
“Tunggu, kamu ini siapa?” Jing Yang mengamati gadis kecil seperti peri yang memakai pakaian serba merah.
“Tuan, ini aku! Aku, Lingling, Roh Pedang Dewa Naga! Tuan, jahat! Kenapa bisa melupakan Lingling!” Peri yang sedang menangis dihadapan Jing Yang adalah Roh Pedang Dewa Naga bernama Lingling.
‘Imutnya...’ Jing Yang memegang tubuh Lingling dan mengangkatnya.
“Lingling, jangan panggil aku tuan. Mulai hari ini, panggil aku Jing Yang.” Selesai berkata demikian, Lingling justru menangis sambil berguling kesana-kemari.
“Tuan, jahat!”
Jing Yang kebingungan melihat tingkah Lingling. Semua yang terjadi di luar dugaannya. Dia mengira Roh Pedang Dewa Naga akan berwujud seperti wanita dewasa yang memakai pakaian serba minim seperti Yue Wang.
“Lingling...” Jing Yang mencoba menenangkan Lingling yang masih menangis, “Cobalah panggil aku dengan namaku.”
Lingling berhenti menangis dan menatap wajah Jing Yang. Kedua mata Lingling nampak begitu menggemaskan.
“Kakak...” Lingling cemberut seperti enggan menyebut nama Jing Yang.
“Lakukan sesukamu. Apakah namaku terlalu sulit untuk diucapkan?” Jing Yang mengangkat tubuh Lingling tinggi.
“Kakak! Kakak!” Lingling justru tertawa lepas dan terlihat begitu gembira. Ketika Lingling terlihat begitu ceria, Roh Sang Hitam menunjukkan wujudnya.
“Apa kau masih ingat padaku?” Roh Sang Hitam menatap Lingling yang terdiam lama sebelum menangis dan memeluk tubuh Roh Sang Hitam.
“Ibu! Ibu!” Sifat Lingling begitu kekanak-kanakan. Bahkan Jing Yang sendiri masih tidak menyangka dengan semua yang terjadi.
“Aku sekarang mengawasi anak manusia ini. Aku rasa Dewa Naga akan bahagia karena kau memiliki seorang pemilik yang baik hati seperti anak manusia ini.” Roh Sang Hitam membelai rambut Lingling penuh kasih sayang.
‘Ternyata Guru telah mengenal Lingling...’ Jing Yang membatin ketika melihat Roh Sang Hitam dan Lingling terlihat begitu akrab.
Sekitar sepuluh menitan, Roh Sang Hitam kembali masuk ke dalam tubuh Jing Yang. Kemudian Lingling mendekati Jing Yang.
“Kakak, aku akan menjadi pedangmu. Jadi jangan tinggalkan Lingling sendirian.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Lingling.”
__ADS_1
Jing Yang merasa tidak tega melihat Lingling yang begitu imut. Tak lama Jing Yang menggigit jari jempolnya dan membuat Lingling berada di alam bawah sadarnya yang sama dengan Yue Wang.
Ketika keduanya bertemu. Jing Yang membuka matanya dan mendapati Ye Xiaoya yang sedang mencoba kedua pedang barunya.
“Bagaimana?” Ye Xiaoya menghentikan latihannya.
“Berjalan cukup lancar, Guru.” Jing Yang berdiri dan menarik kedua pedangnya sebelum mencoba beberapa gerakan.
Ye Xiaoya tersenyum tipis, “Aku akan mengajarimu teknik pedangku. Terutama keahlianku sebagai pendekar pedang ganda.”
“Mohon bimbingannya, Guru Xiaoya.” Jing Yang menjawab penuh semangat sebelum melihat Ye Xiaoya yang melakukan beberapa gerakan.
Gerakan yang dilakukan Ye Xiaoya begitu anggun membuat Jing Yang terpana. Tetapi selang beberapa langkah, gerakan Ye Xiaoya begitu agresif. Jing Yang mengamati permainan pedang Ye Xiaoya baik-baik karena dia akan menggunakan dua pedang sebagai senjatanya.
“Apa kau mengingatnya?” Ye Xiaoya menyeka keringatnya dan duduk di atas batu sambil memakan buah-buahan yang termasuk dalam sumber daya.
“Aku mengingatnya, Guru.” Jing Yang menjawab dan mulai melakukan gerakan yang sama dengan Ye Xiaoya.
Jing Yang terlihat cepat memahami hanya dengan melihat gerakan Ye Xiaoya. Ayunan kedua tebasan pedangnya akan menjadi senjata yang mematikan. Jing Yang berniat mengasahnya sebisa mungkin sebelum berangkat menuju Ibukota Huaran.
Jing Yang memakan buah-buahan dan menyerap semua khasiatnya sebelum memulai bermeditasi. Teknik Pedang Dewa Naga membutuhkan tenaga dalam yang besar.
Waktu terus berlalu, tidak terasa Jing Yang dan Ye Xiaoya telah bermeditasi selama seminggu penuh. Mutiara Roh Hewan dan Permata Iblis yang ada disekitar Jing Yang dan Ye Xiaoya menghilang karena telah diserap khasiatnya.
