
“Senior Rong.” Jing Yang melirik Xue Rong yang berlari disampingnya.
“Ada apa?” Xue Rong menjawab sambil memperhatikan senyuman tipis Jing Yang.
“Apa aku membuatmu takut?” Jing Yang memejamkan matanya dan tertawa lirih, Xue Rong menggeleng pelan.
“Tidak, hanya saja dirimu terlihat berbeda setelah kejadian di Desa Api.” Xue Rong kembali menjawab sejujurnya.
Jing Yang mengerti mengapa Xue Rong merasa khawatir padanya. Alasan mengapa dirinya mencurigai Bing Mu dan terlihat tidak dapat menahan nafsu membunuh karena Yue Wang dan Lingling yang terus membisikkan sesuatu padanya.
“Kau tahu Senior Rong, kedua pedangku ini mengatakan ini padaku...” Jing Yang berkata lirih sambil terus mengejar Xue Qinghua dari belakang, “Penggal kepala orang itu, hancurkan tubuhnya, iblis harus dibunuh. Aku tidak berpikir dua kali dan langsung membunuh orang bernama Xu Wangbin tanpa ragu.”
Mendengar penjelasan Jing Yang akhirnya Xue Rong memahami dan menganggap tindakan Jing Yang seperti ini karena dua Roh Pedang yang mendiami pedangnya memberikan arahan padanya.
“Syukurlah, aku pikir kau despresi sehingga kau melakukan tindakan seperti itu.” Xue Rong tersenyum lega sementara Jing Yang tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya.
‘Despresi? Aku merasakan itu setiap hari, tetapi aku tidak tahu bagaimana mengekspresikannya. Aku hanya berharap ada seseorang yang mampu menolongku dan menemukanku.’ Jing Yang menghela nafas ringan dan tersenyum pahit.
Xue Rong yang melihat ekspresi itu bertanya-tanya, tidak biasanya Jing Yang menunjukkan ekspresi seperti barusan. Ingin bertanya, tetapi Xue Rong mengurungkan niatnya karena setelah mereka mencapai lantai dua puluh terdapat sekitar seratus Binatang Iblis yang menghadang.
Tinju Api, Pedang Amarah dan Rantai Dosa berhasil menghabisi seratus Binatang Iblis dengan bantuan Selendang Nafsu dan Salju Dendam.
“Sejauh ini rencana kita berjalan lancar bahkan tidak perlu meninggalkan satu orang untuk menahan Penjaga Lantai Menara Dewa disini. Semoga saja Golok Serakah baik-baik saja." Tinju Api penuh cemas mengkhawatirkanku kondisi Golok Serakah.
“Senior, ada yang ingin kubicarakan padamu mengenai manusia iblis ini.” Jing Yang berdiri disamping Tinju Api dan menjelaskan kelemahan Iblis bukan pada jantungnya melainkan kepala.
“Mengapa manusia iblis dilantai bawah terus berdatangan karena kalian membunuhnya dengan cara memotong tubuh mereka atau menusuk jantungnya. Kelemahan Iblis bukanlah jantung melainkan kepala. Kalian harus memenggal kepala mereka.” Jing Yang menambahkan.
Tinju Api tersenyum, “Apa kau sudah membunuh Fen Henjia?” Melihat seorang bocah berumur tiga belas tahun memiliki pengetahuan luas bahkan dia tidak pernah melihat orang sejenius Jing Yang yang telah mencapai Pendekar Bumi diusia begitu muda.
“Aku sudah membunuhnya.” Jing Yang menjawab sambil berjalan pelan sebelum mempercepat langkah kakinya menuju lantai dua puluh satu.
Tinju Api segera berlari disamping Jing Yang. Pria itu tertarik pada Jing Yang karena kemampuan Jing Yang sangat berguna untuk melawan Menara Dewa.
“Namamu Jing Yang bukan?” Tinju Api menatap tangga yang berada dilantai dua puluh satu sambil memperhatikan sekitarnya.
“Ya, namaku Jing Yang. Ada apa, Senior?” Jing Yang melirik Tinju Api yang menanyakan namanya.
“Pertempuran ini mungkin jadi akhir dari Pelangi Dosa. Jika aku tiada, tolong lindungi Benua Dataran Tengah dari orang-orang seperti mereka. Jangan sampai benua ini sama seperti Benua Bintang Timur.” Tinju Api tersenyum kearah Jing Yang, kejeniusan dan kemampuan langka Jing Yang menurutnya mampu mengubah masa depan dunia ini kearah yang lebih baik.
“Senior, aku tidak berjanji. Tetapi aku memang sudah memiliki niat untuk mendatangi Benua Bintang Timur, tempat semuanya berawal.” Jing Yang menjawab dengan senyuman tipis.
