
Hal pertama yang Jing Yang lakukan setelah sampai di Istana Jiang adalah duduk dihadapan Murong Qiaomi yang memarahinya. Selain telah meninggalkan tugasnya seenaknya, Jing Yang mengatakan kepada Murong Qiaomi jika dirinya ingin mengisi waktu luang sebelum hari pertempuran melawan Pulau Iblis Tengkorak dengan menghentikan penyerangan yang dilakukan pasukan militer di kota ujung perbatasan, Kota Jiyangma.
Murong Qiaomi melepaskan aura pembunuh saat memarahi Jing Yang. Tidak ada yang berani mendekat walaupun disana ada Xue Bingyue, Yi Yue dan Murong Liuyu. Jing Yang layaknya seorang anak yang sedang dimarahi Ibunya. Kejadian ini berlangsung lama sebelum akhirnya Murong Qiaomi mengalah akan keinginan Jing Yang.
“Yang‘er, kau meninggalkan banyak tugas untukku dan sekarang kau berniat pergi setelah kembali dan menetap selama dua hari?” Murong Qiaomi menghela nafas panjang dan tangannya memijat keningnya, “Bocah nakal, egois juga ada batasnya!”
Jing Yang menggaruk kepalanya dan tertawa lirih, “Hehehe...” Suara tawanya dipaksakan bahkan Jing Yang tidak tahu harus menanggapi api saat melihat Murong Qiaomi dalam mode marah kembali.
“Hehehe? Masuklah kedalam kamar dan renungkan perbuatanmu! Lihat tumpukan berkas disana! Baca semua dan berpikir dewasalah!” Murong Qiaomi memarahi Jing Yang karena ingin melihat bagaimana sifat asli pemuda itu. Apakah Jing Yang sesuai pikirannya atau tidak. Sebenarnya Murong Qiaomi melakukan ini untuk memastikan Jing Yang sesuai kriterianya atau tidak.
“Baik, Bibi Qiaomi...” Jing Yang menunduk lesu setelah menatap malas tumpukan berkas yang menggunung dengan tidak indahnya.
Setelah melihat Jing Yang sedang membawa tumpukan berkas, Murong Qiaomi menatap Xue Bingyue dan menyuruh Xue Bingyue untuk mengawasi Jing Yang selama seharian ini.
“Yue‘er, awasi Yang‘er dan jangan sampai dia meninggalkan kamar sebelum merenungi perbuatannya...” Murong Qiaomi tersenyum manis kepada Xue Bingyue sambil menunduk dan berbisik ditelinga Xue Bingyue lirih.
“Jika kau dan Yang‘er ketahuan pergi atau kau membantunya. Selanjutnya aku tidak segan untuk memarahimu...” Bisikan Murong Qiaomi membuat tubuh Xue Bingyue bergidik. Xue Bingyue hanya menganggukkan kepalanya sebelum menjawab dengan bibir bergetar.
“Ba-baik, Bibi Qiaomi. Aku akan memastikan Yang‘er-” Xue Bingyue bahkan sampai ketakutan menjawab, “Aku akan memastikan Yangyang berada didalam kamar selama seharian penuh!”
“Bagus, anak manis.” Murong Qiaomi mengelus kepala Xue Bingyue lembut. Murong Liuyu yang melihat sikap Murong Qiaomi hanya bisa menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.
‘Bahkan dihadapan Kakak Qiaomi, seorang Kaisar Jiang sama sekali tidak berarti...’ Murong Liuyu menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Murong Qiaomi merapikan beberapa berkas dan dokumen lama.
__ADS_1
“Liuyu, bagaimana perkembangan mereka berdua?” Murong Qiaomi menyinggung soal lumpuhnya titik meridian Chi Rong dan Fan Liwei.
Murong Liuyu tersenyum kecut. Sebagai seorang perempuan dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya mental Chi Rong dan Fan Liwei. Keduanya tidak dapat lagi menjadi seorang pendekar setelah titik meridiannya lumpuh.
“Chi dan Liwei sekarang membantu para pendekar muda berlatih. Walaupun mereka berdua hanya memberikan instruksi, tetapi semangat berlatih para pendekar muda menjadi semakin membara.” Murong Liuyu menjelaskan.
“Wajar mereka semangat. Chi dan Liwei merupakan idaman para pria, termasuk dirimu juga Liuyu. Itulah mengapa aku selalu mengatakan kepada kalian agar jangan terlalu mengumbar pesona kepada para lelaki.” Murong Qiaomi menanggapi.
Murong Liuyu membuka mulutnya, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat ini Murong Qiaomi terlihat lebih kesal daripada biasanya.
Sementara itu didalam kamarnya, Jing Yang sedang membuka berkas dan dokumen yang dimaksud Murong Qiaomi. Jing Yang membacanya satu per satu dan mengetahui beberapa masalah yang ada di Kekaisaran Jiang.
Memang dalam pemerintahan Kakeknya, Kekaisaran Jiang bisa dikatakan jauh dari kata makmur. Jing Yang sendiri tidak menyangkal jika para pendahulunya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membawa Kekaisaran Jiang kearah yang lebih baik.
‘Daerah yang dikuasai bangsawan masih bisa dibilang makmur, tetapi negeri ini memiliki banyak daerah yang jauh dari kata makmur...’ Jing Yang dalam hati berniat akan melakukan sesuatu hal yang berbeda dari Kakeknya.