‘Yang‘er menyerap semua ini ketika bermeditasi. Sepertinya dia memiliki kondisi tubuh yang sama sepertiku.’ Ye Xiaoya membatin dan berdiri secara perlahan.
“Kita berburu Permata Iblis dan Mutiara Roh Hewan sebanyak mungkin.” Ye Xiaoya tersenyum tipis karena telah menguasai beberapa cara untuk menggunakan kemampuan Zirah Dewi Malam.
‘Guru Xiaoya sangat bersemangat.’ Jing Yang mengikuti Ye Xiaoya dari belakang sebelum mereka berdua bertarung melawan Binatang Iblis.
Ye Xiaoya berniat mengumpulkan Mutiara Roh Hewan dan Permata Iblis untuk perjalanan mereka. Keinginannya untuk berkelana, membuat Ye Xiaoya mempersiapkan segalanya dari jauh-jauh hari.
Selesai membunuh Hewan Buas dan Binatang Iblis dalam jumlah yang banyak. Jing Yang mengikuti perintah Ye Xiaoya untuk memasukkan daging Hewan Buas dan Binatang Iblis ke dalam Cincin Dewa.
“Gerakanmu bagus. Apa kau tertarik bertarung melawanku? Aku ingin melihat sendiri kemampuan Pedang Gravitasi dan Pedang Dewa Naga.”
__ADS_1
Ye Xiaoya tersenyum tipis dan mengambil sebuah ranting. Kemudian dia melemparnya ke atas dengan tenaga dalamnya.
“Saat ranting itu jatuh, kita akan bertarung, paham?”
Jing Yang menerima tantangan Ye Xiaoya dan tidak langsung menggunakan kekuatan Pedang Dewa Naga. Tangan kanannya yang memegang Pedang Gravitasi mulai mengayunkan sambil melepaskan kekuatan gravitasi untuk serangan kejutan bersamaan dengan ranting pohon yang terjatuh ke tanah.
Ye Xiaoya tersenyum melihat Jing Yang dengan sigap melakukan serangan pembuka. Tak lama Yue Wang dan Bing Wang bertemu. Udara membeku dan kembali hancur karena benturan pedang yang memancarkan energi yang cukup kuat.
“Menarik, Yang‘er. Kau ternyata sudah cukup mahir menggunakan dua pedang.” Ye Xiaoya melayangkan serangan demi serangan.
Jing Yang menyambutnya dan membalasnya dengan beberapa jurus pedang yang menghancurkan tanah dan membentuk enam tebasan.
Setiap kedua pedang mereka berbenturan, udara terkadang begitu panas dan tak lama menjadi dingin ketika dua pedang lainnya saling membentur.
Jing Yang dan Ye Xiaoya terus melakukan pertukaran serangan hingga akhirnya, Ye Xiaoya memberi tanda pada Jing Yang untuk berhenti.
“Yang‘er, kita masih memiliki waktu yang cukup untuk menempa kemampuan kita. Tujuh hari sebelum peringatan kematian mendiang ibumu, baik aku maupun dirimu harus menguasai beberapa jurus dari Pusaka Dewa ini.”
Ye Xiaoya tersenyum bahagia melihat kemampuan Jing Yang. Selanjutnya Ye Xiaoya menyuruh Jing Yang bermeditasi dan kembali berlatih untuk membuka gerbang ketiga, gerbang kehidupan.
Jing Yang dapat menerobos dan membukanya dengan waktu yang tidak lama, karena lingkaran tenaga dalamnya cukup besar dan tenaga dalamnya lebih murni. Setelah membuka gerbang ketiga yakni gerbang kehidupan, Jing Yang kembali menerobos dan membuka gerbang keempat, gerbang kesakitan.
Saat Jing Yang membuka gerbang kesakitan, disini dia mendapatkan cobaan siksaan yang cukup membuat dia meringis kesakitan. Hingga akhirnya dia kembali tenang ketika menerobos dan membuka gerbang kelima, gerbang pembatasan.
Ye Xiaoya tersenyum melihat kemampuan Jing Yang, ‘Yang‘er, aku rasa kamu memiliki kekuatan untuk membunuh orang-orang itu. Kau tahu, Gurumu ini bukanlah orang yang hebat.’
Ye Xiaoya menghela napas panjang mengingat masa lalunya. Bayangan saat diskriminasi merajalela. Dalam keheningannya, Jing Yang menyadari raut wajah Ye Xiaoya yang terlihat sedih.
‘Mungkin aku hanyalah anak berumur dua belas tahun, tetapi jika Guru Xiaoya tidak ada tempat untuk bersandar dan bercerita. Aku ingin Guru Xiaoya mengandalkan muridmu ini.’
Jing Yang membuka matanya bertahap setelah merasa tubuhnya mengalami perbedaan.
Kagutsuchi Nagato
Dragon Warrior Pair
__ADS_1
Sweet Dragon