Fake Love

Fake Love
Tidur Dengan Ayah Mertua


__ADS_3

Melewati malam ini bersama ayah mertua tidak begitu buruk bagi Galen. Obrolan malam itu membuatnya mengerti sebagai seorang suami. Banyak nasehat dan obrolan sekitar kegiatan laki-laki. Baru kali ini ia berbicara santai dengan mertuanya. Ternyata Beliau asik di ajak bertukar pikiran. Jarang bahkan tak pernah Galen melakukan itu dengan Papanya.


Obrolan mereka seperti kepada sahabat. Ayah Zaki tidak membatasi dirinya sebagai mertua. Tapi di sela ucapannya ada pula sedikit ancaman untuk Galen. Mengingat masa lalu Papanya kepada Almarhumah Mamanya yang berkhianat kepada Indira meski itu ketidaksengajaan.


"Kamu akan Ayah habisi kalau perlu Ayah cincang biar jadi soto sekalian. kalau berani menyakiti putri Ayah," ancam Ayah Zaki di sela obrolannya.


Galen bergidik ngeri mendengar ancaman mertuanya. Sungguh tak berani, Jangankan mengkhianati, menggoda wanita lain pun tak kan berani dia.


"Tidak akan pernah, Yah! Saya akan setia sama putri Ayah!" ucapnya kemudian.


Obrolan masih terus berlanjut sampai tengah Malam seperti seorang teman Ayah Zaki memberitahu cara mengatasi keinginan dan meredam hasrat. Itupun sambil berbisisk, takut tiba-tiba Istrinya keluar menyusulnya.


"Kamu pasti bakalan paham nanti, buat sekarang sabar-sabarin dulu aja si benjhon mu." bisik Ayah Zaki.


Galen tersenyum geli mendengarnya. Ia hanya mengangguk pelan menanggapinya. Ternyata Ayah Zaki gesrek juga kalau di ajak bicara begituan.


"Hoaaammm," Ayah Zaki menguap lebar. Ternyata jam menunjukkan melewati tengah malam. "Loh, tumben si Ibu gak nyusul Ayah ke sini? biasanya dia pasti nyari-nyari. Apa mereka tidur di kamar?"


Galen mengangkat bahu. Ayah Zaki akhirnya mengajak Galen masuk ke dalam rumah. "Ayo masuk, kalian penganti baru harusnya berdua sayang-sayangan meskipun gak bisa gelap celup," celetuk Ayah Zaki.


Lagi-lagi Galen tersentak mendengar celotehan sang mertua, kemudian menggelengkan kepalanya. Apa karena waktu sudah lewat tengah malam sampai mertuanya berceloteh tak karuan, apa karena malam ini ia tidak mendapat jatah ehem ehem dari Bu Winda lantaran ibu mertua sedang menemani Aline di kamar.


Galen dan Ayah Zaki berpisah masuk ke kamarnya masing-masing. Ayah Zaki langsung berbelok sebelum arah tangga, sedangkan Galen melewati kamar sang mertua, ia juga harus menaiki tangga menuju kamarnya. Padahal ia sudah tak sanggup berjalan. Matanya sudah berat ingin di pejamkan.


"Kemana Ibu? Apa masih di kamar Aline?" gumam Ayah Zaki saat tak melihat keberadaan istrinya di kamar.


Ayah Zaki pun kembali keluar kamar memanggil Galen yang hampir sampai di ujung tangga atas.


"Gal ...," panggil Ayah Zaki pelan, Galen pun menoleh ke arah bawah.


"Ya ... Kenapa, Yah?"


"Tolong kamu lihat di dalam kamarmu apa masih ada Ibu di dalam!" Titah Ayah Zaki.


Galen mengangguk pelan lalu meneruskan langkahnya. Perlahan ia membuka pintu kamar, dengan sangat hati-hati agar kedatangannya tidak mengganggu orang yang ada di dalamnya.


Dua orang wanita berbeda usia berada di tempat tidur yang sama. Ya, kedua wanita itu terlihat terlelap. Terutama Istinya, Aline. Tubuhnya yang sudah tertutup selimut tidur dengan damai. Elusan halus dari Bu Winda yang terus berulang-ulang meski matanya sudah tertutup itu membuat kenyamanan tersendiri untuk Aline.


Galen kembali keluar kamar, tidak tega rasanya harus membangunkan ibu mertuanya. Malam ini ia tidak bisa tidur sambil mendekap istrinya, padahal ia sudah membayangkannya. Meski hanya berpelukan tanpa melakukan apapun sudah membuatnya merasa terobati.


Kali ini ia harus mengalah lagi, lebih banyak bersabar. Banyak orang yang mengatakan sabar lah dengan bersabar kelak keindahan akan kita tuai. Galen sangat menantikan hal itu.


Galen menuruni anak tangga, kembali berbaur dengan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Apa mereka sudah tidur?" tanya Ayah Zaki.


Galen mendaratkan tubuhnya di sofa santai di ruang keluarga. Sofa yang bisa di tarik bagian tempat duduknya sehingga bisa jadi kasur agar lebih leluasa tiduran di ruang keluarga


"Sudah, Yah!" Jawab Galen lesu karena tak bisa bersama sang istri. Dua malam sudah ia bergadang tak jelas. Tidak seperti pengantin baru yang lain.


"Biarkan Aline tidur dengan ibu nya malam ini! Ayah tau pasti ia sedang merasa bersalah." Galen menoleh cepat kepada Ayah Zaki.


"Merasa bersalah? maksudnya?" tanya Galen bingung.


