Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 220 - Menyelamatkan Shen Mi


__ADS_3

Jing Yang dan Xue Bingyue berpencar. Untuk memancing seluruh pendekar Bulan Purnama Merah, Jing Yang terbang dengan kecepatan tinggi dan berhenti didepan jenazah Jiang En. Ekspresi Jing Yang kosong walaupun saat ini dirinya dipenuhi kemarahan dan perasaan bersalah.


Semua mata tertuju pada Jing Yang. Raut wajah Jiang En terkejut melihat keberadaan Jing Yang. Dia sudah menebak jika pemuda yang melayang diudara dan menatap jenazah Jiang En adalah Jing Yang.


“Anak haram! Beraninya kau muncul dihadapanku! Sepertinya kau ingin mati dengan cepat?!” Jiang Feng menyeringai dan berseru lantang kepada seluruh pendekar Bulan Purnama Merah.


“Bunuh bocah itu dan pastikan dia mati dengan cara paling mengenaskan!” Bersamaan dengan Jiang Feng yang berseru lantang, sebuah aura mematikan memenuhi langit Ibukota Huaran.


Jing Yang sudah naik pitam dan ingin mencabik-cabik tubuh Jiang Feng. Namun ekspresinya kosong karena dia tidak menyangka akan ada seorang anak yang membunuh ayahnya.


“Senior Ruo, Saudara Fengrui! Kenapa kalian hanya diam?! Cepat bunuh dia!” Jiang Feng kebingungan melihat wajah Gu Ruo dan Gu Fengrui dipenuhi keringat dingin.


“Bedebah, jika hidupmu selalu merenggut kebahagiaanku dan orang-orang yang terdekatku! Maka aku akan memastikan kematianmu!” Jing Yang menatap dingin Jiang Feng yang berada dibawah.


Sebelum turun dihadapan Jiang Feng, Jing Yang menurunkan jenazah Jiang En. Semua penduduk terdiam dan memperhatikan Jing Yang dalam keheningan.


“Aku selalu berpikir jika memaafkanmu adalah cara yang tepat! Mungkin karena didikan mendiang orang tuaku, aku tidak ingin menyakiti siapapun! Namun selama ini aku salah sangka, dunia ini tidak sebaik yang aku kira!” Jing Yang berjalan dengan tenang mendekati Jiang Feng.


Jiang Feng ketakutan saat merasakan aura mematikan yang membuat tubuhnya mendadak lemas dan tidak dapat bergerak.


“Jangan...” Gemetaran Jiang Feng saat Jing Yang mendekati dirinya.


Jing Yang melewati Jiang Feng dan hanya mengarahkan Aura Raja Neraka pada Jiang Feng sekarang. Saat dirinya berjalan tenang, Gu Fengrui mendekat dan melepaskan sebuah pukulan yang dipenuhi aura berwarna merah.


Jing Yang menangkis pukulan Gu Fengrui dengan santai. Semua pendekar Bulan Purnama Merah tersentak kaget saat melihat pukulan Gu Fengrui ditangkis oleh Jing Yang dengan mudah.


“Pertarungan ini berakhir...” Jing Yang menatap dingin Gu Fengrui yang menjaga jarak darinya tepat setelah pukulannya berhasil ditangkis, “Seperti yang aku perkirakan, seluruh anggota Bulan Purnama Merah berada di Ibukota Huaran. Lima ratus pendekar berada di alun-alun dan seribu pendekar berada di istana. Aku akan memastikan kalian semua berakhir disini.”


Suara Jing Yang terdengar begitu lembut walaupun saat ini dirinya dipenuhi kemarahan. Ucapan Jing Yang itu membuat Gu Fengrui tertawa dan mengerutkan keningnya.


“Kami, Bulan Purnama Merah berakhir? Apa kau meremehkanku bocah?! Justru dirimu yang akan berakhir!” Gu Fengrui melepaskan seluruh kekuatannya. Aura pembunuh pekat yang menyebar dengan cepat sama sekali tidak membuat Jing Yang merasa terintimidasi.


