Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 77 : Panglima Shen Ho


__ADS_3

Seminggu sebelum menjalankan rencana menuju Istana Bunga Persik. Kali ini Murong Qiaomi mengirim Tao Qiaoli, Fan Liwei dan Fan Ziwei menuju Ibukota Huaran. Tentu saja Peri Salju Kembar, Xue Liwen dan Xue Lihua ikut dalam misi kali ini.


Ye Xiaoya mengajari Jing Yang ilmu dari Istana Sembilan Naga, seperti Ilmu Pedang Terbang, Ilmu Pedang Jiwa dan Ilmu Seribu Pedang.


“Yang‘er, cara paling tepat untuk menguasainya cukup kita melakukan perjalanan jauh. Mengontrol aura dalam perjalanan menuju Ibukota Huaran adalah waktu yang tepat untuk berlatih menguasai Pedang Terbang.” Ye Xiaoya memberikan saran sambil menunggu Yi Yue bersama Jing Yang.


“Baiklah, Guru. Lagipula Ilmu Pedang Terbang akan berguna untuk kita berdua ketika melakukan perjalanan menuju Kekaisaran Qing.” Jing Yang menjawab dan mengalihkan pandangannya menatap penginapan.


Pintu penginapan terbuka dan terlihat Yi Yue memakai penutup wajah untuk menyembunyikan identitasnya. Jing Yang dan Ye Xiaoya segera memakai penutup wajah dengan kain hitam mengikuti Yi Yue.


Tak lama Murong Qiaomi datang bersama Tao Qiaoli, Fan Ziwei dan Dan Liwei, di belakangnya terlihat Xue Liwen dan Xue Lihua. Kali ini Murong Liuyu diberi amanah oleh Murong Qiaomi untuk menjaga Istana Bunga Persik bersama tetua yang lain.


Sebelum melakukan perjalanan menuju Ibukota Huaran, Jing Yang memberi salam pada Qiao Xi, Mei Hua dan Qiu Mei.


“Saudara Jing Yang, hati-hati dalam perjalanan. Semoga keberuntungan berada pada pihak kalian.” Qiao Xi menyatukan kedua tangannya dan menatap Jing Yang penuh rasa kekhawatiran.


“Saudara Jing Yang, jangan lupa mampir ke Istana Bunga Persik setelah masalah di Ibukota Huaran selesai.” Sahut Mei Hua sambil tersenyum tipis memandang wajah Jing Yang.


Sementara itu Qiu Mei hanya diam karena mempercayai kekuatan dan tekad Jing Yang. Lalu Jing Yang pergi meninggalkan ketiga temannya yang mengantar kepergiannya sampai pintu masuk Istana Bunga Persik.


“Sampai bertemu lagi.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jing Yang. Saat ini dia sudah tidak sabar melihat raut wajah Lin Song. Tetapi menurut perkiraan Murong Qiaomi, kediaman Jiang Feng telah dikosongkan.


Setelah kabar kudeta Istana Sembilan Naga menjadi perbincangan hangat. Kemungkinan besar, orang yang akan melakukan kudeta di Ibukota Huaran hanyalah Shi Mubai dan Jiang Nian.


“Xue Ying!” Jing Yang memanggil Elang Salju yang berada di dalam Dunia Roh. Setelah melihat Xue Ying keluar dari udara berwarna ungu, Jing Yang menggunakan pedang besar yang ada di Istana Bunga Persik sebagai pijakan kakinya.


Murong Qiaomi tersenyum ketika melihat Ye Xiaoya dan Jing Yang sedang mencoba terbang menggunakan Ilmu Pedang Terbang.

__ADS_1


“Mari berangkat! Semoga keberuntungan berada di pihak kita!” Murong Qiaomi naik ke atas punggung Xue Ying setelah melihat semua orang yang ikut dalam perjalanan kali ini menaiki punggung Elang Salju.


Dalam perjalanan, Jing Yang dan Ye Xiaoya terlihat begitu menikmati ketika merasakan sensasi berselancar di udara menggunakan pedang dengan bilah yang lebar dan besar.


“Yang‘er, kau sudah mahir mengontrolnya.” Ye Xiaoya menatap pedang yang dipijak Jing Yang berwarna emas terang.


“Ternyata ini lebih muda dari yang kukira, Guru.” Jing Yang menjawab dan memandang pedang yang dipijak Ye Xiaoya berwarna merah muda.


Dalam perjalanan, sesekali Murong Qiaomi bersama yang lainnya berbincang, terkadang gelak tawa mewarnai pendekar wanita yang sedang duduk di punggung Xue Ying ketika melihat Yi Yue mengkhawatirkan Jing Yang dan Ye Xiaoya yang sedang saling mengejar.


Perjalanan menuju Ibukota Huaran berjalan lancar karena mereka melewati udara. Jing Yang tidak melihat tanda-tanda kekacauan. Sekarang dia memfokuskan perhatiannya pada pengontrolan aura.


Setelah melakukan perjalanan selama lima hari, akhirnya Jing Yang bersama yang lain sampai di sebuah hamparan rumput hijau yang tumbuh bersama bunga-bunga yang indah.


