
Matahari menyibak sang malam yang hitam. Secercah cahaya terus menyeruak melintasi awan dan menembus langit. Setelahnya Matahari keluar dari singgasananya dan membuat embun pagi yang mendekap dedaunan menguap secara perlahan, hingga lenyap tak bersisa. Matahari membawa pagi yang cerah yang disambut dengan suka cita oleh kicauan burung-burung yang berterbangan di angkasa.
“Mata kiriku bisa sembuh, tetapi ini akan menjadi bukti kehidupanku! Bukti rasa sakit dari seorang lelaki yang melindungi kebanggaannya!” Jing Yang memegang mata kirinya setelah menyerap beberapa Mutiara Roh Hewan dan Kristal Sinar Rembulan untuk menjaga kesehatan tubuhnya.
Jing Yang telah mandi dan sarapan pagi. Sekarang dia sedang menyerap khasiat dari Permata Iblis yang dia simpan di Cincin Dewa. Proses penyerapan tidak berlangsung lama. Semenjak Jing Yang mulai menggunakan Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam, penyakit yang dahulu selalu membuatnya pingsan ketika kelelahan mulai berangsur-angsur membaik.
Tetapi menurut Roh Sang Hitam ada beberapa cara menyembuhkan penyakit lama Jing Yang. Walau Roh Sang Hitam telah membersihkan Racun Iblis Neraka di tubuh Jing Yang, tetapi efek racun itu membuat penyakit Jing Yang semakin parah dan menjadi luka dalam.
Jing Yang tidak pernah mengeluh ataupun menunjukkan kesedihannya. Senyuman dan tindakan polosnya justru terkesan menyedihkan karena tidak ada yang menyadari penyakit itu selain dirinya dan Roh Sang Hitam.
Pagi ini di stadion tempat digelarnya Turnamen Sembilan Naga terlihat mulai ramai. Ketika Jing Yang bersama yang lainnya tiba di sana. Para penonton telah memadati setiap tribun dan suara riuh penonton terdengar menggema ke segala penjuru.
Jing Yang, Mei Hua, Qiu Mei dan Qiao Xi duduk di tempat yang telah disediakan oleh panitia pelaksana Turnamen Sembilan Naga. Jing Yang menatap Gao Zhimao yang duduk bersama pendekar muda dari Istana Sembilan Naga.
‘Aku akan menguak identitasnya yang sebenarnya...’ Jing Yang memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan-lahan.
Tak lama Tetua Sembilan Naga mulai duduk di podium. Setelah semua pendekar yang telah memiliki nama tenar di dunia persilatan Kekaisaran Jiang duduk di setiap tempat yang telah disediakan, Ye Long langsung melompat ke tengah lapangan dan melepaskan aura tubuhnya.
Sebuah panggung besar dari tanah terbentuk. Ye Long membentuk panggung tanah yang digunakan sebagai tempat bertanding para peserta. Kekuatan Ye Long tidak henti-hentinya membuat kagum pendekar yang hadir dan datang untuk menonton Turnamen Sembilan Naga.
Di babak enam belas besar peserta akan di undi kembali. Semua peserta babak enam belas besar turun ke panggung dan mengambil satu kertas yang dilipat dan ditaruh di atas meja yang terbentuk dari tanah.
“Ambil satu kertas dan aliri aura kalian pada kertas yang kalian ambil.” Ye Long memberikan perintah pada enam belas pendekar muda yang sedang mengambil kertas.
Jing Yang mengalirkan aura tubuhnya pada kertas putih yang telah dia buka. Perlahan di udara mulai terlihat nama-nama peserta yang akan bertanding sesuai urutannya. Jing Yang mendapatkan nomor sembilan.
“Saudara Jing Yang nomor sembilan. Aku dapat nomor tujuh. Sepertinya kita memang tidak berjodoh...” Qiao Xi tanpa sadar melihat kertas yang diambil Jing Yang.
“Apa Saudari Qiao Xi tertarik bertarung melawanku?” Jing Yang bertanya untuk sekedar memastikan. Namun Qiao Xi justru memalingkan wajahnya ke samping.
“Tentu saja. Aku sangat tertarik melawanmu...” Qiao Xi menjawab dengan pelan dan kembali ke tempat duduk.
__ADS_1
“Aku mendapatkan nomor lima belas...” Mei Hua menunjukkan kertas yang dia ambil pada Qiu Mei.
“Aku empat...” Qiu Mei juga menunjukkan kertas yang dia ambil kepada Mei Hua. Lalu keduanya kembali ke tempat duduk untuk menunggu giliran.
Jing Yang duduk disamping Mei Hua dan Qiao Xi. Sementara Qiu Mei duduk disamping Mei Hua. Posisi Jing Yang yang dihimpit dua gadis muda membuat beberapa pendekar menatapnya dengan tatapan cemburu.
Di tengah lapangan terlihat Ye Long mulai memanggil dua nama peserta yang akan bertanding di babak pembuka Turnamen Sembilan Naga.
“Untuk peserta yang mendapatkan undian nomor satu dan dua silahkan maju ke depan panggung!” Ye Long memanggil dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan pembuka dalam babak enam belas besar Turnamen Sembilan Naga.
Peserta yang akan bertanding di pertandingan pembuka babak enam belas besar Turnamen Sembilan Naga adalah Gu Hao dari Hutan Hantu yang mendapat undian nomor satu dan Chen Lai dari Sekte Bukit Angin yang mendapat undian nomor dua.
Chen Lai dari Sekte Bukit Angin melompat dengan cepat ke panggung utama disusul oleh Gu Hao. Keduanya saling bertatap tajam. Walau Chen Lai baru mencapai pendekar raja dan lebih muda setahun dari Gu Hao, namun pemuda itu terlihat berani menatap tajam Gu Hao.
