
“Yang‘er, Rongma merupakan tempat yang dilupakan pemerintahan. Niat baikmu tidak akan mereka dengar, mengingat kau adalah Kaisar Jiang.”
Fan Ziwei terbang sambil mengingatkan kepada Jing Yang tentang sejarah Rongma. Jing Yang mengerti dan tentu saja dia akan memahami situasi lebih lanjut sebelum bertindak.
“Jadi itu Rongma? Kakak Ziwei, menurutmu sebaiknya kita berpencar atau tetap bersama seperti ini?” Jing Yang menajamkan indera penglihatannya sambil melihat bayangan Rongma.
Benteng yang mengelilingi Rongma merupakan benteng yang dibentuk oleh orang-orang Rongma atas perintah orang Kekaisaran Ma. Rongma sekarang seperti benteng pertahanan kekaisaran, selain bentuknya yang besar benteng itu juga panjang mengelilingi luar Rongma.
“Menurutku sebaiknya kita tetap bersama sampai memasuki Rongma. Kita amati situasi terlebih dahulu sebelum bertindak.” Fan Ziwei menjawab pertanyaan Jing Yang.
“Jalan masuk yang kita lewati tadi pagi sudah dijaga para prajurit, Kakak Ziwei.” Xue Bingyue terkejut saat melihat benteng yang paling lemah pengawasannya telah dijaga ratusan orang.
Jing Yang menajamkan matanya dan melihat satu orang yang memiliki kemampuan Pendekar Langit. Jing Yang menjelaskan kepada Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei jika dirinya akan memancing perhatian para prajurit dengan membuat keributan.
“Kalian gunakan kesempatan untuk masuk kedalam Rongma. Dengan kemampuanku yang sekarang aku bisa mengelabui orang itu.” Jing Yang sudah bergerak dengan kecepatan tinggi sebelum mereka berempat menjawab.
Xue Bingyue menghela nafas panjang melihat Jing Yang sudah memperlebar jarak, “Yangyang, kau selalu saja bertindak seenaknya.”
“Bukankah pergerakannya begitu cepat?" Mei Hua justru kagum dengan pergerakan Jing Yang saat diudara yang menurutnya tidak masuk akal.
“Mmm...” Qiao Xi setuju dengan Mei Hua.
Fan Ziwei tertawa lirih dan berkata, “Sebaiknya kita ikuti arahan Yang‘er.”
Sementara itu Jing Yang sudah mempersingkat jaraknya dengan benteng Kota Rongma. Dengan memakai topeng rubah putih, Jing Yang mengeluarkan sebuah pukulan api dari kejauhan tanpa ragu dan peringatan.
“Tuan Kong! Tuan Kong! Benar seperti yang dikatakan Nyonya Chu! Ada penyusup di Rongma!” Salah satu penjaga berteriak kepada seorang pendekar dengan jubah hitan dan luka di mata kanannya.
“Berisik! Jadi dimana tikus sialan itu?” Pria yang memiliki kemampuan Pendekar Langit mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya sambil menatap malas prajurit yang berteriak padanya.
“Itu, Tuan Kong!” Prajurit tersebut menunjuk sebuah kepalan tangan api berbentuk besar kearah benteng.
“Hah?” Mata pria yang berkemampuan Pendekar Langit menyipit sebelum melebar sepenuhnya.
“Siapa orang bodoh yang berani menyerang secara terang-terangan?!” Pria bernama Kong Gonsu dan merupakan salah satu dari tiga Tetua Lentera Iblis Tunggal yang dikirim ke Rongma ini terkejut bukan kepalang.
Berniat menahan pukulan api itu, Kong Gonsu justru baru menyadari jika dirinya memiliki kemampuan unsur angin. Bukannya memadamkan pukulan api justru membuatnya semakin besar.
__ADS_1
“Sialan, aku melupakan ini!” Kong Gonsu menghindar dengan kecepatan tinggi, namun tidak dengan bawahannya yang terkena pukulan api itu secara telak.
Asap dan debu memenuhi benteng pertahanan tersebut. Jing Yang menggunakan kesempatan itu untuk menciptakan Bayangan Api Phoenix dan pergi memasuki Rongma.
