
Jing Yang hanya tidak menyangka setelah mendengar tentang ketenaran Matriark Istana Bulan Biru, dia berkali-kali melihat sisi lainnya dari Matriark Istana Bulan Biru ini.
Jing Yang hanya membiarkan Xue Que yang terkapar di tanah dan berjalan mendekati Xue Bingyue.
“Aku akan membantumu...” Jing Yang melepaskan energi pedang sebelum memutarkan tubuhnya.
Xue Bingyue mengayunkan tangannya, seketika serpihan es berputar di sekitar tubuhnya sebelum menyatu dengan pusaran angin milik tebasan Jing Yang.
“Sebenarnya Guru adalah temanku. Aku pernah memanggilnya Kakak Rong, tetapi Tetua Agung memarahinya habis-habisan. Aku kagum padanya yang dapat memikul tanggung jawab yang besar di usia muda.” Xue Bingyue berkata dengan wajah datar sambil melepaskan hawa dingin lebih besar dari sebelumnya.
Jing Yang hanya tersenyum tipis melihat Xue Bingyue. Dia sendiri tidak menyangkal jika perasaan yang tumbuh dihatinya tak lagi sama seperti dahulu.
“Amarah Pedang Petir ~ Kilat Emas!”
Saat Xue Bingyue membekukan tubuh prajurit batu, Jing Yang segera menghancurkannya. Tepat setelah prajurit batu yang merupakan penguasa lantai dua hancur, sebuah jalan menuju ke lantai bawah terlihat.
Jing Yang memeriksa lantai yang memancarkan aura berwarna emas. Dia menginjaknya dan melihat isi didalamnya.
Di dalam sana terdapat sumber daya yang menggiurkan mulai dari Akar Jiwa, Permata Bulan Sabit dan Benih Pohon Buah Es. Bahkan ada beberapa tanaman obat-obatan.
Xue Bingyue menghampiri Jing Yang, kemudian berbicara dengan Xue Rong. Gadis berumur sembilan belas tahun itu benar-benar baru pertama kali merasakan jatuh cinta, Jing Yang membagi harta yang dia ambil di lantai satu dan di lantai dua ini.
“Kedatangku kesini hanya untuk mencari keberadaan Yueyue, bukan berburu harta karun...” Ketika mendengar Jing Yang mendecakkan lidahnya, Xue Rong segera memasukkan sumber daya yang ada di lantai dua ke dalam Cincin Dewa.
Xue Rong terlihat gelagapan, Jing Yang mengingat Roh Sang Hitam yang pernah bercerita tentang kisah romantis dan itu membuatnya kebingungan. Dia membiarkan semuanya berjalan semestinya. Karena bagaimanapun dia sudah melihat berkali-kali beberapa gadis yang sebaya atau yang lebih tua darinya, menaruh perhatian padanya.
“Aaahhh, lagipula cinta tidak memandang usia...” Xue Que berjalan melewati Jing Yang namun lagi-lagi gadis ini terkena perangkap.
“Saudara Jing, tolong aku!” Xue Que sudah merasa kesal.
___
__ADS_1
Setelah melewati lantai kedua Makam Ratu Kuno, kini Jing Yang dan rombongannya berada di lantai tiga.
Situasi di lantai tiga lebih sunyi. Jing Yang berada di paling depan sambil melebarkan Aura Raja Naga guna mengetahui keberadaan penjaga lantai tiga.
“Junior Yang, maafkan aku. Seharusnya aku bersikap dewasa, sungguh memalukan...” Xue Rong berbisik pelan dan berjalan disamping Jing Yang.
“Ah, tidak apa-apa. Aku juga pernah bertemu dengan perempuan seperti Senior Rong sebelumnya.” Perkataan Jing Yang membuat Xue Rong sedikit terkejut.
Jing Yang berjalan santai dan sesekali melihat Xue Rong yang sudah bersikap seperti biasanya.
“Senior Rong, apa kamu yang mengajari Yueyue untuk mengontrol kemampuan tubuhnya?” Jing Yang bertanya karena bagaimanapun kondisi tubuh dan nadi Xue Rong sangat langka.
Gadis berumur sembilan belas tahun ini memiliki kemampuan api dan es. Dua elemen yang saling bersinggungan.
Xue Rong menganggukkan kepalanya pelan, “Bisa dibilang seperti itu.” Dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Xue Bingyue sampai kedatangan Xue Qinghua ke Pegunungan Suxue.
