
Xue Bingyue kagum akan sosok Jing Yang yang dikenal dan dicintai banyak orang. Dia bisa mengerti mengapa Jing Yang begitu berpengaruh d Kekaisaran Jiang.
Jing Yang dan Xue Bingyue berbicara serius tentang rencana penyerangan mereka ke Pulau Iblis Tengkorak. Xue Bingyue menyetujui rencana Jing Yang untuk mengakhiri semuanya.
Jing Yang akan memastikan kematian Mao Gang dan seluruh petingginya. Memang mudah mengatakannya, tetapi dia juga sudah membulatkan tekadnya. Cepat atau lambat perang besar akan terjadi, bagaimanapun sekarang pergejolakan hebat telah memanas didunia persilatan Kekaisaran Jiang.
Saat berada disebuah hutan yang dekat dengan Kota Shendong, Jing Yang tidak menemukan siapapun dan hanya ada tanda-tanda jejak serta aura yang terasa samar. Dengan mengikuti aura yang samar itu, Jing Yang dan Xue Bingyue kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Dalam perjalanan Xue Bingyue bertanya tentang sosok Shen Mi yang terdengar begitu dekat dengan Jing Yang. Seingat Xue Bingyue, dia pernah melihat dan bertemu dengan Shen Mi, tetapi dia tidak menyangka gadis itu sangat pandai mengelola bisnis dan keuangan.
Jing Yang menceritakan awal pertemuannya sampai dirinya yang meminta Shen Mi untuk membantunya menciptakan teman untuk anak-anak yatim-piatu dan dia beri nama Rumah Lima Warna.
Jing Yang tahu jika Shen Mi akan melakukan dan memberikan segalanya pada dirinya. Dia menyadari Shen Mi memiliki perasaan padanya. Mungkin karena kejadian di Menara Dewa dan Dimensi Neraka, Jing Yang menyadari tindakan dirinya.
“Yueyue, aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Aku hanya bersikap seperti biasa, tetapi tindakanku ini justru membuat beberapa orang menaruh perasaan padaku. Ini aneh.” Jing Yang tertawa pelan dan ditanggapi Xue Bingyue dengan tawa renyah.
“Itu tidak aneh, Yangyang. Sikap hangatmu itu akan membuat siapapun menaruh perasaan padamu, termasuk diriku.” Xue Bingyue tersenyum saat melihat pipi Jing Yang bersemu merah.
Keduanya terdiam lama karena suasana canggung. Jing Yang mempercepat langkahnya, dia terbang menapaki udara dengan kecepatan tinggi. Xue Bingyue yang mencoba mengimbangi pergerakannya mulai terlihat kesusahan.
Memahami Xue Bingyue tidak dapat mengimbangi staminanya, akhirnya Jing Yang menciptakan sebuah pedang aura yang besar dan menyuruh Xue Bingyue untuk duduk. Kemudian dia menggerakkan pedang itu dengan kecepatan tinggi.
“Sepertinya kau sangat lelah? Yueyue, kau harus berlatih lebih giat lagi. Setelah masalah di Ibukota Huaran selesai, aku akan memastikan kau mencapai tahap Pendekar Roh sama sepertiku.” Ucapan Jing Yang terdengar seperti candaan, tetapi Xue tidak tertawa sedikitpun dan justru tersenyum.
Jing Yang diam-diam melakukan kontak dengan Raja Neraka. Memang aliran waktu di Dimensi Neraka berbeda dengan didunia nyata. Untuk membawa Xue Bingyue ke Dimensi Neraka, Raja Neraka mengatakan bahwa semua itu membutuhkan energi kehidupannya.
Jing Yang yang telah terikat janji dengan Raja Neraka menyadari betapa kuatnya kutukan yang mengikat jantungnya. Jing Yang menyadari bahwa energi kehidupannya diserap Raja Neraka sedikit demi sedikit dan suatu saat dirinya akan mati karena kutukan itu.
__ADS_1
Jing Yang mengetahui jika Tubuh Roh Dewi bisa mematahkan kutukan ini. Tetapi dia tidak ingin mengkhianati perasaan Xue Bingyue. Satu-satunya yang muncul dipikiran Jing Yang adalah membantu Xue Bingyue menjadi perempuan kuat dimasa depan.
Jing Yang tidak ingin kehilangan Xue Bingyue ataupun menghilang dari Xue Bingyue. Tetapi dirinya tidak mempunyai pilihan lain karena takdir pemilik Tubuh Raja Neraka telah mengekang masa depannya.
“Yangyang, kau sudah pernah melatihku. Bagaimana aku memanggilmu? Yangyang atau Guru Jing?” Xue Bingyue bertanya dan membuat Jing Yang tertawa pelan.
“Tidak usah mengubah nama panggilanku. Cukup Yangyang. Aku menyukai itu.” Jing Yang menanggapi santai dan tenang.
Lalu keduanya melesat dengan kecepatan tinggi menuju Ibukota Huaran. Dalam perjalanan keduanya tidak mengalami gangguan yang berarti. Beberapa kali mereka berdua singgah dan mendengar obrolan para penduduk yang membicarakan tentang kepemimpinan Jiang Feng yang bisa dibilang kejam.
Jing Yang sendiri memiliki keraguan dalam hatinya untuk membunuh Jiang Feng. Tetapi keraguan itu akan menghilang saat dirinya tenggelam dalam emosi yang memenuhi dirinya. Bisa dibilang Jing Yang akan berubah kepribadiannya saat implusif gelapnya muncul secara tiba-tiba.
____
Suasana di Ibukota Huaran sangat berbeda dari yang terakhir kali Jing Yang ingat. Jing Yang dan Xue Bingyue masuk kedalam Ibukota Huaran dengan penuh waspada. Keduanya bersembunyi dan menginap disalah satu penginapan yang ada di Ibukota Huaran.
