
Lei Wu berkali-kali menoleh ke belakang. Setelah melihat Sheng Yuwen dan Xun Ji mati, tentu Lei Wu tidak bisa bertindak gegabah setelah melihat langsung kemampuan Jing Yang dan Xue Rong.
“Anak itu akan kupastikan mati! Aku tunggu kehadiranmu, di Arena Hidup Mati.” Lei Wu terkekeh setelah masuk ke wilayah Kekaisaran Jiang.
____
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kesendirian. Jing Yang menatap lekat Xue Bingyue. Gadis ini merupakan saksi bisu hidupnya. Sejak malam itu, malam yang berapi-api saat semuanya bermula.
“Dia telah pergi. Sepertinya malam ini bulan akan bersinar lebih terang...” Jing Yang menatap langit yang kian gelap.
“Rubah Putih, nama Binatang Roh-mu, Fang Baihu bukan?” Xue Bingyue menggigit jari jempolnya, dan meneteskan setitik darah ke tanah.
“Yao Tie, keluarlah.” Xue Bingyue menunjukkan Binatang Roh yang terikat kontrak darah dengannya.
Seekor Harimau Putih betina keluar dengan aura yang besar. Nama Harimau Putih ini adalah Yao Tie, melihat itu Jing Yang terkejut karena Fang Baihu, Binatang Rohnya pernah bercerita tentang dirinya yang mencari keberadaan orang tuanya.
“Putri Salju, ada apa memanggilku. Sekarang aku dan suamiku sedang mencari makanan. Lalu siapa pemuda ini? Apakah dia kekasih kecilmu?”
Jing Yang sadar saat melihat Yao Tie berbicara panjang lebar. Harimau Putih ini adalah ibu dari Fang Baihu, keduanya sangat mirip saat terus-menerus mengoceh.
“Yao Tie, Rubah Putih ini memiliki Binatang Roh yang mirip sepertimu. Hanya saja dia kecil dan menggemaskan.” Jelas Xue Bingyue. Seketika Yao Tie langsung menatap tajam Jing Yang dan memutari tubuhnya.
“Ini bau anakku. Tidak kusangka dia telah terikat kontrak darah dengan manusia. Aku terharu, ternyata anak yang hanya bisa makan, tidur, makan, tidur, telah mendapatkan rekan manusia.”
Jing Yang dan Xue Bingyue saling menatap sebelum keduanya tertawa lirih.
“Rubah Putih, apa kau memiliki roh perempuan cantik yang mengajarimu?” Xue Bingyue kembali menatap Jing Yang.
‘Andai saat itu aku mempunyai kekuatan untuk melindungimu. Kau tidak akan berakhir seperti ini. Walau ingatanmu terkunci, kau masih dapat menatapku dengan hangat...’ Jing Yang mendekati Xue Bingyue dan menyandarkan dagunya di bahu gadis ini.
“Rubah Putih?” Xue Bingyue tidak mendorong tubuh Jing Yang, melainkan membiarkan pemuda ini bersandar di bahunya.
__ADS_1
“Aku tidak perlu memberitahumu. Kamu akan mengetahuinya, tunggulah sebentar. Aku berjanji akan mengembalikan ingatanmu ini...” Jing Yang menatap pipi Xue Bingyue yang sedikit memerah. Dia tersenyum tipis dari balik topengnya sebelum tangannya mencubit pelan hidung Xue Bingyue.
Xue Bingyue mengembungkan pipinya dan memegang tangan Jing Yang.
“Dengarkan aku berbicara!” Yao Tie yang merasa diabaikan dan langsung melompat ke tengah-tengah dua anak muda ini.
“Lihatlah ke atas.” Jing Yang tersenyum sambil menatap langit yang telah sepenuhnya menjadi malam di Hutan Kegelapan.
Xue Bingyue mengikuti perkataan Jing Yang. Benar apa adanya, sinar rembulan bersinar dengan indah dan penuh kelembutan.
“Rubah Putih, aku pernah menatap pemandangan ini dengan seseorang. Tetapi aku tidak dapat mengingatnya. Yang aku ingat, dia adalah alasanku untuk bertahan hidup lebih lama dari siapapun...”
Setiap mendengar perkataan Xue Bingyue, hati Jing Yang merasa sakit. Pemuda ini bahkan mendadak lemas setelah melihat raut wajah yang kehilangan ingatannya.
Suasana canggung, Jing Yang memandang bibir mungil yang menggigit kecil dan kelopak mata yang bergetar, “Aku juga sama sepertimu. Aku pernah melihat pemandangan ini dengan seseorang...”
Yao Tie yang melihat Jing Yang dan Xue Bingyue, akhirnya diam mengamati, “Mereka terlihat sangat manis...”
