
Setelah menginap di Istana Yin selama sehari, Jing Yang dan Xue Bingyue berada dalam satu kamar. Tentunya mereka tertidur terpisah dan tidak seperti saat mereka kecil dulu, tidur dan mandi bersama.
Sekarang Jing Yang sedang mengeluarkan surat yang diberikan Yi Yue.
Xue Bingyue duduk manis disampingnya dan ikut membaca.
‘Selamat pagi Yang‘er. Walau Nenek tidak tahu apakah kamu menerima surat ini di waktu pagi, siang ataupun sore. Tetapi Nenek yakin kamu baik-baik saja disana.
Semoga kamu dapat bertemu dengan Yueyue. Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Jangan lupa makan makanan yang bergizi agar tubuhmu tidak mudah sakit.
Jujur Nenek masih kangen denganmu, Yang‘er. Tetapi Nenek tidak berhak melarangmu untuk pergi. Melihatmu memiliki Nona Xiaoya menjadi Guru, Nenek menjadi tenang. Sekalian titipkan salam Nenek ini kepada Nona Xiaoya.’
Xue Bingyue menatap raut wajah Jing Yang yang tersenyum kecut. Pemuda itu terlihat menyembunyikan perasaannya. Melihat itu, hati Xue Bingyue terasa sakit karena tidak ada di saat Jing Yang menderita. Tetapi tetap saja perasaannya tidak sesuai dengan pikirannya.
Kemudian Jing Yang membuka bingkisan yang diberikan Yi Yue. Ternyata isi bingkisan tersebut adalah uang. Bagaimanapun Yi Yue tetap khawatir dengan keadaan Jing Yang.
Jing Yang tertawa pelan dan menerima uang pemberian Yi Yue, lalu menaruhnya ke dalam Cincin Dewa, “Terimakasih, Nenek...”
___
Jing Yang dan Xue Bingyue sarapan pagi di dalam kamar, selesai sarapan Jing Yang berpamitan dengan Yin Ruo, Zhang Ruoruo dan kedua anaknya. Tetapi belum Jing Yang melangkahkan kakinya untuk mengajak Xue Bingyue pergi, Yin Feng langsung memegang tangan Jing Yang.
“Saudaraku, soal permintaanku yang kemarin. Apa kau tidak mau mengajariku?” Wajah Yin Feng terlihat begitu kusut. Menurut penjelasan Yin Ruo, anak pertamanya ini tidak tidur semalaman karena menunggu jawaban dari Jing Yang.
Baik Yin Ruo ataupun Yin Feng, ayah dan anak ini memiliki kemiripan. Jing Yang menatap Yin Feng singkat lalu menganggukkan kepalanya.
“Aku akan melatihmu Saudara Feng. Tetapi hanya bayanganku saja...” Jing Yang menjelaskan bahwa dirinya akan pergi berkelana singkat dengan Xue Bingyue. Jadi yang melatih Yin Feng bukanlah dirinya, melainkan bayangannya.
Jing Yang mengeluarkan beberapa sumber daya dan menaruhnya di atas meja, lalu menjelaskan satu demi satu khasiatnya kepada Yin Feng.
__ADS_1
Yin Ruo dan Zhang Ruoruo tidak dapat berkata apapun ketika melihat anak pertama mereka ingin menjadi seorang pendekar.
Memang dalam perjalanan menuju Ibukota Huayin dari Ibukota Huaran, pendekar yang mengawal mereka berasal dari Istana Bunga Persik, dan dalam perjalanan itu Yin Feng memiliki kedekatan dengan Qiu Mei.
Namun satu hal yang membuat Yin Feng penasaran dengan cerita Qiu Mei adalah pemuda bernama Jing Yang. Empat gadis cantik dari Istana Bulan Biru dan pendekar perempuan yang mengawal mereka selalu membicarakan sosok Jing Yang, sehingga tanpa sadar Yin Feng memiliki kekaguman terhadap Jing Yang setelah mendengar cerita dari para pendekar perempuan Istana Bunga Persik.
“Minta izin kepada orang tuamu, karena dalam sebulan ini kau tidak berada di Istana Yin, melainkan tempat latihan lamaku...” Jing Yang menatap Yin Feng yang menelan ludah, “Tebing Dimensi Hitam...”
Yin Feng menarik napas dalam dan menatap kedua orang tuanya, kemudian dia meminta izin untuk berlatih selama sebulan di Tebing Dimensi Hitam.
