Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 68 : Pertempuran Istana Sembilan Naga II


__ADS_3

“Seperti biasa kalian berdua dapat membuatku berdecak kagum.” Yan Kang memuji permainan pedang Murong Qiaomi, begitu juga dengan Murong Liuyu yang sedang bertarung sengit melawan pendekar agung dari Gunung Pedang Tunggal.


Murong Qiaomi tidak terlalu peduli dengan pujian Yan Kang. Mungkin dahulu saat dia masih gadis, pujian Yan Kang akan membuatnya tergila-gila dan membuat wajahnya merah merona. Tetapi saat ini pujian dari Yan Kang dianggap Murong Qiaomi sebagai angin lalu.


Murong Qiaomi mengolah pernapasan dan memejamkan matanya sesaat untuk melakukan konsentrasi secara penuh. “Seni Napas Bunga : Persik Bersemi...” Pergerakan Murong Qiaomi mengalir dengan lembut.


“Sepuluh tahun, dua puluh tahun, mungkin sudah dua puluh tahun lamanya aku ingin melihat keindahan ini. Kau semakin cantik, Mi‘er...” Yan Kang tersenyum penuh takjub walau dia sendiri melepaskan aura pembunuh yang besar.


Murong Qiaomi membuka matanya dan melotot tajam menatap dingin pria yang membuatnya merasa begitu marah, “Wanita adalah bunga. Kau yang berhati keruh dan bergerak berdasarkan nafsu tidak akan mengerti keindahan sang bunga ketika mekar.”


Murong Qiaomi memainkan pedangnya dengan gemulai, namun setiap tebasannya sangat bertenaga. Murong Qiaomi terus melayangkan serangan, sementara Yan Kang menyambutnya dengan wajah yang mengkerut, keningnya muncul urat-urat menahan amarah karena Murong Qiaomi memandang rendah dirinya.


“Sepertinya aku harus melumpuhkan titik meridianmu, agar kau menjadi pendamping hidupku, Mi‘er...” Yan Kang tidak menunjukkan kewibawaannya. Walau dia merupakan Ketua Gunung Pedang Tunggal tetapi sifat dan perilakunya tak lebih sama seperti pendekar aliran hitam, bahkan lebih busuk dari aliran hitam.


Murong Qiaomi yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan menyambut tebasan pedang Yan Kang yang mematikan.


Keduanya mulai beradu ilmu yang mereka punya, Murong Qiaomi tidak menurunkan penjagaannya sedikitpun ketika menghadapi Yan Kang. Melihat Yan Kang memainkan pedangnya cukup brutal, sudah menunjukkan bahwa pria yang sedang bertarung melawannya tidak akan segan melukai seorang wanita.


Bilah pedang Yan Kang berwarna emas setelah bertukar serangan lebih dari tiga puluh serangan dengan Murong Qiaomi. Senyuman sinis menghiasai wajah Yan Kang yang mulai keriput.


“Jurus Pedang Tunggal : Raja Singa Menelan Bunga!”


Auman singa terdengar bersamaan dengan tebasan pedang Yan Kang yang dipenuhi energi pedang. Murong Qiaomi tidak tinggal diam melihat serangan yang dilepaskan Yan Kang.


Dengan cepat Murong Qiaomi mengaliri bilah pedangnya dengan aura dan tenaga dalamnya, perlahan bilah pedangnya berwarna ungu.

__ADS_1


“Jurus Pedang Bunga Persik : Peri Pembelah Awan!”


Yan Kang melepaskan aura pembunuh lebih besar dari sebelumnya, “Akan kuperlihatkan padamu jika kau pantas tunduk padaku, Mi‘er!”


“Kau sudah terhasut iblis, Saudara Yan! Menundukkan aku? Tidak semudah itu, aku disini akan menunjukkan padamu jika Istana Bunga Persik dan Pulau Salju Rembulan adalah panutan aliran putih yang sesungguhnya!” Seketika aura berwarna ungu melapisi tubuh Murong Qiaomi dan membentuk sebuah pelindung.


Di saat Murong Qiaomi dan Yan Kang bertarung dengan segenap kemampuan mereka di pertempuran ini. Tidak jauh dari lokasi hutan belantara yang dipenuhi pepohonan hitam terlihat Hua Ying dan Chi Rong melawan dua pendekar agung dan lima pendekar suci dari Gunung Pedang Tunggal.


Chi Rong menggunakan ilmu pedang dari Istana Bunga Persik yang membuat orang-orang berada disekitarnya menjaga jarak.


“Saudari Chi, sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Kau masih sendiri bukan? Bagaimana jika kau—”


“Hentikan omong kosongmu! Seumur hidupku, aku tidak akan sudi berdampingan dengan orang-orang dari Gunung Pedang Tunggal!” Chi Rong melepaskan aura tubuhnya. Segera Chi Rong melukai telapak tangannya hingga berdarah. Seketika pedang yang digenggam wanita itu bercahaya berwarna putih terang.


“Pedang Jiwa Suci adalah Pusaka Langit. Hanya perempuan suci yang masih perawan yang dapat menggunakan pedang legenda itu...” Pria yang sedang berhadapan dengan Chi Rong adalah Tetua Pedang dari Gunung Pedang Tunggal yang bernama Yan Fengrui.


