Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 93 : Menyelamatkan Lu Xiuyu


__ADS_3

Lu Xiuyu terbaring lemas dengan tubuh yang diikat tali. Sembari memejamkan mata, dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tetapi setelah dirinya tersadar, Lu Xiuyu mengingat jika ada seorang pendekar yang menculiknya dan menyuruh ayahnya untuk menebus nyawanya dengan perjanjian penyerahan kepemimpinan Kota Cunfei kepada Bangsawan Gu.


Malam yang tenang dan dia berada di dalam hutan, kehadiran lima pendekar yang datang menemui pendekar yang menangkapnya membuat Lu Xiuyu ketakutan.


‘Ayah tolong Xiuxiu!’ Lu Xiuyu menangis karena tidak dapat menahan ketakutannya.


“Kita tunggu surat penyerahan dari Lu Hen, maka masalah kita selesai. Tetapi sangat disayangkan gadis kecil ini kita kembalikan.” Pendekar agung yang menangkap Lu Xiuyu tersenyum menyeringai.


“Kita bunuh Lu Hen dan tangkap istrinya. Penjahat seperti kita mana mungkin puas hanya dengan bocah manja seperti ini. Setidaknya kita bawa ibu anak ini ke Lembah Sunyi.” Pendekar itu menginjak perut Lu Xiuyu. Walau tidak menggunakan tenaga dalam, tetapi Lu Xiuyu tetap merasakan sakit.


“Baiklah Senior, sekarang kita tinggal menunggu kedatangan Lu Hen.” Salah satu dari lima pendekar menjelaskan kepada pendekar agung tersebut jika terjadi keributan di Restoran Batu Dinding.


“Sepertinya mereka bukan bagian dari Keluarga Lu, jadi tenang saja. Lagipula kita harus memanfaatkan kesempatan orang-orang yang memiliki ambisi seperti Bangsawan Gu.” Pendekar agung tersebut tidak terlalu menanggapi penjelasan pendekar yang menceritakan kejadian di Restoran Batu Dinding.


Suasana di hutan sangat tenang, suara semak-semak yang bergoyang terdengar. Lu Xiuyu berharap jika itu bukan ayah dan ibunya karena keenam pendekar yang menangkapnya berniat menjebaknya.


Lu Xiuyu meronta-ronta, tak lama bayangan seorang pemuda muncul. Mata Lu Xiuyu menatap tajam bayangan pemuda yang tidak asing dimatanya. Air matanya mengalir dengan deras karena sangat mengenali pemuda itu.


“Siapa kau?! Apa kau pendekar yang menjaga Keluarga Lu?!” Pendekar agung yang menangkap Lu Xiuyu menghampiri pemuda tersebut sambil menarik pedangnya.


“Senior, itu dia...” Serempak lima pendekar menunjuk pemuda tersebut.


“Satu pendekar agung dan lima pendekar raja. Tidak buruk.” Pemuda itu tak lain adalah Jing Yang. Setelah mengikuti jejak kelima pendekar Menara Pilar Hitam, akhirnya dia menemukan keberadaan Lu Xiuyu.


“Bisa lepaskan dia? Dan ceritakan padaku mengapa aliran hitam seperti kalian membantu Bangsawan Gu?” Jing Yang berjalan mendekati pendekar agung tanpa rasa takut.


“Apa yang bocah ini katakan? Kenapa dia berlagak keren seperti seorang pahlawan?!” Pendekar agung tersebut mengayunkan pedangnya mengincar dada Jing Yang.


“Pada akhirnya berakhir dengan kekerasan...” Jing Yang mengolah pernapasan dan menghindari serangan tersebut sebelum menggunakan kekuatan Tanda Mata Naga.


“Kurang lebih aku mengetahui garis besarnya. Bangsawan Gu berniat melemahkan kekuatan empat bangsawan yang lain. Walau aku tidak bermarga Jiang, tetapi mendiang ibuku adalah seorang bermarga Jiang. Secara tidak sadar kalian berurusan denganku...” Jing Yang menarik kedua pedangnya dan langsung menyerang pendekar agung yang sempat menyerangnya.


“Apa-apaan...”


Pendekar agung yang mengayunkan pedangnya terkejut ketika melihat Jing Yang mencapai pendekar bumi. Belum sempat dirinya mengetahui situasi yang baru saja dia lihat dan alami, Jing Yang telah menebas perutnya dengan sangat dalam.


Jing Yang kembali bergerak menyerang empat pendekar yang mematung. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya menghabisi empat pendekar yang baru mencapai pendekar raja, tetapi satu pendekar berhasil bergerak dan mengancam Lu Xiuyu.

