
Sandra segera melepas pelukanya. Canggung... Itu yang Sandra rasakan saat ini.
"Maaf!" Sandra tertunduk malu.
Kenapa perasaanku nyaman sekali berada dalam dekapannya. Sandaran baru yang aku rasakan. Sandra... Ingat siapa dirimu, jangan sampai kamu salah menjauh hatimu lagi.
Sandra mengingatkan pada diri sendiri. ia sedikit mendongak menatap Bara. Ternyata Bara tengah menatap tajam dirinya.
Bara meraih dagu Sandra. Ia melihat di sudut bibir wanita di hadapannya sedikit sobek.
"Apa ini juga ulahnya?" Bara mengelus sudut bibir itu dengan ibu jarinya.
Sandra hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya seraya menggigit bibir bawahnya membuat Bara ingin menyesap merasakan kenyalnya bibir Sandra.
Bara memiringkan wajahnya, menarik dagu Sandra agar semakin dekat.
Perlahan Sandra memejamkan mata. Seakan menyambut apa yang akan dilakukan Bara. Sandra merasakan ada yang menempel di bibirnya. Bara menekan tengkuk Sandra untuk memperdalam pangutanya.
Permainan bibir Bara semakin memanas Tangannya mengikuti naluri untuk menyelinap masuk ke dalam balutan kain maxmara itu. Perlahan tangannya naik ke daerah gunung kembar yang tanpa penutup. Remasan kecil Bara berikan pada salah satu gunung kembar itu.
"Eugh..." lengkuhan Sandra semakin membuat jiwa laki-lakinya meminta lebih.
"Arghh... " jerit Sandra saat Bara mengangkat tubuhnya. Ada rasa linu saat tangan kejar itu mengenai luka cambuk di tubuh Sandra.
Mereka sama sama dewasa. Tanpa meminta kepada Sandra, wanita itu pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bara membawa Sandra ke dalam kamarnya.
Diperlakukan lembut dan hati-hati membuat Sandra terhanyut oleh sentuhan yang Bara berikan.
Entah sejak kapan balutan kain yang menempel pada tubuh mereka berdua terlepas dan terlempar ke sembarang arah.
Malam ini Sandra mendapat sentuhan yang mampu membuat nya terbuai dan melayang. Bukan karena paksaan, tapi entah mengapa Sandra rela menyerahkan diri kepada Bara
Sebagai seorang laki-laki Bara juga punya titik kelemahan saat berhadapan dengan wanita cantik dan seksi di hadapannya.
Rasa empati dan ingin sekali melindungi adalah awal perasaannya kepada Sandra.
Malam ini menjadi malam yang bergelora untuk mereka berdua. Saling melengkapi dalam kesendirian. Dan saling melindungi karena ketidakberdayaan diri.
Pagi hari.
Kita melakukan ini tanpa cinta.
Hanya saling mengisi dan melengkapi di saat kesendirian.
__ADS_1
Terima kasih...
Sudah menjadi sandaran untuk ku walau hanya satu malam saja.
Andai kita dipertemukan dalam perasaan yang sama.
Sandra tersenyum getir setelah bergumam pelan. Ia menatap wajah Bara yang masih memejamkan matanya sambil mengulas sedikit senyum. Ia memberanikan diri membelai rahang Bara yang di penuhi bulu halus
Tidak bisa dipungkiri ia terhanyut dalam permainan yang Bara berikan kepadanya.
Setelah itu Sandra bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus gerak cepat pagi ini. Bu Sarah pasti sangat mengkhawatirkanya.
Seulas senyum terukir di wajah Bara. Ia terbangun saat wajahnya di sentuh oleh jemari Sandra. Pria itu sengaja memejamkan mata, mendengarkan ucapan pelan dari wanita yang semalam memberikan kepuasan untuknya.
Kita tidak akan tahu, kapan dan dengan siapa hati kita berlabuh, Sandra. Bila suatu saat nanti aku dan kamu dipertemukan dengan rasa yang sama, ku harap Tuhan mempermudahkannya.
Mereka saling mengisi kekosongan, saling meluapkan kegelisahan di hati. Meskipun hari ini semuanya akan berakhir.
Bara memilih kembali memejamkan matanya. Melanjutkan rasa kantuk yang menguasai diri.
Sandra sadar diri. Siapa dirinya, ia tidak mau salah kembali menempatkan hati. Usai membersihkan diri, Sandra melangkahkan kakinya menuju dapur yang ada di apartemen itu. Mencari apakah ada sesuatu yang bisa dimasak.
