Fake Love

Fake Love
Galen Hilang


__ADS_3

Kegiatan olahraga pagi yang dilakukan dua insan yang terusan saling berbagi kasih itu baru saja usai.


Keduanya sudah saling membersihkan diri. Kerena seseorang yang di tunggu untuk mengantarkan pakaian Aline masih belum datang jugak Aline terpaksa memakai pakaian dinasnya.


Kali ini ia memakai warna hitam. Beruntung lingerie itu ada cardigannya. Bahannya pun terbuat dari sutra lembut. berbeda dengan kain dalam nya. Hanya berupa tali dan sedikit bahan yang menutupi inti bagian bawah dan puncak gunung kembarnya saja.


"Hmm... serba salah... yang ini terbuka. Yang ini, sama saja kayak tidak pakai baju." Aline bolak balik melilih beberapa baju lingerie. "Pakai saja deh, daripada tidak sama sekali. Mending pakai ini ada cardigannya juga, ya meskipun hanya menutupi sampai pertengahan paha saja." gumam Aline terlihat bingun seraya membawa baju pilihannya ke kamar mandi lalu memakainya.


Galen yang lebih nyantai dan cuek seperti biasa keluar kamar hanya dengan celana boxernya saja. Tanpa memakai baju pastinya.


Ia duduk di sisi lantai kayu. Kakinya sengaja menggantung ke bawah. Meskipun jarak dengan air laut di bawahnya masih jauh, sangat terlihat jelas dari posisi nya saat ini pemandangan bawah laut itu.


Air yang bening bisa tembus memperlihatkan akitivas makhluk yang ada di dalam laut itumi Ikan kecil dan terumbu karang yang indah sangat terlihat jelas. Pantai alami dengan udara sejuk yang berasal dari pegunungan dan lautan, semakin membuat segar udara pagi saat ini.


"Mas...," panggil Aline yang berjalan pelan mendekati suaminya.


Kali ini jalan Aline tidak terlalu aneh seperti kemarin sore. Ia mulai terbiasa dengan rasa ngilu itu. Rasa ngilu dan sakit yang membuatnya menggigit ketagihan.


Sebelum menyusul suaminya. Aline lebih dulu membuatkan teh manis panas di dapur kecil yang ada di kamar menginapnya.


"Mas...," panggil Aline sambil berjalan mendekati Galen.


Aline berjalan dengan pelan karena membawa teh manis di tangannya.


"Sini... Sayang! Lihatlah indah sekali sunset nya 'kan?" titah Galen agar Aline duduk di sisinya, melihat keindahan pagi itu.


Galen meraih satu gelas dari tangan Aline lalu meletakkan gelas tersebut di sampingnya.


Begitu juga Aline, ia sedikit berjongkok untuk meletakkan satu gelas teh manis yang masih berada di satu tangannya itu.


"Hati-hati, Sayang!" Galen meraih tangan Aline saat istrinya akan duduk dengan posisi sama seperti Galen.


"Terima kasih, Mas!" Aline duduk di samping Galen. Posisi yang sama dengan kaki yang menggantung ke bawah


Pagi ini Aline dan Galen kembali di suguhkan pemandangan indah. Matahari yang mulai terbit dari arah berlawanan dari matahari terbenam yaitu arah timur.


Jika kemarin sore, yang mereka lihat adalah termaram cahaya senja. Pagi ini cahaya yang bersinar bersamaan dengan hangatnya yang terpancar membuat sehat untuk kulit.


Hangatnya sinar yang mulai terasa di kulit menandakan mulainya waktu sang penguasa siang hari akan bekerja menggantikan sang rembulan.


Udara segar dan suara burung yang berkicau pagi ini makin membuat suasana menjadi nyaman. Tak ada bising suara kendaraan di sana, udaranya pun masih alami tanpa polusi udara.


"Aku senang sekali berada di sini, Mas! Udaranya sejuk, tentram, telinga rasanya adem tanpa mendengar suara bising kendaraan. Hiruk pikuk di kota dengan di sini sangat jauh berbeda," ucap Aline menatap kagum pada pemandangan dan suasana pagi hari di sana, sambil menyandarkan kepala di bahu Galen.

__ADS_1


"Ternyata dia pintar memilih tempat untuk kota berbulan madu, Sayang!"