Pemilik penginapan membiarkan Xue Bingyue dan Jing Yang menginap dengan syarat akan meninggalkan Ibukota Huaran keesokan harinya. Namun setelah pemilik penginapan mengetahui identitas Jing Yang, dia membiarkan Jing Yang dan Xue Bingyue menginap.
Jing Yang dan Xue Bingyue sudah mendengar beberapa pembicara para penduduk Ibukota Huaran termasuk para pendekar Bulan Purnama Merah.
Menurut dari Jing Yang dengar. Shen Mi sekarang berada ditangan Gu Ruo. Shen Mi dikurung diruangan pribadi Gu Ruo yang berada di istana. Jing Yang daritadi sudah menahan emosinya yang meluap-luap.
Dengan kecerdikannya, Jing Yang memanipulasi aura tubuhnya menciptakan beberapa kucing berwarna putih yang terbentuk dari aura tubuhnya. Sekitar dua puluhan kucing dia beri tugas untuk mengawasi pergerakan pendekar Bulan Purnama Merah di Istana Jiang.
Jing Yang berniat akan segera melakukan penyerangan, namun dengan banyaknya penduduk kota yang berkumpul di alun-alun Ibukota Huaran membuat Jing Yang mengambil tindakan untuk mengumpulkan sejumlah informasi terlebih dahulu.
Setelah memastikan kondisi Shen Mi aman lewat kucing aura yang dia ciptakan. Semua posisi petinggi telah dipastikan. Dengan berkumpulnya penduduk Ibukota Huaran di alun-alun kota, Jiang Feng berniat mengumumkan jika tiga bulan lagi tepat digelarnya Festival Api. Pulau Iblis Tengkorak akan melakukan perburuan pada seluruh pendekar aliran putih dan netral. Termasuk rencana untuk menguasai Kekaisaran Jiang.
__ADS_1
Sementara Jing Yang sibuk mengamati setiap pergerakan di Ibukota Huaran lewat kucing aura, Xue Bingyue mengikuti setiap instruksi Jing Yang mempelajari cara memanipulasi aura.
Xue Bingyue sendiri cepat memahami saat Jing Yang menjelaskan secara singkat, padat dan jelas. Imajinasi serta besarnya lingkaran tenaga dalam adalah kunci utamanya.
Xue Bingyue belum menguasai cara memanipulasi aura tubuhnya dengan sempurna. Kondisi tubuh Xue Bingyue sangat untuk. Tubuh Yin miliknya membuat Xue Bingyue sedikit berbeda dengan Jing Yang saat dirinya memanipulasi aura tubuhnya.
Sedangkan disebuah podium yang berada di alun-alun Ibukota Huaran, terlihat Jiang Feng berdiri didampingi Gu Ruo dan Gu Fengrui. Sepasang Ayah dan anak itu terlihat begitu menakutkan dimata penduduk.
Dari yang Jing Yang ketahui lewat kucing aura yang menguping pembicaraan pendekar Bulan Purnama Merah. Gu Ruo ataupun Gu Fengrui tidak segan membunuh penduduk yang mendukung Jing Yang menjadi penerus Jiang En ataupun menolak keras Jiang Feng menduduki tahta Kaisar Jiang.
Jing Yang memang telah memastikan kondisi dan keberadaan Shen Mi aman. Namun sekarang yang menjadi perhatiannya adalah keberadaan Yi Yue.
Jing Yang berulang kali mendecakkan lidahnya saat tidak menemukan satupun informasi tentang keberadaan Yi Yue. Pidato Jiang Feng terus berlangsung, tanpa sengaja Jing Yang mendengar obrolan para pendekar Bulan Purnama Merah yang mengatakan bahwa Yi Yue berhasil melarikan diri dari Ibukota Huaran.
Jing Yang mencoba kembali mengingat tempat yang biasa dikunjungi Yi Yue. Walaupun Jiang Feng telah membunuh Jiang En, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda mereka menemukan Yi Yue.
Jiang Feng berseru lantang pada penduduk dibawah sana, “Aku mendengar beberapa diantara kalian menolak diriku yang menjadi seorang Kaisar! Aku tidak membutuhkan pendapat kalian apakah aku layak menjadi seorang Kaisar atau tidak! Yang aku inginkan adalah kekuasaan yang seharusnya menjadi milikku ini! Aku telah mendapatkannya! Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merenggutnya kembali!”
Jiang Feng menyeringai melihat para penduduk saling berbisik, “Jika tidak ingin berakhir seperti kakek tua yang terpenggal disampingku ini!” Jiang Feng memindahkan kepala Jiang En ke alun-alun kota.
Seketika Jing Yang naik pitam saat mendengar Jiang Feng mengatakan bahwa pria itu akan melakukan hal yang sama pada Yi Yue.
“Yueyue, ikuti kucing aura milikku dan selamatkan Shen Mi. Aku akan membunuh para bedebah itu!” Walaupun suaranya terdengar dipenuhi melodi kemarahan, namun ekspresi Jing Yang tidak menunjukkan emosi sedikitpun.
Xue Bingyue membuka matanya dan memegang pundak Jing Yang lembut, “Yangyang, berjanjilah. Kau tidak akan lepas kendali.”
Jing Yang tiba-tiba tersenyum melihat Xue Bingyue yang berdiri dihadapannya dan mengulurkan jari kelingkingnya. Jing Yang menyambut jari kelingking Xue Bingyue dan tersenyum.
__ADS_1
“Janji.” ucap Xue Bingyue lembut.
Jing Yang menganggukkan kepalanya, “Aku janji.”