Merasa geram karena Chi Rong tidak menjawab setiap perkataannya, akhirnya Yan Fengrui melepaskan aura tubuhnya dan mulai mengalirinya ke dalam bilah pedangnya hingga aura tersebut memadat.


“Aku tidak akan segan melawanmu, Saudari Chi! Mari kita buktikan ilmu pedang terkuat antara Istana Bunga Persik dan Gunung Pedang Tunggal!” Yan Fengerui bergerak dengan kecepatan tinggi menuju tebasan pedang Chi Rong yang membentuk tebasan berwarna ungu dan disekelilingnya dikelilingi bunga-bunga yang terbentuk dari aura.


“Jurus Pedang Tunggal : Pembelah Gunung Berapi!”


Ketika kedua tebasan saling beradu, pendekar suci ataupun pendekar yang berada di bawah tahap keduanya langsung terhempas. Semua orang yang berada di sekeliling Chi Rong dan Yan Fengrui kesulitan untuk bergerak karena aura pembunuh dan energi pedang dari keduanya terasa mencekam dan mengerikan.


Keduanya kembali bertukar serangan, jurus demi jurus mereka perlihatkan untuk membuktikan kehebatan dari orang yang menjabat sebagai Tetua Pedang. Harga diri dipertaruhkan di pertarungan ini, baik harga dirinya sendiri maupun harga diri sekte masing-masing.

__ADS_1


Chi Rong menebaskan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya, permainan pedangnya menjadi agresif walau tidak seagresif Ye Xiaoya.


“Kuakui kemampuanmu memang hebat, Tetua Pedang Bunga, tetapi kemampuanmu masih jauh dibawahku!” Yan Fengrui tertawa sinis sambil terus menyambut dan membalas serangan Chi Rong.


“Lebih kuat dariku? Hmm, menurutku tidak ada orang kuat yang mengaku kuat, tidak ada orang cantik yang mengaku cantik dan tidak ada orang tampan yang mengaku tampan. Sebagai seorang Tetua Pedang Bunga, aku selalu diajarkan untuk rendah diri, bukan menyombongkan diri.” Chi Rong menjawab dengan nada bercanda dan tawa yang cekikikan sehingga membuat kening Yan Fengrui mengkerut.


“Sepertinya mulutmu itu harus kujahit setelah kutebas dengan pedangku ini!” Yan Fengrui melepaskan aura pembunuh yang besar dan memainkan pedangnya dengan lincah, “Jurus Pedang Tunggal : Harimau Menggapai Langit!”


Yan Fengrui menggunakan jurus pedang yang membutuhkan tenaga dalam yang besar. Melihat lawannya mulai bertarung dengan segenap kekuatannya, Chi Rong juga membalas serangan Yan Fengerui dengan permainan pedangnya yang tenang namun bertenaga.


“Jurus Pedang Bunga Persik : Peri Bunga Berguguran!”


Pertarungan Chi Rong melawan Yan Fengrui begitu menggemparkan, tidak jauh dari lokasi pertempuran keduanya terlihat Hua Ying beradu pukulan dengan pendekar agung dari Gunung Pedang Tunggal.


“Tidak buruk juga pukulanmu, hmmm, siapa namamu?” Hua Ying memasang wajah imut yang sedang berpikir dan membuat pendekar agung dari Gunung Pedang Tunggal yang bernama Yan Zhang mengerutkan keningnya.


“Saudari Hua! Jangan pura-pura polos menjadi seorang wanita!” Yan Zhang melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah untuk membentuk seratus pedang berwarna merah.


Hua Ying merapatkan giginya, “Apa maksud perkataanmu itu?!” Wanita dengan rambut yang diikat itu melakukan hal yang sama dengan Yan Zhang.


Lalu keduanya mulai bertukar serangan menggunakan kemampuan mengontrol aura tubuh dengan mahir. Baik Hua Ying ataupun Yan Zhang, keduanya sama-sama hebat dalam mengontrol aura tubuh masing-masing.


Tidak terlalu jauh dari lokasi tempat Tiga Pilar Istana Bunga Persik melawan Tiga Pilar Gunung Pedang Tunggal bertarung, ada dua orang yakni Jing Yang dan Ye Xiaoya yang membuat ratusan pendekar putih menjaga jarak dari keduanya.


Jing Yang dan Ye Xiaoya dikepung dari berbagai arah, tetapi permainan pedang Ye Xiaoya yang brutal dan aura hitam pekat yang mengelilingi tubuh Jing Yang membuat semua orang berpikir dua kali untuk melawan kedua guru dan murid yang sedang bertarung bersama.

__ADS_1


Pendekar agung dan pendekar suci dari Istana Naga Api tertarik melawan Ye Xiaoya dan Jing Yang. Melihat keduanya sedang bertarung hebat melawan pendekar dari Gunung Pedang Tunggal, dua pendekar yang bergerak dengan kecepatan tinggi itu berniat menyerang keduanya dari belakang.


__ADS_2