Xue Bingyue melihat Jing Yang mendekatinya dan membisikkan sesuatu kepadanya. Seketika wajahnya sedikit merah merona. Andaikan kondisi tubuhnya dan nadinya seperti manusia biasa, maka wajah Xue Bingyue akan sepenuhnya merah seperti tomat.
“Hmm...” Xue Bingyue menganggukkan kepalanya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Jing Yang.
Jantung Xue Bingyue berdetak lebih cepat dari biasanya saat Jing Yang menggendong tubuhnya. Matanya yang indah menatap wajah pemuda yang tertutup topeng rubah putih.
Jing Yang hanya melirik Yao Tie yang mengejarnya, dia tertawa renyah karena Binatang Roh milik Xue Bingyue terlihat begitu marah.
“Kamu melupakan Yao Tie. Lihat dia di bawah...”
Xue Bingyue baru mengingat keberadaan Yao Tie. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar. Akhirnya Xue Bingyue mengalihkan pandangannya karena merasa malu.
Jing Yang mendarat tepat di tempat Xue Rong dan Xue Que sedang duduk menyiapkan makanan. Melihat pendekar perempuan dari Istana Bulan Biru, Jing Yang merasa mereka seperti orang yang hendak berekreasi ke Hutan Kegelapan.
__ADS_1
“Yueyue?” Xue Que terkejut melihat Jing Yang menggendong tubuh Xue Bingyue. Pemuda ini lebih agresif saat bersama Xue Bingyue.
Xue Rong tersenyum karena melihat Xue Bingyue bahagia, “Yueyue, Rubah Putih. Kita makan malam bersama.”
Xue Bingyue turun dan berjalan menunduk. Sementara tubuh Jing Yang langsung diterkam oleh Yao Tie.
“Ibu!” Fang Baihu yang sedang di dekap Xue Rong meronta ketika melihat Yao Tie.
Jing Yang merasakan kaki Yao Tie dengan santainya menginjak perutnya dan langsung mendatangi Fang Baihu.
Jing Yang hanya menatap Xue Bingyue dan yang lainnya. Tak lama Yao Tie dan Fang Baihu menghampirinya.
Yao Tie menjelaskan dirinya tidak kembali ke tempat tinggalnya di Dunia Roh karena ingin Fang Baihu menjadi mandiri.
Binatang Roh memiliki kemampuan istimewa. Sebelum Fang Baihu menguasai kemampuan istimewa itu, maka Yao Tie tidak akan pernah menemuinya.
“Itu yang aku janjikan padanya. Tetapi dia ini sangat manja. Pemuda topeng putih, aku serahkan anakku padamu...” Setelah berkata demikian Yao Tie menghilang. Kemudian disusul Fang Baihu.
Xue Rong dan Xue Bingyue berdiri disamping kiri dan kanannya, Jing Yang melirik keduanya sebelum menatap tanah yang bergoyang.
Tanah itu memancarkan cahaya berwarna putih yang terang sebelum Siluman Agung menunjukkan wujudnya pada mereka.
Jing Yang menatap sekilas Xue Que yang menjaga jarak darinya.
“Que‘er, kenapa kau menjauh?” Xue Rong bertanya.
“Tidak apa-apa, Guru...” Xue Que menjawab sebelum membatin lirih, ‘Jing Yang memiliki kharisma yang aneh. Mengapa dua permata Istana Bulan Biru ini jatuh hati padanya? Aku harus menjaga jarak. Dan kenapa Guru terlihat sangat imut dari biasanya. Sial.’
Siluman Agung yang menjaga Makam Ratu Kuno memperlihatkan wujud sepenuhnya. Monster kucing berwarna putih dengan tubuh yang dipenuhi api berwarna merah menatap empat manusia dihadapannya. Namun tatapannya lebih terarah pada Jing Yang, Xue Bingyue dan Xue Rong.
‘Nadi Api? Jelmaan Tubuh Dewi Salju? Jelmaan Tubuh Dewi Es? Nadi Es? Tubuh Yang? Tubuh Yin? Tubuh Raja Neraka? Sepertinya perempuan disana itu yang sekarang menjadi Penguasa Pegunungan Suxue...’ Siluman Agung menatap Xue Rong setelah matanya melihat kondisi tubuh Jing Yang, Xue Bingyue dan Xue Rong.
__ADS_1
“Temukan pusaka yang dapat menyegel salah satu dari malapetaka, Sembilan Kekacauan Surgawi. Aku serahkan padamu, Penguasa Pegunungan Suxue...” Kucing berwarna putih dengan tubuh yang berapi-api berubah bentuk menjadi api berwarna merah dan masuk ke dalam perut Xue Rong.