Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 95 : Lembah Sunyi II


__ADS_3

“Sangat tenang, bahkan untuk merasakan hawa keberadaan seseorang harus menggunakan aura...” Jing Yang bergerak sambil terus memperlebar jangkauan auranya untuk memeriksa keadaan disekitarnya.


Lembah Sunyi memang tempat yang sangat aman untuk menjadi tempat persembunyian, tetapi kelemahan tempat persembunyian Menara Pilar Hitam adalah tidak bisa mengetahui keberadaan seorang penyusup jika kita tidak mencoba melepaskan aura untuk memeriksa keadaan di sekitarnya.


Jing Yang terus memanfaatkan keadaan tersebut, dimana banyak pendekar dari Menara Pilar Hitam yang sedang meminum arak dan berjaga dengan santai.


“Pasti tidak pernah terpikirkan oleh mereka jika markas ini akan diserang...” Jing Yang mengayunkan kedua pedangnya membunuh pendekar yang sedang minum arak. Belum sempat bereaksi, pendekar yang lainnya juga terbunuh sebelum menyadari kematian rekannya.


Setiap membunuh pendekar dari Menara Pilar Hitam, Jing Yang memeriksa jubah mereka. Kebanyakan hasil rampasannya adalah buku hitam yang berisikan nama-nama orang yang menjadi incaran mereka.


Ketika Jing Yang membuka halaman paling depan, matanya melebar melihat tulisan nama mendiang ibunya.


“Jadi mereka semua yang ada disini juga terlibat pembantaian di malam itu...” Aura hitam pekat memadat di Pedang Gravitasi yang digenggam Jing Yang.


“Siapa kau?! Beraninya kau membunuh rekanmu sendiri!”


Jing Yang menoleh melihat beberapa pendekar yang terpancing karena merasakan getaran pedangnya. Dengan cepat, Jing Yang memotong leher salah satu pendekar raja yang mendatanginya, kemudian dia kembali bergerak cepat membunuh yang lainnya.


Dalam satu tarikan napas yang pasti, Jing Yang memperlebar jangkauan auranya, “Seni Napas Dewi Naga Kegelapan!” Jing Yang menghilang dan membunuh lebih banyak pendekar yang berjaga di semua markas.


Setelah memasuki lorong lebih dalam, Jing Yang membaca denah lokasi dan mulai memastikan hawa keberdaan disekitarnya. Jika yang tertulis di denah lokasi sungguhan, maka ada ratusan tahanan bangsawan yang ada di tempat persembunyian Menara Pilar Hitam.


Jing Yang menarik napas dan mengolahnya sebelum berjalan memasuki lorong lebih dalam dari sebelumnya. Baru beberapa langkah dia menapaki lorong yang berkabut, dirinya menabrak pendekar yang berjaga. Dengan cepat tangannya mengayunkan pedangnya, tetapi pendekar tersebut sempat berteriak sebelum perutnya tertebas.


“Penyusup!”


Jing Yang mendecakkan lidahnya dan langsung melepaskan aura tubuhnya lebih besar dari sebelumnya. Teriakan pendekar yang baru saja dia bunuh ternyata tidak memancing pendekar yang lainnya. Jing Yang menghela napas panjang mengingat ini adalah Lembah Sunyi.

__ADS_1


“Selama tidak ada pendekar yang melepaskan aura untuk memastikan keadaan disini baik-baik saja, maka tidak ada masalah...” Jing Yang menggelengkan kepalanya karena sempat panik.


Jing Yang terus menyusuri lorong menuju ruangan tempat tahanan bangsawan yang ditahan. Tetapi setelah sampai disana, Jing Yang melebar matanya melihat salah satu ruangan yang mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Tercium bau mayat yang membuat perutnya terasa mual.


Jing Yang mundur beberapa langkah untuk menjauh sebelum mengolah pernapasan dengan satu tarikan napasnya yang pasti. Kemudian dia membuka pintu ruangan tersebut, dan alangkah terkejutnya dia melihat tumpukan mayat wanita yang telah membusuk.


Jing Yang menutup pintu tersebut dan memeriksa ruangan yang lainnya. Di ruangan sebelah terlihat puluhan wanita terbaring dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan. Tetapi semuanya memang memiliki paras seorang bangsawan.


Jing Yang mengepalkan tangannya melihat keadaan yang mengguncang emosinya. Dia mulai memutarkan tubuhnya untuk membuat kabut yang ada di sekitar lorong bagian ruang tahanan menghilang.


