
Jing Yang dan Liong Heng mulai bertukar serangan. Hutan disekitar mereka telah menjadi tempat pertempuran. Ye Xiaoya membawa Mei Hua, Qiu Mei dan Yi Yue menuju tempat yang aman sambil melihat pertarungan Jing Yang melawan Liong Heng.
“Masih muda telah mencapai pendekar suci. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Belum pernah ada sejarah seorang anak muda telah mencapai pendekar suci. Sepertinya kau menggunakan suatu ilmu untuk membuat tubuhmu agar tetap muda bukan?” Liong Heng mengeluarkan aura pembunuh dan mulai memanipulasi aura tubuhnya menjadi api.
“Aku masih berumur dua belas tahun. Terserah kau mau mempercayainya atau tidak. Lagipula itu bukan urusanku.” Jing Yang menjawab dengan sinis, dan mempercepat tempo serangannya.
Liong Heng langsung membalas serangan Jing Yang dengan cepat. Permainan goloknya begitu mahir, setiap ayunannya sangat terarah dan berisi. Kemampuan Liong Heng begitu tinggi dalam menggunakan golok. Serangannya mampu memberikan goresan-goresan sayatan pada sekujur tubuh Jing Yang.
“Aku menggunakan elemen angin. Yang ada api dari serangannya semakin membesar!” Jing Yang membatin dalam hatinya dan melompat menjauh dari Liong Heng. Dia menarik napas sebentar lalu mengibaskan pedangnya. Kali ini Jing Yang bergerak dengan langkah yang lembut, namun tebasan pedangnya sangat cepat.
Liong Heng sempat terkecoh dengan gerakan Jing Yang hingga dirinya terpaksa bertahan dan menahan tebasan pedang Jing Yang. Kekuatan dari pedang dan golok yang berbenturan membuat tekanan di udara, aura saling bergesekan. Selepas keduanya saling menahan. Dalam satu kali hentakkan kaki yang pasti dari Jing Yang, tubuh Liong Heng terlempar menabrak dan menghancurkan lima pohon akibat tidak mampu menahan tebasan pedang Jing Yang.
‘Dari gerakannya. Tebasannya itu sangat lembut dan lemah. Tidak kusangka dia bisa memperlambat dan mempercepat tempo serangannya sesuka hati...’ Liong Heng melompat mendekati Jing Yang. Goloknya berwarna merah darah sebelum berbenturan dengan pedang Jing Yang.
“Jurus Golok Darah : Amukan Badai Darah!”
Pusaran angin berwarna merah membuat Jing Yang terhempas jauh ke belakang, bahkan hampir terseret pusaran angin berwarna merah tersebut. Serangan yang dilepaskan Liong Heng membuat kerusakan disekitar hutan.
“Seni Napas Dewi Naga Api!”
Jing Yang mengolah pernapasan dan mendapatkan kembali keseimbangannya. Setelah itu dia mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam. Ketika pusaran angin berwarna merah itu mendekat, Jing Yang menebaskan pedangnya dengan cepat.
“Kakak Yue Wang, pinjamkan aku kekuatanmu!” Jing Yang menggunakan kekuatan pedangnya dan membuat pusaran angin berwarna merah itu terhimpit ke tanah dan membuat lubang yang luasnya cukup besar di tanah sekitar hutan.
Pohon-pohon ikut hancur karena benturan teknik pedang Jing Yang dan jurus golok milik Liong Heng. Hewan-hewan yang tinggal disekitar tempat pertarungan mereka berdua mulai meninggalkan tempat tersebut.
“Kekuatan gravitasi yang mengerikan. Aku rasa pedangmu itu adalah Pusaka Dewa. Sungguh menjadi kehormatan bagiku, jika membunuhmu dan mengulitimu. Setelah itu aku akan mengambil pedang itu!” Liong Heng melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan mulai bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang Jing Yang.
“Lakukan itu jika kau bisa. Lagipula Kakak Yue Wang telah menjalin kontrak darah denganku!” Jing Yang menangkis setiap tebasan golok yang dilancarkan Liong Heng.