"Hmm... Kamu harus berterima kasih kepada Kakakmu, Mas!"


"Ck... Apa perlu?"


"Mas...!" Aline menatap Galen seakan memprotes nya.


"Iya... Iya, nanti aku berterima kasih sama dia. Tanpa dia beri hadiah ini pun, aku bisa mengajakmu ke tempat ini. Bahkan Maldives sungguhan sekalipun, aku sanggup!" Galen mulai menyombongkan diri.


Aline mengangkat kepala yang bersandar di bahu Galen. Mulai jengah dengan sikap berbangga Galen.


"Kebiasaan deh, Mulai... Ini bukan sanggup ataupun tidak sanggup, Mas. Coba pandang dari sisi lain. Dengan memberikan hadiah liburan ini berarti dia perhatian sama adik badungnya ini. meskipun kalian terlihat seperti musuh. Di balik sikap diamnya, dia sayang sama kamu, Mas!" oceh Aline memberi ceramah pagi-pagi kepada Galen.


Yang di beri ocehan malah merubah posisinya tidur berantakan paha Aline.


Memejamkan mata sambil merasakan hangatnya cahaya mentari yang mulai meninggi.


"Mas dengarkan aku gak, sih?" sewot Aline.


"Hmmm..."


"Ish...," decak Aline kesal. Tangan Aline yang tadinya mengelus-ngelus kepala Galen tiba-tiba berhenti.


Galen melihat Aline memajukan bibirnya.


"Iya, Yang. Setelah pulang dari sini. Aku bakalan bertemu Bara buat ucapin Terima kasih..." Akhirnya Galen luluh juga.


Sebenarnya bukan tidak mendengarkan ocehan Aline. Sikap cuek Galen sudah terbiasa kepada Bara. Mereka memang saling cuek tapi yakinlah kasih sayang mereka sebagai saudara tiri sangatlah kuat.


Aline menarik kedua sudut bibirnya.


"Nah, gitu dong. Kamu tuh harus bersyukur masih punya saudara yang sayang sama kamu, Mas!"


"Iya, Sayang....!"


"Mas..."


"Hm..."


"Berenang yuk! kayaknya air lautnya ikutan hangat deh kena sinar matahari pagi."


Galen membuka matanya. Segera ia bangun dari tidurannya. "Boleh juga." Galen langsung menyetuji ajakan Aline.

__ADS_1


"Kita... Nyebur sama-sama ya,"


Aline pun mengantuk setuju.


Kini, Aline dan Galen berdiri. Keduanya berpegangan tangan. Mereka berdua akan menyebutkan diri dengan posisi punggung yang jatuh lebih dulu. Akan sangat menyenangkan rasanya.


"Aku hitung sampai tiga, Yang!"


"Ok..." sahut Aline. Kemudian ia bersiap menjepit hidung dengan jarinya. begitu juga Galen.


"Satu... Dua... Tiga..." keduanya menarik napas panjang lalu menyeburkan diri dengan posisi punggung yang jatuh lebih dulu.


Byurr....


Tubuh keduanya jatuh ke dalam air. Pegangan tangan pun terlepas. Aline dan Galen kini berada di dalam laut jernih.


Aline menggerakan tangan dan kakinya. berusaha untuk naik ke atas daratan. Matanya terbuka di dalam air. ia bisa melihat pemandangan di dalam sana. karena airnya benar-benar jernih.


Karena tidak memakai alat bantu napas untuk menyelam. Aline tak bisa lebih lama di dalam sana.


Aline segera menghirup udara saat kepalanya menyembul di atas air.


Napasnya tersengal kehabisan oksigen.


Usai menarik napas perlahan. Ia melirik kanan dan kiri, mencari keberadaan Galen.


"Mas... Mas... Kamu di mana?"


Tak ada sahutan dari suaminya.


padahal di dalam air Aline sempat melihat suaminya. Mereka sama-sama berenang menuju atas air. Tapi Aline tidak melihatnya.


Aline mulai panik dan cemas. Ia menarik udara panjang agar bisa lebih lama menyelam. Aline kembali menyelupkan tubuhnya ke dalam air untuk mencari Galen.


"Mas... kamu dimana?" mata Aline terbuka di dalam air, panik mencari sosok suaminya yang hilang dalam waktu sekejab.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca kelanjutan ceritanya ya.


__ADS_2