
Dong Yuan dan Shui Jun bertukar serangan. Terlihat permainan pedang Shui Jun lebih mahir dari Dong Yuan. Keduanya bertarung cukup sengit karena Dong Yuan sendiri berusaha mengimbangi permainan pedang Shui Jun.
Dong Yuan memperlambat langkah kakinya ketika melihat Shui Jun merubah kuda-kudanya. Kali ini Dong Yuan lebih memilih mengamati Shui Jun yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Pertahanan Dong Yuan bisa dibilang begitu kuat, walau sekujur tubuhnya memiliki luka tusukan, tetapi pemuda itu masih dapat tersenyum di tengah pertandingan yang mendebarkan.
Shui Jun tetap dengan kecepatan tinggi menyerang Dong Yuan. Sebuah tebasan pedang yang membentuk lintasan air bergerak cepat menyerang Dong Yuan.
“Tunjukkan kekuatanmu.” Shui Jun menatap Dong Yuan yang terlihat mengamati dirinya.
Mendengar Shui Jun berbicara padanya, Dong Yuan tersenyum tipis dan melepaskan aura tubuhnya. Gerakan Dong Yuan melambat sebelum dia melompat ke belakang ketika tebasan lintasan air yang dilancarkan Shui Jun mengarah padanya.
Shui Jun tersenyum melihat Dong Yuan dapat mengantisipasi serangannya. Pertandingan awal lebih didominasi oleh Shui Jun karena berkali-kali melancarkan serangan yang membuat Dong Yuan mundur bahkan menjaga jarak dari pemuda yang mewakili Sekte Lembah Air tersebut.
Dong Yuan terlihat lebih agresif dalam menyerang setelah melihat beberapa teknik pedang Shui Jun. Terlebih permainan pedang Shui Jun kali ini lebih gemulai dan bertenaga. Sementara Dong Yuan cukup agresif dalam mengayunkan pedangnya.
Keduanya mulai bertukar serangan dan melancarkan serangan demi serangan yang membuat penonton mulai menikmati pertandingan yang tersaji di panggung tanah. Ledakan dan benturan kedua teknik pedang membuat kerusakan di panggung tanah. Baik itu Dong Yuan maupun Shui Jun sama-sama mencoba mempertahankan permainan pedang mereka berdua.
Dong Yuan mempercepat langkah kakinya dan ayunan pedangnya. Sementara Shui Jun menahan dan menangkis tebasan pedang yang dilancarkan oleh Dong Yuan.
Walaupun permainan pedang Shui Jun gemulai dan tidak seagresif Dong Yuan, namun setiap pertahanan dan tebasannya berisi tenaga dalam.
Dong Yuan menyadari serangannya tidak akan mampu mengalahkan Shui Jun jika serangan yang dia lancarkan tetap sama seperti sebelumnya. Kali ini Dong Yuan melepaskan aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya, lalu mengalirkannya pada bilah pedangnya.
Shui Jun menyadari aura intimidasi dan aura pembunuh yang dilepaskan Dong Yuan. Walau samar-samar namun Shui Jun dengan cepat membalas tindakan Dong Yuan.
Benturan aura terlihat di udara. Keduanya bertukar serangan lebih dari tiga puluh tiga serangan sebelum mundur ke belakang dan melancarkan tebasan pedang yang membentuk sabit.
Benturan kedua tebasan yang membentuk sabit membuat kerusakan di tanah. Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Dong Yuan dan balasan bertubi-tubi dari Shui Jun membuat keduanya bertarung dengan lebih sengit.
Shui Jun menangkis tebasan pedang Dong Yuan dan mendorongnya ke depan sebelum memutarkan tubuhnya, lalu menendang perut Dong Yuan.
”Berakhir!” Shui Jun berteriak dan melompat ke belakang. Ketika masih melompat di udara, Shui Jun mengayunkan pedangnya yang dia aliri dengan tenaga dalam ke arah Dong Yuan.
“Jurus Pedang Lembah Air : Amukan Hiu Buas!”
Sebuah tebasan pedang yang membentuk hiu air melesat cepat ke arah Dong Yuan. Hiu yang tercipta dari aura itu terlihat seperti berenang di udara dan bergerak dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu yang sama ketika Dong Yuan mundur beberapa langkah ke belakang, dirinya sudah melapisi bilah pedangnya dengan auranya dan mengalirinya dengan tenaga dalam di saat yang bersamaan.
“Seranganmu memang menakjubkan, tetapi tipuanku lebih menakjubkan...” Dong Yuan menebaskan pedangnya membentuk sebuah mulut burung elang api yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dong Yuan dan Shui Jun menebaskan pedangnya hampir dalam waktu yang bersamaan. Ketika kedua teknik pedang berbenturan dan membuat tengah arena panggung tanah hancur.