__ADS_1
Jing Yang melepaskan energi pedang dari kekuatan Pedang Gravitasi, Yue Wang. Udara disekitar jangkauan Jing Yang sangat panas. Bahkan terlihat jelas pusaran angin padat yang membuat Liong Heng memilih untuk menjauh dibandingkan menyerang Jing Yang.
‘Kekuatan ini. Aku merasakan firasat buruk pada serangan yang akan dia lepaskan...’ Liong Heng menggertakkan giginya dan mulai melepaskan aura tubuhnya lebih besar lagi dari sebelumnya, sambil memainkan goloknya yang berisi tenaga dalam itu.
“Serangan ini. Aku hanya mengikuti serangan bola angin padat dari Binatang Iblis Sapi Angin Bermata Merah...” Jing Yang tersenyum menyeringai ketika merasakan aura yang dilepaskan Liong Heng.
Keduanya kini menggunakan teknik senjata mereka untuk melakukan serangan bersamaan. Kedua aura bergesekan di udara membuat hawa panas yang mencekam disertai pusaran angin yang besar.
“Jurus Golok Darah : Pusaran Darah Membara!”
Liong Heng melepaskan serangan lebih cepat dari Jing Yang. Sebuah pusaran angin yang besar berwarna merah mengarah dengan kecepatan tinggi ke arah Jing Yang.
“Rasakan itu! Kau tidak akan mampu menghindarinya!” Liong Heng tersenyum menyeringai dan merasa serangan jarak jauhnya akan membunuh Jing Yang.
“Kurang lebih. Jurus yang kau keluarkan itu akan membunuhmu...” Jing Yang menebaskan pedangnya yang memiliki energi pedang, Yue Wang, sebuah angin padat berbentuk bola besar melesat cepat ke arah pusaran berwarna merah yang layaknya darah itu.
Ketika angin padat yang berbentuk bola besar itu bertabrakan dengan pusaran angin berwarna merah. Energi pedang, Yue Wang, terlepas dan menyatu dengan udara disekitarnya. Kekuatan gravitasi yang membuat pohon-pohon dan tanah hancur karena tekanan itu membalik, bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah Liong Heng.
“Aku tidak akan mati oleh bocah sepertimu!” Liong Heng menebaskan goloknya dengan cepat.
Jing Yang menyarungkan pedangnya secara perlahan dan mengamati Liong Heng dari kejauhan, “Kau tidak akan lepas dari serangan ini. Karena semakin kau berusaha menghentikannya, justru semakin kuat seranganku. Satu-satunya cara untuk melawannya adalah menghindari, bukan menghentikannya. Tetapi semua sudah terlambat, kau tidak akan menghentikannya...”
Jing Yang tersenyum tipis dan menyarungkan pedangnya sepenuhnya. Ledakan besar terjadi dan membuat tubuh Liong Heng bersimbah darah. Jing Yang melihat serangannya berhasil membunuh Liong Heng. Kemudian dia menghampiri tubuh Liong Heng yang tergeletak di tanah.
“Kerusakan ini...” Jing Yang justru tersentak kaget melihat pemandangan lubang yang ada disekitar hutan.
“Yang‘er, aku tidak pernah berhenti dibuat kagum oleh kekuatan gravitasi ini...” Ye Xiaoya mengelus rambut Jing Yang dan merangkulnya.
Jing Yang hanya tersenyum dan membantu Mei Hua dan Qiu Mei menguburkan lima mayat pendekar dari Lima Golok Darah.
__ADS_1
Setelah selesai menguburkan mayat pendekar dari Lima Golok Darah. Ye Xiaoya dan Jing Yang kembali melanjutkan perjalanan bersama Mei Hua, Qiu Mei dan Yi Yue menuju Istana Bunga Persik.
“Aku tidak menyangka Senior Ye Xiaoya juga sedang dalam perjalanan menuju Istana Bunga Persik.” Mei Hua berkata sambil berjalan disamping Yi Yue.