__ADS_1


“Jangan bergerak! Atau dia akan mati!” Ucap pendekar tersebut. Pedangnya melingkar di leher Lu Xiuyu.


Jing Yang melihat wajah Lu Xiuyu yang memucat, “Coba lukai dia, itupun jika kau dapat melukainya...” Jing Yang menggunakan kekuatan tekanan gravitasi dan memusatkan gravitasi pada satu titik yakni pendekar yang mengancam Lu Xiuyu.


“Apa kau tidak peduli...” Pendekar tersebut berteriak lalu terdiam karena tangannya tidak bergerak, bahkan tubuhnya terasa berat, “Apa yang terjadi?”


Jing Yang menghampiri pendekar yang menyandera Lu Xiuyu. Kemudian dia menyelamatkan Lu Xiuyu dari cengkeraman pendekar tersebut. Setelah kain yang menyumpal mulutnya dan tali yang mengikat tubuhnya terlepas, Lu Xiuyu langsung mendekap tubuh Jing Yang.


“Yang gege aku takut!” Tubuh Lu Xiuyu bergemetar hebat.


Jing Yang mengusap rambut Lu Xiuyu pelan, “Pejamkan matamu sebentar...” Dengan lembut Jing Yang berkata dan dibalas anggukan kepala oleh Lu Xiuyu.


Jing Yang langsung menghabisi pendekar yang mematung karena tekanan gravitasi. Sebelum menyuruh Lu Xiuyu membuka matanya, Jing Yang mengambil beberapa surat dan barang-barang yang ada di jubah keenam pendekar.


‘Kota Gufei? Nama ini tidak asing...’ Jing Yang langsung menaruh semua barang-barang milik enam pendekar ke Cincin Dewa.


Kemudian Jing Yang mengeluarkan pedang besar dan menepuk pundak Lu Xiuyu.


“Buka matamu...” Jing Yang langsung membawa Lu Xiuyu terbang menuju Kota Cunfei.


Lu Xiuyu memeluk erat Jing Yang karena masih trauma dengan apa yang baru saja dialaminya. Lu Xiuyu terlihat sulit mengucapkan kata-kata, bibirnya bergetar tetapi Jing Yang mengetahui jika gadis kecil yang dua tahun lebih muda darinya ingin mengatakan sesuatu kepadanya.


Jing Yang langsung menuju tempat tinggal Lu Xiuyu untuk menjelaskan situasi ini kepada Lu Hen.


“Jika tadi kau tidak datang menyelamatkanku, mungkin aku...” Lu Xiuyu tidak dapat berbicara banyak selain kembali menangis. Jing Yang membelai rambut Lu Xiuyu untuk menenangkannya.


“Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, mereka belum melakukan apapun padamu bukan?” Lu Xiuyu mengangguk mendengar pertanyaan Jing Yang.


Sesampainya di kediaman Walikota Kota Cunfei, Jing Yang mengantarkan Lu Xiuyu masuk ke dalam rumah yang mewah itu. Disana terlihat beberapa penjaga telah tewas, ketika Lu Xiuyu membuka pintu rumah. Terlihat Lu Hen dan Lu Xiulan menangis melihat anak semata wayangnya kembali dengan selamat.


“Xiuxiu!” Lu Hen mendekap tubuh Lu Xiuyu sampai melupakan keberadaan Jing Yang.


“Xiuxiu, syukurlah kau baik-baik saja...” Lu Xiulan ikut memeluk tubuh Lu Xiuyu.


“Ayah, bunda. Beruntung ada Yang gege yang menyelamatkanku!” Lu Xiuyu menangis cukup keras.


Jing Yang menarik napas dalam ketika melihat Lu Hen dan Lu Xiulan menatapnya. Dia bingung harus bersikap apa karena suasana di kediaman ini sangat mengharukan.

__ADS_1


“Yang‘er, maksudku Tuan Muda Jing Yang? Tuan Muda Jing Yang yang itu bukan?” Lu Hen memegang pundak Jing Yang dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan.


Jing Yang membuka mulutnya tetapi tidak ada satupun kata-kata yang keluar. Dia mengikuti Lu Hen dan mendengarkan penjelasan tentang Walikota Kota Cunfei yang termasuk dalam bagian Keluarga Lu.


“Kudeta dan tersebarnya kabar tentang beberapa bangsawan yang pernah terlibat dengan Pangeran Jiang Feng membuat Bangsawan Gu bertindak...”


Lu Hen menceritakan jika Kepala Keluarga Lu dan merupakan ayah dari Lu Hen ditangkap oleh pendekar aliran hitam yang bekerjasama dengan Bangsawan Gu. Beberapa minggu yang lalu, Bangsawan Gu sudah melakukan pergerakan untuk melemahkan empat keluarga bangsawan yang lain, tetapi yang menjadi sasaran utama mereka adalah Bangsawan Lu.