Benturan yang berisi energi pedang itu membuat Shui Jun terpental ke belakang, namun tidak dengan Dong Yuan yang bergerak dengan kecepatan tinggi memilih melancarkan serangan terakhirnya untuk mengakhiri pertandingan.
Penonton yang berada di setiap tribun cukup terkejut dengan keberanian Dong Yuan yang membiarkan tubuhnya terluka. Pemuda yang berasal dari Istana Sembilan Naga telah mengambil ancang-ancang sebelum kedua teknik pedang saling membentur, sehingga dia memiliki momentum terakhir yang akan membuat Shui Jun tidak berkutik sedikitpun.
Dong Yuan menebaskan pedangnya ketika Shui Jun belum terjatuh ke tanah. Walau Shui Jun berhasil menahannya, tetapi persiapan Dong Yuan lebih matang. Tubuh Shui Jun kembali terpental keluar arena dan memuntahkan darah segar, sementara Dong Yuan lebih parah karena menahan rasa sakitnya.
Melihat Shui Jun keluar arena pertandingan, Ye Long mengakhiri pertandingan dan mengumumkan Dong Yuan sebagai pemenangnya.
“Pemenangnya, Dong Yuan dari Istana Sembilan Naga!”
Penonton memberi tepuk tangan pada Dong Yuan dan Shui Jun. Pendekar dari Sekte Lembah Air segera menolong Shui Jun, sementara Dong Yuan justru tersenyum puas walau tubuhnya bersimbah darah.
“Selanjutnya mari kita sambut peserta nomor tujuh dan delapan.” Ye Long memanggil dua peserta yang akan bertanding selanjutnya.
“Lawanmu pendekar raja. Sepertinya kau memiliki masa lalu yang kelam dengan pendekar yang berasal dari Gunung Pedang Tunggal...” Jing Yang berkata pada Qiao Xi yang sedang menatap dirinya.
“Ada sedikit masalah di masa lalu. Aku tidak akan menceritakannya pada Saudara Jing Yang sekarang.” Qiao Xi mengedipkan matanya. Mei Hua yang berniat memberi semangat pada teman seperguruannya itu terdiam melihat sikap Qiao Xi yang berbeda hari ini.
Qiao Xi melompat ke panggung tanah dan berdiri di depan Yan Hexia, seorang pendekar perempuan yang berumur tujuh belas tahun dan berasal dari Gunung Pedang Tunggal akan menjadi lawan dari Qiao Xi.
“Saudara Jing Yang, apa kau dan Qiao Xi memiliki hubungan khusus...” Mei Hua berkata dengan malu-malu kepada Jing Yang.
Wajah Mei Hua merah merona, “Hubungan khusus seperti kekasih...” Dalam sekejap wajah Mei Hua merah padam.
“Jangan buat seorang perempuan mengatakan hal yang memalukan...” Mei Hua mengembungkan pipinya, “Saudara Jing Yang, bodoh...”
“Hah? Kekasih?” Jing Yang tersentak kaget.
“Aku dan Saudari Qiao Xi hanya sebatas teman tidak lebih. Begitu juga dengan Saudari Mei Hua dan Saudari Qiu Mei. Aku menganggap kita berempat adalah teman. Tapi sepertinya hanya aku saja yang menganggap kalian sebagai seorang teman...” Perkataan Jing Yang membuat Mei Hua memalingkan wajahnya.
‘Jantungku! Kenapa suara jantungku sangat berisik! Apa ini karena perkataan Saudara Jing Yang?’ Mei Hua merah padam wajahnya hingga seperti tomat matang. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke samping berharap Jing Yang tidak melihat wajahnya. Namun gadis muda itu dikejutkan dengan tangan Jing Yang yang menyentuh tangan kirinya.
“Saudari Mei Hua?” Jing Yang merasa Mei Hua mengkhawatirkan Qiao Xi sehingga dirinya berusaha menenangkan gadis muda tersebut. Namun semua itu tidak seperti yang dipikirkan olehnya. Jing Yang benar-benar salah mengira.
“Iya...” Mei Hua dengan gugup menjawab dan tanpa sadar menatap lurus wajah Jing Yang.
“Saudari Mei Hua, kenapa wajahmu merah begitu? Apa kau sakit?” Tidak peka. Jing Yang sangat tidak peka. Dia tidak sadar setiap tindakan dan perkataannya telah membuat Mei Hua salah tingkah, tetapi Jing Yang tidak peka.
“Enggak merah...” Mei Hua menatap wajah Jing Yang.