__ADS_1
“Kekacauan di Benua Dataran Tengah disebabkan oleh orang-orang dari luar benua ini. Memanfaatkan, mengadu domba dan membunuh seseorang tanpa mengotori tangan. Itulah kemampuan utama untuk membuat Era Kekacauan di Benua Dataran Tengah.” Tinju Api ingin menjelaskan lebih lebar tetapi dia mengurungkan niatnya karena sadar Jing Yang tidak lebih dari seorang bocah yang memikul beban besar dipunggungnya.
“Tetaplah seperti ini dan jangan berpaling. Aku tidak ingin kau berakhir sepertiku, memilih menjauh demi melindungi hal yang sudah tiada. Aku gagal melindungi siapapun, hidupku tidak lebih dari sekedar rasa sakit pelarian. Melihatmu, seolah-olah aku melihat diriku sebelum menjadi seperti ini.” Tinju Api menghela nafas panjang membuat Jing Yang ikut menghela nafas panjang.
“Ucapan Senior barusan mengingatkanku pada seseorang. Sejuah ini, aku mempunyai seorang Guru. Dia orang yang ceria dan jalan pikirannya sulit ditebak. Orang dewasa yang memiliki perilaku seperti remaja. Dia lebih memilih menjauh dan menghilang dariku setelah mengetahui kondisi tubuhku." Jing Yang tersenyum kecut, ada penyesalan disana.
“Dan satu lagi, aku kehilangan seorang Guru yang baru saja mengangkatku sebagai murid. Aku tertarik padanya, begitu juga dengan dirinya. Aku tidak menyangka dia akan pergi meninggalkanku begitu cepat. Terimakasih Senior telah mengkhawatirkanku, aku tidak akan berakhir menyedihkan. Aku tetaplah aku. Jadi Senior tidak perlu mengkhawatirkanku.” Jawaban Jing Yang barusan justru membuat Tinju Api tersenyum kecut dari balik topengnya.
Tinju Api membatin, ‘Baik-baik saja? Kau mencoba terlihat tegar, kau benar-benar menyedihkan karena memendam semuanya sendirian.’
Jing Yang sendiri memudarkan tatapan hangatnya setelah berbicara dengan Tinju Api. Setelah mencapai lantai dua puluh dua, Jing Yang menajamkan matanya karena melihat bayangan klon air yang berjumlah ratusan.
“Ini...” Jing Yang menyadari klon air yang memilki wujud manusia itu tidak memiliki inti. Inti dari jiwa klon air itu adalah penggunaannya, selama dirinya tidak dapat menemukan penggunaannya maka klon air itu akan terus ada walaupun dia bunuh dan hancurkan berkali-kali.
“Senior!” Jing Yang segera memberi isyarat pada Tinju Api, pria itu mengerti maksud Jing Yang setelah melihat langsung klon air berwujud manusia itu.
“Aku akan menahan mereka disini, pergilah!” Tinju Api menciptakan sebuah api berbentuk dinding api yang langsung menghalangi pergerakan klon air.
Jing Yang langsung bergegas menuju lantai selanjutnya disusul oleh Xue Rong dan Selendang Nafsu. Bing Mu sempat dan Bing Hen hendak membantu Tinju Api, Salju Dendam dan Pedang Amarah tetapi melihat Xue Rong pergi mengikuti Jing Yang membuat Bing Mu melanjutkan langkahnya.
Bing Hen mengerutkan keningnya melihat tindakan Bing Mu yang tidak seperti biasanya menurut dirinya, ‘Aneh, aku tahu Senior Xue memiliki kecantikan yang membuat mata tidak bisa berpaling, tetapi apakah Senior Mu benar-benar jatuh cinta padanya?’
Bing Hen mengikuti Bing Mu dari belakang. Mengingat perkataan Jing Yang membuat Bing Hen ingin memastikan sendiri tentang kebenarannya. Dia tidak ingin mencurigai Bing Mu.
Saat Bing Hen larut dalam gejolak batinnya, dia melihat Jing Yang dan Selendang Nafsu membuka jalan, terlihat juga Xue Rong yang membekukan klon air dengan kemampuan esnya.
Namun tidak dengan Bing Mu yang hanya menjaga jarak. Bing Hen mengerti Bing Mu terluka karena dirinya dan itu membuatnya merasa bersalah.
Tak terasa akhirnya mereka sampai di lantai tiga puluh. Lantai tiga puluh terdapat sebuah gerbang besar yang tertutup dan dijaga oleh seorang Pendekar Langit bernama Han Yanxi.
“Pendekar Langit? Semua anggota Menara Dewa benar-benar monster mengerikan.” Selendang Nafsu tertawa cekikikan dari balik topengnya membuat Jing Yang dan Xue Rong menatapnya keheranan.
‘Apa dia gila?’ Batin Xue Rong yang melihat Selendang Nafsu sudah bergerak kedepan dan melepaskan selendangnya.
Jing Yang melepaskan Aura Raja Naga dalam jumlah besar, ‘Aura Zirah Naga - Zirah Naga Petir!’ Dengan kecepatan tinggi Jing Yang membantu pergerakan Selendang Nafsu untuk melilit tubuh penjaga lantai tiga puluh ini.
