
Dua tebasan menyilang tidak dapat memberikan kerusakan yang berarti pada tubuh Kalajengking Berlian. Jing Yang mengetahui jika setiap tubuh Kalajengking Berlian sangat berharga.
Pertukaran serangan antara Jing Yang dan Kalajengking Berlian berlangsung cukup lama, beberapa saat setelah Jing Yang melepaskan putaran tebasan yang menciptakan pusaran angin, dia dapat menghancurkan sedikit berlian yang melindungi Permata Iblis tepat di kepalanya.
“Seni Napas Dewa Naga Angin!” Dalam satu kali tarikan napasnya, Jing Yang sudah dalam posisi bersiap melakukan serangan, “Badai!”
Suara Permata Iblis yang terlepas dari tubuhnya membuat Kalajengking Berlian mengamuk. Tetapi pergerakan Kalajengking Berlian justru semakin cepat bersamaan dengan berlian yang terjatuh dari tubuhnya.
Jing Yang melepaskan energi pedang sebelum mengayunkan pedangnya dengan penuh tenaga. Tubuh Kalajengking Berlian terpotong menjadi dua bagian tepat setelah Jing Yang mengambil Permata Iblis dan berlian yang menempel di tubuh Kalajengking Berlian.
Jing Yang melihat Xue Bingyue yang menatapnya. Ada satu hal yang dia sadari, walau Xue Bingyue kehilangan ingatannya. Tetapi gadis itu merasa nyaman dengan dirinya.
Jing Yang memberikan Permata Iblis kepada Xue Bingyue, “Aku akan memberikan untuk Saudari Que yang ini.” Jing Yang mengeluarkan beberapa Permata Iblis karena melihat Xue Que menatapnya tajam.
“Ah, tidak perlu. Tetapi terimakasih. Aku hanya kagum saja denganmu.” Maksud Xue Que adalah tindakan polos dan tekad Jing Yang yang membuat Xue Rong jatuh hati padanya.
Setelah melihat sendiri kemampuan Jing Yang, akhirnya Xue Que sadar jika pemuda itu memang memiliki tatapan hangat dan kharisma yang berbeda dari laki-laki lainnya.
“Senior Rong, apa kau mengetahui jalan menuju lantai dua?” Jing Yang melepaskan aura berwarna merah dan membentuk jaring, lalu mengambil setiap lautan harta yang ada di lantai satu Makam Ratu Kuno dan memasukannya ke dalam Cincin Dewa.
“Apa kalian tidak menginginkannya? Sebenarnya aku tidak tertarik dengan harta, tetapi perkataan Senior Rong ada benarnya.”
Xue Que menjambak rambutnya sendiri, dia tidak menyangka Jing Yang akan mengatakan itu. Sementara dia melihat jelas wajah Xue Rong yang terlihat malu-malu.
Xue Que menepuk pundak Jing Yang dan mendesah pelan, “Beruntungnya kamu melihat Dewi Salju Yin seperti ini. Apa kau tahu di luar sana ada ratusan orang yang menginginkannya...”
Jing Yang menarik napas dalam, dia melihat Xue Bingyue dan Xue Rong yang menghampirinya. Tak lama Xue Rong menunjukkan jalan menuju lantai dua.
“Yueyue, apa kau tidak cemburu melihat Gurumu jatuh hati pada Rubah Putihmu?” Xue Que merangkul pundak Xue Bingyue dan menatap pipi gadis ini yang merah merona.
“Aku juga baru mengenal Rubah Putih. Kenapa aku harus cemburu?” Setelah Xue Bingyue menjawab, Xue Que lebih memilih diam.
Akhirnya mereka sampai di lantai dua Makam Ratu Kuno. Jing Yang dan Xue Rong berjalan berdampingan sebelum akhirnya mereka disambut lima puluh prajurit batu.
Xue Rong melirik Xue Bingyue yang menatapnya. Dia tersenyum lembut dan mengangguk, tak lama Xue Bingyue langsung bergerak cepat membekukan lantai yang mereka pijak.
“Yueyue memiliki kemampuan yang luar biasa. Junior Yang, aku akan menemanimu mengembalikan ingatannya.”
Xue Que kembali mencengkeram tangan Xue Rong. Perkataan Xue Rong sama saja seperti meninggalkan posisi Matriark Istana Bulan Biru dan memilih pergi bersama Jing Yang.
Xue Que walau lebih muda, tetapi dia memiliki mental yang lebih dewasa dari Xue Rong. Orang yang menjadi teman pertama dari gadis cantik itu tidak menyangka akan mendengar perkataan ini.
__ADS_1
“Guru, aku tahu perasaanmu tetapi kendalikan dirimu...” Xue Que tidak memiliki tenaga untuk berbicara panjang lebar setelah melihat wajah Xue Rong.
Jing Yang sendiri sudah terbiasa dengan sikap Xue Rong karena dia pernah melakukan perjalanan bersama Ye Xiaoya.
Jing Yang mengalihkan pandangannya menatap Xue Bingyue setelah melihat wajah Xue Rong.
Xue Bingyue dapat mengatasi dua puluh prajurit batu sendirian, dan Xue Que yang sedari tadi menanyakan perasaan Xue Rong akhirnya membantu Xue Bingyue.
Dengan kemampuan Xue Bingyue yang telah dilatih Roh Sang Putih, tentu dia dapat mengatasi prajurit batu dengan mudah. Sepuluh prajurit batu yang tersisa kembali dihancurkan Jing Yang.
Seketika Xue Bingyue mengembungkan pipinya dan mencubit perut Jing Yang.
“Apa kamu sengaja?”
Jing Yang memang sengaja, dia tidak menyangka akan melihat kembali ekspresi menggemaskan sahabat kecilnya.
