
Tidak butuh waktu lama bagi Bai Xianlin dan Xue Bingyue untuk sampai di kota perbatasan, Kota Zhenshu.
Dengan penyamarannya akhirnya Bai Xianlin dapat masuk kedalam Kota Zhenshu setelah melewati berbagai proses. Xue Bingyue sendiri kagum dengan Bai Xianlin yang dapat memikat para lelaki dengan mudah.
“Dua penjaga itu adalah manusia menjijikkan. Maksudku semua pria yang memandang tubuhku penuh ***** dalam sekali lihat itu menjijikkan.” Bai Xianlin berdecak kesal saat memperhatikan suasana ramai di Kota Zhenshu.
Xue Bingyue hanya tertawa pelan menanggapi ucapan Bai Xianlin. Ini pertama kalinya Xue Bingyue datang ke Kota Zhenshu. Pasar yang menjual berbagai macam sumber daya membuatnya tertarik, namun melihat sumber daya yang dijual akhirnya Xue Bingyue mengurungkan niatnya.
Xue Bingyue mengetahui bahwa sumber daya yang dia miliki jauh lebih penting dan berharga. Tempat yang sekarang akan dirinya cari adalah sebuah penginapan.
Bai Xianlin mengajaknya menginap disebuah penginapan besar yang ramai pengunjung. Dengan lekuk tubuh yang menggoda dan memanjakan setiap mata, kedatangan Bai Xianlin membuat setiap pria terpana terlebih wanita itu datang dengan gadis kecil yang kecantikannya melebihi wanita dewasa itu sendiri.
“Lihat wanita itu, sepertinya dia janda beranak satu. Tubuhnya boleh juga.”
“Wanita seperti dia mana mau tidur denganmu.”
Bai Xianlin mendengar obrolan para pria yang bukan seorang pendekar. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya berjalan mengabaikan setiap pasang mata yang memandangnya.
“Yueyue, saat berada di Kekaisaran Shi. Aku akan memainkan peran sebagai Ibumu dan kamu memainkan peran sebagai anakku, mengerti?” Bai Xianlin menjelaskan dengan suara pelan. Xue Bingyue menganggukkan kepalanya mengerti dan memahami.
“Sebaiknya kita duduk disana.” Bai Xianlin menunjuk meja kosong yang sepi. Xue Bingyue mengikutinya dan keduanya duduk sambil memperhatikan orang-orang yang hadir di aula makan penginapan.
“Pelayan berikan aku arak terbaik dan hidangan utama penginapan ini.” Bai Xianlin segera memesan arak dan makanan tepat setelah pelayan mendatanginya.
“Mengerti, Nyonya.” Pelayan tersebut segera kembali kedapur dan menyiapkan pesanan Bai Xianlin.
Sambil menunggu pesanannya datang, Bai Xianlin dan Xue Bingyue mengobrol ringan. Keduanya mengobrol sambil mempertajam indera pendengaran mereka menguping obrolan orang-orang yang mengunjungi penginapan.
Xue Bingyue sendiri bisa melihat pengalaman Bai Xianlin yang tinggi. Wanita yang duduk dihadapannya itu terlihat sudah terbiasa hidup dengan situasi seperti ini.
Informasi yang didapat Bai Xianlin dan Xue Bingyue kurang lebih tentang perang dingin antara Kekaisaran Jiang dan Kekaisaran Shi. Dikabarkan kedua Kekaisaran ini sudah memutuskan hubungan semenjak Shi Mubai dan Jiang Nian mati.
__ADS_1
Namun beberapa saat kemudian Xue Bingyue mendengar obrolan menarik tentang Kekaisaran Shi yang menjalin kerja sama dengan Kekaisaran Ma untuk menaklukkan Kekaisaran Jiang Kekaisaran Yin dan Kekaisaran Yun.
“Ini pelajaran yang berharga untukmu, Yueyue. Situasi sekarang sudah tidak bisa dihentikan. Aku berharap sekaligus merasa kasihan pada kalian berdua.” Bai Xianlin tersenyum kecut menatap Xue Bingyue yang terlihat serius menguping pembicaraan orang-orang.
“Bibi Xianlin, sejak aku dilahirkan mungkin aku sudah seperti ini. Aku tidak menyesalinya. Aku akan terus bertambah kuat agar kejadian dimasa lalu tidak terulang kembali.” Xue Bingyue mengatakan itu dengan kedua bola mata yang membara membuat Bai Xianlin tersenyum manis.
Saat keduanya tersenyum, pelayan datang membawakan hidangan dan arak pesanan Bai Xianlin.
“Silahkan dinikmati, Nyonya.” Pelayan tersebut segera pergi setelah menaruh hidangan, arak serta air putih. Ekspresi pelayan itu terlihat gelisah dan membuat Bai Xianlin curiga.
