
Hancur sudah pertahanan Galen. Pria yang terbiasa bersikap dingin dengan tatapan mata elangnya itu, kini menunjukan kehancuran dirinya. Tak kuasa menahan tangis, Galen berteriak sekuat tenaga menyebut nama Aline sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
Tangisnya pecah melihat keadaan Aline yang menyedihkan.
Aline sempat tersadar sebentar lalu menyebut nama Galen. Tapi gadis itu kembali tak sadarkan diri dalam pelukan calon suaminya itu.
Galen semakin panik dengan situasi itu. Aldo memberanikan diri setelah melihat tubuh calon istri dari bosnya sudah tertutup oleh selimut. "Sebaiknya kita bawa Nona Aline ke rumah sakit, Tuan!" tubuh pria itu sedikit membungkuk ketika berbicara.
Galen mengangguk pelan, masih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia mengangkat tubuh Aline yang tak sadarkan diri, membawa sang kekasih pergi dari tempat terkutuk itu untuk segera mendapatkan pertolongan.
...***...
Kini Aline sudah berada di rumah sakit milik keluarganya. Rumah Sakit Soedibyo.
Di dalam ruangan VVIP dengan fasilitas nomer satu di rumah sakit itu, Galen terus menggenggam jemari Aline. Gadis itu kembali berteriak histeris dan menagis kencang. Tapi setelah melihat Galen ada bersamanya, perlahan Aline tenang. Dokter memberikan penenang dan obat tidur kepada Aline agar ia bisa beristirahat.
Saat Galen akan berbicara dengan Dokter Arman, ia melepaskan perlahan genggaman tangannya yang bertaut dengan jemari Aline.
"Apa ada luka yang serius pada calon istri saya, Dok?" tanya Galen.
Mereka berdua berbicara serius tapi dengan suara pelan. Takut Aline terganggu oleh suara mereka. Galen menolak diajak ke ruangan Dokter Arman, pria itu tidak mau meninggalkan Aline sedetik pun.
Dokter Arman menghela napas berat. Ia harus memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Galen. Orang yang ia kenal sebagai Tuan Muda Alex, putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
"Luka lebam di tulang pipi dan pelipisnya akan berangsur membaik, semuanya akan pulih seperti sedia kala. Tapi..." ucapannya langsung di sambut oleh Galen, yang merasa penasaran dengan kata-kata selanjutnya.
"Tapi apa, Dok?" tanya Galen.
"Nona Aline mengalami trauma akibat peristiwa yang ia alami. Anda lihat sendiri tadi, dalam tidur pun, Nona Aline merasakan ketakutan. Ketika dia membuka mata, dirinya langsung berteriak histeris meminta tolong."
Galen menyugar rambutnya lalu berjalan mendekati dinding. Beberapa kali ia memukul dinding rumah sakit itu melampiaskan kekesalannya.
"Semua salahku..." Tubuhnya berbalik memunggungi dinding, mengusap wajahnya dengan kasar. Mata elangnya menatap Aline yang terlelap di brankar rumah sakit di hadapannya.
Dokter Arman mendekati pria yang tengah gusar dalam kesedihan itu. "Sabar, Tuan. Temani dia jangan biarkan ia sendiri. Bantu calon istri Anda melewati ini semua. Saya akan memberikan obat penenang lagi jika dia mengalami histeris seperti tadi." Dokter Arman menepuk pelan bahu Galen, memberikan kekuatan dan dukungannya. kemudian berlalu meninggalkan ruang perawatan itu.
__ADS_1
Hatinya bagai di sayat-sayat mendengar ucapan Dokter Arman kepadanya. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu, melihat dan menyaksikan sendiri kondisi tubuh sang kekasih di dalam markas tadi.
Masih melekat dalam ingatannya, bagaimana tubuh kekasihnya dalam keadaan yang menyedihkan. Bahkan hampir tak berbusana.
"Aku akan mengejarmu kemanapun kamu bersembunyi berengsek," umpat Galen dalam hati dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Sayang, Maafkan Aku! andai saja aku tidak mengajakku bertemu sore tadi, andai saja aku bisa tahan untuk tidak bertemu denganmu, sampai hari pernikahan kita. Semua ini tidak akan terjadi." Galen memaki sendiri kebodohannya.
"Aline...," suara Bu Winda terdengar bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.
Tanpa memberikan sapaan, Bu Winda berjalan melewati Galen yang menoleh ke arahnya.
Ayah Zaki yang berjalan mengikuti Bu Winda berhenti di hadapan Galen.
Galen menyalami Ayah Zaki dengan takzim. Tak kuasa menahan sesak sendiri, Galen lekas memeluk Ayah dari Aline itu.
