
“Perhatikan baik-baik, anak manusia, bagaimana caranya membentuk Tungku Jiwa Naga!”
Jing Yang baru kali ini melihat Roh Sang Hitam mengeluarkan keringat dari wajah cantiknya.
Jing Yang bisa melihat Roh Sang Hitam sedang berkonsentrasi. Di udara terlihat aura berwarna merah, kuning, hijau, hitam dan putih saling berkumpul menjadi satu sebelum membentuk tungku berwarna emas yang dikelilingi kelima warna aura tersebut.
“Tungku Jiwa Naga layaknya wadah yang memasok energi alam. Kau harus menguasainya. Tidak ada kata gagal. Karena jika kau dapat menguasai Tungku Jiwa Naga. Kau bisa membuka segel Tebing Dimensi Hitam...”
Jing Yang tersenyum lebar setelah mendengar perkataan Roh Sang Hitam yang terakhir. Namun tak lama setelah Roh Sang Hitam berteriak, tubuh Jing Yang terhempas jauh ke belakang bahkan masuk ke dalam hutan yang dipenuhi Binatang Iblis Tahap Langit Tingkat Tiga.
“Sepertinya aku berlebihan...” Roh Sang Hitam melihat wajah Jing Yang yang memucat. Kemudian dia menjentikkan jarinya membuat Jing Yang melayang di udara dan Binatang Iblis Tahap Langit Tingkat Tiga terlihat ketakutan dan mulai menjauhi Jing Yang.
“Kau seharusnya sudah mengerti bukan. Kalau kau tidak bisa menguasai Tungku Jiwa Naga, maka kau tidak akan keluar dari sini!” Roh Sang Hitam dengan tegas menatap tajam Jing Yang.
“Baik, Guru. Murid akan mencobanya...” Jing Yang turun ke tanah dan mulai duduk bermeditasi sambil melakukan konsentrasi secara penuh.
Hari demi hari, Jing Yang terus melakukan hal yang sama. Tungku yang terbentuk selalu hancur tidak lebih dari satu jam. Aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya terkuras habis.
Dengan napas yang terengah-rengah. Jing Yang menarik napas dalam-dalam untuk mengatur napasnya.
“Ini tidak mudah,” ucap Jing Yang sambil menatap langit.
Jing Yang setiap hari terus terkena ledakan dari tungku yang dia bentuk. Bahkan dia masih belum mempertahankan bentuk tungku selama satu jam lebih.
Dalam melakukan meditasi dan konsentrasi secara penuh. Jing Yang merasa latihannya kali ini lebih melelahkan dibandingkan dengan bertarung melawan Binatang Iblis.
Setelah melewati latihan yang keras karena masih belum mampu membentuk Tungku Jiwa Naga. Roh Sang Hitam memberikan Jing Yang latihan lebih berat dari biasanya.
Tepat setelah umur Jing Yang sebelas tahun. Tanpa sadar aura tubuh Jing Yang meluap-luap. Kelima aura berputar di sekitar tubuhnya, sedangkan aura berwarna emas membungkus tubuhnya.
__ADS_1
Roh Sang Hitam tersenyum puas melihat kesabaran Jing Yang yang tidak patah semangat walau gagal berkali-kali. Kini dia berhasil membangkitkan kekuatan dasar untuk membentuk Tungku Jiwa Naga.
“Sekarang kau coba bentuk Tungku Jiwa Naga. Aku yakin kau sudah bisa...”
Jing Yang yang sedang melakukan kuda-kuda di bawah air terjun penasaran dengan perkataan Roh Sang Hitam. Bahkan sekarang dia lupa umurnya telah sebelas tahun.
Jing Yang bermeditasi dan melakukan konsentrasi secara penuh. Ada perubahan besar di tubuhnya. Udara hangat yang tipis mengelilingi tubuhnya, sedangkan zirah tak kasat mata membungkus tubuhnya. Itulah yang sekarang dirasakan Jing Yang.
“Olah Pernapasan Dewi Naga!”
Jing Yang mendengar perkataan Roh Sang Hitam dari alam bawah sadarnya. Kemudian dia mengikutinya.
“Aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Tapi apa itu?” Jing Yang membatin karena merasakan aura yang membungkus dan mengelilingi tubuhnya mulai berputar.
Di udara terlihat Tungku Jiwa Naga berwarna emas yang sekelilingnya terdapat aura berwarna merah, kuning, hijau, hitam dan putih membentuk pusaran.
Tungku Jiwa Naga menghisap aura disekitarnya. Tak lama Jing Yang membuka matanya dan terkejut dengan apa yang telah dia capai.
“Selamat, anak manusia. Saat ini kau telah berumur sebelas tahun...” Roh Sang Hitam memberikan ucapan selamat kepada Jing Yang.
