
“Ampuni aku! Kenapa kau begitu kejam! Dasar manusia tidak berperasaan!”
Ji Tian ketakutan ketika Jing Yang menatap dingin ke arahnya. Di tambah senyuman tipis itu membuatnya merinding ketakutan.
“Kejam? Tidak berperasaan? Aku tidak memungkirinya. Saat mereka memohon, apa kau pernah mendengarnya?!” Jing Yang langsung memotong kelima jari tangan kiri Ji Tian, lalu jari yang tersisa di tangan kanannya tak luput dari tebasannya.
“Oi, jawab! Jangan hanya berteriak!” Jing Yang langsung menusuk leher Ji Tian dan menghancurkannya, “Karena orang-orang seperti kalian ini aku menjadi seperti ini!”
Jing Yang melepaskan tebasan menyilang, sebelum memotong tubuh Ji Tian menjadi empat bagian dan membakarnya dengan kekuatan api miliknya.
Ji Xuan sudah ketakutan ketika Jing Yang berjalan mendekatinya, “Kau... Kau akan menjadi buronan karena telah membunuh seluruh keluargaku...”
Jing Yang menyarungkan pedangnya dan menendang wajah Ji Xuan berkali-kali hingga seluruh gigi pria itu terlepas. Bahkan wajahnya sudah tidak dikenali.
“Cukup! Jangan bunuh semuanya!” Xue Rong membekukan tubuh Jing Yang. Bagaimanapun Ji Xuan merupakan bukti kuat karena hendak melakukan kudeta.
Tak lama Liu Mengda dan Yin Yiyao menghampiri Jing Yang, wajah keduanya memucat. Bahkan tak lama mereka berdua menjauh dan memuntahkan semua isi perutnya.
Jing Yang menarik napas panjang, dia mengambil beberapa pil milik pendekar Sekte Kalajengking Merah dan menyimpannya, “Senior Rong, terimakasih...”
Jujur saja Jing Yang hampir lepas kendali. Semakin lama dia hidup, semakin lama dia membenci dunia. Walau sudah berusaha melangkah ke depan dan menapaki masa depan, tetapi masa lalu dan penyesalannya terlalu banyak.
“Andai saat itu aku mempunyai kekuatan, maka mereka tidak mati...”
Xue Rong menatap Jing Yang. Pemuda itu terlihat memendam perasaan sedihnya, “Junior Yang, jika tidak keberatan. Kamu bisa berbagi keluh kesah denganku. Aku siap mendengarkannya dan menjadi tempat bersandarmu...”
Jing Yang menggigit bibir bawahnya, dia mengetahui Xue Rong jatuh hati padanya. Setelah menyerap intisari Giok Pengetahuan, Jing Yang mengetahui informasi tentang dunia persilatan dan beberapa perasaan manusia.
__ADS_1
Jing Yang hanya melangkahkan kakinya meninggalkan Xue Rong yang tersenyum padanya.
‘Saudaraku Jing Yang, kenapa kau mengabaikannya? Sudah kuduga kau lebih menyukai perempuan seksi sepertiku dan teman seperjalananmu sebelumnya, ya?’ Yue Wang yang berniat menghibur Jing Yang justru mengatakan hal yang membuatnya langsung bersembunyi di belakang punggung Roh Sang Hitam.
‘Nenek tua bangka memang bodoh!’ Lingling berbicara dan menatap sengit Yue Wang.
Jing Yang tidak menanggapi perkataan Yue Wang dan hanya memejamkan matanya.
___
Beberapa saat setelah Jing Yang melakukan pembunuhan massal pada anggota Sekte Kalajengking Merah dan Keluarga Ji, banyak penduduk kota yang menguburkan jenazah.
Sementara Jing Yang duduk dan menatap dingin Ji Xuan yang terkapar di tanah.
“Maaf Pendekar Muda, karena tadi aku belum sempat mengucapkan terimakasih...” Liu Mengda memperkenalkan dirinya bersama istri dan anaknya.
“Kakak Jing Yang, Mengmeng ingin mengucapkan terimakasih padamu, tetapi dia malu...” Mata Jing Yang melebar saat Ma Chenba mendatangi dirinya bersama Liu Jimeng.