Bai Xianlin menatap air putih cukup lama lalu memperhatikan sekitarnya. Dia menghela nafas panjang dan menaruh air putih menjauh darinya dan juga Xue Bingyue.
“Yueyue, kau tidak boleh meminum ini sebelum dadamu itu sebesar mangkuk sup itu.” Mendengar ucapan Bai Xianlin membuat Xue Bingyue tersedak.
“Bi... Bibi Xianlin, apa yang kau katakan?!” Xue Bingyue menatap Bai Xianlin tidak percaya. Dibalik semua penampilan dewasanya, Bai Xianlin memiliki sikap yang nyeleneh dan itu membuat Xue Bingyue risih sendiri.
“Dengar Yueyue, laki-laki yang kau cintai pasti akan suka padamu jika milikmu itu besar. Setidaknya dadamu itu pas digenggaman tangannya.” Bai Xianlin semakin ingin menggoda Xue Bingyue saat melihat pipi gadis kecil itu bersemu merah.
“Apa kau tidak ingin membuat Yangyang mu itu senang dimasa depan.” Suara ludah Xue Bingyue terdengar saat Bai Xianlin mengatakan itu.
Melihat Xue Bingyue terdiam lama akhirnya Bai Xianlin berhenti menggodanya dan mulai menikmati arak dengan caangkir yang terbuat dari kayu.
“Ini benar-benar membuat pikiranku jernih...” Bai Xianlin minum dengan anggun membuat setiap mata lelaki menatap kearahnya.
Xue Bingyue sendiri mengira Bai Xianlin mabuk. Dia menghela nafas panjang dan memilih diam untuk menikmati hidangan. Keduanya terlihat menikmati hidangan penginapan dengan tenang, namun ketenangan itu hanya sejenak dan tidak bertahan lama saat beberapa pendekar mendekati meja Bai Xianlin dan Xue Bingyue.
Pandangan semua orang kini tertuju pada meja Bai Xianlin dan Xue Bingyue karena sejumlah pendekar yang mendekati meja mereka berasal dari Sekte Lembah Darah.
Xue Bingyue memejamkan matanya dan mengusap bibirnya dengan kain karena menebak apa yang akan terjadi, sementara Bai Xianlin menghabiskan satu tegukan terakhir araknya dan menghela nafas panjang.
“Selera minumku hilang...” Bai Xianlin mendesah pelan.
__ADS_1
Salah satu pendekar menyeringai dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari dada Bai Xianlin. Pendekar itu melempar kantung emas ke meja Bai Xianlin dan berjalan dengan langkah arogan.
“Ada apa ini?” Bai Xianlin menatap sejumlah kantung emas itu dan mengambilnya.
“Nyonya, kenapa kau tidak meminum air putih itu? Kau sangat waspada, aku mentraktirmu makan dan biarkan aku yang membayar pesananmu itu.” Pendekar tersebut berdiri disamping Bai Xianlin.
“Benarkah?” Bai Xianlin berdiri dan menatap pendekar tersebut.
“Untukmu aku rela melakukan apapun.” Pendekar tersebut mengatakan itu dengan senyuman lebar. Bai Xianlin menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena refleks ingin muntah.
“Terimakasih.” Bai Xianlin tersenyum manis dan berjalan menuju kasir lalu membayar semua pesanannya serta membayar uang sewa menginap semalam.
Xue Bingyue memperhatikan tindakan Bai Xianlin yang tidak terduga. Wanita itu mengedipkan mata padanya untuk mendekat dan memperhatikannya.
“Yueyue, laki-laki itu menjijikkan.” Bai Xianlin mengatakan itu dengan suara pelan. Kemudian dia berjalan menuju lantai dua tempat dimana kamar yang dia pesan berada.
“Nyonya! Aku belum selesai!”
Bai Xianlin menoleh kebelakang, “Aku mengerti maksud kalian. Selama kalian tidak menyentuh anakku, aku akan menuruti kemauan kalian. Tunggu aku diluar kota.”
Bai Xianlin segera menuju kamar penginapan setelah mengatakan itu. Xue Bingyue heran dengan ucapan Bai Xianlin. Berbeda perjalanannya saat bersama Xue Rong yang masih dibilang polos, bersama Bai Xianlin membawa Xue Bingyue melihat beberapa hal dewasa.
“Bibi Xianlin jangan katakan padaku-”
“Seperti yang kau pikirkan, aku akan melayani ***** mereka.” Bai Xianlin tersenyum manis sebelum membuka pintu kamar penginapan.
Xue Bingyue mengerutkan keningnya, “Kenapa Bibi Xianlin tidak menolaknya?”
“Dia sudah memberiku uang. Jadi aku harus melayani mereka penuh *****...” Bai Xianlin duduk ditepi ranjang dan melipat salah satu kakinya, “Nafsu membunuh tentunya.”
Xue Bingyue tersenyum melihat ekspresi kesal Bai Xianlin.
__ADS_1