Rongma merupakan sebuah wilayah milik Kekaisaran Jiang yang berbatasan dengan Kekaisaran Ma. Dahulu Rongma dikenal sebagai penghasil padi dan rempah-rempah terbesar di Kekaisaran Jiang, namun sekarang kondisi Rongma sangat memperihatinkan karena Rongma sudah tidak lagi menjadi wilayah penghasil padi dan rempah-rempah terbesar di Kekaisaran Jiang melainkan wilayah dengan tingkat kependudukan yang miskin.
Selain tidak terjangkau, sekarang Rongma dihuni oleh kelompok seperti perampok dan markas para penjahat. Kondisi ini semakin membuat Rongma menjadi wilayah yang sangat memprihatikan. Orang yang kuat akan menindas yang lemah, itulah kondisi Rongma sekarang.
Dan yang paling mengejutkan adalah salah satu dokumen milik Istana Bunga Persik yang menjelaskan kondisi Rongma saat ini. Jing Yang mengetahui jika Kekaisaran Ma terlibat dalam jatuhnya Rongma.
Bisa dibilang Kekaisaran Ma mengakui Rongma sebagai wilayah mereka. Selain telah mempekerjakan para penduduk Rongma secara paksa, Kekaisaran Ma juga mengambil keuntungan dari hasil panen padi penduduk Rongma dan rempah-rempah disana.
__ADS_1
Kondisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan tidak ada upaya keseriusan dari pemerintahan untuk mengatasi kondisi di Rongma. Saat mengetahui ini, Jing Yang memijat keningnya dan menghela nafas panjang, dia menjadi penasaran dengan apa saja yang dilakukan mendiang Kakeknya semasa menjabat sebagai Kaisar Jiang.
Xue Bingyue yang duduk dibangku dekat pintu tersenyum karena melihat ekspresi pusing Jing Yang. Walaupun merasa tidak suka menjabat seorang Kaisar Jiang, Jing Yang sendiri tidak bisa melepaskan kepeduliannya kepada para penduduk.
Pikiran yang sangat jarang dan tidak mungkin dimiliki seorang bocah. Selepas pertemuannya dengan Raja Neraka dan Jing An, pikiran Jing Yang berubah dewasa. Hal yang dilakukan Jing Yang adalah untuk memastikan apakah perkataan Raja Neraka benar apa adanya.
“Yueyue, mau ikut denganku?” Jing Yang melirik kearah Xue Bingyue yang mengawasinya.
“Kemana? Hari ini aku tidak bisa ikut denganmu dan lagipula kau tidak bisa kemana-mana. Aku tidak dimarahi Bibi Qiaomi.” Xue Bingyue menjawab dengan tegas dan memperingatkan Jing Yang tentang perkataan Murong Qiaomi.
“Tidak butuh seharian penuh bagiku untuk merenungi keputusanku menjadi seorang Kaisar Jiang. Aku telah sadar jika posisi yang kujabat bukanlah main-main. Tetapi rasanya sangat menyebalkan karena aku harus menanggung perbuatan para pendahuluku.” Jing Yang berbaring sambil mengambil dokumen yang lainnya lalu menambahkan, “Sebenarnya apa yang mereka lakukan saat menjadi seorang Kaisar Jiang?”
Xue Bingyue menahan tawa karena sangat jarang Jing Yang mengeluh bahkan tidak pernah.
“Yangyang, jadi apa yang ingin kau lakukan setelah merenungi keputusanmu?” Xue Bingyue bertanya karena penasaran akan jawaban Jing Yang.
Jing Yang ingin mengisi waktu luangnya sebelum pertempuran melawan Pulau Iblis Tengkorak dengan melakukan kunjungan ke Rongma dan Jiyangma.
“Pertama aku akan ke Rongma dan kedua aku akan Jiyangma. Dua wilayah ini seharusnya bisa menjadi aset berharga Kekaisaran Jiang...” Jing Yang bergumam pelan setelah membaca dokumen terakhir. Begitu banyak informasi yang tidak mungkin dia ketahui jika dirinya tidak mengambil keputusan sebagai seorang Kaisar Jiang.
Diluar kamar milik Jing Yang tepatnya didepan pintu terlihat Murong Qiaomi tersenyum lebar karena Jing Yang adalah tipe pria yang termasuk dalam kriterianya. Mungkin ini adalah kelainan Murong Qiaomi karena dahulu dia sempat mengatakan pada dirinya jika dia akan membuka hati kepada sosok lelaki yang hebat dan memiliki pengaruh besar di Kekaisaran Jiang serta memiliki kebaikan dan kepedulian terhadap orang-orang disekitarnya.
Jing Yang masuk dalam semua kategori itu. Tanpa sadar Murong Qiaomi tersipu malu sendiri, dirinya merasa sangat aneh mengingat Jing Yang lebih pantas menjadi anaknya dibandingkan sebagai lelaki idaman yang dahulu dia impikan.
__ADS_1
Jing Yang sendiri samar-samar merasakan keberadaan Murong Qiaomi walaupun sangat tipis, ‘Apa Bibi Qiaomi menguping? Sebaiknya aku tidur dan bertemu dengan Raja Neraka daripada mendengarkan ocehannya.’
Saat merasakan aura tubuh Murong Qiaomi, Jing Yang segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sambil melakukan konsentrasi secara penuh sebelum akhirnya dia masuk kealam bawah sadarnya bertemu Raja Neraka.