__ADS_1
“Tidak, wajahmu semakin memerah...” Jing Yang tidak melanjutkan perkataannya ketika Roh Sang Hitam berbisik di telinganya. Seketika wajah Jing Yang juga merah padam.
Keduanya langsung memalingkan wajahnya ke samping ketika kedua bola mata Mei Hua menatap Jing Yang penuh makna.
“Anak manusia, kau baru sadar jika telah membuat teman-teman yang kau temui jatuh hati padamu.” Roh Sang Hitam melayang di udara dan terkekeh melihat ekspresi menggemaskan dari Jing Yang.
‘Anak ini selalu saja memiliki kharisma tersendiri.’ Roh Sang Hitam terbang lebih tinggi dan tertawa lepas melihat Jing Yang dari kejauhan.
Sementara itu Qiao Xi dan Yan Heixa sedang mendengarkan penjelasan Ye Long. Tak lama mereka berdua melompat ke belakang dan menjaga jarak.
“Dengan ini pertandingan dimulai!” Ye Long memulai aba-aba pertandingan.
“Saudari Qiao Xi, aku harap kau setelah ini jangan pernah mendekati Yan Shangxuan!”
Setelah berkata demikian, Yan Hexia mulai mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam sebelum bergerak menyerang Qiao Xi. Pergerakan Yan Hexia begitu cepat dan membuat Qiao Xi langsung bertarung dengan serius sejak awal pertandingan.
Permainan pedang Yan Hexia tidaklah buruk. Berkali-kali gadis muda itu bertukar serangan dengan Qiao Xi dan sesekali memberikan tebasan pedang yang membuat Qiao Xi bersusah payah menghindarinya.
“Saudari Qiao Xi jangan sesekali meremehkanku!”
Nampak Yan Hexia marah besar ketika Qiao Xi dapat menahan tebasan pedangnya. Permainan pedang Yan Hexia memanglah bertenaga, tetapi Qiao Xi dapat menahannya dengan permainan pedangnya yang gemulai.
Qiao Xi tidak menjawab perkataan Yan Hexia. Gadis muda itu selalu bersikap dingin pada orang yang tidak dia suka. Mungkin selain para Tetua Istana Bunga Persik dan kedua teman seperguruannya, Qiao Xi tidak terlalu tertarik atau peduli pada orang lain dari luar Istana Bunga Persik. Untuk Jing Yang dan Ye Xiaoya adalah pengecualian, gadis muda itu tanpa sadar telah tertarik pada Jing Yang. Pemuda yang memiliki umur lebih muda darinya.
Setelah keduanya bertukar serangan lebih dari sepuluh jurus. Qiao Xi lebih mendominasi pertarungan. Permainan pedangnya gemulai namun bertenaga. Sedangkan langkah kakinya berkali-kali melakukan gerakan tipuan yang membuat Yan Hexia terkecoh.
Qiao Xi melepaskan aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya sebelum mengalirinya pada bilah pedangnya. Setiap tebasan pedangnya berbenturan dengan pedang Yan Hexia, kerusakan di tanah terjadi. Percikan dan ledakan sesekali terjadi ketika keduanya bertarung dengan sengit.
Setiap menahan tebasan pedang Qiao Xi, perlahan Yan Hexia merasa kekuatan Qiao Xi meningkat. Keduanya kembali bertukar serangan lebih dari dua puluh dua serangan.
Qiao Xi memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran angin yang menghempaskan tubuh Yan Hexia. Tidak sampai disitu saja, Qiao Xi kembali melancarkan serangan beruntun pada Yan Hexia tanpa memberi ruang pada lawannya untuk mengatur napas bahkan tenaga.
Tidak butuh waktu lama bagi Qiao Xi untuk mengalahkan Yan Hexia. Ketika pedang milik mereka berdua saling berbenturan. Qiao Xi sengaja mengincar pertahanan Yan Hexia yang telah melemah.
Pedang Yan Hexia terlepas dari tangannya. Qiao Xi menendang perut Yan Hexia dan mengarahkan pedangnya tepat di depan leher Yan Hexia.
Qiao Xi menatap Yan Hexia yang tergeletak di tanah, sementara Yan Hexia terdiam mematung melihat ujung pedang yang tajam tepat berada di lehernya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Yan Hexia selain kekesalan yang menumpuk di dalam hatinya. Tak lama Ye Long mengangkat tangannya dan mengumumkan Qiao Xi sebagai pemenangnya.
“Pemenangnya, Qiao Xi dari Istana Bunga Persik!”
__ADS_1
Tepat setelah Ye Long mengakhiri pertandingan. Qiao Xi langsung mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya. Sementara itu Yan Hexia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah karena menahan rasa sakit akan namanya kekalahan.