
Setelah mengatasi masalah Binatang Iblis, Jing Yang membantu Xue Bingyue dalam proses penyerapan Permata Iblis. Kecantikan Xue Rong dan Xue Bingyue selalu menarik perhatian orang dalam perjalanan, hingga pada akhirnya Xue Rong, Xue Bingyue dan Xue Que memakai topeng rubah putih yang sama dengan Jing Yang.
Jing Yang sekarang lebih akrab dengan Liu Mengda dan Ma Lizi, karena bagaimanapun bagi kedua pria itu sosok Jing Yang akan memiliki pengaruh besar di Kekaisaran Jiang bahkan tak menutup kemungkinan di masa depan nanti Jing Yang akan menjadi sosok paling berpengaruh di Benua Dataran Tengah.
“Yang‘er, apakah Dewi Salju Yin dan Xue Bingyue itu dua kandidat pendamping hidupmu di masa depan?” Liu Mengda bertanya. Dia berpikir jika Jiang En sudah memiliki beberapa pasangan untuk Jing Yang di masa depan, mengingat Jing Yang merupakan anak berbakat di usia muda dan memiliki darah bangsawan, sudah pastinya memiliki lebih dari satu istri nantinya.
Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan, “Apa Paman Liu tahu? Aku takut akan berakhir seperti Kakekku...” Maksud Jing Yang adalah kakeknya, Jiang En yang memiliki satu permaisuri dan dua selir. Tetapi Jiang En melupakan kedua selirnya hingga mengakibatkan perubahan sikap pada anaknya, Jiang Nian.
Liu Mengda batuk pelan. Walau sudah memiliki kharisma dan ketampanan, maupun bakat di usia belia, bagaimanapun Jing Yang tetaplah seorang pemuda berumur dua belas tahun. Yang menjadi pembeda Jing Yang dan pemuda lainnya adalah masa lalunya.
Masa lalunya membuat Jing Yang menjadi seperti ini. Sehingga Liu Mengda dan Ma Lizi tidak menyinggung lagi soal masalah asmara, karena melihat Jing Yang tidak terlalu tertarik.
____
Mulut Ma Chenba membentuk huruf O setelah melihat kemegahan Ibukota Huayin dari kejauhan, kemudian dia langsung memanjati Jing Yang dan duduk di pundak pemuda itu.
“Kakak Jing Yang, Ibukota Huayin megah sekali! Wah, indahnya!” Ma Chenba berteriak kencang dan tertawa. Sementara Liu Jimeng berkali-kali mencubit tubuh Ma Chenba meminta gantian.
“Chenchen! Gantian!” Liu Jimeng menggerutu.
Jing Yang pasrah menuruti kemauan kedua bocah ini. Xue Bingyue dan Xue Rong tertawa lirih dari balik topeng mereka melihat Jing Yang yang mudah akrab dengan siapa saja.
Jing Yang memandang Ibukota Huayin dari atas. Memang kemegahan kota ini setara dengan Ibukota Huaran di Kekaisaran Jiang.
Yin Yiyao bercerita tentang anak kakak kandungnya yang sebaya dengan Jing Yang. Perempuan berwajah keibuan itu menyuruh Jing Yang mengendalikan pedang terbang langsung menuju Istana Yin.
Kehadiran Yin Yiyao yang terbang di udara bersama rombongan Jing Yang menarik perhatian penduduk. Sudah berapa bulan adik kandung Kaisar Yin ini tidak pernah berkunjung ke Ibukota Huayin, sehingga kebanyakan dari mereka berpikir Yin Yiyao sedang menyiapkan kejutan untuk kakaknya.
Kejutan ini merupakan awal dari gejolak yang lebih besar. Dan banyak orang yang belum mengetahui. Roda pergerakan masa depan mulai terhubung satu demi satu, tindakannya yang polos dan memegang teguh keadilan justru membuatnya memiliki satu demi satu teman yang tergerak akan tindakannya.
Jing Yang tidak sadar bahwa dirinya memiliki kharisma tersendiri. Dan itu yang menjadi kelebihan utamanya. Dia bertindak tulus dari hatinya dan tidak pamrih. Bahkan Yin Yiyao menaruh kekaguman pada pemuda berumur dua belas tahun ini.
__ADS_1
‘Wajar saja Dewi Salju Yin yang terkenal akan kecantikan dan sifatnya yang dingin jatuh hati pada pemuda berumur dua belas tahun ini...’ Yin Yiyao menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Ibukota Kekaisaran Yin, Huayin merupakan sebuah kota megah dengan ratusan ribu penduduk di dalamnya. Kota makmur dan sejahtera ini membuat banyak penduduk yang mencoba mencari peruntungan di Ibukota Huayin.
Saat Jing Yang mendaratkan pedang terbang tepat di depan Istana Yin, banyak penjaga yang menodongkan senjata padanya. Mereka mengira Jing Yang dan tiga gadis yang memakai topeng rubah putih adalah penjahat.
“Turunkan senjata kalian.” Suara lembut Yin Yiyao membuat para penjaga langsung menurunkan senjatanya.