Jing Yang melepaskan Api Phoenix dalam jumlah besar dan membentuk tubuh bayangan dirinya. Setelah semalaman belajar membentuk tubuh bayangan Api Phoenix, Jing Yang sempat berpikir akan menggunakan ini di kemudian hari.
“Ayahanda, Ibunda, aku ingin berlatih bela diri. Aku sadar menjadi seorang kaisar saja tidak cukup, aku ingin menjadi pahlawan bagi rakyatku...” Yin Feng berkata penuh percaya diri dan tekad yang berapi-api.
Yin Ruo dan Zhang Ruoruo mengira anak pertama mereka hanya bercanda ingin menjadi seorang pahlawan karena dongeng masa kecilnya, tetapi sekarang Yin Feng sudah memiliki impian dan tujuan yang mulia.
“Dengar, Hua‘er, kamu berada di rumah dan tolong jaga Ayahanda dan Ibunda saat Kakak tidak ada ya...” Yin Feng dengan lembut mengusap rambut Yin Dihua.
“Baik, Feng Jiejie. Aku akan menjaga Ayahanda dan Ibunda...” Yin Dihua melompat kecil dan langsung berlari memeluk Zhang Ruoruo.
“Feng‘er, kami tidak melarangmu. Melihatmu sudah memiliki tekad saja sudah membuat kami bangga...”
Jing Yang dan Xue Bingyue saling bertatapan ketika melihat Keluarga Yin Ruo saling berpelukan. Yin Ruo dan Zhang Ruoruo terlihat seolah-olah merasa begitu bahagia karena Yin Feng telah tumbuh dan sedang mengejar tujuannya.
Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Yin Feng langsung memberi hormat kepada Jing Yang.
“Saudara Feng, tubuh bayangan Api Phoenix hanya akan melatih dasar bela diri selama sebulan. Gunakan waktu sebaik mungkin. Dalam kurun waktu sebulan, aku harap kau dapat mengalahkan tubuh bayanganku ini...” Jing Yang memegang pundak Yin Feng dan mencengkeramnya.
“Kenapa aku memberimu waktu sebulan? Karena aku ingin kau ikut dalam kompetisi Turnamen Pendekar Muda. Buatlah kedua orang tuamu bangga...” Jing Yang menambahkan sambil berjalan pelan-pelan, “Selagi mereka ada...”
__ADS_1
Yin Feng bergetar hatinya. Ya, pemuda yang membantunya ini sudah kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya. Jing Yang adalah anak yatim-piatu, dan Yin Feng tidak memungkiri dia banyak belajar dari Jing Yang tentang kehidupan. Bisa dibilang Jing Yang adalah orang yang telah menginspirasinya.
Xue Bingyue tidak pernah berhenti dibuat kagum oleh Jing Yang. Dia berjalan pelan mengikuti Jing Yang yang keluar Istana Yin.
Sesampainya di depan Istana Yin, Jing Yang membuka portal menuju Tebing Dimensi Hitam. Kemudian dia menyuruh tubuh bayangannya sendiri untuk masuk ke dalam portal.
Yin Feng masih berbincang dengan orang tuanya, kemudian dia masuk ke dalam portal dengan wajah yang serius.
Perlahan portal tertutup dan lenyap secara perlahan-lahan, terlihat Yin Ruo dan Zhang Ruoruo terkejut seolah-olah tidak ingin melihat anaknya lenyap bersama portal.
“Yang’er, apa kau yakin tidak ingin menerima ini?” Yin Ruo dan Zhang Ruoruo sama-sama bertanya.
Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak menerima lencana kebangsawanan ataupun harta kekayaan yang diberikan Yin Ruo.
Yin Ruo dan Zhang Ruoruo hanya menghela napas panjang karena melihat anak semuda Jing Yang memiliki pemikiran yang dewasa dibandingkan anak-anak seusianya.
Jing Yang melirik Xue Bingyue yang sedang mengobrol dengan Yin Dihua.
Tak lama Xue Bingyue berjalan menghampirinya, “Rubah Putih...”
“Tebing Dimensi Putih. Aku akan membawamu kesana...” Xue Bingyue menambahkan dengan antusias.
Jing Yang hanya mengangguk setuju sebelum tangannya ditarik Xue Bingyue memasuki portal menuju Tebing Dimensi Putih.
Cincin Portal milik Jing Yang dan Xue Bingyue termasuk pusaka langka dengan jumlah terbatas. Kini Jing Yang dan Xue Bingyue berada di tempat awal semuanya bermula. Awal dimana takdir Jing Yang dan Xue Bingyue berubah.
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.
__ADS_1