“Tuan, kau membiarkanku terbang selama lima hari. Aku ingin tidur, sampai jumpa.” Xue Ying langsung menghilang, segera Murong Qiaomi dan yang lainnya melompat ke bawah.


“Nenek Yi!” Jing Yang memegang tangan Yi Yue dan menariknya agar terbang dibelakangnya.


“Yang‘er, lain kali hati-hati! Bagaimana kalau kamu jatuh?” Yi Yue menghela napas panjang setelah memarahi Jing Yang.


“Hehe...” Jing Yang tertawa kecil dan menggaruk kepalanya.


Sebelum memasuki gerbang kota, Ye Xiaoya menghampiri penjaga gerbang ketika melihat banyak orang yang menunggu masuk ke dalam Ibukota Huaran.


Ibukota Huaran adalah kota yang megah dan makmur. Layaknya bunga yang indah, Ibukota Huaran memiliki bangunan yang menjulang tinggi dan beberapa taman kota yang menyejukkan hati.


Dalam keindahannya, Ibukota Huaran cepat atau lambat akan menjadi kelopak bunga yang ternoda penuh akan darah. Suasana di dalam kota sama seperti biasanya, walau dua hari lagi akan terjadi kudeta.

__ADS_1


Walau Jiang Feng akan menjadi penerus tahta, tetapi Jiang En tidak berniat menyerahkan tahta Kekaisaran Jiang kepada anaknya dalam waktu dekat. Sementara itu suami Jiang Nian begitu berambisi menguasai dua tahta kekaisaran.


Proses masuk ke dalam Ibukota Huaran sangat ketat, bahkan Ye Xiaoya harus menunggu lama. Mengingat wanita berumur dua puluh dua itu, yang memiliki tubuh seperti gadis muda itu tidak sabaran, Ye Xiaoya dapat memasuki Ibukota Huaran ketika menunjukkan sebuah surat dengan segel pengenal dari Jendral Besar Huan Chen.


Penjaga gerbang langsung mempersilahkan Ye Xiaoya dan rombongannya masuk ke dalam Ibukota Huaran karena tanda pengenal surat tersebut milik atasan mereka.


“Ternyata kau cukup hebat dalam masalah ini, Saudari Xiaoya.” Fan Liwen berkata sambil berjalan di samping Ye Xiaoya.


“Untuk jaga-jaga ketika berada di dalam kota, aku sudah merencanakan ini sejak di Kota Xuedong.” Ye Xiaoya menjawab santai dan memperhatikan sekelilingnya.


Jing Yang berjalan di samping Yi Yue sambil melihat bangunan yang megah. Hanya saja dia tidak menunjukkan kekaguman yang berlebihan. Bangunan besar, penginapan dan toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan menghiasai Ibukota Huaran.


Suasana di dalam Ibukota Huaran sangat ramai, Jing Yang mempercepat langkah kakinya bersama yang lainnya ketika mereka sudah berada dekat dengan kediaman Panglima Shen Ho.


“Akhirnya kita sampai.” Ye Xiaoya berkata sambil memperlihatkan surat dengan tanda pengenal Jendral Besar Huan Chen pada prajurit yang menjaga gerbang kediaman.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka memasuki Kediaman Panglima Shen Ho.


Jing Yang memperhatikan Kediaman Panglima Shen Ho memiliki halaman yang luas. Tak lama dia mendengar suara pintu terbuka dan terlihat Jendral Besar Huan Chen datang bersama Shen An dan pria berbadan kekar dengan rambut yang memutih.


“Selamat datang di Ibukota Huaran, Tuan Muda Jing Yang, Nona Ye.” Jendral Besar Huan Chen memberi hormat pada Jing Yang dan Ye Xiaoya. Kemudian dia memberi hormat pada yang lainnya.


Tak lama Panglima Shen Ho menyuruh mereka semua masuk ke dalam kediamannya. Beberapa pelayan menyambut dan langsung menyiapkan makanan mewah yang terlihat lezat dan telah dihidangkan di atas meja.


Pelayan langsung mengantar Jing Yang memasuki kamar. Jing Yang mendapatkan kamar yang sama dengan Yi Yue. Sebelum menghadiri jamuan makan, Jing Yang memilih untuk mandi untuk menyegarkan pikiran dan badannya.


Sementara itu Yi Yue masih merasa ragu ketika menyuruh orang-orang yang telah membantunya menyelesaikan masalah dengan membunuh Jiang Feng, Jiang Nian dan Shi Mubai. Bagaimanapun tiga target ini telah menyebabkan kekacauan di Kekaisaran Jiang secara tidak langsung. Tetapi hati Yi Yue dipenuhi kebimbangan.

__ADS_1


Melihat Jing Yang tumbuh dengan rasa sakti, Yi Yue sendiri sulit membayangkan betapa hancurnya perasaan Jing Yang. Entah pemuda itu selalu bersikap polos secara alami untuk menyembunyikan emosi atau menahan amarahnya, tetapi di dalam hati Yi Yue, dia masih merasa bersalah kepada Jing Yang.


Hati Yi Yue dipenuhi perasaan dilema yang perlahan membesar. Di satu sisi dia masih tidak bisa memaafkan perbuatan kedua anaknya, di satu sisi sebagai seorang ibu, dia tidak ingin melihat anaknya terbunuh karena rencananya.


__ADS_2