
Jiang En dan Yi Yue menjerit ketakutan. Bahkan Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen tidak menduga Shi Mubai akan mati di tangan orang asing.
Jiang Nian menatap Jiang En dan Yi Yue dengan air mata berlinang, “Semoga di kehidupan selanjutnya, aku tidak menjadi anak kalian...” Setelah berkata demikian, rantai yang mengikat Shi Mubai langsung melebar mengikat leher Jiang Nian dan memotongnya.
“Tetua Liwen, Tetua Lihua! Bantu aku!” Jing Yang langsung bergerak cepat menuju tempat keberadaan Jiang En dan Yi Yue.
Xue Lihua dan Xue Liwen mengikuti Jing Yang dari belakang. Sesampainya di sana mereka dikejutkan dengan tubuh Shi Mubai dan Jiang Nian yang nampak terlihat mengerikan dan mati mengenaskan.
“Kaisar Jiang, aku akan membunuhmu, tidak, aku akan membunuhmu beserta istrimu. Kalian membiarkan Jiang Feng hidup. Iblis itu seharusnya tidak perlu dikasihani.” Pria bertopeng terbang rendah dan menarik rantainya.
“Yang Mulia. Biar hamba yang melawannya.” Panglima Shen Ho menarik tombaknya dan menatap pria bertopeng hitam.
“Aku hendak membunuhmu karena permintaan Salju Dendam. Kalian berdua telah membuat cucu kalian yang tak bersalah menderita.” Pria bertopeng itu melempar rantainya. Seketika ular berwarna hitam melilit tubuh Jendral Besar Huan Chen dan Panglima Shen Ho.
“Jangan bergerak, aku tidak ada urusan dengan kalian berdua. Targetku hanya dua orang itu.” Ketika pria bertopeng melempar kembali rantai hitamnya. Ular hitam semakin memanjang.
“Amarah Pedang Petir : Auman Halilintar!”
Jing Yang datang menghentikan pergerakan rantai hitam yang hendak melilit tubuh Jiang En dan Yi Yue.
“Oh, kau...” Pria bertopeng hitam menatap Jing Yang dengan seksama, “Pendekar suci di usia yang muda? Sungguh berbakat mencapai pendekar suci di usia muda!”
Mendengar perkataan pria bertopeng hitam yang dapat mengukur kekuatannya hanya dengan menatapnya. Jing Yang bisa mengetahui jika pendekar bumi tersebut memiliki kemampuan yang hebat karena mengetahui kemampuannya.
“Kenapa kau melindungi mereka berdua? Di bawah kekuasaan penguasa seperti dia, banyak penduduk di luar sana yang menderita. Katakan padaku, apa alasanmu?” Pria bertopeng hitam menatap Jing Yang dan menarik rantai hitam yang membentuk ular.
Tak lama rantai itu menghilang. Jing Yang melepaskan aura pembunuh dan menatap pria bertopeng dengan tatapan tajam. Setelah keduanya mendekat, Jing Yang melepaskan serangan dadakan. Dari samping dan belakang, muncul Xue Lihua dan Xue Liwen yang membantunya.
“Oh, berniat menyergapku? Setidaknya bawa dua puluh pendekar suci untuk menahanku!” Pria bertopeng menghindari serangan dari tiga arah yang datang secara bersamaan.
Tak jauh dari lokasi pertarungan antara Jing Yang, Xue Lihua dan Xue Liwen melawan pria misterius yang memakai topeng hitam. Terlihat Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli melawan dua pendekar bumi wanita yang juga sangat misterius.
“Ketua Qiaomi. Apa kita harus menggunakannya? Setidaknya kita dapat membawa dua orang ini mati bersama kita...” Ujar Tao Qiaoli.
__ADS_1
Napas Tao Qiaoli tidak teratur setelah bertukar serangan dengan wanita bertopeng biru yang memakai selendang biru.
“Cara berpikirmu memang mengerikan, Saudari Qiaoli. Kau sendiri telah terluka parah karena serangan bunuh diri...” Murong Qiaomi tak sedikitpun melepaskan penjagaan dari wanita bertopeng biru. Tetapi dia merasa tidak asing dengan wanita bertopeng putih yang melepaskan hawa dingin.
“Selendang Nafsu, mereka berdua bukanlah target kita. Lebih baik kita segera menghabisi dua target yang tersisa.” Wanita bertopeng putih memegang pundak wanita bertopeng biru yang memiliki sebutan Selendang Nafsu.
“Salju Dendam, bukankah kau yang menyuruhku membantu mereka berdua? Dan kau lihat sendiri, mereka tidak berterimakasih kepada kita melainkan berniat membunuh kita!” Selendang Nafsu menepis tangan wanita bertopeng putih yang disebut Salju Dendam.
Selepas keduanya bersitegang, Selendang Nafsu menyerang Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli menggunakan selendangnya.