Jing Yang menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis dari balik topengnya. Saat Xue Bingyue terlihat kesal dengannya, muncul sepuluh prajurit batu yang memiliki kemampuan lebih besar dari lima puluh prajurit batu sebelumnya.
“Suxue, kembalilah...” Seketika Pedang Salju Suxue masuk ke dalam telapak tangan Xue Bingyue.
Jing Yang tertegun melihatnya, “Bisa ajarkan aku seperti itu?”
Jing Yang mengangkat alisnya, “Apa syaratnya?”
“Kamu harus mengajariku caranya terbang.” Xue Bingyue tersenyum setelah berkata demikian. Perlahan gadis ini melepaskan hawa dining yang membekukan tubuh dua prajurit batu.
“Pamrih.” Jing Yang langsung melepaskan tapak tangannya pada prajurit batu yang dibekukan Xue Bingyue.
Xue Rong dan Xue Que ikut bertarung. Mereka berdua meninggalkan Xue Bingyue yang berulang kali mencoba membekukan tubuh Jing Yang.
“Guru, seleramu tidak buruk...” Belum menyelesaikan perkataannya, tubuh Xue Que masuk ke dalam lubang, gadis ini menginjak perangkap di sekitar lantai dua.
Xue Rong langsung menghentikan pergerakannya dan mengamati sekelilingnya. Memang di sekitar lantai dua ada perangkap.
Xue Rong memberitahu pada Jing Yang dan Xue Bingyue agar lebih berhati-hati. Gadis ini bergerak kembali dan melupakan Xue Que yang terjatuh.
“Maaf,” ucap Jing Yang pelan saat Xue Bingyue terlihat kesal padanya. Dia langsung bergerak menghancurkan prajurit batu yang tersisa.
Xue Bingyue merasakan hangat dihatinya, setelah dia ditemukan Xue Rong dan Tetua Agung Istana Bulan Biru di perbatasan Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Yin, Xue Bingyue pingsan dan disekitarnya ditemukan sekitar lima puluh mayat pria yang membeku.
Semenjak hari itu Xue Bingyue selalu menjaga jarak dari laki-laki, tetapi semenjak pertemuannya kembali dengan Jing Yang, dia dapat merasakan kehangatan yang sempat dia lupakan.
__ADS_1
Xue Bingyue membekukan dua prajurit batu yang hendak dihancurkan Jing Yang, kemudian dia meremas tangannya dan menghancurkannya.
Jing Yang menoleh melihat Xue Bingyue yang tersenyum padanya, kemudian dia hanya menggelengkan kepalanya pelan dan mengamati Xue Rong telah menghancurkan prajurit batu yang tersisa.
Jing Yang dan Xue Bingyue menatap ke bawah perangkap lubang, disana ada Xue Que yang terjatuh. Jing Yang menarik Pedang Gravitasi dan menghilangkan beban tubuh Xue Que.
Tepat setelah tidak ada lagi prajurit batu yang tersisa, Xue Rong menginjak perangkap. Gadis itu terangkat sebuah tali aura tepat di kedua kakinya.
“Akh!” Xue Rong memekik. Seketika raut wajah Xue Bingyue sedikit memerah, sementara Xue Que sudah merah padam.
Pemandangan ini membuat wajah Jing Yang sedikit memerah. Segera Xue Bingyue menutup mata pemuda itu.
“Tolong Guruku, tetapi jangan melihatnya! Apa kamu mau tanggung jawab!” Tubuh Xue Bingyue bergerak tidak sesuai pikirannya.
Jing Yang merasakan aura dingin Xue Rong dan menebas tali aura sebelum menghilangkan beban tubuh Xue Rong.
Xue Que sudah ambruk ke tanah karena melihat lekuk tubuh Xue Rong, sementara Xue Rong tidak habis pikir karena Jing Yang melihat sisi dirinya yang memalukan.
Selama ini hanya Xue Bingyue, Xue Que dan Tetua Agung Istana Bulan Biru yang tahu bagaimana sifat Xue Rong, tetapi malam ini Jing Yang mengetahuinya.
“Maaf,” ucap Xue Bingyue sebelum bergerak ke depan. Dia membekukan prajurit batu setinggi tiga meter yang hendak memukul Xue Rong.
‘Kenapa aku jadi mengingat saat itu!’ Jing Yang mengingat kepolosannya saat kecil bersama Xue Bingyue.
___
Mungkin sekarang setiap harinya akan up 1 chapter per hari. Akhir bulan baru crazy up. Karena mulai besok aku di suruh training ke pabrik kelapa sawit selama dua mingguan. Mudah-mudahan disana ada jaringan yang mendukung. Ngatur waktu susah-susah gampang. Kadang-kadang kalau lagi capek + pulang gak ada maem(Curhat hah!), nah buka hp liat komentar negatif bikin darah tinggi seketika. Maklumlah, lulusan SMK tahun lalu, umur aja belum genap dua puluh. Darah naga muda wkwkwk.
Youyou : Yangyang crazy up donk.
Jing Yang : Hmm, kenapa harus crazy up?
Youyou : Nanggung, masa sehari cuma 1 chapter.
Jing Yang : Cih, vote aja belum. Minta crazp up mulu, ngomong-ngomong Pedang Gravitasi ini tajam juga ya...
Youyou : Pergi ah, males baca lagi. Lagian cerita ini juga bertele-tele bla... bla... bla...
Jing Yang : Pergilah. Aku tidak butuh orang yang menemaniku saat di awal perjalanan saja, tetapi aku ingin melihat siapa yang bertahan menemani perjalananku sampai akhir nanti.
Selamat menikmati pagi yang penuh dengan embun.
__ADS_1