Setelah kabut yang ada di lorong ruang tahanan terhempas, puluhan orang yang ditahan melihat Jing Yang. Mereka semua langsung meminta bantuan agar diselamatkan.


“Tuan! Bebaskan aku!”


“Pendekar muda tolong selamatkan kami!”


“Tolong selamatkan kami! Aku berasal dari Keluarga Huan, saudaraku pasti akan memberikan imbalan jika kau menyelamatkanku!”


“Semua harap menjauh dari jeruji besi!” Jing Yang mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam sebelum menghancurkan jeruji besi yang mengekang tahanan.


Seketika puluhan tahanan bersujud di depan Jing Yang. Melihat banyak orang tua yang dijadikan tahanan, kemarahan di hati Jing Yang semakin meledak.


Salah satu pria paruh baya menangis ketika membuka pintu yang berisikan mayat wanita. Tak lama salah satu wanita menjelaskan kepada Jing Yang jika ruangan yang dipenuhi tumpukan mayat adalah perempuan yang menjadi korban penculikan dan mengalami kekerasan seksual di dalam ruangan tersebut.


Tanpa dijelaskan lebih panjang, Jing Yang mengerti garis besarnya. Yang terpancar dari tatapan matanya sekarang adalah kemarahan. Jing Yang mengambil tali yang panjang di salah satu sel tahanan dan menyuruh orang-orang yang dia bebaskan agar memegang tali ini ketika berjalan.


“Kalian jangan menjauh dariku! Aku akan membawa kalian keluar!” Jing Yang belum memasuki lorong yang di dalam denah dijelaskan jika tempat itu adalah ruangan tempat tinggal Lima Pilar Hitam.

__ADS_1


Jing Yang terus berjalan keluar dari tempat persembunyian Menara Pilar Hitam. Sesampainya di luar, Jing Yang mengantarkan mereka menuju hutan yang dekat dengan rawa.


“Aku akan kembali secepatnya setelah menghabisi mereka!” Jing Yang menatap semua tahanan yang terlihat ketakutan ketika dirinya berniat meninggalkan mereka.


Jing Yang mengeluarkan makanan dan minuman dari Cincin Dewa, kemudian membagikannya pada orang-orang dihadapannya.


‘Aku membagikan daging kesukaan Guru Xiaoya, dia tidak akan marah, kan?’ Jing Yang menggelengkan kepalanya mengingat Ye Xiaoya yang sangat menyukai daging.


“Tunggu sebentar, aku pasti akan kembali ke tempat ini...” Jing Yang mencoba menghilangkan keresahan tahanan baru saja dia bebaskan.


Butuh waktu bagi Jing Yang untuk menenangkan mereka, setelah merasa yakin, akhirnya para tahanan membiarkan Jing Yang pergi setelah mengetahui identitasnya.


Jing Yang kembali memasuki markas Menara Pilar Hitam setelah memenangkan para tahanan. Segera dia menuju tempat keberadaan Lima Pilar Hitam. Kakinya terus menapaki tanah yang basah, memasuki lorong menuju ruangan yang belum dia masuki.


“Aura Zirah Naga : Zirah Naga Petir!”


Jing Yang mengolah pernapasan sambil mempercepat langkah kakinya menggunakan ilmu meringankan tubuh dan kekuatan dari Zirah Naga Petir. Tidak butuh waktu lama bagi Jing Yang sampai di sebuah lorong yang dipenuhi bebatuan berwarna hitam bercampur merah.


Sebuah pintu yang cukup besar berada dihadapan Jing Yang. Kedua tangan Jing Yang mengepal sebelum aura berwarna ungu memadat di kedua kepalan tangannya.


“Jadi ini tempat Lima Pilar Hitam berada...” Jing Yang mengarahkan pukulan tangannya untuk menghancurkan pintu yang menghalanginya.


“Siapa yang berani membuat keributan di tempat Lima Pilar Hitam?!” Salah satu pria yang memegang pedang hitam berdiri di depan Jing Yang.


“Bocah?” Pendekar tersebut mengerutkan dahinya menatap Jing Yang tajam.


‘Jadi dia Pedang Hitam?’

__ADS_1


Jing Yang menarik napas panjang. Dia mengetahui Lima Pilar Hitam dan anggotanya dari kertas yang dia rampas saat dirinya membunuh pendekar Menara Pilar Hitam di Kota Cunfei.


Ketika Jing Yang bergerak, Pedang Hitam langsung mengayunkan pedangnya. Kedua pedang Jing Yang bertemu dengan bilah pedang yang seluruhnya berwarna hitam dipenuhi aura pembunuh.


__ADS_2