Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 87 : Akhir Kudeta


__ADS_3

“Salju Dendam, apakah anak ini...” Rantai Dosa menunjuk Jing Yang.


“Nenek! Syukurlah kau baik-baik saja. Aku harap Yueyue juga baik-baik disana! Aku ingin segera menemuinya...”


“Yueyue telah mati...” Salju Dendam memotong perkataan Jing Yang dengan cepat, “Kekaisaran Qing telah dikuasai orang asing.” Selepas berkata demikian, Salju Dendam menatap kedua rekannya.


“Tugas kita selesai. Melihat dua orang ini mati bagiku sudah cukup, lagipula ketua menyuruh kita membunuh tiga orang. Andai saja ada Jiang Feng maka akan kupastikan dia mati lebih mengenaskan dari kedua binatang berwujud penguasa ini.” Salju Dendam menoleh menatap mayah Shi Mubai dan Jiang Nian cukup lama, “Rantai Dosa, Selendang Nafsu, saatnya kita pergi! Kita masih memiliki urusan di tempat lain!”


“Oh, kau terlalu baik.” Rantai Dosa melompat ke atas dan tersenyum melihat sikap Salju Dendam yang berbeda malam ini.


“Bocah, manusia tidak akan pernah saling mengerti jika tidak pernah mengalami rasa sakit yang sama. Kuharap kita berjumpa di lain waktu. Saat itu tiba, mungkin aku akan membunuhmu.” Selendang Nafsu menghilang dan mencolek pipi Jing Yang sebelum terbang.


“Apakah anda Matriark Xue Qinghua?” Xue Liwen dan Xue Lihua menatap Salju Dendam penuh harap jika wanita misterius itu adalah Xue Qinghua.


Salju Dendam tidak menjawab dan langsung pergi menyusul Rantai Dosa dan Selendang Nafsu.


Jing Yang langsung terduduk lemas, “Yueyue...” Nalurinya memberontak. Bayang-bayang saat dirinya bertahan hidup bersama Xue Bingyue muncul satu demi satu di dalam pikirannya.


Matanya langsung menoleh menatap Jiang En dan Yi Yue, “Semua ini karena kalian tidak becus mendidik mereka berdua!” Jing Yang menatap keduanya penuh kebencian. Segera dia berdiri dan menjauh dari Jiang En dan Yi Yue.


Xue Lihua dan Xue Liwen menghampiri Jing Yang. Mereka berdua tahu seberapa dekat Jing Yang dan Xue Bingyue di masa lalu. Memang sulit bagi Jing Yang ketika dirinya tidak mengetahui kondisi Xue secara pasti. Di balik senyuman dan ketenangannya, Jing Yang mengalami guncangan mental yang tidak dirasakan siapapun. Hanya dirinya yang merasakan rasa sakit itu.


Jing Yang melihat sekelilingnya penuh dengan darah. Walau berhasil menggagalkan kudeta, tidak ada kebahagiaan sama sekali di hatinya. Kudeta yang dilakukan oleh keluarganya sendiri. Dalam darahnya mengalir keturunan bangsawan, tetapi Jing Yang justru membencinya.


“Yang‘er...” Ye Xiaoya menghampiri Jing Yang. Terlihat wajah Jing Yang begitu pucat.


“Guru Xiaoya, aku akan membunuh semua orang yang terlibat dalam penyerangan di Kota Yunfei dan Pulau Salju Rembulan. Aku ingin membunuh mereka semua...” Walau terdengar ramah, tetapi Ye Xiaoya memahami melodi kemarahan yang Jing Yang rasakan.

__ADS_1


“Tenangkan dirimu dulu...” Ye Xiaoya meremas rambut Jing Yang.


Lalu keduanya menjauh untuk menenangkan diri terutama Jing Yang. Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli penasaran dengan identitas Salju Dendam, karena wanita misterius itu sangat tidak asing bagi mereka.


Kediaman Jiang En penuh dengan jasad bertebaran. Malam yang mencekam dan berapi-api itu padam ketika sinar matahari pagi menyeruak awan, menembus langit dan memancarkan sinarnya untuk menyinari dunia.