“Ibuku telah dibunuh, dan ayahku di tangkap. Jika aku melaporkan kejadian ini pada bangsawan yang lain, maka nyawa ayah dan saudara-saudaraku akan terancam...”


Lu Hen berusaha mencari jalan keluar, tetapi sulit untuk menemukannya karena intimidasi yang dilakukan Bangsawan Gu. Sumber kekayaan utama Keluarga Lu adalah tambang emas yang ada di Hutan Emas. Bangsawan Gu mengincar sumber kekayaan Keluarga Lu bersama beberapa sekte aliran hitam.


“Paman Hen, aku bisa membantumu. Tetapi dengan satu syarat. Saat ini aku membentuk sebuah organisasi baru yang bernama Rumah Lima Warna. Cepat atau lambat, Rumah Lima Warna akan berdiri di Kota Cunfei. Jadi aku ingin kau membantu mengumpulkan semua anak yatim piatu di kota ini dan jangan biarkan satupun dari mereka menjadi anak terlantar...”


Jing Yang mengatakan keinginannya yang ingin membuat sebuah tempat untuk pulang. Dia sadar betapa menyakitkannya menjadi seorang yatim piatu, sehingga dia sebisa mungkin ingin menolong semua anak-anak yang bernasib sama sepertinya.


“Memeriksa dari satu kota ke kota yang lain untuk mengumpulkan anak yatim piatu dan merawat mereka. Aku akan menjadi Kaisar Jiang suatu hari nanti, dan itu syarat yang kuberikan pada kakekku agar membantuku melakukan hal ini.” Jing Yang tersenyum menceritakan keinginannya, “Kalau ada orang yang kesulitan, aku ingin menolong lalu menyelamatkan mereka. Jadi kuharap, Paman Hen dapat membantuku...”


Lu Hen kagum mendengar keinginan Jing Yang. Walau masih muda dan keinginannya terdengar polos, tetapi hal yang dilakukannya sangat mulia. Seumur hidupnya ini baru pertama kali Lu Hen mendengar impian dan keinginan yang begitu mulia hingga membuatnya malu karena merasa kalah dengan tekad Jing Yang.


“Tuan Muda Jing Yang, aku akan membantumu...” Lu Hen tersentuh hingga dia menjawab secara singkat.


‘Aku ingin menjadi salah satu saksi perjalananmu Tuan Muda Jing Yang...’ Lu Hen berkata dalam hatinya. Lalu dia menyuruh agar Jing Yang bermalam di kamar yang telah disediakan.


Malam itu Lu Hen menceritakan semua yang dia ketahui tentang masalah keluarganya dan Hutan Emas. Bahkan dia menceritakan kepada Jing Yang jika kediaman Bangsawan Gu berada di Kota Gufei merupakan kota yang dekat dengan Kota Shendu.


Ada desas-desus jika Kota Gufei sudah mengalami banyak perubahan semenjak Kepala Keluarga Gu berganti.


“Aku akan mengajak beberapa kenalanku untuk menguburkan penjaga yang telah gugur. Tidurlah di kamar ini, Tuan Muda Jing Yang.” Ucap Lu Hen mengakhiri pembicaraan.


Jing Yang menutup pintu kamar setelah Lu Hen menceritakan banyak hal yang ingin dia ketahui, lalu dia bermeditasi untuk menemui dua Roh Pedang. Hingga tengah malam, Jing Yang mencoba berkomunikasi dengan Lingling dan Yue Wang. Hingga akhirnya dia membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk, setelah matanya terpejam tak lama pintu kamar terbuka, Lu Xiuyu masuk ke dalam kamar Jing Yang dan membaringkan tubuhnya tepat disamping Jing Yang.


“Yang gege, aku takut...” Lu Xiuyu memeluk tubuh Jing Yang. Gadis kecil itu tidak bisa tidur karena masih teringat jelas bagaimana penjaga kediaman mati dan dirinya dijadikan sandera.


Lu Xiuyu tidak mengerti mengapa melihat Jing Yang, dirinya merasa tenang. Pada akhirnya dia mengamati kedua bola mata Jing Yang yang terpejam.


Setelah beberapa saat dia memeluk Jing Yang, akhirnya Lu Xiuyu tertidur pulas disamping Jing Yang.

__ADS_1


‘Wajar saja dia ketakutan. Pada akhirnya aku tidur disini...’ Jing Yang berkata dalam hatinya dan membuka matanya. Kemudian dia menatap Lu Xiuyu cukup lama sebelum meneteskan air matanya dan tertidur.


__ADS_2