“Aku akan menghajar wajahmu sampai hancur-”


Sebuah tendangan mengenai kepala Gu Fengrui. Jing Yang memutar tubuhnya dan melakukan sapuan atas. Semua orang kembali dikejutkan dengan kepala Gu Fengrui yang berlumuran darah.

__ADS_1


“Lihat, kau sudah berakhir.” Jing Yang menginjak kepala Gu Fengrui hingga hancur dan menatap kematian Gu Fengrui dengan tatapan kosong.


Kematian Gu Fengrui tentu membuat Gu Ruo marah. Sedangkan Jiang Feng langsung terduduk dan ketakutan. Jiang Feng tidak mengira bahwa Jing Yang akan membunuh Gu Fengrui dalam satu kali tendangan.


“Apa-apaan kemampuannya itu! Apa benar dia bocah berumur tiga belas tahun?!” Jiang Feng dengan sekuat tenaga mencoba melarikan diri. Tetapi dia menyadari Jing Yang tidak akan melepaskan dirinya.


“Kau!” Gu Ruo melepaskan aura pembunuh dan menotok dadanya. Seketika aura hitam pekat keluar dari tubuhnya. Wujud Gu Ruo berubah menjadi seperti para pendekar dari Menara Dewa.


Gu Ruo bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Jing Yang. Dengan meningkatnya kemampuan Gu Ruo secara drastis ke Pendekar Roh, tentu ini merupakan sesuatu yang tidak terduga. Jing Yang menyambut sebuah tebasan pedang Gu Ruo dengan menciptakan sepuluh pedang tak kasat mata, namun kesepuluh pedang tak kasat mata yang dia ciptakan lewat aura tubuhnya dihancurkan Gu Ruo dengan mudah.


Sebuah tebasan susulan yang dahsyat kembali dilepaskan Gu Ruo. Kali ini Jing Yang tidak mencoba menghentikannya menggunakan pedang aura, melainkan menggunakan Pedang Dewa Naga dan Pedang Gravitasi.


Dengan memainkan kedua pedangnya. Jing Yang berhasil membalikkan situasi. Yang awalnya dirinya dipaksa dalam posisi bertahan, sekarang Jing Yang lebih mendominasi serangan.


“Aku mendengar kau membunuh seluruh anggota Istana Naga Api dan Gunung Pedang Tunggal yang hadir di pertemuan itu?” Gu Ruo berulang kali melepaskan sejumlah tebasan dan tersenyum menyeringai, “Katakan padaku, apakah kau yang membunuh anakku, Gu Cao?!”


Jing Yang tidak memjawab perkataan Gu Ruo melainkan terus melepaskan tebasan pedangnya mencoba beberapa gerakan yang belum pernah dia lakukan dipertarungan sesungguhnya.


“Apa kau bisu bocah?!” Gu Ruo tersulut emosi karena Jing Yang seperti meremehkan dirinya.


Gu Ruo tidak lagi bertanya apalagi mengatakan sesuatu. Sekarang dia hanya melancarkan serangan demi serangan kepada Jing Yang. Hujan serangan dari Gu Ruo berhasil memaksa Jing Yang dalam posisi bertahan.


Gu Ruo terus menghujani Jing Yang dengan serangan. Dari berbagai dan bermacam tebasan melesat kearahnya. Jing Yang mengolah pernapasan dan memblokir setiap serangan yang dilepaskan Gu Ruo.


Meskipun sekarang Gu Ruo mendominasi serangan, tetapi serangannya itu belum menyentuh tubuh Jing Yang sama sekali. Kali ini Gu Ruo lebih serius karena melepaskan energi pedang berjumlah besar.


Jing Yang juga melakukan hal yang sama. Dia menjauh dari keramaian dan memancing Gu Ruo untuk mengejarnya. Kini keduanya berada dilangit Ibukota Huaran sambil melakukan pertukaran serangan hebat.


Menyadari Jing Yang menjauh dari alun-alun kota. Para pendekar Bulan Purnama Merah berniat menjadikan para penduduk sebagai sandera. Niat para pendekar Bulan Purnama Merah terhenti saat merasakan aura mematikan dari arah langit.


Jiang Feng berseru lantang, “Kenapa berhenti?! Cepat tolong aku!” Jiang Feng dipenuhi emosi saat para pendekar Bulan Purnama Merah berhenti bergerak menyelamatkan dirinya ataupun menyerang penduduk.


