
Jing Yang membayar mahal kerusakan yang terjadi di restoran, bahkan uang yang dimiliki Jing Yang membuat semua pendekar tercengang. Terlebih lagi sebuah Cincin Dewa yang Jing Yang perlihatkan kepada semua orang yang berada di restoran membuktikan kepercayaan dirinya.
Jing Yang menguburkan mayat pendekar suci dari Puncak Persik, kemudian dia terdiam lama karena bagaimanapun Roh Sang Hitam memberitahunya tentang semua ini. Tetapi perempuan berparas cantik itu tidak bisa menampakkan wujudnya seperti dulu.
Jing Yang merasa dirinya masih jauh dari kata kuat untuk mewujudkan ambisinya. Ambisi untuk membunuh Mao Gang. Dibalik senyumannya, Jing Yang menyembunyikan amarah karena bagaimanapun dia selalu mengingat malam yang berapi-api itu.
Xue Bingyue menepuk pundak Jing Yang dan menyuruh pemuda itu untuk tidak terlalu memikirkan masalah Puncak Persik. Menurut Xue Bingyue, apa yang dilakukan sudah benar, karena bagaimanapun pendekar suci yang dibunuh Jing Yang menyamar dan banyak pendekar yang menjadi saksi melihat kejadian tersebut.
___
Waktu terus berlalu, mengaliri seperti air dan berjalan semestinya. Gemercik air dan kicauan burung memenuhi tempat latihan Xue Bingyue dan Xue Que.
Dua hari sebelum menjelang digelarnya Turnamen Pendekar Muda, rombongan Jing Yang telah memasuki Puncak Persik. Mereka berada di sebuah penginapan khusus pendekar.
Keluarga Yin Ruo diberi penginapan khusus, Yin Ruo, Yin Feng dan Panglima Zhang Mufan menginap di kediaman Patriark Puncak Persik. Sementara Jing Yang tidur di teras penginapan tempat Xue Bingyue menginap bersama Xue Rong dan Xue Que menginap.
Walau Yin Ruo berulang kali memintanya untuk ikut bersamanya masuk ke dalam kediaman Patriark Puncak Persik, Jing Yang selalu menolaknya karena dia mengikuti saran Xue Rong untuk menginap bersama dirinya dan Xue Bingyue.
Daripada dibilang menginap, Jing Yang justru tidur sembarangan. Di bawah pohon dia berbaring dan tertidur, setiap terbangun dirinya mendapati kepalanya sudah bersandar dengan lelap di pangkuan paha Xue Bingyue.
Xue Rong begitu mempercayai Jing Yang. Gadis berusia sembilan belas tahun ini merasa bahwa Turnamen Pendekar Muda yang akan diselenggarakan di Puncak Persik tidak sesuai pikirannya.
Xue Rong sendiri baru pertama kali menghadiri Turnamen Pendekar Muda. Andai gadis cantik ini lahir dua tahun lebih dahulu, sudah dipastikan Xue Rong akan menjadi jenius paling berbakat di Benua Dataran Tengah.
__ADS_1
Dibalik semuanya, Xue Rong merasakan beban mengerikan dalam hidupnya. Dia tidak sekalipun berpikir bahwa ketenarannya membuat hidupnya indah, melainkan Xue Rong merasakan bahwa hidupnya hanya untuk bertanggung jawab atas hidup seluruh anggota sektenya.
Tetapi akhir-akhir Xue Rong menatap dunia yang berbeda, dia berharap Jing Yang menepati janjinya untuk membawanya pergi dari Istana Bulan Biru. Membawa pergi dirinya sama saja dengan melamar gadis cantik ini untuk menjadi istrinya dan meninggalkan posisi Matriark Istana Bulan Biru.
Jing Yang masih tidak sadar bahwa apa yang dia ucapkan sangat berarti bagi Xue Rong. Tetapi setelah diberitahu Xue Que, Jing Yang hanya terkejut sesaat selebihnya tersenyum tipis.
Xue Que sempat tidak mempercayai dengan ekspresi Jing Yang yang tenang. Dia mengira Jing Yang terlalu polos, tetapi pemuda itu tidak demikian. Setelah dipikir-pikir kembali, akhirnya Xue Que menghela napas panjang karena menurutnya Jing Yang juga memiliki perasaan terhadap Xue Rong.
Setelah berpikir lama akhirnya Xue Que tidak menemukan jawabannya, karena dia melihat Jing Yang hanya berlatih dengan Xue Bingyue, bahkan kedua anak muda itu lebih sering tidur bersama di bawah pohon.
