Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 122 : Hutan Kegelapan II


__ADS_3

Jing Yang mengeluarkan Pil Pemulih Aura dan Pil Embun sebelum menyerap khasiatnya. Jarum yang menempel pada perutnya sama seperti jarum yang menempel di leher Xue Rong.


Satu-satunya cara untuk menyingkirkan dua pendekar bumi yang tersisa hanya dengan pertarungan singkat. Demi menghindari amukan Hewan Buas dan Binatang Iblis yang akan mengamuk di dalam hutan ketika merasa terusik, mereka harus melakukan pergerakan yang matang.


Selama semalaman Jing Yang memulihkan tenaganya. Sementara Xue Bingyue dan Xue Que tertidur berdempetan.


‘Seharusnya Makam Ratu Kuno akan terbuka di malam bulan purnama. Besok malam adalah hari dimana Klan Xue melakukan perjanjian dengan Siluman Agung yang menjaga makam itu...’ Xue Rong membatin dalam keheningan. Matanya menatap punggung Jing Yang yang bermeditasi di pintu gua.


___


Suara kicauan burung menandakan malam berganti pagi. Jing Yang membuka matanya dan mendengarkan Fang Baihu yang mengatakan bahwa dia tidak menemukan jejak keberadaan Lei Wu.


Sementara Xun Ji dan anggotanya sedang beristirahat, mereka belum menemukan Reruntuhan Kristal yang tersembunyi.


Tidak ada yang mengetahui jika Reruntuhan Kristal berada jauh di dalam Makam Ratu Kuno. Orang yang mengetahuinya hanya Matriark Istana Bulan Biru dan Xue Rong. Sekarang Xue Bingyue, Xue Que dan Jing Yang baru mengetahuinya.


“Sumber daya dan beberapa harta pusaka berada disana. Kita akan mengetahuinya setelah sampai disana.” Xue Rong mengeluarkan makanan dari Cincin Dewa dan membagikannya.


Jing Yang menjauh dan melepas topengnya. Tindakan Jing Yang membuat Xue Bingyue kebingungan karena pemuda ini tidak ingin memperlihatkan wajahnya.


“Guru, beruntungnya Rubah Putih bisa melihat senyumanmu...” Xue Que memegang perutnya setelah selesai sarapan dan menatap Xue Rong.


Xue Rong hanya diam. Dia tidak menyangkalnya jika dirinya ingin melihat sendiri bagaimana perjuangan Jing Yang mengembalikan ingatan Xue Bingyue.


“Senior Rong, Binatang Roh-ku tidak menemukan jejak keberadaan Lei Wu. Apakah kita bergerak sekarang atau menunggu malam tiba?”


Xue Rong menatap Jing Yang lama, kemudian dia menceritakan bahwa malam ini Makam Ratu Kuno akan terbuka. Tidak ada lagi hari lainnya untuk menunda pergerakan, hari ini mereka harus membunuh Xun Ji sekaligus Lei Wu yang menghilang.

__ADS_1


Xue Bingyue merasakan samar-samar aura milik Jing Yang sama dengannya.


Jing Yang hanya melihat kedua bola mata yang indah itu dengan detak jantung yang memainkan melodi kemarahan.


‘Yueyue, tunggu sebentar. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang membuatmu seperti ini!’


___


Jumlah pendekar yang dibawa Xun Ji semakin berkurang karena beberapa hari ini mereka bertarung sengit melawan amukan Hewan Buas dan Binatang Iblis.


“Senior Xun, tidak ada pergerakan dari Partai Hewan Buas selama satu hari ini...”


“Lei Wu dari Pedang Tiga Raja juga menghilang. Kami sudah memantau keadaan di sekitar hutan ini, namun tidak ada tanda-tanda jejak keberadaannya.”


“Anak dari Pendekar Naga Langit dan tiga pendekar perempuan juga tidak dapat kami lacak keberadaannya, tetapi lihat itu..”


Tiga anggotanya melaporkan situasi saat ini, salah satu dari mereka membawa tangan kiri Sheng Yuwen. Pendekar yang membawa tangan kiri Sheng Yuwen, menjelaskan bahwa tubuh pendekar bumi ini telah menjadi santapan Hewan Buas Tahap Langit.