"Putri Ayah pasti akan minta di temani oleh ibunya, saat ia merasa bersalah atau telah melakukan sesuatu yang menurutnya membuat orang lain tersinggung atau tersakiti. Dari dulu perasaan tidak percaya dirinya pasti selalu ada," ungkap Ayah Zaki. "Apa dia membuatmu marah dan kecewa?" lanjut Ayah Zaki bertanya.


Galen sedikit berpikir mengingat kegiatannya seharian bersama Aline. Kemudian menggeleng pelan. "Tidak ada, Yah! Tapi ada beberapa sih kejadian yang membuat jengkel sampai Aline dan aku sama sama terdiam lama. Ya, sampai memutuskan menginap di sini!" papar Galen.


Ayah Zaki menganggukkan kepalanya mencoba memahami putri dan menantunya.


"Mungkin Aline masih merasa bersalah karena belum bisa menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia masih merasa insecure pada dirinya sendiir. Di tambah saat ini ia sedang berhalangan."


Galen mengaruk rambutnya yang tidak gatal. Rasanya malu harus membicarakan ini dengan mertuanya.


Waktu terus berputar. Ayah Zaki merubah sofa yang mereka duduki menjadi sofa kasur yang bisa di tiduri. Mereka berdua menonton serial drama kungfu mafia di televisi digital yang ukurannya lebar itu.


Kalau saja bukan tengah malam, pasti akan seru menontonya karena menggunakan Home teater system. Akan sama rasanya dengan di bioskop, pikir Galen.


Mata yang makin berat dan mulut yang terus menguap membuat Galen semakin tidak tahan untuk terpejam. Ia lirik mertuanya yang berasa di sampingnya. Ternyata Ayah Zaki sudah lebih dulu memejamkan matanya.


Lekas ia mematikan tombol merah pada remot televisi, Galen pun ikut menyusul ayah mertua ke alam mimpi.


***


"Mas ... Mas Galen," Aline dengan lembut dan pelan membangunkan suaminya yang terlelap.


"Hm... "


"Mas ... Bangun, pindah ke kamar, ya?"


Galen sangat berat untuk membuka mata. pasalnya ia baru saja tertidur satu jam yang lalu, usai solat subuh bersama Ayah Zaki, Galen kembali tertidur di sofa.


Dengan perlahan membuka kelopak matanya, Galen menatap wajah sang istri yang tepat di hadapannya.


"Pagi, Sayang!" sapa Galen kemudian hendak tertidur lagi.


"E-eh, Mas bangun! Pindah ke kamar, gak enak sama Bi Kesih mau bersih-bersih. Aline menepuk pipi suaminya agar kembali terjaga.

__ADS_1


"Ngantuk banget, Yang!" Galen memaksakan dirinya untuk duduk. Ia melirik ke belakang. Melihat Ayah Zaki yang tidak ada bersamanya di sofa kasur itu membuat matanya membulat seketika. "Ayah, mana, Yang?" tanya nya pada Aline yang terlihat mengambil bantal sofa hendak merapikanya.


"Barusan Ayah pergi ke kedai soto, Mas!"


"Tidak tidur lagi?"


Aline menggeleng cepat. "Ayah tidak terbiasa tidur lagi sehabis solat subuh."


Mendengar ucapan Aline membuat Galen merasa malu kepada mertuanya. Ia malah kembali tertidur selepas solat subuh berjamaah dengan Ayah dan ibu mertuanya beserta Bi Kesih. Karena Aline sedang datang bulan jadi tidak ikut solat berjamaah. Sungguh tingkah yang kurang baik ia tunjukkan saat itu.


Tak ada keberadaan Zainab di sana. Pagi hari kemarin, Janda berlesung pipi itu pamit pulang ke Cianjur. Di antar Ayah Zaki sampai ke terminal.


"Aku jadi tidak enak sama Ayah, Yang!" Ucap Galen lekas berdiri lalu membantu Aline merapikan sofa kasur. Mengembalikannya ke posisi semula menjadi sofa duduk.


Setelah soda rapi, Aline menyuruh Galen untuk melanjutkan tidurnya di kamar.


"Mas ... Kalau masih ngantuk lanjutin lagi aja tidurnya di kamar. Aku mau bantu siapin makanan dulu," ucap Aline sambil mendekati Galen. Di sentuhnya pipi suaminya yang masih menunjukkan muka lelahnya.


Di raihnya tangan yang membelai pipinya itu. Ia tarik ke arah bibirnya menciumnya pelan. "Aku ke atas, ya!" Aline tersenyum seraya mengangguk.


"Maaf ya, Mas! Kamu haris tidur di sini dengan Ayah. Semalam aku dan ibu--," ucapan Aline terhenti saat telunjuk Galen menempel di bibirnya.


"Suutttt, Gak pa-pa. Aku jadi bisa bertukar pikiran dengan ayah, banyak nasehat yang ia berikan termasuk cara mencari jalan menuju Roma."


Aline mengerutkan alis mendengar ucapan Galen. Suaminya tau Aline pasti tidak mengerti apa yang ia ucapkan.


"Cara lain agar aku melewati hasrat tertunda tanpa--," Aline langsung mencubit perut Galen, mendengar kata hasrat membuat Walah Aline merona.


"Mas ... Mesum!"


Galen tergelak tawa. Ia berbalik meninggalkan Aline berjalan menaiki tangga menuju kamar. Rasa kantuk kembali menyerang.


"Kalau Mas mau mandi, pakaiannya sudah aku siapkan di atas," ucap Aline sedikit keras agar Galen mendengar.


"Nanti saja, mandinya. Mau di mandiin sama kamu," goda Galen membuat Aline membulatkan matanya.


"Mas ...."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2