Fake Love

Fake Love
Testpack


__ADS_3

"Mampir dulu ke mall, Yang?" tanya Galen yang baru saja masuk setelah membeli empat bungkus es buah.


"Emm..." Aline terlihat sedang berpikir. "Langsung ke rumah ibu aja deh, Mas! Barangkali aku bisa bantu-bantu di sana.


" Ok deh!"


Mobil yang Galen kendarai langing meselat cepat menuju rumah Ayah Zaki.


Perjalanan yang harusnya mereka tempuh tak lebih dari setengah jam. Kini harus mereka lewati sekitar satu jam lebih.


Aline dan Galen terjebak macet di jalur orange, jalur yang sedang mengalami perbaikan jalan. Perjalanan mereka pun terhambat karenanya.


Padahal Aline ingin segera sampai agar bisa sedikit membantu memasak. Kalau masih macet begini bisa jadi sampai sore mereka sampai rumah


Menunggu lampu merah berubah warna, Galen melirik ke samping kemudi. Ia melihat Aline tertidur, lekas Galen menurunkan posisi sandaran bangku yang di duduki istrinya.


Aline lebih leluasa dengan posisi barunya. Seteleh sandran di turunkan, Aline malah nenaikkan kakinya. Tidur dengan posisi miring ke arah Galen sambil meringkuk.


Melihat sang istri dalam posisi seperti itu membuat Galen tersenyum senang. Wajah cantik dengan bulu mata lentik itu terlihat begitu damai saat memejamkan matanya.


Semoga kebahagiaan kita semakin bertambah dengan adanya buah cinta kita, Sayang....


Mas akan sabar menunggu sampai amanah itu datang kepada kita.


Batin Galen seraya membelai pelan pipi chubby Aline. Rasa cinta itu semakin besar kepada wanita yang selalu ada bersamanya itu.


Lampu merah berganti warna hijau. Mobil yang membawa sepasang kekasih itu kembali melesat cepat menuju rumah Ayah Zaki.


Bu Winda sempat menanyakan keberadaan Aline. Ibunya mengabarkan masakan yang di minta sudah siap santap semua.


"Sudah sampai mana, Nak?" tanya Bu kepada Aline. Sudah hampir satu jam masih belum sampai di rumahnya.


"Sebentar lagi aku sampai , Bu!" Alin menjawab pertanyaan sang ibu dari seberang telepon.


"Oh, ibu kira kalian tidak jadi datang." sahut Bu Winda.


"Assalamu'alaikum," ucap Aline kemudian.


Bu Winda yang sedang melakukan sambungan telepon dengan Aline pun merasa terkejut.


Aline melempar senyum lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Kamu ini, ngerajin ibu! Jahil ya?" Bu Winda ikut mendekati Aline.


Aline lekas menyalami Bu Winda lalu berpelukan melepas rindu.


"Perasaan baru dua mingguan enggak ketemu, Ibu lihat kamu gemuk sekali, Nak!" ucap Bu Winda mengomentari perubahan yang terjadi pada tubuh Aline.


"Senang dia Bu! Tidak ada yang memerintah dan berkoar di pagi hari di sana." lanjut Ayah Zaki yang datang dari pintu samping.

__ADS_1


"Ayah..." Aline tersenyum dan berlari kecil ke arah Ayah Zaki. Tak lupa dengan sopan Aline menyalami ayahnya.


"Apa kabar, putri Ayah! Sibuk bermalas-malasan ya, di rumah mertuamu. Apa kerjaanmu di sana hanya makan dan tidur sampai ini pipi bisa Ayah cubit." gemas Ayah Zaki. "Suamimu mana?"


"Tuh, Mas Galen!" Akine menunjuk dengan dagunya ke arah pintu.


Galen yang baru saja datang sambil menjinjing kantung plastik berisi es buah langsung menyalami Bu Winda.


Bu Winda melihat sesuatu yang Galen bawa. "Kamu bawa apa, Nak!" tanya Bu Winda.


"Es buah, Bu! kayaknya seger banget deh minum ini."


"Sini, Mas. biar aku pindahkan ke mangkuk!" ucap Aline seraya meraih kantung plastik yang Galen bawa.


Galen menyerahkannya kepada Aline, lalu ia berjalan mendekati Ayah Zaki kemudian menyalaminya.


"Apa tidak sebaiknya kalian makan dulu. Nanti keburu dingin nggak enak loh makanannya," usul Bu Winda yang langsung mendapat persetujuan dari Aline.


***


Gazebo di samping rumah Aline menjadi tempat yang mereka bersantap masakan khas Sunda yang Bu Winda masak. Makan bersama di lesehan membuat kebersamaan keluarga itu terasa menyenangkan.