Biarpun telah menjadi Lima Jari Iblis dari Pulau Iblis Tengkorak, Xun Ji tidak menutupi fakta jika kebangkitan pendekar bumi di aliran hitam berkat Pil Darah Iblis pemberian Mao Gang.


‘Aku penasaran dengan orang yang berada di belakang Patriark Mao. Beliau dapat menundukkan aliran hitam, bahkan membuat Bulan Purnama Merah menjadi bidaknya. Aku harus melakukan kontribusi besar menemukan Reruntuhan Kristal, karena bagaimanapun banyak budak di sekitar pulau yang butuh pekerjaan.’


Xun Ji tersenyum tipis sambil menatap Pil Darah Iblis yang dia pegang. Dia tidak menyangka anak dari Jing Tian masih hidup setelah kejadian di malam itu, sampai pada akhirnya lamunannya terbuyarkan ketika sebuah kepala dari tiga pendekar yang dia suruh untuk mencari jejak keberadaan Jing Yang dan Lei Wu melayang di udara dan menggelinding di tanah.


___


Jing Yang bergerak cepat setelah memastikan lokasi Xun Ji dan anggotanya. Xue Rong mengikuti ritme kecepatannya, sementara Xue Bingyue dan Xue Que berada di belakang mereka berdua.

__ADS_1


“Seni Napas Dewi Naga Petir!” Jing Yang melihat tiga pendekar dari kejauhan, kemudian melepaskan satu tebasan secepat kilat yang memotong ketiga kepala pendekar tersebut.


“Amarah Pedang Petir : Auman Halilintar!”


Xue Rong menatap tajam Jing Yang. Sementara Xue Bingyue dan Xue Que sedikit tersentak saat ketiga kepala itu lepas dan melayang jauh ke lokasi tempat peristirahatan Xun Ji dan anggotanya.


Jing Yang segera melepaskan Aura Raja Naga ketika sudah melihat Xun Ji berdiri. Xue Rong melepaskan hawa dingin yang mencekam, sementara Xue Bingyue dan Xue Que sudah siap bersiap untuk mengatasi pendekar yang menjadi bawahan Xun Ji.


“Bisa katakan padaku alasan kedatanganmu? Aku rasa kau mengetahui lokasi Reruntuhan Kristal, anak Jing Tian!” Xun Ji sudah memegang goloknya yang memancarkan aura berwarna merah.


“Kau tidak mempunyai hak berbicara padaku. Saat ini aku sedang dalam suasana yang tidak begitu baik, jadi jangan memancing kemarahanku!” Melihat senyuman Xun Ji membuat darah Jing Yang mendidih.


Xue Bingyue bergetar tubuhnya mendengar ucapan Jing Yang. Tangannya memainkan Pedang Salju Suxue untuk membalas serangan dari berbagai arah.


“Berbeda dengan ayahmu, lagipula kau memiliki dendam besar kepada kami. Sungguh ironis.” Xun Ji melempar goloknya. Seketika golok itu memutar dan mengincar tubuh Jing Yang.


Xun Ji menelan Pil Darah Iblis dan menatap Jing Yang tajam, “Seni Napas Dewa Naga Api!”


Jing Yang terkejut, begitu juga dengan Xue Rong, Xue Que dan Xue Bingyue. Teknik pernapasan serta pergerakan Jing Yang dan Xun Ji sama.


“Que‘er! Yueyue! Jangan ragu, bunuh mereka! Lawan kali ini memiliki kemampuan iblis!” Xue Rong langsung melepaskan aura tubuhnya dan melancarkan serangan tapak tangannya.


“Sembilan Kehalusan Salju!”


Dentuman keras disertai hawa dingin dapat ditahan Xun Ji dengan baik.


Xue Rong menjaga jarak karena Xun Ji menggunakan teknik yang sama dengannya. Dia menoleh ke arah Jing Yang, namun pemuda ini justru tersenyum tipis melihat Xun Ji yang tertawa meremehkan.

__ADS_1


“Tanda Mata Naga...” Jing Yang menebaskan pedangnya untuk mengembalikan golok terbang kepada Xun Ji.


“Senior Rong, ini adalah kemampuan Jurus Darah Iblis miliknya.”


__ADS_2