Korban kudeta bahkan merenggut kasim dan beberapa orang yang tidak bersalah. Walau berhasil menggagalkan kudeta, tetapi Jiang En langsung menyadari jika kedepannya Kekaisaran Jiang akan memiliki masalah yang besar dengan Kekaisaran Shi karena Shi Mubai mati di Ibukota Huaran.


Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen memberikan perintah pada prajurit militer yang bertahan hidup untuk meminta bantuan pada prajurit militer di kota tetangga untuk membantu mengamankan Ibukota Huaran.


Petinggi militer di kediaman lain terbunuh bahkan tidak ada satupun prajurit militer yang bertahan hidup. Panglima Shen Ho memijat keningnya karena tidak menyangka kondisi Kekaisaran Jiang memang telah berada di ujung tanduk. Terutama masa kepemimpinan Jiang En yang memang semakin tidak dipercaya masyarakat jika kejadian ini tersebar.


Beruntung ada bantuan dari sekte aliran putih dan netral. Panglima Shen Ho melihat jelas jika sosok Jing Yang memiliki kharisma tersendiri. Pemuda itu tidak berbicara terlalu banyak dengan orang yang tidak dekat dengannya, tetapi kehadirannya membuat satu demi satu tokoh hebat dunia persilatan Kekaisaran Jiang menjadi temannya.


“Panglima, aku sudah tidak pantas menjadi seorang Kaisar Jiang. Semua ini karena kebodohanku di masa lalu. Aku terlalu naif dan membanggakan Feng‘er...” Jiang En merasa menyesal setelah melihat sendiri pengakuan Jiang Nian. Bahkan anak keduanya itu berakhir dengan senyuman seolah-olah merasa bahagia walau mati dengan cara yang mengenaskan.


Banyak prajurit militer yang membersihkan Kediaman Jiang En. Ketika matahari semakin meninggi, kedatangan Asosiasi Pedang Hati benar-benar membantu proses pembersihan.


Kehadiran Sheng Long bersama dua Patriark Sekte Bukit Angin dan Sekte Pedang Langit membuat proses pembersihan di kediaman Jiang En berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan.


Berita kudeta tersebar cepat di segala penjuru Kekaisaran Jiang. Bahkan kebenaran kematian Jiang Lian sampai di telinga penduduk. Kebanyakan dari mereka resah karena tidak menyangka dalang di balik pembantaian malam berdarah di Kota Yunfei adalah Jiang Feng dan Jiang Nian, dan sebagian ada yang turut berduka. Dengan kejadian ini, kudeta yang baru terjadi merupakan sejarah terburuk semenjak Kekaisaran Jiang berdiri dan kepemimpinan Kaisar Jiang En dianggap sebagai penguasa terburuk dalam Kekaisaran Jiang.


Banyak yang kecewa. Terutama rakyat karena mereka sadar selama puluhan tahun terakhir, Kekaisaran Jiang jauh dari kata makmur. Bahkan beberapa wilayah setiap penduduk harus membayar pajak yang tinggi. Pajak itu digunakan Jiang Feng dan beberapa bangsawan yang mendukungnya melakukan hal yang semena-mena bahkan uang itu digunakan untuk mendanai kerjasama dengan aliran hitam.


Ibukota Huaran diselimuti keresahan. Banyak penduduk yang berdiri di depan kediaman Jiang En. Mereka meminta penjelasan langsung terkait kejadian kudeta dan beberapa penduduk menyinggung masalah Kota Yunfei.


Wajar karena banyak penduduk yang memiliki kerabat di Kota Yunfei. Setelah mengetahui jika peperangan aliran hitam melawan pasukan Kekaisaran Shi adalah dalang Jiang Feng dan Jiang Nian, tentu kemarahan penduduk tidak dapat dibendung.

__ADS_1


Dalam keadaan yang memanas itu, Jiang En tidak menunjukkan senyum ataupun ekspresi bahagia selain putus asa yang terpancar di wajahnya. Dia hampir despresi, beruntung Yi Yue mencoba menenangkannya.