"Em... Enak sekali makanannya Bu!" puji Galen lagi.


Saat ini sudah ke dua kalinya ia menambah nasi tak lupa sambel dengan lalapan dan ikan asinnya.


Berbeda dengan Aline. kali ini ia makan hanya sedikit. wanita itu begiu senang melihat Galen makan dengan layaknya tanpa ada penolakan.


Galen hanya mengangguk pelan. Ia kesulitan menjawab, mulutnya masih mengunyah nasi.


Melihat Galen selesai menghabiskan makanan di piringnya, Aline menyodorkan minum kepada Galen. "Minumnya, Mas!"


"Terima kasih, Sayang!" Galen lekas meminum air teh tawar hangat itu.


"Alhamdulilah.... Nikmatnya," ucap Ayah Zaki yang sama-sama telah menghabiskan makanannya.


Acara makan bersama di gazebo sudah selesai. Galen begitu puas dan kenyang.


Ayah Zaki dan Galen masih berada di Gazebo sambil beristirahat, bersantai sejenak di sana. Sedangkan Aline membantu Bu Winda membereskan piring kotor untuk ke dapur karena Bi Kasih asisten yang biasa membantu Bu Winda tidak ada. Setiap hari minggu adalah hari libur untuknya.


"Apa kamu sudah pernah mencoba tes kehamilan?" tanya Bi Winda saat Aline baru saja menyelesaikan cuci piringnya.


"Aline takut, Bu!" jawab Aline, ia menggeser kursi lalu duduk di sana. Tak dilewatkan Aline raih satu buah jeruk lalu mengupasnya.


"Takut kenapa?"


"Takut gagal lagi! Dan hasilnya negatif. Sedih, kalau lihat hasilnya begitu." Aline memasukkan satu buah potongan jeruk yang ia bersihkan. Ia menyipitkan mata karena rasa sedikit asam dari jeruk tersebut. "Kok asem, Bu!" Aline tidak melanjutkan suapan buah jeruknya. tidak suka dengan rasa asam buah itu.


"Kenapa tidak mencobanya lagi? Ibu rasa kali ini kamu hamil," tutur Bu Winda.

__ADS_1


"Ahh... Ibu jangan suka memberi harapan palsu. Aku tidak mau Mas Galen kecewa lagi. Dia ingin sekali aku hamil," lirih Aline.


"Makanya di tes biar jelas."


"Iya, sih, Bu. Kemarin Oma juga nyuruh aku buat tes. Tapi aku masih takut aja!"


"Sekarang kita coba!" Bu Winda berdiri lalu meraih tangan Aline agar ikut dengannya.


"Mau kemana Bu?" cegah Aline.


"Tes kehamilan sama kamu! Ayo ikut ibu ke kamar!" Aline tidak bisa menolak Aline ikut saja dengan Bu Winda.


"Emang ibu punya alatnya?" tanya Aline saat mereka sudah sampai di dalam kamar Bu Winda.


"Punya, Ini..." Bu Winda memperlihatkan alat test kehamilan yang bisa digunakan setiap saat.


Aline menatap curiga kepada Bu Winda. "Apa Ibu dan Ayah berencana mau punya anak lagi?" tanya Aline dengan tatapan penuh tanya.


"Dari dulu juga berencana, tapi gak jadi-jadi. Sudah jangan banyak bertanya, lakukan tes sekarang juga! Ibu tinggi di sini!" titah Bu Winda setelah menyodorkan alat test kehamilan itu kepada Aline.


"Iya... iya..." Aline menoleh lagi ke arah Bu Winda. "Aline takut Bu!"


"Takut apanya?" gemas Bu Winda kepada Aline. Putrinya itu sedikit ngeyel.


"Takut hasilnya tidak sesuai harapan."


Bu Winda mendesah berat. "Apa mau ibu yang ambil urine kamu?"


Aline menggeleng kepala. Lalu dengan terpaksa ia menuruti perintah Ibunya. Ia dengan lemah masuk ke kamar mandi.


Tes kehamilan memang lebih bagus dilakuan dengan test pack pada pagi hari saat buang air kecil pertama kali. Karena urin di pagi hari adalah urin yang memiliki konsentrasi paling pekat dan mengandung hCG lebih tinggi daripada waktu lainnya.


Bu Winda menunggu di depan kamar mandi dengan tidak sabar.


Galen dan Ayah Zaki asik bermain catur sambil mengobrol ngalor ngidul..


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya.


Bagaimana hasil test nya ya.. pasti kalian sudah bisa menduganya kan?


Mampir ke karya temanku lagi yuk.


__ADS_1


.


.


__ADS_2