"Maaf... maaf, Yah!" hanya kata itu yang bisa Galen ucapkan saat ini.semua
Pundak Galen yang naik turun terasa oleh Ayah Zaki. Tangis Galen pecah dalam rengkuhan tubuh tegap seorang Ayah yang bijaksana.
Ya, awalnya Ayah Zaki juga berpikir. Kalau saja putrinya tidak pergi sore itu. Semua tidak akan seperti ini kejadiannya. Tapi Ayah Zaki tidak mau menyalahkan takdir hidup. Ia pasrah dengan jalan hidup yang memang harus seperti ini alurnya.
Tak perduli mau dibilang lelaki lemah atau apa di mata calon mertuanya. Galen tidak perduli. Galen tidak sanggup melihat kekasih yang sangat ia cintai mengalami kondisi mengenaskan dan ia menyaksikannya sendiri.
Meskipun ia tidak tahu apakah Ferdi, pria berengsek yang kini menjadi buronan polisi dan anak buahnya itu telah merenggut kehormatan Aline atau belum. Tapi Galen melihat bahan tipis berbentuk segitiga itu telah terlepas dari tubuh Aline.
"Sudahlah, Nak. Ikhlaskan kejadian ini! Ayah juga sakit mendengar kabar darimu. Apalagi Ayah melihat sendiri bagaimana kondisi putri Ayah saat ini." Ayah Zaki melepaskan pelukan mereka di sertai tepukan pelan untuk menguatkan Galen lalu menatap putrinya yang terlelap di brankar.
Terlihat Bu Winda terisak menahan tangis, tangannya membelai setiap inci wajah putrinya. Sesak semua terasa sesak, sakit, pilu dan sedih melihat kondisi Aline saat ini. Terbayang wajah bahagia Aline ketika mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pernikahannya.
Tak bisa dipungkiri, perasaan sedih yang teramat sakit juga dirasakan oleh Ayah Zaki. Hati Ayah mana yang tidak sakit mendengar kejadian pelecehan yang diterima putrinya.
Apalagi satu minggu lebih dua hari lagi mendekati acara pernikahan putrinya dengan Galen. Anak dari sahabatnya Tuan Wijaya itu akan segera dilaksanakan.
"Istirahatlah dulu, biar kami yang menggantikanmu, di sini! Ayah tau, kamu belum istirahat sama sekali. Obati dulu, luka di tanganmu, jangan lukai diri sendiri! Jadikan tangan itu kuat kembali untuk menggenggam kebahagiaan. Jika kamu masih mau menerima putri Ayah, dengan kondisinya saat ini." Ayah Zaki melewati Galen.
__ADS_1
Galen mendongakkan kepala menatap Ayah Zaki yang berlalu dari hadapannya. Kata-kata Ayah Zaki di akhir ucapannya membuat Galen menautkan kedua alisnya.
"Aldo, " panggilan Ayah Zaki. Ia tahu Aldo selalu berada di sekitar Galen. Asistennya qqitu pasti sedang menjaga jarak saat ini.
Tak lama Aldo memasuki ruang perawatan.
"Ya, Tuan." Aldo datang lalu sedikit menurunkan bahunya.
"Tolong ajak Galen beristirahat, panggilan suster untuk membantu mengobati luka di tangannya!" titah Ayah Zaki kepada asisten Galen.
Tangan kanan Galen memerah akibat meninju dinding beton tadi. Terdapat sedikit luka sobek di sana. Mungkin akibat hantaman tangannya karena mengamuk di markas si Ferdi brengksek itu.
Dengan membungkuk sopan kepada Ayah Zaki lalu berjalan beberapa langkah ke arah Galen mencoba berbicara pelan kepadanya. Akhirnya pria yang terlihat bermata sembab dengan wajah yang terlihat lelah itu menuruti ajakan asistenya.
Penyesalan yang begitu besar Galen rasakan saat ini. Tidak bisa melindungi orang yang sangat ia cintai. Ia telah lalai, lengah terhadap musuh yang ia tak sangka bisa menyerangnya seperti ini.
.
.
.
.
Bersambung >>>>
๐ญ๐ญ๐ญ Ko Author rada nyesek ya....
kasian banget sih Aline.
Gal, sini aku bisikin.. Tenang Galen, Aline masih suci ko. Kehormatannya masih terjaga utuh untuk dirimu. Tapi kamu harus berjuang dulu, untuk tau segalanya.
Semangat ya, jangan bersedih. Sini Author temenin. ๐
Eh... hari ini senin ya? yang punya Vote jangan lupa ya, beri dukungannya buat karya ini.. lope buat kalian yang semua ๐๐๐
__ADS_1