnya.”
Bai Xianlin mendengus kesal, “Hentikan tatapan menjijikkanmu! Apa kau pikir dirimu ini bisa mendapatkannya?! Seumur hidupku aku belum menemukan laki-laki yang pantas untuk mendapatkan tubuhku ini! Setidaknya semua orang yang menatapku penuh nafsu berakhir mati!”
Bai Xianlin melepaskan aura pembunuh berjumlah besar sebelum melempar selendangnya ke udara.
Xue Bingyue membuka telapak tangannya, “Suxue.”
__ADS_1
Saat pedang salju muncul, Xue Bingyue menatap Bai Xianlin yang mengamati pergerakan pria itu sebelum memberi isyarat pada Xue Bingyue untuk menyelaraskan permainan pedangnya dengan serangan selendangnya.