
Jing Yang mendecakkan lidahnya lalu meludah karena mulutnya penuh darah. Serangan Peng Ouyang membuat tubuhnya mengalami luka dalam.
Jing Yang mengolah pernapasan dan mengalirkannya pada tubuh yang terkena luka dalam. Kemudian pandangan matanya tertuju pada Peng Ouyang yang sudah mempersingkat jarak dengannya.
‘Jika aku tidak mempertahankan kesadaranku, mungkin aku sudah gila. Dunia ini benar-benar tempat yang membuatku muak!’ Jing Yang sadar dimanapun dia berpijak, pertempuran dan pertumpahan darah selalu terjadi.
Walau sudah menghancurkan sisi lemahnya, Jing Yang sadar jika dirinya tidak dapat menghancurkan seluruhnya sehingga sebagian dalam dirinya benar-benar retak dan hancur karena mencoba untuk tetap berpikir waras dalam keadaan yang gila ini.
“Bocah keparat! Aku bersumpah akan membunuhmu!” Peng Ouyang menatap dingin Jing Yang yang sedang dalam posisi kuda-kuda dan bersiap menyambut tebasan pedangnya.
Jing Yang melihat tatapan kebencian Peng Ouyang pada dirinya, dia tidak memungkiri jika dirinya tidak lebih dari seorang pembunuh. Bahkan sekarang bilah pedang yang tajam bagi dirinya sudah menjadi pegangannya.
Saat kedua pedang saling berbenturan, Jing Yang mempercepat tempo tebasannya dan berniat mengakhiri nyawa Peng Ouyang secepatnya.
“Yue Wang! Hancurkanlah!” Saat Jing Yang dan Peng Ouyang sudah melakukan pertukaran serangan lebih dari dua ratus serangan, Jing Yang mengeluarkan energi pedang dalam jumlah besar dan mengeluarkan kekuatan gravitasi yang menghancurkan bangunan di Puncak Persik.
Peng Ouyang tidak menyangka Jing Yang akan menggunakan kemampuan yang tersembunyi, sehingga dia belum siap untuk mengantisipasi serangan yang dilepaskan Jing Yang.
“Aku tidak akan mati. Dan kutukan ini tidak akan kubiarkan siapapun merasakannya. Cukup aku yang menanggung semuanya!” Saat Jing Yang berteriak dan menghunuskan pedangnya pada jantung Peng Ouyang, Roh Sang Hitam, Yue Wang dan Lingling terkejut mendengar perkataan Jing Yang.
Memang Jing Yang selalu memendam perasaannya, tetapi menurut Roh Sang Hitam, sosok Jing Yang yang masih berusia dua belas tahun ini memiliki sebuah mimpi yang bersemayam didalam hatinya. Mimpi yang tidak pernah diceritakan padanya ataupun orang lain.
__ADS_1
‘Kau ingin menanggung hidup mereka. Bagimu mereka adalah orang yang berarti dalam hidupmu. Anak manusia, apakah kau menginginkan sebuah keluarga?’ Roh Sang Hitam membatin dalam hatinya dan merasakan melodi ketenangan, kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu sebelum akhirnya dia melihat Jing Yang melindungi Xue Bingyue.
Kematian Peng Ouyang memang tidak diperkirakan, tetapi kemampuan Jing Yang dalam memainkan pedangnya terlebih Pedang Gravitasi tentu akan menjadi serangan kejutan mematikan jika musuhnya tidak mengetahuinya.
Saat Jing Yang berhasil membunuh Peng Ouyang, pertarungan Xue Rong dan Bao Xinruo juga telah mencapai puncaknya karena sebelum Jing Yang membantu Xue Bingyue, pemuda itu melepaskan energi pedang yang penuh gravitasi pada tubuh Bao Xinruo.
‘Aku turut senang, tetapi aku adalah Matriark Istana Bulan Biru. Junior Yang, terimakasih karena telah mengkhawatirkanku tetapi aku sendiri tidak suka dianggap lemah!’ Xue Rong membiarkan Bao Xinruo memulihkan tenaganya sebelum keduanya kembali melakukan pertukaran serangan.
Jing Yang yang melihat itu menyadari jika tindakannya sama saja meremehkan kemampuan Xue Rong.
“Rubah Putih, apa kita perlu mengejar pendekar dari Sekte Pedang Suci? Aku rasa mereka merencanakan sesuatu yang buruk!” Xue Bingyue berkata sambil menatap Jing Yang yang berada disampingnya.
“Kita habisi pendekar yang mengepung kita. Urusan Sekte Pedang Suci, kita bisa urus nanti, Yueyue...” Jing Yang tersenyum tipis melihat raut wajah Xue Bingyue yang memikirkan sesuatu, “Lagipula aku belum memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungi semuanya.”
