Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 30 : Pasukan Salju Merah


__ADS_3

Jing Yang berhenti berjalan dan memegang tudung hitamnya. Kepalanya menunduk dan menghindari tebasan pedang yang mengincar lehernya.


“Bukankah ini sedikit keterlaluan, aku hanya ingin keluar kota namun harus diperlakukan seperti ini...” Jing Yang menendang perut penjaga gerbang dengan tendangan belakang menggunakan tumit kakinya.


“Anak ini?!” Penjaga yang lainnya justru bersiul. Jing Yang mengernyitkan dahinya karena siulan penjaga tersebut dipenuhi suara tenaga dalam.


“Di kota ini tidak ada penduduk sepertimu. Kau telah melukai Tuan Muda Chang Xuan. Berharap dan berdoa saja kalau Tuan Muda Chang Xuan tidak akan menyiksamu dengan kejam.” Penjaga yang bersiul tersenyum menyeringai menatap Jing Yang.


‘Aku jadi tidak tega meninggalkan Shen Mi dan pelayan penginapan. Semoga saja orang yang bernama Chang Xuan ini tidak melakukan sesuatu kepada Shen Mi dan yang lain!’ Batin Jing Yang khawatir, dia khawatir dengan perkataan penjaga jika Chang Xuan adalah orang yang kejam itu kenyataan.


Tak lama sepuluh pendekar yang memakai jubah Pulau Salju Rembulan datang. Dahulu jubah dengan corak mawar salju itu berwarna putih, namun sekarang jubah yang dikenakan sepuluh pria itu berwarna merah.


Jing Yang memejamkan matanya dan memfokuskan auranya pada kedua bola matanya. Saat ini Jing Yang menunggu pergerakan sepuluh pendekar yang melepaskan aura pembunuh untuk menyerang dirinya.


“Hei, bocah. Kau terlihat mencurigakan! Katakan siapa namamu?!” Salah satu pria yang memegang golok mendekati Jing Yang.


“Aku hanyalah seorang pengembara.” Jing Yang asal menjawab. Kemudian menghindari tebasan golok yang mengincar perutnya.


“Pengembara? Kau dapat menghindari seranganku! Kau adalah seorang pendekar! Kota Xuedong bekerjasama dengan Pulau Salju Rembulan. Di pulau tidak ada anak sepertimu!” Pria yang menggunakan senjata golok terus melayangkan serangan kepada Jing Yang.


“Katakan padaku siapa namamu?!” Kali ini sepuluh orang dan dua penjaga kota membentuk formasi lingkaran untuk mengepung Jing Yang.


“Aku tidak bisa mengatakan namaku kepada kalian.” Jing Yang membuka matanya dan menatap dingin kedua belas orang yang mengepungnya. Seketika aura berwarna merah menyebar cepat dan membuat kedua belas orang yang mengepungnya pingsan.


“Aura Raja Naga sungguh luar biasa. Tidak kusangka kekuatannya lebih dari yang kuperkirakan...” Jing Yang tersenyum tipis dan melirik Roh Sang Hitam yang terus mengawasinya dari udara.


“Keluarlah! Kalian tidak perlu sembunyi, aku masih bisa merasakan nafsu membunuh kalian yang besar!” Jing Yang menatap ke arah hutan. Semak-semak bergoyang dan muncul dua pria yang kelihatannya lebih kuat dari kedua belas orang yang telah dikalahkan Jing Yang.


“Sepertinya bocah ini mempunyai kitab yang disembunyikan. Bisa melumpuhkan dua belas orang hanya dengan menatap. Kekuatan ini baru pertama kali aku melihatnya...” Pria yang membawa pedang mendekati Jing Yang dengan waspada.

__ADS_1


“Cukup kalahkan dan bawa anak ini ke Pulau Salju Rembulan! Kita berdua telah mencapai pendekar raja, tidak mungkin kalah dengan anak kecil seperti ini!” Kali ini pria yang memegang dua pedang menodongkan pedangnya kepada Jing Yang.


“Sepertinya tidak ada pilihan lain. Lagipula aku sedang bergegas...” Jing Yang mengambil Pedang Gravitasi dari dalam Cincin Dewa. Kedua pendekar yang melihat tindakan Jing Yang melebar matanya.


“Apa yang dia lakukan?” Pendekar yang memegang dua pedang menatap tajam Jing Yang sebelum langsung melancarkan serangannya karena merasa Jing Yang akan melakukan sesuatu yang berbahaya.


“Ambil pedangnya! Aku yakin itu adalah Pusaka Langit!”


Jari jempol Jing Yang menarik sarung pedangnya dengan pelan ketika dua pendekar itu mendekatinya, “Ini adalah Pusaka Dewa. Tebakan kalian salah.”


Tubuh kedua pendekar itu langsung ambruk ke tanah dan memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Jing Yang tidak melepas pedangnya dari sarung sepenuhnya.


“Anak manusia! Jangan samakan manusia dengan Binatang Iblis! Kau lebih kuat dari mereka!” Roh Sang Hitam berteriak. Jing Yang menoleh ke atas dan tersenyum canggung.


“Tidak kusangka, akan seperti ini.” Jing Yang menaruh Pedang Gravitasi ke dalam Cincin Dewa kembali. Sebelum pergi, Jing Yang mengikat empat belas orang yang hendak mencelakainya dengan tali yang terbuat dari aura tubuhnya.