Ye Long menjelaskan kembali aturan pertandingan pada Gu Hao dan Chen Lai. Setelah keduanya memberi hormat padanya, Ye Long menyuruh Gu Hao dan Chen Lai menjaga jarak.
“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!” Ye Long menarik napas dalam-dalam dan menatap kedua peserta yang telah menjaga jarak. Perlahan dia menghembuskan napasnya pelan-pelan.
Gu Hao tertawa dan menatap sinis Chen Lai yang bergerak dengan cepat ke arahnya, “Aku biarkan kau menyerangku terlebih dahulu. Jika aku mengalahkanmu dengan cepat, maka pertandingan ini akan membosankan, benar bukan?” Segera Gu Hao menarik pedangnya dan menahan tebasan pedang Chen Lai.
“Sudah dua kali kau mengalahkan teman-temanku! Kau juga telah melukai mereka. Sekarang giliranku untuk membalasnya!” Chen Lai melepaskan aura tubuhnya dan mulai melancarkan serangan beruntun kepada Gu Hao.
Gu Hao membiarkan Chen Lai melakukan serangan beruntun padanya, sementara dia hanya menahannya. Setiap tebasan pedang yang diayunkan Chen Lai selalu melepaskan kekuatan angin yang cukup besar.
“Aku tidak membunuh saat berasa di Istana Sembilan Naga. Tetapi saat kau bertemu denganku di luar tempat ini, maka saat itu juga kau akan kubunuh!” Gu Hao tersenyum menyeringai setelah membiarkan Chen Lai melancarkan serangan beruntun pada dirinya.
“Aku tidak takut dengan ancamanmu itu!” Chen Lai kembali melepaskan serangan demi serangan yang mulai mengalir searah dan membuat Gu Hao mulai terlihat lebih serius.
Gu Hao melakukan gerakan untuk mengambil ancang-ancang sebelum menangkis tebasan pedang yang dilancarkan Chen Lai. Suara benturan kedua pedang menggema, setelah itu Gu Hao memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya tetapi Chen Lai melompat ke belakang dan menghindarinya.
“Kau bisa menebak arah seranganku! Sepertinya kau memiliki dendam padaku di babak penyisihan.” Gu Hao tersenyum sinis dan memandang Chen Lai dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Chen Lai merapatkan giginya dan mulai melakukan serangan kembali pada Gu Hao. Keduanya mulai bertukar serangan dan terus bertukar serangan demi serangan hingga tanah di panggung utama berdebu.
Gerakan dari Gu Hao sangat gesit dan sulit untuk diikuti Chen Lai. Serangan yang dilepaskan Gu Hao sengaja untuk melukai tubuh Chen Lai.
Ketika darah mulai menetes di dada Chen Lai karena terkena tusukan-tusukan pedangnya, wajah Gu Hao terlihat begitu gembira dan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
“Tidak ada yang lebih indah dari wajah lawan yang kesakitan!” Gu Hao mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam dan melepaskan serangan pada Chen Lai.
“Teknik Pedang Hutan Hantu : Nyanyian Hantu Malam!”
Tebasan pedang Gu Hao yang dialiri tenaga dalam besar membentuk tebasan sabit yang besar. Segera Chen Lai melompat ke belakang dan melepaskan tenaga dalamnya untuk menahannya.
Ketika pedang Chen Lai menangkis tebasan tersebut, sabit besar berwarna abu-abu itu meledak menjadi puluhan tebasan yang membentuk sabit kecil. Dalam sekejap tubuh Chen Lai dipenuhi luka. Darah mulai mengalir di sekitar badannya, bahkan pipinya juga terkena goresan luka.
Dalam keadaan yang terkejut Chen Lai menurunkan kewaspadaannya sehingga Gu Hao langsung bergerak dan melancarkan puluhan tendangan pada Chen Lai.
Wajah, dada, perut bahkan ulu hati menjadi sasaran tendangan Gu Hao. Tidak butuh waktu lama bagi Gu Hao melepaskan tebasan pedangnya pada dada Chen Lai.
Penonton terdiam melihat pertunjukan pertandingan yang mulai berat sebelah. Luka tebasan yang dilepaskan Gu Hao memang sengaja tidak terlalu dalam, tetapi terlihat jelas jika Chen Lai tidak dapat berkutik sedikitpun melawan Gu Hao.
Keduanya mulai bertukar serangan sekitar sepuluh serangan, setelahnya hanya Gu Hao yang mendominasi serangan sedangkan Chen Lai terjebak dalam posisi yang memaksanya untuk tetap bertahan.
Karena pertandingan berubah menjadi pertunjukan penyiksaan yang dilakukan Gu Hao pada Chen Lai, segera Ye Long mengakhiri tindakan Gu Hao yang terus menyiksa Chen Lai.
“Cukup! Jangan paksakan adegan penyiksaan ini pada pendekar dari Istana Sembilan Naga!” Ye Long menahan tangan Gu Hao.
“Baiklah, pemenangnya Gu Hao dari Hutan Hantu!” Ye Long mengakhiri pertandingan dan mengumumkan Gu Hao sebagai pemenangnya.
“Babak empat besar, kalian diperbolehkan saling membunuh. Resiko menjadi seorang pendekar adalah siap membunuh, siap mati. Kalian membunuh orang, tetapi tidak siap mati maka sama saja seperti pecundang yang berlagak memiliki jiwa ksatria!” Ye Long berkata dengan keras hingga suaranya menggema di seluruh sudut stadion.
Setelah Gu Hao dan Chen Lai kembali ke tempat duduk sekte masing-masing, Ye Long memanggil dua nama peserta selanjutnya yang akan bertanding di babak enam belas besar Turnamen Sembilan Naga.
__ADS_1