Melihat keduanya mengingatkannya saat dirinya bersama Xue Bingyue. Tangan Jing Yang dengan gemetar menyentuh rambut Ma Chenba dan Liu Jimeng.
Tak lama Liu Mengda meminta bantuan pada Jing Yang dan Xue Rong untuk mengantarkan mereka menuju Ibukota Kekaisaran Yin, Ibukota Huayin. Tentu karena mengingat Yin Yiyao adik kandung Kaisar Yin, imbalan yang ditawarkan sangat besar.
Xue Rong langsung menolaknya, tetapi dia terus menatap Jing Yang dan ingin mengetahui jawaban pemuda itu.
Liu Mengda mengetahui Ma Lizi datang dari Kekaisaran Ma dan dia ingin membantunya. Terlebih dia tidak akan memaafkan tindakan Keluarga Ji dan orang-orang dari Kekaisaran Ma.
“Mereka tidak lebih buruk dari binatang yang tak berakal!” Liu Mengda mengepalkan tangannya karena dia yang dipenjara dan setiap jam melihat bagaimana perempuan dari yang kecil sampai yang tua dilecehkan pria dari Keluarga Ji dan Sekte Kalajengking Merah.
__ADS_1
“Paman, tunggu sebentar...” Jing Yang mendekati Xue Rong dan menjelaskan bahwa dirinya ingin menemani Keluarga Liu Mengda dan Keluarga Ma Lizi ke Ibukota Huayin.
Xue Rong menghela lembut, “Aku akan ikut denganmu.”
Xue Que menggaruk kepalanya. Dia melihat Matriark Istana Bulan Biru ini sangat egois. Sementara Xue Bingyue juga terlihat ingin ikut bersama Jing Yang.
Ketika Xue Rong dan Xue Bingyue sudah memutuskan untuk ikut ke Ibukota Huayin, seekor Merpati Salju hinggap di pundak Xue Rong.
“Tetua Agung?” Xue Bingyue dan Xue Que menggumam pelan.
Xue Rong mengambil surat di kaki Merpati Salju dan membukanya. Perlahan dia membacanya dan langsung menatap Xue Bingyue dan Xue Que dengan wajah berseri-seri.
“Surat dari Tetua Agung tentang Turnamen Pendekar Muda. Yueyue, Que‘er, kalian berdua akan menjadi perwakilan dari Istana Bulan Biru.” Xue Rong menjelaskan.
Turnamen Pendekar Muda adalah sebuah kompetisi yang paling bergengsi di dunia persilatan Kekaisaran Yin. Ajang kejuaraan ini dilaksanakan setiap tujuh belas tahun sekali. Turnamen Pendekar Muda diikuti pendekar yang berusia dua belas tahun sampai tujuh belas tahun.
“Yueyue, Gurumu jatuh hati pada kekasih kecilmu...” Xue Que justru mengabaikan dan berkata pada Xue Bingyue.
Xue Bingyue hanya diam membisu, melihat Jing Yang dan Xue Rong berbincang.
“Senior Rong, aku bisa melakukan perjalanan ini sendiri. Aku akan pergi ke Negeri Kabut Tersembunyi setelah mengantar mereka ke Ibukota Huayin...” Jing Yang ingin mengatakan pada Xue Rong agar jangan terlalu berharap padanya, tetapi dia memilih bungkam. Bagaimanapun dia terjebak dalam takdir yang membingungkan sekaligus memilukan.
Xue Rong tetap keras kepala dan sangat egois. Pada akhirnya Jing Yang mengalah dan memilih mendengarkan permintaan Liu Mengda lebih rinci.
Jing Yang melihat Xue Bingyue yang berjalan mendekatinya, dia menatap dengan seksama wajah Xue Bingyue. Tangannya mengepal, ketika menyadari bahwa gadis ini tidak dapat mengingat masa lalunya.
Xue Bingyue bisa mati kapan saja jika terlalu dekat dengannya dan mengingat dirinya, sehingga Jing Yang sebisa mungkin ingin menjauh darinya. Tetapi bagaimanapun Xue Bingyue adalah orang yang ingin dia jaga. Sahabat kecilnya yang dia kenang di tempat terindah dan paling terindah.
__ADS_1