Murong Qiaomi menyambutnya dengan memainkan pedangnya, sementara Tao Qiaoli berniat menyerang dari jauh. Tetapi langkah kakinya terhenti ketika Ye Xiaoya datang menghampiri mereka dan langsung menyerang Selendang Nafsu.
“Hei, hei. Pedangmu hampir saja menggores pipiku yang mulus ini...” Selendang Nafsu menarik selendangnya dan memegang topengnya.
“Pipi? Aku hanya mengenai topengmu.” Ye Xiaoya melompat ke belakang dan mengatur rencana bersama Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli.
“Salju Dendam, lihat wanita cantik yang menggunakan dua pedang itu. Aku ingin memeluknya dan menjadikannya sebagai mainanku...” Selendang Nafsu memegang perutnya.
Tak butuh waktu lama bagi Salju Dendam dan Ye Xiaoya bertukar serangan. Sebenarnya Salju Dendam tidak berniat melawan Murong Qiaomi, Tao Qiaoli dan Ye Xiaoya. Tetapi dia membalas serangan Ye Xiaoya hanya untuk mempertahankan dirinya.
Di sisi lain, Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli mulai menyerang Selendang Nafsu dari berbagai arah. Serangan kombinasi keduanya sangat mematikan, tetapi Selendang Nafsu lebih unggul karena masih dalam kondisi yang prima.
Murong Qiaomi berulang kali melancarkan tebasan pedang yang mematikan guna memberikan luka pada Selendang Nafsu tetapi selendang yang terbuat dari kain itu lebih keras dari tubuh pendekar Benteng Naga Besi yang seperti baja.
“Hmm, merepotkan!” Murong Qiaomi mempercepat tebasan pedangnya ketika melihat Tao Qiaoli melancarkan pukulan dan tendangan dari belakang Selendang Nafsu.
Serangan bertubi-tubi dari segala arah membuat Tao Qiaoli yakin jika Selendang Nafsu tidak pandai melawan petarung yang bekerjasama, karena sedari tadi wanita bertopeng biru itu hanya memainkan selendangnya sebagai pertahanan.
“Sepertinya kau tidak mahir bertarung saat sendirian...” Tao Qiaoli melepaskan pukulan penuh tenaga dalam yang mengenai perut Selendang Nafsu. Pukulannya itu menggema keras.
“Apa katamu tadi? Aku janda? Sendirian? Beraninya mulutmu itu mengatakan itu?!” Selendang Nafsu melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar. Seketika Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli terperangkap dalam penjara air.
Salju Dendam menghela napas panjang melihat rekannya marah. Dalam satu kali gerakan yang cepat, dia memukul mundur Ye Xiaoya.
__ADS_1
Salju Dendam mengetahui jika Selendang Nafsu paling benci jika ada orang yang mengatakan sendirian kepadanya.
“Jangan bunuh mereka! Aku memiliki hutang besar pada mereka berdua!” Salju Dendam menghentikan amukan Selendang Nafsu.
Seketika tubuh Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli terlepas dari penjara air. Keduanya hampir mati karena kehabisan napas.
Ye Xiaoya langsung memegang tubuh Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli. Tak lama dia melihat sekilas Jing Yang sedang terdesak melawan pendekar bertopeng hitam.
“Yang‘er...”
“Yang‘er, katamu...” Salju Dendam menatap Ye Xiaoya tajam. Kemudian dia menoleh ke belakang melihat seorang pemuda berumur dua belas tahun yang terdesak melawan rekannya yang lain.
“Selendang Nafsu! Ikuti aku!” Salju Dendam bergerak dengan kecepatan tinggi menghentikan pergerakan pria bertopeng hitam.
Melihat itu, Ye Xiaoya, Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli terkejut. Bahkan Xue Liwen dan Xue Lihua langsung menjaga jarak karena mengira kedua wanita bertopeng biru dan putih adalah bala bantuan. Tetapi setelah merasakan hawa dingin yang menyebar dan salju yang turun layaknya rintik hujan, Xue Lihua dan Xue Liwen menatap tajam Salju Dendam.
“Rantai Dosa! Cukup!” Ketika Salju Dendam menghentikan pergerakannya. Pria bertopeng hitam yang dipanggil Rantai Dosa menarik rantainya.
Jing Yang samar-samar mengenal suara wanita bertopeng putih. Matanya melebar, bahkan dua pedang yang dia genggam gemetaran.
“Nenek...” Jing Yang mendekati Salju Dendam tanpa pikir panjang, “Apakah itu kamu, Nenek?”
**Note : 08~09~2020 – 12~09~2020
22 komentar : Bonus 1 chapter.(2/5)
1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(1/5)
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar
Total chapter : 3.
Makasih yang udah, vote, like dan komen**.
__ADS_1