
Sebelum penampilan Galen
"Sue banget kita, emang sudah nasib kita kali, Pram! Huh... " Wendi menghela napas berat saat Galen menyuruh mereka berdua mencari bunga dengan cepat dengan waktu sepuluh menit saat Galen keluar dari kumpulan penonton.
"Udah, jangan ngeluh cepetan!" ajak Pram dengan cepat menelusuri pedagang bunga pinggir jalan tak jauh dari Kota Tua itu.
Hanya ada beberapa pedangang bunga hidup di sana. Bunga mawar merah tak ada di semua pedangang yang masih buka itu.
Saat Pram dan Wendi hendak pergi, salah satu penjual bunga memanggil mereka.
"Hei ... pemuda!" panggil pedagang bunga pada Pram dan Wendi, keduanya sama-sama menoleh ke arah suara.
"Dia manggil kita, bukan sih?" tanya Wendi ragu.
"Iya kalian, malah bengong!" sahut pedagang bunga itu.
"Turun, Wen! samperin tuh! kali aja ada bunga mawar merah nyelip di antara bunga yang lain," titah Pram membuat Wendi segera turun kemudian setengah berlari menghampiri pedagang itu.
"Ada apa, Pak? apa yang kami cari ketemu?" tanya Wendi dengan napas yang tersengal.
"Benar, ini ada bunga mawar merah yang kalian cari, kebetulan hanya tinggal satu. jika kalian mau, silahkan! jika tidak, bapak jual kepada yang lain," ucap pedagang bunga itu memberi pilihan.
"Gimana, Pram? cuman ada satu!" seru Wendi saat Pram baru saja sampai mengikutinya.
"Ambil aja deh, daripada nihil, tidak dapat sama sekali," tutur Pram lalu merogok dompet dalam saku. Ia mengambil dua lembar uang seratus ribu lalu membayarnya kepada pedagang bunga itu.
Satu tangkai bunga mawar merah di hias indah kini berada di tangan Wendi. Mereka berdua tengah mengejar waktu karena menurut putaran waktu, sepuluh menit telah berlalu.
Beruntung Galen masih bernyanyi di atas panggung. Dengan langkah tergesa sambil menyalip ke dalam kumpulan penonton Pram dan Wendi bisa melewatinya.
"Permisi ... permisi, kasih jalan dikit, penyanyi selanjutnya mau lewat," ucapan Pram berhasil membuat orang-orang yang berdiri menghalangi jalannya melebarkan jarak agar Wendi yang sedang memegangi bunga bisa bebas lewat menuju samping panggung.
"Bisa banget sih, lu, Pram! nanti kalau gue di tuntut buat nyanyi gimana?" bisik Wendi saat mereka tiba di samping panggung.
__ADS_1
"Itu derita lo! paling pas lo nyanyi, para penonton kabur," balas Pram dengan senyum meledeknya.
"Sialan lu!" desis Wendi.
Tak lama Galen mendekati mereka berdua untuk mengambil bunga di tangan Wendi.
Galen memberikan ajungan jempol kepada Wendi dan Pram sebagai tanda kerja bagus untuk mereka berdua. Meskipun hilang ingatan tapi sikap memerintah masih melekat dalam diri Galen.
"Woy katanya, mau penyanyi selanjutnya! bo'ong lu, ya?" olok salah satu penonton kepada Wendi.
Wendi yang merasa olokan itu untuk dirinya langsung mengangkat kedua jari yang membentuk huruf V.
"Sorry bukan gue yang ngomong tapi dia," Wendi menunjuk Pram.
"Huh... ngomong aja kalian pengen nonton paling depan." kembali mereka berdua mendapat sindiran dari penonton yang lain. pukulan dan cubitan mereka dapatkan dari beberapa penonton wanita.
"Gue cuman mau nganterin bunga itu doang, dari tuh orang yang lagi nyanyi!" elak Pram seraya menghindar dari tangan-tangan yang mendaratkan cubitan di tangannya.
"Udah-udah jangan berisik! Noh, liat yang nyanyi mau ngapain?" Wendi mengalihkan perhatian ke arah Galen yang turun perlahan dari panggung menghampiri Aline.
"Noh... sekarang liatin tuh, jangan ketinggalan. Liat aksi si penyanyi bucin," ucap Pram seraya melangkah mundur perlahan meninggalkan panggung dari pada jadi bahan olokan dan cubitan lagi dari mereka.
"Bucin juga romantis tau," balas si penonton itu lagi.
Pram dan Wendi akhirnya bisa keluar kumpulan para penonton.
"Akhirnya terbebas juga dari dalam sana!" Wendi terlihat mengatur napasnya seraya mengelus dada.
"Gila, apa enggak pada marah tuh, pacar dari tuh cewek?" ucap Pram menoleh ke arah kumpulan penonton yang kebanyakan wanita itu.
"Kenapa?" tanya Wendi heran.
"Mereka pada doyan nonton penampilan aksi panggung penyanyi cowok."
__ADS_1
Wendi mengangkat bahu. "Mana gue tau, pacaran aja belom. Jadi gue belom ngerasain perasaan punya pacar yang doyan nonton kaya gimana."
Pram memutar bola mata malas mendengar ucapan Wendi. Sambil berjalan menuju parkiran motor, Pram mengajak Wendi untuk mengikutinya.
"Nanti gue ajarin lu pacaran jadi tau rasanya gimana marah sama cewe lu!" seru Pram sambil terus berjalan.
"Emang lu, pernah pacaran Pram?" sahut Wendi yang mengikuti langkah Pram.
"Pacaran sih, belom. Tapi jalan sama cewek pernah. Sering malahan," ucap Pram dengan gelak tawanya.
"Sue, sering maenin cewek, lu ya!" hardik Wendi lalu mendapatkan bungkaman tangan dari Pram.
.
.
.
.
Readers ; Nah loh, ketauan lu ya Pram sering maenin cewek?๐ก
Pram: Bukan maenin, tapi mencari yang pas dan sehati. ๐๐
Readers: Bo'ong lu! ๐คฌ
Pram : Sumpah deh, tapi ngerasain dikit manisnya daging tipis yang suka member senyum mah itu bonus.. ๐๐ค๐ค๐ค
Readers : Sama aja, otoy! Play boy cap kamperet lu! ๐๐
Pram : ๐โ
Satu lagi masih promo karya dari teman nih. mampir ya.
__ADS_1
Bersambung>>>