
"Kamu 'kan yang waktu itu di rumah sakit? benarkan?" ucap Aline, tatapannya tertuju pada wajah dingin dan tegas yang begitu dekat dengan dirinya.
Bara mengangguk pelan. "Ya, itu Aku!" Bara tersenyum simpul dengan netra yang masih memperhatikan cantiknya wajah Aline dari dekat. Posisi mereka hampir tak berjarak.
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan mereka berdua. Pria paruh baya itu menatap sinis melihat artis yang ia ketahui sedang dekat dengan putra kandungnya berani berdekatan dengan pria yang merupakan anak tiri nya itu.
"Heh... gadis itu! beraninya mendekati kedua putraku!" ucap Tuan Wijaya dengan tatapan sinis nya lalu berbalik meninggalkan mereka yang masih dalam posisi seperti saling memeluk.
Tuan Wijaya tidak melihat kejadian yang sebenarnya terjadi. Ia sudah beranggapan bahwa Aline adalah wanita yang sudah menggoda kedua putranya. Beliau berpikir tak aneh jika seorang artis seperti Aline mendekati pengusaha seperti kedua putranya itu, apalagi untuk kepentingan kariernya.
Tuan Wijaya pun melangkah pergi kembali ke dalam ruangan resepsi pernikahan. Tadinya Ia menyusul Bata untuk mengenalkannya kepada beberapa rekan bisnisnya.
Aline merasa canggung saat di tatap seperti itu oleh Bara. Dengan cepat Aline berusaha berdiri lalu melepaskan tangan Bara yang melingkar di tubuhnya.
"Terima kasih, kedua kalinya Kamu membantuku!" ucap Aline canggung
"Aku Bara! Kita belum kenalan 'kan?" Bara mengulurkan tangannya ke arah Aline.
Aline sedikit ragu, karena di buru waktu untuk segera ke rumah sakit. Tapi gadis itu merasa tak enak hati kepada pria yang bernama Bara itu.
"Aline," sahutnya seraya membalas uluran tangan Bara.
"Aline Barsha lebih lengkapnya 'kan?" sambung Bara sambil mengembangkan senyumnya.
"Siapa yang tidak kenal dengan artis yang banyak dibicarakan karena kebaikan hati dan ramah ini!" puji Bara. Tangan yang saling bersalaman itu meregang perlahan.
"Jangan terlalu memuji seseorang yang belum Kamu kenal! bisa jadi itu hanya sandiwaraku saja," sanggah Aline.
Aline menghargai seseorang yang sudah dua kali menolongnya. Tanpa banyak basa basi gadis itu berpamitan karena sedang terburu-buru.
"Mohon maaf sebelumnya, Terima kasih Anda sudah menolong Saya, tapi Saya harus pergi." Aline membungkukkan sedikit tubuhnya lalu melanjutkan langkahnya menyusul Risa ke parkiran.
"Tunggu ...! apakah kita bisa berteman dan mengenal lebih jauh," tanya Bara penuh pengharapan.
Aline menghentikan langkah lalu tersenyum manis ke arah Bara. Senyuman yang selalu membuat semua orang terpesona karenanya. Sikap ramah dan tidak sombong selalu ia tunjukkan kepada semua orang termasuk Bara.
__ADS_1
"Semenjak kita berkenalan barusan, kita sudah menjadi teman! sampai berjumpa kembali," jawab Aline dengan senyum cerianya.
Senyuman itu bisa menularkan kebahagiaan kepada si penerima nya. Begitu juga dengan Bara. Pria itu terus tersenyum melihat langkah Aline yang kian menjauh darinya.
Hanya sekali Aline berbalik dan melambaikan tangan ke arahnya kemudian melemparkan senyum manis andalannya.
Sikap Aline akan baik dan ramah kepada orang yang tulus ingin berteman dengannya. Apalagi kepada orang yang sudah menolongnya.
"Apakah Aku harus bersikap egois demi mendapatkan sesuatu yang kuinginkan saat ini? Aku tahu gadis itu adalah kekasih Galen. Tapi perasaan ini tak bisa ku bohongi, Aku tertarik kepadanya!" gumam Bara dalam hati.
...๐๐๐...
"Mbak yakin akan ke rumah sakit?" tanya Risa serius.
"Nanti kalau Pak Zaki tau, gimana?" Risa sedikit khawatir karena sebelumnya Ayah Zaki sangat melarang Aline untuk kembali ke rumah sakit tempat Galen di rawat.
"Kamu jangan bilang! hanya sebentar ko, please ... hari ini setelah hasil pemeriksaan rontgen tengkorak kepala milik Galen keluar, dia diijinkan pulang. Ya, Pa Mul. Tolongin Aline sekali ini saja!" Aline beralih ke arah Pak Mulyo yang sedang serius mengemudi.