Kesempatan itu juga digunakan Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei memasuki Rongma. Kekacauan yang dibuat Jing Yang membuat penduduk Rongma ketakutan karena kerusakan dibenteng pertahanan Rongma cukup parah akibat ulah Jing Yang.
‘Jadi inikah Rongma? Penuh ketakutan.” Itulah yang dipikirkan Jing Yang saat melihat raut wajah penduduk Rongma.
Sementara itu Bayangan Api Phoenix yang diciptakan Jing Yang bertarung hebat melawan Kong Gonsu.
“Aku merasakan hawa keberadaan yang sama denganmu. Katakan padaku apa tujuanmu datang ke Rongma, topeng sialan?!” Kong Gonsu melepaskan sebuah pukulan angin yang tajam.
Bayangan Jing Yang menghindar dan tidak menjawab pertanyaan Kong Gonsu. Hanya diam, menghindar dan sesekali melakukan serangan balasan.
Kong Gonsu tidak menyadari jika yang dia lawan hanyalah bayangan. Keduanya melakukan pertukaran serangan dan tentu saja Kong Gonsu lebih mendominasi serangan dibandingkan bayangan Jing Yang.
“Apa kau bisu? Setidaknya jawab pertanyaanku sialan!” Kedua tangan Kong Gonsu menepuk sebelum menciptakan pusaran angin yang besar dan membuat tubuh Jing Yang terhempas keatas.
“Rasakan itu- Apa?!” Kong Gonsu mengira dirinya telah membunuh Jing Yang, namun saat tubuh Jing Yang menyatu dengan pusaran angin justru tubuhnya terbakar sebelum lenyap tak berbekas.
Mata Kong Gonsu melebar sebelum berteriak, “Sialan! Topeng sialan itu!” Kong Gonsu mendecakkan lidahnya karena tidak menyangka dirinya akan kecolongan.
Kurang lebih situasi di Rongma saat ini sudah dalam kondisi siap bertempur. Terlihat jelas pasukan militer Kekaisaran Ma yang berkumpul disini dikerahkan untuk menyerang Kekaisaran Jiang. Dengan tiga Tetua Lentera Iblis Tunggal, sekarang Rongma menjadi benteng prajurit militer Kekaisaran Ma.
“Kondisi disini sangat jauh dengan yang dikatakan Bibi Qiaomi...” Jing Yang menatap sendu penduduk yang terlihat kelaparan dan tersiksa.
Jing Yang sudah berpencar dengan Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei, sekarang Jing Yang berada ditengah-tengah sesaknya penduduk kota yang berkumpul didepan sebuah bangunan megah.
Didepan bangunan itu terdapat podium. Jing Yang memperhatikan sekelilingnya dan menajamkan indera pendengarannya. Dia mendengar obrolan para penduduk asli Rongma yang mengatakan bahwa pasukan militer Kekaisaran Ma yang berkumpul di Kota Jiyangma akan segera menuju Rongma.
Kota Jiyangma baru-baru ditaklukkan Lentera Iblis Tunggal setelah membunuh pemimpin kota dan beberapa Shinobi yang disewa oleh pemimpin Kota Jiyangma.
“Jangan bilang...” Jing Yang mengira Toramasa dan anggotanya yang dibunuh Lentera Iblis Tunggal.
Suasana mendadak hening saat perempuan dengan wajah yang terlihat cantik serta tubuh yang begitu menggoda membuat para pria yang kelaparan penduduk asli Rongma menelan ludah. Mereka menelan ludah bukan karena menahan lapar melainkan menahan godaan.
‘Sosoknya membuatku teringat akan Bibi Xianlin...’ Jing Yang membatin dan menatap wanita yang berdiri diatas podium.
__ADS_1
“Sepertinya ada tikus-tikus kecil yang berani menginjakkan kaki di Rongma. Aku menebak lima orang ini sudah memasuki Rongma.” Wanita itu dengan pandangan matanya menyapu seluruh orang dibawahnya dan berhenti tepat matanya bertemu dengan mata Jing Yang.
Mata Jing Yang melebar, ‘Apa dia menyadarinya?!’ Jing Yang mendecakkan lidahnya saat bibir merah wanita itu tersenyum.
“Tikus yang tampan sepertinya kau orang penting.” Wanita itu segera memejamkan matanya setelah mengatakan itu.