Jing Yang sudah menciptakan seribu pedang tak kasat mata yang siap memotong tubuh para pendekar Bulan Purnama Merah.


“Aura pembunuhmu milikkmu sangat pekat...” Jing Yang menyambut setiap tebasan pedang Gu Ruo sebelum tersenyum tipis, “Tetapi aura pembunuh milikku lebih pekat.”

__ADS_1


Gu Cao tersenyum mendengar perkataan Jing Yang. Tak berapa lama Gu Ruo tersenyum mengejek, “Apa yang ingin kau katakan? Apa kau meremehkanku?!”


Gu Ruo melancarkan serangan demi serangan. Pertukaran serangan kembali terjadi, namun kali tempo permainan pedang Jing Yang tiba-tiba berubah dan membuat Gu Ruo terpojok.


‘Bocah keparat ini!’ Gu Ruo mengumpat saat menyadari dirinya seperti teman latihannya berlatih.


“Ada apa? Sepertinya kau kekurangan nafas?” Jing Yang memberikan serangan mematikan dan memberikan luka fatal pada tangan Gu Ruo.


Setelah melakukan pertukaran serangan. Gu Ruo terkejut mengetahui Jing Yang belum menggunakan segenap kemampuannya. Gu Ruo terus meningkatkan tempo serangan.


Namun Jing Yang masih dapat mengimbangi pergerakannya, “Mari kita Akhiri semua ini.” Jing Yang menatap dingin Gu Ruo dan mengalirkan tenaga dalam pada kedua pedang kesayangannya, sedangkan Gu Ruo juga memikirkan hal yang sama.


Gu Ruo mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar dan menatap tajam Jing Yang yang menghilang dari pandangan sedetik kemudian.


____


Sementara Jing Yang sibuk dengan pendekar Bulan Purnama Merah, Xue Bingyue terlihat sedang mengendap-endap memasuki Istana Jiang.


Tidak butuh waktu lama bagi Xue Bingyue menemukan keberadaan Shen Mi. Suasana di Istana Jiang sangatlah sepi karena secara mendadak seribu pendekar Bulan Purnama Merah mengepung Jing Yang di alun-alun kota.


Xue Bingyue tersenyum. Dia mengetahui Jing Yang ingin dirinya tidak terluka, namun sikap pemuda itu justru membuat Xue Bingyue kesal. Xue Bingyue merasa jika Jing Yang terlalu memanjakannya.


Walaupun seribu pendekar Bulan Purnama Merah telah pergi ke alun-alun kota, di Istana Jiang masih menyisakan puluhan pendekar. Xue Bingyue mengatasi puluhan pendekar itu dengan mudah tanpa kesulitan yang berarti.


Tempat yang dituju Xue Bingyue adalah ruangan pribadi Gu Ruo yang dahulu merupakan ruangan pribadi Jiang Nian. Disana Xue Bingyue menemukan Shen Mi dengan yang terikat kedua tangan dan kakinya.


Mata Shen Mi ditutup kain. Pakaian gadis itu terlihat anggun namun pipi mulus gadis itu dipenuhi air mata. Xue Bingyue segera menyelamatkan dan membebaskan Shen Mi.


Saat pertama kali Shen Mi membuka matanya dia menemukan Xue Bingyue yang sedang menatapnya khawatir. Wajah cantik gadis kecil itu membuat Shen Mi langsung mengetahui jika gadis manis dihadapannya adalah Xue Bingyue.


“Nona Muda Xue?” Shen Mi memastikan. Xue Bingyue tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya lirih.


“Sepertinya kamu adalah Shen Mi yang dicari Yangyang. Ikut aku.” Xue Bingyue menarik lembut tangan Shen Mi dan membawanya keluar Istana Jiang menuju alun-alun tengah kota.


Sesampainya di alun-alun tengah kota, Xue Bingyue dan Shen Mi menatao tidak percaya karena jalanan ibukota banjir darah.

__ADS_1


Disana terlihat Jing Yang sedang melakukan pertarungan hebat melawan Gu Ruo.


__ADS_2