
Selepas benturan pedang yang memecah udara dan menciptakan pusaran angin itu, kini alun-alun tengah kota dipenuhi pendekar Bulan Purnama Merah. Jing Yang memberi akses pada penduduk agar menjauh.
Setelah itu dia menciptakan seribu pedang tak kasat mata melalui aura tubuhnya dan membunuh pendekar Bulan Purnama Merah yang terus berdatangan. Satu demi satu pendekar Bulan Purnama Merah mati ditangannya.
Pemandangan mengerikan itu jelas membuat wajah Jiang Feng pucat pasi. Bahkan beberapa penduduk kota tercengang melihat Jing Yang menghabisi pendekar Bulan Purnama Merah dalam sekejap.
Aura pembunuh yang keluar dari tubuh sangat pekat. Bahkan Gu Ruo yang tengah melakukan pertukaran serangan dengannya merasa tertekan dan ketakutan. Gu Ruo yakin aura pembunuh milik Jing Yang hampir menyamai Mao Gang.
Namun dia tidak menyangka jika Jing Yang akan memiliki aura pembunuh yang sangat pekat dan mirip dengan Mao Gang. Sudah sejumlah jurus yang dia lepaskan namun tidak ada satupun yang mampu memberikan luka fatal pada Jing Yang.
Menyadari bahwa betapa bodoh dirinya mengikuti perintah Mao Gang dan mengawal Jiang Feng, Gu Ruo berulang kali mengutuk dirinya sendiri dan ingin memutar waktu.
‘Dia membunuh seluruh anggota sekteku dalam sekejap?! Kemampuannya ini sangat tidak normal! Aku tidak akan bisa mengalahkannya!’ Gu Ruo mulai merasakan efek yang mengerikan karena menggunakan teknik yang diajarkan Tang Mu.
Sebelum memberikan perlawanan lebih, Gu Ruo mati dalam satu kali tebasan pedang Jing Yang yang memotong kepalanya dan badannya menjadi dua bagian.
Tidak berhenti sampai disana, Jing Yang juga membakar seluruh mayat yang bergeletakan disepanjang jalan. Jalanan alun-alun kota hanya menyisakan Jiang Feng.
Jing Yang menatap dua gadis yang memperhatikan dirinya. Dia menarik napas panjang dan menghembusnya. Sebelum Xue Bingyue dan Shen Mi mendekat, Jing Yang merasa samar-samar aura tubuh yang mendekat.
“Tetua!” Teriakan seorang pemuda menggema. Jing Yang menoleh keatas dan menemukan pemuda dengan kedua mata yang tertutup karena luka bekas tebasan terlihat di kedua matanya.
“Tetua Naga Muda! Tetua Jing!” Pemuda itu segera membungkuk dan memberi hormat kepada Jing Yang.
‘Aku tidak merasakan hawa keberadaannya sebelumnya. Dia tiba-tiba muncul dan saat itu juga aku baru merasakan keberadaannya.’ Jing Yang memperhatikan pemuda itu dengan seksama.
“Mungkian Tetua Jing lupa dengan identitasku...” Pemuda itu tersenyum kecut dan bercerita jika dirinya merupakan salah peserta dalam Turnamen Istana Sembilan Naga bersama Jing Yang.
__ADS_1
“Tetua Jing, perkenalkan namaku Duan Zhaoyang.” Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Duan Zhaoyang.
Jing Yang mengingat nama ini. Dia memperhatikan pemuda bernama Duan Zhaoyang yang berdiri dihadapannya. Banyak yang ingin dia tanyakan pada Duan Zhaoyang mengenai kejadian di Istana Sembilan Naga.
“Aku mengingatmu.” Jing Yang menanggapi singkat sebelum bertanya, “Jsdi apa yang ingin kau katakan?”
Jing Yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Istana Sembilan Naga. Duan Zhaoyang segera menceritakan kepada Jing Yang tentang pertempuran Istana Sembilan Naga dan Pulau Iblis Tengkorak.
Banyak yang mengira pertempuran itu hanya melibatkan Pulau Iblis Tengkorak, namun pertempuran itu sebenarnya dinodai dengan campur tangan Tang Mu dan beberapa sekte aliran putih dan netral yang tidak menyukai kekuasaan Istana Sembilan Naga.
Sebut saja seperti Istana Naga Api, Gunung Pedang Tunggal dan Pedang Tiga Raja. Jing Yang mendengarkan cerita Duan Zhaoyang dengan seksama, darahnya mendidih mendengar seluruh pendekar Istana Sembilan dibantai oleh pendekar Pulau Iblis Tengkorak.
Kematian Sheng Long, Ye Long dan Tetua lainnya juga terdengar mengenaskan. Jing Yang mengepalkan tangannya dengan erat dan merasa semakin bersalah karena tidak dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai Tetua Istana Sembilan Naga.