Sandra mendekati lemari pendingin yang ukurannya lebih tinggi dari dirinya.
Satu persatu bahan makanan diambilnya.
Sandra pun memasak makanan tersebut untuk mengisi perutnya yang lapar.
Wangi masakan membuat Bara terusik dari tidurnya. Aroma masakan itu membuat cacing di perut Bara meronta ingin di beri makan, memaksa mata yang masih tertutup rapat itu membuka kelopaknya.
Bara mengendus wangi masakan. "Perutku jadi lapar!" Bara segera terbangun. Tubuh yang hanya menggunakan boxer tanpa baju atasan itu berjalan keluar kamar menuju dapur.
Gleg...
Sandra menelan ludah saat melihat tubuh Bara. Dada yang dipenuhi bulu-bulu halus dan perut yang berbentuk seperti roti sobek terpampang di depan matanya. Sandra sangat senang menyentuh tubuh itu semalam.
Ia menggelengkan kepalanya mencoba kembali kepada kewarasan. Lekas Sandra meletakkan masakan terakhir yang ia masak.
Beberapa masakan sudah matang di atas meja makan. Kentang goreng, nageut dan sosis goreng. Hanya itu yang Sandra masak. Ia menambahkan saus, mayones dan kecap yang di tempatkan dj wadah yang berbeda. Bara langsung mendaratkan tubuhnya di depan meja cemilan yang biasa dia buat jika berada di apartemen nya itu.
"Ternyata kamu doyan ngemil makanan seperti ini? Maaf aku tidak ijin dulu sama yang punya tempat ini, perutku lapar. Mencari bahan makanan yang bisa di masak, hanya ini yang ada," ucap Sandra lalu menarik bangku yang ada di samping Bara. Mereka duduk berhadapan. Sandra langsung memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku suka masak makanan siap saji seperti ini saat bersantai saja," jawab Bara yang langsung mengambil kentang goreng kesukaannya. Ia colekkan ke saus dan mayones lalu melahapnya.
Rasa lapar juga sudah tidak bisa Sandra tahan.
__ADS_1
"Hoah... " Sandra membuka mulut sambil mengibaskan tangan didepannya. Nageut yang ia makan masih panas sehingga lidahnya terasa panas karena tidak sabar ingin segera melahapnya.
"Hati-hati..." Bara memberikan air minum kepada Sandra.
Gluk... Gluk....
Sandra minum air yang diberikan oleh Bara.
"Terima kasih," ucapnya.
"Bukankah hari ini kamu mau mengantar ibumu ke rumah sakit?" tanya Bara sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
Sandra mengangguk pelan. "Makanya setelah ini aku mau langsung pulang... Tapi... Tolong bantu aku keluar dari gedung ini, aku takut Tuan Burns akan menangkapku!" ucap Sandra dengan wajah memohon. Tubuhnya sedikit codong ke depan sehingga gunung kembar miliknya sedikit menyembul membuat Bara menelan ludahnya kasar seiring ia menelan makanan di mulutnya
'Kenapa tubuhnya sangat menggoda.
Apalagi saat memakai kemejaku yang kebesaran di badannya.
Arghh... Rasanya aku ingin sekali mengulang pergulatan panas kami semalam'
Batin Bara seraya menelan makanan yang ada di mulutnya. Pria itu hanya bisa menganggukan kepalanya saja.
"Aku mandi dulu, setelah itu ku antar kamu pulang." Bara segera berdiri tanpa menatap wajah Sandra.
"Satu lagi...," cetus Sandra membuat Bara menghentikan langkahnya.
"Apa tidak ada pakaian yang pas denganku. Bagaimana aku kelaur kalau pakaian yang ku pakai seperti ini." Sandra berdiri menunjukkan badannya yang hanya berbalut kemeja putih polos milik Bara.
"Ya, aku carikan yang lebih kecil lagi." Bara kembali berbalik meninggalkan Sandra.
"Kenapa dia menunjukan tubuhnya lagi, tidak tahu kah dia berapa aku ingin sekali menyentuhnya," gerutu Bara sambil melangkahkan kaki ke kamar.
Sandra menatap kepergian Bara dengan raut wajah kecewa.
"Dia sama sekali tidak menyinggung kejadian semalam, apa memang ini terbiasa untuknya. Heeh... Sandra berharap apa kamu ini, memang kamu sama seperti lacur 'kan? Memberikan tubuhmu untuk sebuah bayaran. Anggap saja seperti itu," gumam Sandra dengan suara pelan.
Wanita itu tersenyum miris berharap Bara akan membahas kejadian semalam.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya.
__ADS_1