“Menyebalkan!” Pria itu mengeluarkan rantai berwarna ungu dan memutarkan rantai itu membuat Selendang Nafsu terpental karena ledakan aura yang terpancar dari rantai tersebut.
Sementara Jing Yang berhenti bergerak setelah menebak pergerakan penjaga lantai tiga puluh.
Melihat tindakan Jing Yang tentu membuat penjaga lantai tersenyum lebar, “Kau menyadarinya? Sepertinya kau lebih hebat dari yang aku dengar. Kami sudah memancingmu untuk datang ke Negeri Kabut Tersembunyi. Kekuatanmu itu akan kembali ke pemiliknya. Takdirmu hanyalah mati sebagai tumbal, bocah bermarga Jing.”
__ADS_1
Pria itu menghilang setelah berkata demikian, kemudian berada dihadapan Xue Rong dan melepaskan lilitan rantai yang dilapisi petir.
Saat Xue Rong hendak diserang, Bing Mu menyambut serangan penjaga lantai tiga puluh dengan membekukan lantai dan membentuk dinding.
“Saudari Xue, sebaiknya kita berdua menuju lantai selanjutnya.” Bing Mu melirik kearah Xue Rong dengan tatapan penuh makna.
Xue Rong ragu, “Tetapi-” Belum sempat Xue Rong menjawab, Bing Mu menarik tangannya.
Xue Rong tersentak kaget, entah mengapa dia mengikuti tindakan Bing Mu. Melihat Xue Rong dibawa pergi, Jing Yang mengerutkan keningnya.
Pintu gerbang terbuka saat Bing Mu hendak melewatinya. Kedua bola mata Jing Yang berubah suram dan tak lama Jing Yang mendecakkan lidahnya.
“Saudara Hen, ikuti mereka berdua!” Jing Yang menatap Bing Hen yang mematung.
“Hah?” Bing Hen melihat ekspresi dingin Jing Yang yang terlihat tidak suka melihat Xue Rong dibawa pergi oleh Bing Mu.
“Aku mengerti.” Bing Hen segera melangkahkan kakinya bergerak mengikuti Bing Mu.
‘Apa sebenarnya hubungan antara Saudara Jing dan Senior Xue? Aku sempat mengira keduanya adalah kakak adik mengingat Senior Xue yang cantik dan Saudara Jing yang tampan.’ Wajah Bing Hen berpikir demikian. Sikap Jing Yang yang terkadang polos dan mengingat umurnya membuat Bing Hen berpikir demikian.
Selendang Nafsu melirik Jing Yang dan tertawa pelan, “Dibalik kepolosanmu kau ternyata bocah mesum yang menyukai wanita dewasa. Sudah kuduga, bagaimanapun kau keturunan seorang kaisar. Aku tidak keberatan jika kau mengambilku sebagai selir saat kau sudah dewasa nanti."
Ledekan Selendang Nafsu membuat Jing Yang berhenti bergerak, “Apa yang kau katakan?” Jing Yang sendiri tidak terlalu mengambil pusing perkataan Selendang Nafsu.
Selendang Nafsu bergerak cepat mendekati Jing Yang dan berkata lirih, “Ngomong-ngomong aku masih perawan.”
“Hah?” Jing Yang mengerutkan keningnya, “Perawan?”
Saat Selendang Nafsu sengaja menggoda Jing Yang, penjaga lantai tiga puluh bergerak kearah mereka berdua dengan rantai yang dilapisi petir itu.
Jing Yang menarik Pedang Gravitasi dan melepaskan aura tubuhnya. Jing Yang menekan pergerakan penjaga lantai tiga puluh dengan tekanan gravitasi.
“Tubuhku berat?” Pria itu mengerutkan keningnya sebelum melompat kebelakang saat melihat Selendang Nafsu memainkan selendangnya.
“Han Yanxi, kau terlalu lama menahan mereka. Tubuh Yang sedang bergerak menuju lantai empat puluh, aku membiarkan mereka lewat. Sebaiknya kita segera bergegas keatas dan memulai ritualnya.” Pria berparas tampan datang dan memanggil pria yang merupakan penjaga lantai tiga puluh.
“Target utama kita adalah Tubuh Raja Neraka, Xiang Rao!” Penjaga lantai tiga puluh menatap sengit penjaga lantai empat puluh yang bernama Xiang Rao.
“Aku mengerti, aku mengerti. Bocah itu bukan? Baiklah, aku akan membantumu.” Pria berparas tampan yang bernama Xiang Rao berdiri disamping Han Yanxi.
Jing Yang menghela nafas, “Targetku adalah penjaga lantai satu, sisanya kuserahkan padamu.” Setelah berkata demikian Jing Yang melesat kedepan sambil menebaskan pedangnya.
__ADS_1
Han Yanxi melempar rantai kesayangannya dan melilit pedang milik Jing Yang. Keduanya memulai pertukaran serangan mereka setelah jarak keduanya mendekat.