“Aku bersama muridku hanya kebetulan lewat. Lagipula kita sama-sama menuju Istana Bunga Persik. Kalian berdua yang menuntun jalan, jangan berjalan dibelakang!” Ye Xiaoya menatap Qiu Mei dan Mei Hua yang berjalan di belakangnya.
Mei Hua tersenyum canggung sebelum menuntun jalan menuju Istana Bunga Persik. Yi Yue berulang kali menatap Jing Yang dan ingin menanyakan sesuatu namun dia mengurungkan niatnya karena merasa bersalah pada pemuda yang sedang berjalan didepannya.
Jing Yang sendiri hanya berjalan dengan tenang dan mendengarkan obrolan Ye Xiaoya dan Mei Hua. Setelah berjalan bersama, ternyata kedua perempuan muda itu masih berumur lima belas tahun.
Baik itu Mei Hua ataupun Qiu Mei. Keduanya masih berumur lima belas tahun. Kedua gadis muda itu sedang menjalankan misi rahasia bersama para senior mereka untuk menjemput dan melindungi Yi Yue sampai ke kediaman Istana Bunga Persik dengan selamat.
Yi Yue ternyata selama ini masih hidup dan bersembunyi di Hutan Persik Tersembunyi selama enam tahun belakangan ini. Setelah mengetahui kejahatan dari menantunya yang bernama Shi Mubai. Kehidupan Yi Yue berakhir tragis, dia hendak diracuni dan dibunuh. Kabar kematiannya terjadi saat dirinya hendak memberitahu suaminya tentang sifat sebenarnya dari Shi Mubai.
Saat itu Yi Yue disekap dan dilempar ke sungai yang ada di wilayah pinggiran Ibukota Huaran. Beruntung Yi Yue tidak mengalami kekerasan fisik yang berlebihan, bahkan dia selamat dari kematiannya. Hanya saya setelah itu kehidupan Yi Yue menjadi seorang buronan Shi Mubai dan anak keduanya, Jiang Nian.
Yi Yue akhirnya berakhir di Hutan Persik Tersembunyi. Beruntung disana banyak terdapat kekayaan alam yang melimpah ruah dapat membantunya bertahan hidup.
Keberadaan Yi Yue yang bersembunyi di Hutan Persik Tersembunyi ditemukan oleh Tetua Penjaga Hutan Persik yang bernama Tao Qiaoli.
Tetua Penjaga Hutan Persik, Tao Qiaoli saat itu sedang menerbangkan Merpati Salju ke Hutan Persik Tersembunyi untuk mengambil buah air yang ada di hutan tersebut.
Dengan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Tao Qiaoli mengamati setiap sudut Hutan Persik Tersembunyi menggunakan mata Merpati Salju. Saat dia memastikan Hutan Persik Tersembunyi tidak dimasuki seorang penyusup, Tao Qiaoli justru menemukan sebuah gubuk yang didalamnya terdapat seorang wanita paruh baya. Wanita paruh baya itu tak lain adalah Yi Yue yang sedang berbaring dengan alas seadanya.
Saat ini Yi Yue berniat ingin menghentikan ambisi kedua anaknya. Setelah merasa begitu putus asa dengan hidupnya, Yi Yue tidak menyangka akan ditemukan oleh pendekar dari Istana Bunga Persik. Tepatnya tiga hari yang lalu saat sepuluh pendekar dari Istana Bunga Persik menjemputnya dari Hutan Persik Tersembunyi untuk pergi ke kediaman Istana Bunga Persik.
Dari sepuluh pendekar perempuan Istana Bunga Persik hanya dua yang bertahan hidup. Delapan lainnya telah terbunuh karena Yi Yue dan sepuluh pendekar yang mengawalnya secara tidak sengaja bertemu dengan Jiang Nian dan Shi Mubai di perjalanan.
Demi melindungi dirinya, akhirnya delapan pendekar mati oleh Lima Golok Darah yang menjaga Jiang Nian dan Shi Mubai.
__ADS_1
Sekarang Yi Yue berniat menguak kebenaran dengan meminta bantuan kepada pendekar dari Istana Bunga Persik.