“Guru, apa suatu saat aku bisa terbang seperti Guru?” Jing Yang berteriak pelan sambil melanjutkan perjalanan.


“Bisa, aku akan mengajarimu Tubuh Dewa Naga Merah saat tiba waktunya. Cepat atau lambat kau akan bisa terbang sepertiiku.” Roh Sang Hitam terbang rendah dan menceritakan banyak hal pada Jing Yang tentang dunia manusia yang baru dia pelajari dari toko buku yang ada di Kota Xuedong.


Roh Sang Hitam membaca buku-buku tersebut saat Jing Yang melamun semalaman. Dari tata cara berbisnis hingga ilmu kesehatan, semuanya Roh Sang Hitam jelaskan kepada Jing Yang.


Perlahan Jing Yang mulai menjauh dari Kota Xuedong. Setelah Roh Sang Hitam selesai bercerita, Jing Yang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh bersama Roh Sang Hitam yang mengikutinya dari belakang.


___


Dalam perjalanan Jing Yang sesekali bertemu dengan Hewan Buas Tahap Petarung. Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Jing Yang karena dia telah melawan bermacam-macam hewan yang ada di Tebing Dimensi Hitam.


Butuh waktu lima hari untuk sampai di Kota Cunfei. Jing Yang melakukan perjalanan selama dua hari. Dalam dua hari itu dia berjalan melewati gunung dan bukit, tak jarang dalam perjalanan dia bertemu dengan Hewan Buas Tahap Raja dan Hewan Buas Tahap Kaisar.

__ADS_1


Ketika bertemu dengan Hewan Buas, Jing Yang mengalahkan semua Hewan Buas yang menghalanginya tanpa kesulitan yang berarti. Mutiara Roh Hewan dari puluhan Hewan Buas yang dia kalahkan, malam harinya akan dia serap untuk membantu memulihkan tenaganya.


Dalam perjalanan kali ini Roh Sang Hitam hanya mengamati Jing Yang dari udara. Perempuan berparas cantik itu tidak menawarkan Jing Yang untuk menggunakan kekuatannya karena suatu alasan.


Selain Jing Yang masih dapat mengatasi halangan dengan mudah, Roh Sang Hitam juga tidak bisa sembarangan mengubah wujudnya menjadi Naga Hitam karena saat ini Jing Yang masih belum bisa mengontrol sepenuhnya potensi dari Tubuh Dewi Naga Hitam.


Di hari kelima Jing Yang bertemu dengan kereta kuda yang dihadang oleh Tikus Petir, yang tak lain adalah Hewan Buas Tahap Bumi Tingkat Satu.


Jing Yang mengambil Pedang Gravitasi dari Cincin Dewa dan mulai memainkan pedangnya. Kali ini dia tidak menggunakan kekuatan dari Pedang Gravitasi, melainkan menebaskan pedangnya dengan gerakan yang lincah dan menghabisi Tikus Petir yang menghadang kereta kuda.


Jing Yang mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya kembalibsambil mengambil Mutiara Roh Hewan milik Tikus Petir.


“Sepertinya bukan hanya satu ekor saja...” Jing Yang menaruh Mutiara Roh Hewan ke dalam Cincin Dewa ketika merasakan kedatangan gerombolan Tikus Petir dari arah hutan.


Suara Tikus Petir menggema disekitar hutan disertai dengan sambaran petir yang samar-samar terdengar. Jing Yang mulai menarik pedangnya secara perlahan dan melepaskan auranya.


“Pedang Gravitasi!” Ketika gerombolan Tikus Petir melompat dan hendak menggelindingkan tubuhnya untuk menghancurkan kereta kuda, Jing Yang menarik pedangnya sepenuhnya.


Tubuh gerombolan Tikus Petir langsung menempel ke tanah. Gravitasi yang berasal dari pedang Jing Yang membuat gerombolan Tikus Petir mengeluarkan bunyi kesakitan.


Kali ini Jing Yang memainkan pedangnya dan membunuh Tikus Petir yang menyerang dirinya. Permainan pedang Jing Yang terlihat mahir bagi orang yang ada di dalam kereta kuda, namun tidak dengan Roh Sang Hitam.


Tidak butuh waktu lama bagi Jing Yang untuk menghabisi gerombolan Tikus Petir. Pedang Gravitasi dia taruh kembali ke dalam Cincin Dewa, kemudian Jing Yang mengambil Mutiara Roh Hewan dan menaruhnya ke dalam Cincin Dewa.


Empat orang termasuk kusir kuda menghampiri Jing Yang dan menatapnya dengan penuh rasa kekaguman.


“Tuan Muda, terimakasih telah menyelamatkan kami. Perkenankan saya untuk memberi imbalan kepada Tuan Muda.” Pria paruh baya dengan wajah yang ramah membungkuk dan menatap Jing Yang penuh kekaguman.


“Sepertinya ketiga orang itu berasal dari keluarga yang berpengaruh. Terima saja ajakan mereka.” Roh Sang Hitam berbicara dari udara. Jing Yang memberi salam kepada pria paruh baya tersebut dan menerima ajakannya untuk ikut naik ke dalam kereta kuda.

__ADS_1


__ADS_2