“Semoga kau mampu menjadi perisai bagi orang-orang lemah dan menegakkan keadilan, Jing Yang. Aku hanya ingin mengatakan itu, kalau begitu, aku tidur lagi...” Cincin Dewa, Hei Huan, memberikan ucapan selamat kepada Jing Yang.
“Anak manusia, Jing Yang. Aku Fang Baihu memberimu daging sapi sebagai bentuk pertemanan kita.” Anak Harimau Putih yang tak lain Binatang Roh milik Jing Yang yang bernama Fang Baihu juga memberikan ucapan selamat.
“Selamat Saudaraku Jing Yang. Kau telah berumur sebelas tahun. Kakak Yue Wang bangga padamu! Kuharap kau mampu menjadi pedang untuk orang-orang lemah yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Kau mampu percaya pada dirimu sendiri. Sekali lagi, Kakak Yue Wang sangat bangga padamu, Saudaraku Jing Yang!” Pedang Gravitasi, Yue Wang, memeluk tubuh Jing Yang dengan sangat erat.
“Aku Bing Wang, Roh Pedang Es, aku hanya bisa turut bahagia dengan bertambahnya umurmu. Semoga kau menjadi manusia yang berbudi luhur. Menjaga kedamaian di muka bumi dan melawan orang-orang tamak yang merusuh di dunia ini.” Tak disangka Pedang Es, Bing Wang, yang belum terikat kontrak darah dengan Jing Yang juga mengucapkan selamat.
“Aiya. Anak manusia bertambah umur. Aku akan membakarmu hohoho...” Suara pria pria paruh baya yang tak lain adalah Roh Pedang Api, Huo Wang, juga turut memberikan ucapan selamat kepada Jing Yang.
__ADS_1
“Semoga kelak kau menjadi orang yang hebat, pemuda Jing Yang,” ucap Huo Wang, Roh Pedang Api.
“Jadilah manusia yang kuat, tapi tidak kasar. Jadilah pemberani, tapi tidak menggertak. Simpan nasihatku ini, pemuda Jing Yang. Jangan pernah memungkiri kebenaran dan jangan pernah menghalalkan sebuah kesalahan. Jadilah manusia yang tahu mana yang benar dan mana yang salah.” Huo Wang, Roh Pedang Api, menambahkan.
“Junior akan mengingatnya. Kakek Huo Wang.” Jing Yang menyeka air matanya dan merasa bahagia.
Jing Yang tak sadar dirinya telah meneteskan air mata. Ini adalah pengalaman pertamanya ketika hidup di Tebing Dimensi Hitam karena banyak orang yang ada untuknya. Jing Yang menjadi sadar jika dia tidak sendirian.
“Guru...” Jing Yang menyeka air matanya dan menatap Roh Sang Hitam yang terbang di udara, “Apa Guru yang melakukan semua ini?”
Roh Sang Hitam tertawa lirih melihat tingkah lucu Jing Yang yang terharu itu, “Aku sayang padamu, anak manusia. Ini adalah bentuk kasih sayangku sebagai Gurumu...”
“Aku sayang guru!” Jing Yang melompat hendak memeluk tubuh Roh Sang Hitam namun lagi-lagi dia tidak dapat memeluknya.
“Lompatannya semakin lama semakin tinggi...” Roh Sang Hitam membatin lirih dalam hatinya.
Malam itu, Jing Yang tertidur dengan wajah yang berseri-seri dan senyuman hangat yang menghiasi wajahnya.
Keesokan harinya, Jing Yang kembali berlatih di bawah arahan Roh Sang Hitam untuk menyerap aura disekelilingnya, entah itu dari Binatang Iblis ataupun dirinya sendiri.
Sedangkan aura Roh Sang Hitam tidak dapat diserap karena perempuan berparas cantik itu adalah Roh Dewi Naga Hitam.
“Anak manusia, sesuai janji. Setahun ini kau hanya perlu terus mengulang yang aku ajarkan. Kali ini kau akan mempelajari pengembangan aura.”
Roh Sang Hitam terbang rendah menghampiri Jing Yang. Perempuan berparas cantik itu menatap wajah Jing Yang dalam.
“Kau sudah banyak berubah. Rambutmu panjang sekarang dan wajahmu terlihat lebih gagah, sedikit. Mata kirimu itu membuat wajahmu lebih tampan, aku merasa mata kirimu tidak buta...” Roh Sang Hitam tertawa lirih ketika melihat wajah Jing Yang merah padam.
“Terimakasih atas pujiannya, Guru...” Jing Yang membungkuk dan menatap wajah Roh Sang Hitam yang tertawa.
__ADS_1
“Bodoh, aku tidak memujimu, aku menggodamu, anak manusia...” Roh Sang Hitam batuk pelan dan menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskan napasnya pelan-pelan.
“Aku akan mengajari tiga aura ini. Ketiga aura ini adalah pengembangan dari cara memaksimalkan aura tubuh. Pertama, Aura Zirah Naga, kedua, Aura Mata Naga dan ketiga, Aura Raja Naga...”