Jing Yang menelan ludah karena orang-orang disekitarnya sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
“Aku disini untuk menyampaikan jika pemimpin Rongma, Nyonya Minha selama sepuluh tahun telah menjual dirinya demi nyawa kalian semua. Tetapi sekarang aku disini akan menegaskan jika Patriark Ho Xing sudah bosan dengan Nyonya Minha dan kalian semua sudah tidak bisa memberikan gadis sesuai permintaan sehingga beliau menginginkan putri angkat Nyonya Minha yakni Nona Quin.”
Mendengar ucapan wanita itu, seluruh penduduk berwajah pucat. Jing Yang mengetahui dari obrolan penduduk jika pemimpin Rongma adalah perempuan. Selama sepuluh tahun, perempuan ini menjual dirinya pada pendekar Lentera Iblis Tunggal karena perjanjian dengan Patriark Lentera Iblis Tunggal bernama Ho Xing.
Selama perempuan itu memberikan tubuhnya, maka pendekar Lentera Iblis Tunggal tidak akan membunuh penduduk ataupun menyentuh anak angkat perempuannya.
Penduduk asli Rongma sangat menyayangi sosok pemimpin perempuan ini. Jing Yang bisa melihat kemarahan mereka semua, namun saat wanita yang berdiri diatas podium menjentikkan jarinya seketika semuanya terdiam.
“Kalian tidak perlu khawatir. Aku juga seorang perempuan. Kekaisaran Ma sudah menguasai Rongma selama sepuluh tahun dan sekarang aku berusaha membuat negosiasi dengan Patriark Ho Xing. Dia sempat menginginkan diriku, tetapi dia lebih lemah dariku. Aku, Chu Yui atau lebih dikenal dengan Tetua Kabut Rindu akan membantu kalian jika salah satu dari kalian mampu mengalahkan teman mesumku ini.” Wanita itu menjentikkan jarinya bersamaan dengan sosok pria yang berdiri disampingnya.
“Hahaha, Tetua Yui. Kau memang perawan tua yang menggoda. Aku tidak mengerti apa tujuanmu bergabung dengan Lentera Iblis Tunggal. Tetapi jika bukan karena Patriark Ho Xing tertarik padamu, aku sudah memakanmu terlebih dahulu.” Pria itu tertawa lebar sambil menatap wanita bernama Chu Yui.
“Jika kau mampu mengalahkan orang yang kutunjuk ini, mungkin aku akan mempertimbangkannya. Aku bergabung dengan Lentera Iblis Tunggal karena ingin mendekati Kaisar Ma. Hanya itu tujuanku.” Chu Yui mengatakan tujuannya yang sebenarnya, “Aku ingin melepaskan mahkotaku pada pria kuat yang mampu membuat hatiku berdebar.”
Semua orang menelan ludah dan berkeringat dingin saat merasakan aura pembunuh yang di lepaskan Chu Yui.
“Tetua Yui, maksud anda sosok misterius bernama Tang Mu? Dia tidak akan melirikmu.” Pria itu menatap tajam Chu Yui dan menggelengkan kepalanya.
“Kau benar, karena dia tidak tertarik pada perempuan.” Chu Yui kembali menghela napas ringan.
“Baiklah, aku akan menunjukkan bocah tampan yang ada disana untuk melawanmu. Jika bocah itu menang, maka aku akan tidak membawa Nona Quin. Tetapi jika kau menang, aku akan memanjakanmu malam ini dan membawa Nona Quin.” Chu Yui tersenyum genit membuat pria itu bersemangat.
“Baiklah, majulah kau bocah sialan!” Pria itu menunjuk Jing Yang yang mematung dan dijauhi orang-orang asli Rongma yang berada disekitarnya.
‘Aku terjebak masalah yang merepotkan...’ Jing Yang memperhatikan orang-orang disekitarnya yang menaruh harapan padanya.
“Jangan sampai kalah...”
“Kami semua sangat menyayangi pemimpin Minha dan Nona Muda Quin.”
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak bisa mundur...” Jing Yang akhirnya membunyikan lehernya dan tersenyum.
‘Aku akan mengalahkan orang ini dengan satu kali tendangan.’