
Brukkk....
Rara melepas sandal yang ia pakai dengan kasar sehingga mengenai pintu rumahnya yang memang terbuka lebar.
Gadis berusia 21 tahun itu bergegas masuk lalu merebahkan tubuhnya ke sofa. Pak Budi yang berada di sana melongo melihat kelakuan Rara.
“Ari kamu teu gaduh sopan santun lebet ka bumi, teh, Ra? Saukur ngucapken salam, teu bisa kitu? Kamu teh teu ningali aya bapak ker calik di korsi?” (apa kamu tidak punya sopan santun masuk ke dalam rumah, Ra? Hanya mengucapkan salam saja, apa tidak bisa? Kamu itu tidak melihat ada bapak sedang duduk di kursi?),” tegur Pak Budi yang mendapat balasan malas dari putrinya itu.
“Nya... Pak, hampura! Atuh Rara kesel pisan ka ibu! Kunaon dukung pisan Teh Sandra sareng Tuan Braja. Kuduna ibu dukung Rara ameh deket jeung Tuan Braja. Umpami Rara jadi nikah jeung anjeuna ‘kan ibu oge nu hirup ngeunah!(Iya... Pak, maaf! Abisnya Rara kesal banget sama ibu, kenapa mendukung banget Teh Sandra sama Tuan Braja. Harusnya ibu dukung Rara agar bisa dekat dengan Tuan Braja. Seumpama Rara jadi menikah sama dia ibu juga yanng hidup enak!),” kesal Rara. Pak Budi mengerti kenapa selama ini Rara selalu menyusul Sandra ke peternakan sapi.
Anak gadisnya itu mempunyai perasaan kepada Tuan Braja.
“Ari kamu suka sama Tuan Braja?” tanya Pak Budi menatap serius Rara.
Rara duduk tegak saat bapaknya bertanya, memang selama ini dia tidak mengungkapkan perasaannya kepada siapapun. Tapi dari sikap Rara harusnya orang tuany mengerti tanpa ia bicara.
“Salah kitu, Pak?” Rara meminta pertimbangan bapaknya.
“Henteu salah gaduh perasaan ka saha wae oge. Tapina ari kamu hapal teu umur kamu sama Tuan Braja teh terpaut jauh. Dia mah pantesna jadi lanceuk kamu, Ra. Tuan Braja kan saumuran jeung Kang Udin, lanceuk kamu! (Tidak salah mempunyai perasaan kepada siapapun. Tapi apa kamu tau, umurmu dan Tuan Braja terpaut sangat jauh. Dia lebih pantas jadi kakakmu. Tuan Braja ‘kan seumuran dengan Kang Udin, kakakmu!),” ujar Pak Budi menasehati Rara.
“Ah... Bae, da kumaha atuh ngaranna ge perasaan teu bisa di tebak ka saha rek reseupna. Pokokna mah Rara hoyong sareng Tuan Bara wae. Titik te hoyong ka nu lain ( Ah... biarin, abis mau gimana lagi namanya juga perasaan gak bsa di tebak akan suka sama siapa. Pokoknya Rara maunya sma Tuan Braja saja. Titik tidak mau sama yang lain).” Rara bersikeras dengan perasaannya sendiri.
Pak Budi menggelengkan kepala seraya memijat pangkal hidungnya. Rara sangat sulit di nasehati. Mungkin karena selama ini gadis itu selalu di manjkan saat Pak Budi dan Bu Mirna bekerja di Jakarta. Rara di tinggal bersama Kang Udin, Kakak kandungnya.
Pak Budi baru mengetahui perasaan Rara. Sebab baru sebulan ini mereka tinggal tetap di kampungnya. Biasanya mudik hanya beberapa hari lalu kembali ke kota untuk bekerja.
Rara langsung masuk kamar usai berbicara dengan bapaknya.
Di rumah kontrakan Sandra.
__ADS_1
Satu piring sayur sop di tambah sepiring nasi habis tak bersisa. Tapi semua makanan itu tidak berlama-lama berada dalam perut Sandra.
Wanita itu kembali memuntahkan makanan yang baru saja ia makan. Padahal Sandra makan dengan sangat lahap tadi.
Uwekkk... Uwekkk....
Sandra memuntahkan semuanya dalam kamar mandi.
Bu Mirna mencoba mendekatinya. Membantu memijat pelan tengkuk leher Sandra, sambil mengolesinya dengan minyak kayu putih agar terasa hangat.
“Apa lebih baik kamu periksakan kondisimu, Sand!” titah Bu Mirna. Ia merasa heran dengan keadaan Sandra yang terus mengalami hal yang sama.
Sandra tidak pernah mengeluh soal makanan. Semua makanan ia suka, apapun yang dimasak oleh Bu Mirna pasti Sandra makan. Sama seperti di Jakarta. Bu Mirna memang terbiasa setiap hari memasak untuknya dan almarhum Bu Sarah.