Yin Yiyao langsung menuntun Jing Yang dan yang lainnya menuju Istana Yin. luas Istana Yin sendiri melebihi satu sekte besar di Kekaisaran Jiang seperti Istana Sembilan Naga.
Jing Yang memperhatikan sekitarnya bersama Xue Bingyue. Sesekali keduanya bercanda pelan saat melihat Ma Chenba dan Liu Jimeng saling berlarian dan kejar-mengejar.
Kehadiran Jing Yang, Xue Bingyue, Xue Rong dan Xue Que saja sangat menarik perhatian. Terutama Xue Rong, Xue Bingyue dan Xue Que, karena pakaian yang dikenakan mereka bertiga sudah sangat dikenal luas di Kekaisaran Yin.
“Lihat, bukankah pakaian itu dari Istana Bulan Biru?”
“Walau wajahnya tertutupi topeng, tetapi aku bisa merasakan kecantikannya...”
Mendengar bisikan para dayang dan kasim membuat Jing Yang mendecakkan lidahnya.
“Lalu siapa pemuda yang berjalan di depan mereka bertiga? Apakah dia peliharaan Dewi Salju Yin?”
“Peliharaan? Oh, aku pernah mendengar ada Siluman yang berubah wujud menjadi manusia...”
Harus Jing Yang akui sekarang dirinya merasa sedikit kesal. Tetapi dia lebih memilih diam. Sifatnya yang seperti ini membuat Xue Bingyue dan Xue Rong menaruh perhatian padanya.
Xue Que terkekeh pelan dan menepuk pundak Jing Yang, “Sabar, Saudara Jing. Coba lepas topengmu, aku yakin mereka akan tunduk padamu. Wajahmu itu layaknya giok. Mungkin kau tidak mengetahuinya, tetapi banyak perempuan yang jatuh hati padamu, termasuk aku.”
Jing Yang tidak menanggapi perkataan Xue Que. Harus Xue Que akui, wajah Jing Yang memang lebih tampan setelah kejadian Api Phoenix yang membakar dan menghilangkan seluruh luka-luka di tubuhnya.
Sesampainya di dalam Istana Yin, rombongan Jing Yang dikejutkan dengan seorang pemuda berumur dua belas tahun yang sedang dikejar perempuan berwajah keibuan.
__ADS_1
“Feng‘er, ceritakan pada Ibumu ini!” Perempuan berwajah keibuan itu menangkap pemuda berumur dua belas tahun.
“Ibunda, aku bilang aku akan menikahi perempuan bernama Qiu Mei dari Kekaisaran Jiang! Dia memberiku syarat agar menjadi seorang pendekar yang hebat, lalu dia akan menerimaku!” Pemuda itu mengatakan hal yang membuat Jing Yang dan yang lainnya mematung.
Tak lama pria berumur empat puluhan tahun datang dan langsung memegang pundak Yin Yiyao.
”Adik...” Pria tampan yang memiliki aura kebangsawanan ini adalah Kaisar Yin, Yin Ruo. Sementara perempuan berwajah keibuan itu adalah istrinya yang bernama Zhang Ruoruo dan pemuda berumur dua belas tahun adalah anak mereka berdua yang bernama Yin Feng.
“Kakak!” Yin Yiyao menangis dan memeluk kakak kandungnya.
Jing Yang melihat keduanya terkejut. Ketika berumur empat tahun dirinya selalu melihat sendiri perlakuan kedua kakak kandung ibunya pada mendiang ibunya. Melihat semua itu membuat Jing Yang menyadari sesuatu.
‘Bagaimanapun darah tetap lebih kental dari air. Mungkin aku bisa...’ Lamunan Jing Yang dibuyarkan Xue Bingyue dan Xue Rong yang menyentuh pundaknya. Tanpa dia sadari ternyata Yin Yiyao sudah menjelaskan tentang dirinya dan apa yang terjadi di Kota Shuyang.
“Yang‘er? Tidak seperti awan ataupun langit, namamu ini diambil dari kata matahari. Matahari memiliki makna yang banyak. Salah satunya matahari memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan. Walau sering kali banyak orang yang melupakannya, tetapi matahari akan tetap memberikan sinarnya untuk dunia...” Yin Ruo berbicara sendiri, sementara Jing Yang hanya diam dan mendengarkan.
Lalu Yin Ruo tersenyum menatap Jing Yang yang sedang berada dihadapannya.
“Matahari hanya ingin melihat bunga terus hidup dan berkembang
karena matahari akan memberikan semua sinarnya padanya. Agar ia tumbuh sebagai bunga yang cantik...” Tanpa sadar Jing Yang menggumam sendiri menanggapi perkataan Yin Ruo. Tatapan matanya tertuju pada Xue Bingyue yang sedang berdiri di dekatnya.
Xue Bingyue dan Xue Rong yang berdiri di samping Jing Yang terdiam membisu. Mereka berdua terkejut, bagaimana tidak karena sangat jarang Jing Yang mengatakan hal demikian bahkan tidak pernah.
Xue Bingyue memegang dadanya dan merasakan debaran detak jantungnya.
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.
Setelah baca ini jangan lupa mampir ke karya teman penulis dengan judul Gadis Cuek Dan Perjaka Tua karya Siti aisyahseor.
__ADS_1