Jing Yang tersenyum tipis, kemudian melepaskan aura pembunuh ketika telah sampai di sebuah ruangan yang luas.
Xue Bingyue dan Xue Que segera berdiri disamping Xue Rong. Pandangan keduanya jatuh pada sebuah kilatan cahaya berwarna ungu.
“Guru, bukankah itu...” Xue Que menelan ludah merasa jijik. Sementara Xue Bingyue tetap bersikap tenang.
“Tikus Listrik?” Xue Rong dan Xue Bingyue bersamaan melepaskan hawa dingin ketika melihat tikus berukuran seperti anjing dengan bulu berwarna ungu datang dari lubang-lubang lantai tiga.
Cit... Cit... Cit...
Jing Yang merasakan ada kilatan aura petir sekitar lima puluh kilatan, “Lima puluh ekor. Tidak buruk-! Apa?!”
Belum sempat Jing Yang menarik pedangnya, dua ekor Tikus Listrik menghantam perutnya, lalu disusul yang lainnya. Bahkan yang lebih aneh mereka hanya mengeroyok Jing Yang dan mengabaikan tiga gadis yang datang bersamanya.
“Junior Yang! Rubah Putih!” Xue Rong hendak membantu Jing Yang, tetapi dia diabaikan oleh Tikus Listrik.
__ADS_1
“Guru, mungkinkah...” Xue Bingyue menduga lima puluh ekor Tikus Listrik yang menghuni lantai ketiga adalah pejantan.
“Jadi maksudmu, tikus-tikus menjijikkan ini cemburu dengan Saudara Jing karena dia datang bersama tiga permata Istana Bulan Biru, hmm Rubah Putih?” Xue Que justru tertawa cekikikan ketika melihat Jing Yang mati-matian menerima serangan demi serangan dari Tikus Listrik.
“Rubah Putih! Bahkan hewan cemburu denganmu! Kalahkan mereka, bukankah disini ada dua gadis yang menaruh hati padamu?!” Xue Que tertawa terbahak-bahak.
“Aku tidak menyangka...” Ketiga kalinya, Xue Que kembali menginjak perangkap. Bahkan dia belum menyelesaikan perkataannya.
Xue Rong dan Xue Bingyue yang tersipu malu akhirnya tertawa pelan melihat Xue Que terjatuh dii bawah. Xue Rong segera menolong Xue Que sebelum melihat Jing Yang yang menghabisi kumpulan Tikus Listrik.
Jing Yang mendecakkan lidahnya kesal, ‘Cemburu? Jangan bercanda!’ Yue Wang dan Lingling yang lama tidak keluar tertawa pelan.
‘Kakak, Ibu sedang tidak dapat berbicara padamu karena kekuatan rohnya menipis. Jadi biarkan Lingling ini yang menjadi teman Kakak ya.’
‘Saudaraku Jing Yang, kau lebih tertarik dengan wanita dewasa bukan? Gadis kecil yang seperti kecoak ini akan menghambat perjalananmu...’
Jing Yang segera memejamkan matanya dan memusatkan perhatiannya pada gerombolan Tikus Listrik yang sedang menggelinding menyerangnya.
Dua pedang yang dia genggam memancarkan energi pedang yang besar. Jing Yang menghiraukan Lingling dan Yue Wang yang berdebat, dia hanya menatap sekitar tiga puluhan Tikus Listrik yang tersisa.
“Teknik Kombinasi Pedang Ganda : Iblis Cantik Malam!”
Jing Yang memotong tubuh dua puluh Tikus Listrik menjadi dua bagian. Kemudian sisanya dibekukan Xue Rong.
“Que‘er, Yueyue, kita ambil permata ini untuk membantu perkembangan yang lainnya.” Kini Xue Rong terlihat lebih dewasa dan anggun.
Sekilas Jing Yang melihat lantai di depan Xue Rong terdapat tanda perangkap berwarna merah. Jing Yang mendorong tubuh Xue Rong dan menindihnya.
“Rubah Putih! Kamu apakan Guruku?!” Xue Bingyue menatap Jing Yang tajam dan melepaskan hawa dingin.
Sementara Xue Que tersenyum, “Wah, ternyata Rubah Putih ini sangat agresif-!”
__ADS_1
Xue Que menginjak lantai yang hampir diinjak Xue Rong. Akhirnya Xue Bingyue mendesah lega karena mengira Jing Yang hendak melakukan sesuatu pada Xue Rong.