“Seorang pria harus bertanggung jawab. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Aku akan membantumu.” Yi Yue tidak dapat membendung kesedihannya. Dia meneteskan air mata mengingat tatapan penuh kebencian dari Jing Yang. Tetapi wajar saja, dia tidak memiliki satupun ingatan yang indah saat Jing Yang berumur empat tahun. Bahkan dia pernah menyuruh Jiang Lian menceraikan Jing Tian tepat di depan Jing Yang. Mengingat itu, kesedihan Yi Yue semakin terasa.


Yi Yue berpikir bila wajar saja Jing Yang membencinya. Cucunya itu telah hidup menderita bahkan melihat sendiri neraka dunia. Sungguh keajaiban yang membuat Jing Yang tetap berpikir normal.


Situasi di Ibukota Huaran kembali tenang ketika kabar tentang anak Jiang Lian yang bernama Jing Yang menjadi Tetua Sembilan Naga dan mencegah kudeta. Tidak ada pilihan lain bagi Ye Xiaoya dan Murong Qiaomi untuk memberitahu semua itu. Lagipula Ye Xiaoya dan Jing Yang telah mendiskusikan tujuan mereka kedepannya.


“Yang‘er, aku pernah merasakan keputusasaan. Dahulu aku ingin membunuh orang sebanyak-banyaknya. Menghancurkan dunia yang busuk ini. Tetapi, kau tahu...” Ye Xiaoya memandang Jing Yang yang sedang terlihat murung karena perkataan Salju Dendam, ”Ada orang-orang yang menyelamatkanku dan mempercayakan masa depan mereka padaku. Jadi jangan bersedih, lagipula perkataan wanita bertopeng biru itu belum kita buktikan?”


Jing Yang menarik napas dan menjambak rambutnya, “Aku hanya tidak habis pikir Nenek akan berkata seperti itu...” Jing Yang sangat yakin jika identitas Salju Dendam adalah Xue Qinghua. Tetapi mengapa Xue Qinghua tidak mau kembali ke Pulau Salju Rembulan dan mengatakan Xue Bingyue telah mati.


“Nenek tidak akan pernah mengatakan itu. Pendekar wanita bertopeng biru itu bukanlah Nenek...” Ucap Jing Yang pelan, kemudian dia menarik napas dan menghembuskannya, lalu dia membatin lirih dalam hatinya, ‘Nenek sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?’


Setelah situasi di kediaman Jiang En aman terkendali. Keesokan harinya Ibukota Huaran begitu hening karena Jiang En berada alun-alun kota berdiri di atas panggung bersujud meminta maaf kepada rakyatnya.


Pemandangan itu membuat hati rakyat Kekaisaran Jiang yang melihatnya secara langsung menjadi luluh. Perkataan Jiang En selanjutnya membuat semua orang terkejut dan ini akan menjadi kabar besar.


Jiang En akan mewariskan tahta Kekaisaran Jiang kepada cucunya, Jing Yang. Seketika Ibukota Huaran hening sebelum berita ini menjadi heboh.


Sebagai rakyat yang ada di Kekaisaran Jiang terkejut kabar tersebut, sebagian menertawakan, sebagian menanggapi kabar tersebut dengan reaksi yang biasa saja.


Ketika kabar ini sampai di aliran hitam, tentu saja kudeta di Ibukota Huaran memberikan dampak besar bagi mereka. Jing Yang pemuda berumur dua belas tahun yang mencapai pendekar suci dan menjadi Tetua Naga Muda adalah anak Jiang Lian dan mewarisi tahta Kekaisaran Jiang.


Ditengah semua kehebohan yang paling terkejut adalah Jiang Feng. Setelah mengetahui Shi Mubai dan Jiang Nian mati, dia tidak menyangka anak Jiang Lian masih hidup dan memilki reputasi yang besar di usia muda. Reputasi itu dicapainya bukan karena kekuasaan dari orang tua, melainkan kerja keras dari pengalaman pahitnya sendiri.


Tengkorak berwarna putih dengan kobaran api yang menyala-nyala. Pulau Iblis Tengkorak namanya. Seluruh petinggi Pulau Iblis Tengkorak melakukan pertemuan setelah mengetahui kabar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2