Jika dipikir kembali, Jing Yang memiliki latar belakang besar karena darah Kaisar Jiang juga mengalir di dalam pembuluh darahnya. Jiang En mempunyai tiga wanita yang menjadi pendamping hidupnya, walau kakek tua itu akhirnya hanya lebih memperhatikan Yi Yue yang menjadi permaisurinya.
Tetapi cara berpikir dan tindakan Jing Yang tidak ada yang mengetahuinya. Hanya satu hal yang terlihat jelas, Jing Yang berbeda dengan Jiang En. Jika pemuda ini benar-benar akan naik ke tahta Kaisar Jiang maka sudah dipastikan Jing Yang akan menjadi kaisar terhebat dalam sejarah Kekaisaran Jiang.
Puncak Persik dipimpin tiga pendekar yang merupakan jagoan dari sekte aliran putih terbesar di Kekaisaran Yin. Hanya Sekte Pedang Suci yang dapat menyaingi Puncak Persik. Bahkan Istana Bulan Biru yang merupakan sekte aliran netral terbesar di Kekaisaran Yin tidak setara dengan Puncak Persik.
Patriark Puncak Persik sendiri telah mencapai pendekar roh, sementara dua Tetua Puncak Persik mencapai pendekar bumi dengan prestasi dan pencapaian yang gemilang.
Jing Yang melihat jelas bagaimana perseteruan di dalam Puncak Persik. Murid dia Tetua Puncak Persik selalu terlibat perkelahian bahkan kedua murid dari Tetua Puncak Persik sama sekali tidak akur.
Pada akhirnya perseteruan dua Tetua Puncak Persik berimbas pada murid mereka. Jing Yang hanya menggelengkan kepalanya pelan karena tidak mengira sekte yang kurang lebih sama seperti Istana Sembilan Naga justru bisa hancur karena pemikiran tidak sejalan anggotanya dan keinginan untuk menjadi yang terhebat membuat anggotanya menjatuhkan lawan dan secara sepihak.
Saat Jing Yang melewati sebuah hutan kecil yang penuh dengan pepohonan, dia menikmati suasana sore yang tenang di atas bukit.
__ADS_1
Ketenangan sore di Puncak Persik menghilang saat Jing Yang melihat seorang kakek tua berambut putih sedang mengayunkan pedangnya. Satu kali ayunan tebasannya saja sudah melepaskan tenaga dalam dan energi pedang yang besar.
Jing Yang memperhatikan pergerakan kakek tua itu dengan seksama. Dia bisa mengetahui kehebatan kakek tua itu dalam memainkan pedangnya.
Beberapa detik setelah kakek tua itu selesai berlatih, tangannya secara perlahan menyarungkan seluruh pedangnya. Keberadaan kakek tua itu menghilang bersamaan dengan pedang yang digenggamnya tersarung rapi di pinggangnya.
Jing Yang segera melepaskan Aura Raja Naga karena merasakan aura pembunuh yang membuat dirinya bergetar. Sebuah tebasan pedang dari arah belakang.
Jing Yang menyambutnya, matanya menatap tajam kakek tua yang tersenyum tipis sebelum pertukaran serangan hebat terjadi antara Jing Yang dan kakek tua itu.
Jing Yang melepaskan dua tebasan dari kejauhan, sebelum dia mempersingkat jarak antara mereka, sebuah bunga-bunga persik berjatuhan bersamaan dengan pecahnya energi pedang yang berasal dari bunga persik itu sendiri.
Pedang yang digenggam kakek tua itu merupakan Pedang Bunga Persik, Jing Yang dapat menangkisnya dan berusaha sekuat mungkin untuk membalas serangannya.
Pertukaran serangan terjadi kembali, kali ini lebih sengit karena Jing Yang berulang kali mengeluarkan jurus pedangnya. Tetapi kakek tua itu dapat mementahkannya.
Setelah bertukar serangan lebih dari seribu serangan akhirnya kakek tua itu tertawa keras sebelum dia menepuk pundak Jing Yang.
Jing Yang sendiri masih tidak percaya karena tidak dapat mendaratkan satu tebasan pada tubuh kakek tua itu. Di sisi lain kakek tua itu menyuruh Jing Yang untuk duduk bersamanya menikmati keindahan alam di Puncak Persik.
___
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.
__ADS_1
Kalau ada typo ketik ya di kolom komentar, aku belum koreksi langsung up.