Duan Zhaoyang juga menceritakan dirinya yang diselamatkan oleh Sheng Long dengan membawa seluruh harta pusaka ataupun sumber Istana Sembilan Naga. Duan Zhaoyang memberikan sebuah Cincin Penyimpanan kepada Jing Yang dan mengatakan bahwa didalam Cincin Penyimpanan tersebut terdapat seluruh harta yang ada di Perpustakaan Sembilan Naga.
Jing Yang mengatakan itu bukan tanpa alasan. Dirinya merupakan bagian dari Istana Sembilan Naga termasuk Ye Xiaoya. Tentu saja setelah mendengar kabar musnahnya Istana Sembilan Naga membuat Jing Yang terpukul.
“Tetua Jing, bolehkah aku menjadi pengikutmu? Aku akan mengabdi padamu.” Ucap Duan Zhaoyang mantap.
Jing Yang memperhatikan Duan Zhaoyang dan tersenyum tipis, “Pengikut? Aku tidak membutuhkan itu. Zhaoyang, jadilah temanku.”
“Tetua Jing, ini...” Duan Zhaoyang tercengang akan kebaikan Jing Yang.
“Selama ini aku selalu berusaha menanggung semuanya sendirian. Zhaoyang, terimakasih karena telah selamat. Kita tidak saling mengenal sebelumnya, tetapi mulai sekarang kau adalah temanku.” Jing Yang memegang pundak Duan Zhaoyang dan mencengkeramnya erat, “Tolong bantu aku.”
Kedua mata Duan Zhaoyang melebar mendengar ucapan Jing Yang. Setelah itu Duan Zhaoyang berpamitan pada Jing Yang, namun Jing Yang menahannya.
__ADS_1
“Zhaoyang, sebaiknya kau tetap berada disini. Mungkin tiga hari lagi, seluruh pendekar aliran putih dan netral akan berkumpul di Ibukota Huaran. Apa kau sudah memiliki tujuan lain?” Jing Yang mencegah kepergian Duan Zhaoyang dan bertanya.
Duan Zhaoyang sebenarnya ingin menyusup ke Negeri Jiu dan Negeri Daejong, tetapi mendengar ajakan Jing Yang tentu saja Duan Zhaoyang tidak bisa menolaknya apalagi mengatakan tidak.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Terimakasih Tetua Jing. Aku akan menjadi saksi perjalananmu saat dirimu menjadi seorang Kaisar Jiang.” Sekali lagi Duan Zhaoyang memberi hormat kepada Jing Yang.
Duan Zhaoyang melepaskan aura tubuhnya dan menatap dingin Jiang Feng sebelum melepaskan sebuah tendangan yang mengenai ulu hati Jiang Feng secara telak.
Mulut Jiang Feng memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Duan Zhaoyang kembali melepaskan tendangan berikutnya sebelum mengakhiri nyawa Jiang Feng dengan pedangnya.
“Tetua Jing, ini adalah bentuk pengabdianku padamu. Aku tahu kau tidak sanggup membunuh orang ini. Jadi biarkan aku yang menanggungnya.” Duan Zhaoyang menatap tajam Jing Yang. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain sebelum Jing Yang tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
“Kau seolah-olah mengerti diriku, Zhaoyang.” Jing Yang berkata dengan tenang namun tajam.
Duan Zhaoyang ikut tersenyum tipis, “Ya, Tetua Jing. Sejak pertama kali melihatmu. Aku sudah tertarik padamu.”
Jawaban Duan Zhaoyang tidak ditanggapi Jing Yang. Keduanya saling diam sebelum akhirnya Duan Zhaoyang menceritakan tujuannya berada di Ibukota Huaran.
Setelah itu Duan Zhaoyang pergi menuju penginapan yang dekat dengan Istana Jiang. Sedangkan Jing Yang melompat mendekati Xue dan Shen Mi.
Melihat Xue Bingyue dapat mengatasi pendekar Bulan Purnama Merah, Jing Yang tersenyum lega. Bagaimanapun Jing Yang mengkhawatirkan kondisi Xue Bingyue saat melakukan pertarungan.
Yang pertama kali Shen Mi rasakan saat melihat Jing Yang adalah perasaan terkejut yang memenuhi dirinya. Jantungnya berdegup kencang saat Jing Yang terlihat lebih tampan dengan tatapan mata yang berbeda.
Jing Yang ingin menyapa Shen Mi, namun dia tidak mengatakan apapun karena dirinya dipenuhi perasaan bersalah. Melihat Shen Mi dalam keadaan baik-baik saja, bagi Jing Yang itu sudah cukup.
Shen Mi sendiri ingin menyapa Jing Yang, namun dirinya merasa canggung. Jing Yang mengalihkan pandangannya dari Shen Mi beralih ke tubuh Jiang Feng yang tak bernyawa.
__ADS_1
“Aku akan mengakhirinya.” Jing Yang mengeluarkan api hitam dari telapak tangannya sebelum melenyapkan tubuh Jiang Feng hingga tak berbekas.