Xue Que sendiri tidak menyangka seorang pemuda yang usianya lebih muda darinya memiliki sifat yang unik, ‘Kepolosanmu itu membuat banyak wanita yang berharap padamu...’ Xue Que tertawa pelan sambil menahan tebasan yang mengarah padanya.
Diatas Xue Que, tepatnya diudara terlihat Xue Rong yang melepaskan pukulan es dan api secara bergantian pada Bao Xinruo. Kemudian Xue Rong melancarkan puluhan tapak pada Bao Xinruo yang dialiri tenaga dalam.
“Matriark Istana Bulan Biru yang terkenal dingin jatuh hati pada bocah itu? Apa kau sadar jika dirimu ini memiliki selera yang buruk, Saudari Xue?” Ucap Bao Xinruo sambil memperhatikan raut wajah Xue Rong yang sempat memerah saat Jing Yang membantunya.
“Seleraku tidak buruk, lihat saja saat Junior Yang dewasa. Dia akan menjadi lelaki yang hebat, pilihanku tidak pernah salah dan seleraku tidak buruk sama sekali karena bagaimanapun di dunia ini tidak ada laki-laki seperti dirinya.” Xue Rong tersenyum bangga mengungkapkan isi hatinya. Saat memikirkan Jing Yang, gadis yang memegang posisi Matriark Istana Bulan Biru ini merasa bebas dan dia merasa bangga karena memiliki perasaan pada Jing Yang.
__ADS_1
Disisi lain, Bao Xinruo yang mendengar perkataan Xue Rong secara langsung sama sekali tidak percaya. Bagaimanapun perempuan secantik Xue Rong memiliki perasaan pada pemuda berumur dua belas tahun, umur keduanya terpaut jauh. Enam tahun adalah jarak antara umur Jing Yang dan Xue Rong.
‘Apa yang menarik dari bocah itu? Aku merasa kesal sendiri karena berbicara dengan perempuan ini!’ Bao Xinruo tidak mempedulikan perasaan Xue Rong lagi, sekarang yang ada dipikirannya adalah menangkap Xue Rong hidup-hidup.
‘Walau Saudara Peng telah mati, tetapi Senior Shuang dapat membunuh semua pendekar disini jika telah mengalahkan Patriark Puncak Persik itu!’ Peng Ouyang melempar jarum-jarum dari jubahnya.
Xue Rong yang melihat jelas jarum-jarum yang berterbangan ke arahnya dengan kecepatan tinggi segera melepaskan hawa dingin, lalu membekukan jarum-jarum itu di udara.
Xue Rong menajamkan matanya sebelum memanipulasi aura tubuhnya menjadi ratusan jarum es yang menahan jarum milik Bao Xinruo.
Xue Rong selalu menyambut serangan yang dilepaskan Bao Xinruo, gerakan Xue Rong begitu anggun dan gemulai. Tidak banyak bergerak, tetapi sekali bergerak gadis ini melakukan gerakan yang pasti hingga setiap gerakannya tidak sia-sia.
Xue Rong menyambut setiap serangan yang dilepaskan Bao Xinruo. Keduanya bertarung sengit dan terus melakukan pertukaran serangan tanpa henti.
Bao Xinruo tidak menyangka Xue Rong dapat mengimbangi pergerakannya sehingga dia mempercepat serangannya. Serangan yang dilepaskan Bao Xinruo sekarang lebih agresif.
Xue Rong tetap bersikap tenang dan menyambut setiap serangan yang dilepaskan Bao Xinruo. Hingga akhirnya Bao Xinruo melakukan kesalahan besar karena tidak menyadari perubahan pergerakannya membuatnya tidak dapat mengatur aliran pernapasan dengan baik.
Setelah melakukan pertukaran serangan sekitar tiga ratus serangan, akhirnya napas Bao Xinruo tidak teratur. Tentu Xue Rong memanfaatkan itu untuk membunuh Bao Xinruo secepatnya.
Dalam satu kali tarikan napasnya, Xue Rong melepaskan hawa dingin berjumlah besar dan tenaga dalam yang mencekam sebelum mendaratkan dua tapak pada tubuh Bao Xinruo.
__ADS_1
Tapal tangan kirinya dilapisi api, sementara tapak tangannya dilapisi es. Dengan dua tapak itu, Xue Rong membunuh Bao Xinruo yang mati dalam keadaan mendelik karena tidak menyangka Xue Rong akan membunuhnya saat dirinya sedang mengatur aliran pernapasan.
Bersamaan dengan Jing Yang yang berhasil membunuh Peng Ouyang dan Xue Rong yang berhasil membunuh Bao Xinruo, sesuatu yang menggemparkan terjadi di Puncak Persik akibat dari pertarungan Wu Taofan melawan Tian Taohua dan Kung Taoji dan Shuang Ciu.