Bu Mirna merasakan keanehan yang di alami Sandra. Wanita yang sudah lama ia kenal itu. Sandra sudah seperti anak sendiri baginya.
“Iya, Bu. Besok aku periksa ke puskesmas,” ucap Sandra yang sangat terlihat lesu. Ia memuntahkan semua yang dimakannya sampai cairan berwarna kuning yang tersa pahit di tenggorokan itu keluar dari mulutnya.
Sandra mengangguk pelan seraya mengatur napas yang tersengal usai mengeluarkan makanan yang ia muntahan. Ia bersandar di dinding kamar mandi. Berusaha menutupi yang kenyataan yang terjadi pada dirinya. Akan tetapi Bu Mirna tidak bisa di bohongi. Beliau adalah wanita yang sudah berpengalaman makan garam dalam kehidupan. Berbagai pemikiran ada dalam benar wanita berumur itu.
“Ibu rasa ada yang berbeda dari kondisi kamu ini, Sand!” Ucap Bu Mirna menatap curiga kepada Sandra.
Wanita yang sedang merapatkan tubuhnya ke dinding itu lekas menoleh ke arah Bu Mirna. Tatapan menyelidik ia dapatkan.
“Aku hanya masuk angin biasa, Bu!” Sandra berusaha mengelak. Merasa sudah lebih baik dari sebelumnya Sandra keluar dari kamar Mandi, Bu Mirna sedikit menggeser tubuhnya saat Sandra melewatinya.
“Apa kamu hamil?”
Deg...
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Sandra menghentikan langkahnya.
Tubuhnya berbalik menghadap Bu Mirna. Matanya langsung berkaca-kaca, ingin menutupi apa yang terjadi kepadanya ternyata jiwanya tidak mampu. Sandra butuh seseorang untuk bersandar.
“Kamu bisa cerita sama ibu, San! Jangan menutupi sesuatu yang suatu saat akan terlihat sendiri tanpa kamu mengucapkannya. Setidaknya jika kamu mengungkapkan kebenarannya saat ini, Ibu bisa membantu mu menyelesaikannya.” Bu Mirna mendekati Sandra. “Paling tidak dengan berbagi cerita beban di hatimu sedikit berkurang.” Usapan pelan dan lembut diberikan kepada wanita yang saat ini membalas menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Luluh sudah pertahanan Sandra, ingin berusaha menghadapi semuanya sendiri tapi ternyata ia tidak mampu. Sandra menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Bu Mirna. Air mata yang sedari ia tahan akhirnya tumpah dengan isak tangis yang pecah.
“Makhluk kecil ini hadir di saat aku berusaha memperbaiki diri. Dia mengingatkan aku akan dosa yang sudah kulakukan, Bu! Kehadirannya sungguh tidak aku harapkan. Tapi dengan keberadaannya dalam tubuh ini, membuatku sadar bahwa aku tidak lagi sendiri, ada dia... yang akan menemani hari-hariku. Namun apakah aku sanggup dengan cemoohan para warga yang akan mengetahui keadaanku nanti. Apakah aku sanggup melewati perubahan sikap mereka nantinya, Bu?” ucap Sandra di sela pelukannya. Bahunya naik turun seiring tangis yang ia keluaran.
Pikiran yang dari tadi ada dalam benaknya akhirnya ia curahkan kepada Bu Mirna. Perasaannya merasa lebih baik dari sebelumnya.
“Ya sudah, sekarang tenangkan, dirimu! Kita bicarakan ini baik-baik! Kamu harus jujur pada Ibu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Agar kita bisa mencari solusi yang terbaik untuk kamu dan janin yang ada dalam kandunganmu." Bu Mirna memberi solusi. Ia lepas perlahan pelukannya dengan Sandra.
Tangan Bu Mirna terulur mengusap wajah Sandra yang masih di basahi air mata.
"Jangan menangis lagi, Sudah cukup kamu bersedih selama ini. Bahagialah dengan kehadiran makhluk kecil ini." Bu Mirna mengusap pelan perut Sandra yang masih rata.
Sandra tersenyum sambil mengangguk pelan, hatinya merasa lega. Selain ibunya yang telah tiada ia bersyukur Pak Budi dan Bu Mirna hadir dalam kehidupannya.
Kasihan sekali hidupmu...
Mengapa kesedihan terus saja ada di sisimu. Ibu akan menggantikan ibumu. Akan selalu menjaga mu, seperti janjiku kepadanya, Sandra.
Beliau memintaku menjaga dirimu sebelum dia pamit untuk ke rumah sakit pagi itu. Tapi ternyata, dia malah pergi untuk selamanya.
Batin Bu Mirna sedih saat terbayang janjinya kepada Bu Sarah.
Baca kelanjutan ceritanya ya...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan hadiahnya kalau bisa 😁😁 Tapi author gak maksa hanya mengharuskan. 😄