"Maaf, Non! Bapak tidak bisa membantah Pak Zaki. Lebih baik kita pulang dulu, non Aline ijin dulu sama ayahnya!" seru Pak Mulyo.
Aline sangat kesal mendengarnya. Entah apa yang terjadi dengan Ayah Zaki. Aline merasa ada yang ditutupi darinya. Ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi karena perbuatan sendiri. tapi kali ini Ayah Zaki melarang keras Ia menjengum orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Aline.
Saat ini Aline harus menggunakan supir pribadi Pak Mulyo namanya, agar siap siaga mengantar Aline dalam setiap pekerjaannya.
Setiap selesai bekerja, Pak Mulyo akan melaporkan kepada Ayah Zaki kemana non Aline setelah selesai pemotretan ataupun pekerjaan lain. Sebenarnya Aline sudah bisa mengendarai mobil sendiri, hanya Gadis itu jarang membiasakan diri untuk menyetir mobilnya.
Sikap gugup dan takut selalu ada dalam dirinya. Terlebih semenjak kecelakaan itu terjadi, Aline semakin tak berani mencoba belajar mengemudi lagi.
Aline memasang wajah cemberut sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya. Gadis itu menghela napas panjang, tak tahu harus berbuat apa untuk merayu Pak Mulyo agar mau mengantarkannya ke rumah sakit tempat Galen di rawat.
"Aku harus ke rumah sakit, Galen pasti mengharapkan kedatanganku!" gumam Aline. Pandangannya mengarah keluar jendela.
Aline berpikir kalau saja dia bisa kabur dari Risa dan Pak Mulyo, dia akan pergi menemui Galen.
Mobil yang ditumpanginya berhenti di Pom bensin. Aline tersadar dari lamunannya, setelah melirik ke kanan dan kirinya, gadis itu baru menyadari keberadaannya saat ini.
__ADS_1
"Pom Bensin," batin Aline. Sebuah ide pun muncul dalam benaknya.
"Pak Mul, Saya ke toilet dulu, ya!"
Aline meraih dompet kecil di dalam tasnya. Aline tak mau Risa dan Pak Mulyo merasa curiga dengan rencananya.
"Saya temenin ya, Mbak?" tawar Risa.
"Gak usah! sebentar ko," tolak Aline secara halus.
"Beneran gak pa-pa, Mbak! kalau gitu Aku mau tidur dulu sebentar," ucap Risa.
"Ya, Kamu istirahat aja, Sa! Pak sebentar ya!" Aline mengingatkan Pak Mulyo kembali.
"Ya, non. Bapak tunggu di sini!"
Aline melangkah menuju toilet yang ada dalam papan petunjuk di pom bensin itu. Gadis itu mendapat ide kabur dari Pak Mulyo yang bertugas menjadi sopir sekaligus bodyguard dalam bahasa kerennya.
Di dalam toilet Aline bingung harus berbuat apa, masa iya dia harus menggunakan gaun tanpa lengan dengan panjang menyapu lantai itu keluar dari pom bensin, pasti akan jadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Aline membuka pintu toliet mengedarkan pandangannya ke setiap sudut depan toilet itu, hanya ada jacket hitam dan gunting menggantung di dinding dekat pintu ruangan karyawan pom bensin. Gadis itu diam sejenak berpikir akan melakukan sesuatu dengan kedua barang itu.
"Kita lihat! apakah kedua barang itu berguna untukku saat ini? maaf ya, yang punya ini barang. Aku pinjam dulu! jangan berharap barangnya kembali ya? Aku suka lupa buat balikin!" Aline berbicara sendiri seakan meminta ijin kepada si empunya barang.
Aline memasuki toilet kembali. Dia mulai beraksi melakukan ide yang ada dalam benaknya. Gaun putih yang pas di tubuhnya di potong sampai panjangnya sebawah lutut.
Gaun tanpa lengan itu juga di tutupi dengan jacket yang diambilnya tadi.
Ini foto Aline menggunakan gaun putihnya, ya. Bayangin aja gaun seindah ini di potong. ๐๐
Aline juga menggulung rambut yang tergerai indah menggunakan karet yang diambilnya dari atas kotak amal di luar toilet.
Penyamarannya pun sempurna Aline bersiap untuk menyelinap keluar pom bensin dengan penyamaran ya saat ini, mencari ojek online atau mobil online agar ia untuk menuju rumah sakit di mana kekasihnya itu menanti kedatangannya.
__ADS_1
bersambung
Jangan lupa dukungannya ya.