
"Aku gak pa-pa, Yank! hanya sedikit pusing aja," ucap Galen sambil membuka kedua matanya.
"Pram tolong pesankan air putih hangat untuk Galen," ucap Aline seraya menatap Pram.
"Siap, Mbak!" Pram dengan cepat berdiri lalu berjalan menuju tempat pemesanan makanan.
"Sebentar, Pram lagi pesan air putih untukmu! apa kita ke rumah sakit, Gal?" tanya Aline masih dengan nada khawatir.
Galen tersenyum mendapat perhatian dari calon istrinya itu. Dia menarik kursi agar Aline duduk di sebelahnya.
"Duduk dulu, Yank!" titah Galen seraya menepuk kursi.
Aline menuruti perintah Galen. Ia duduk di kursi itu. Tak lama Pram datang dengan segelas air hangat di tangannya kemudian menyerahkannya kepada Galen.
"Minum dulu, Bang!"
"Terima kasih." Galen malah mendekatkan gelas berisi air putih itu kepada Aline.
"Yank, minum dulu! Kamu kelihatan cemas sekali."
Dahi Aline mengkerut, Ia heran kenapa malah dirinya yang di beri minum, padahal ia meminta Pram memgambilkan air itu untuk Galen.
"Loh, kenapa malah aku yang ..." Galen menempelkan gelas itu ke bibir Aline memaksa lembut agar gadis itu meminumnya perlahan.
"Pelan-pelan, Yang!"
Setelah dirasa cukup, Aline mendorong gelas tersebut menyudahinya.
Air yang ada di gelas tersebut masih tersisa setengahnya, lantas Galen menghabiskan sisa air minum itu.
Pram yang melihat tingkah Galen menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Galen seraya mendongakkan kepalanya kepada Pram.
"Lu, bikin cemas orang aja, Bang! Lah yang di cemasin malah biasa aja," ucap Pram heran.
"Saya lebih cemas sama calon istri saya, wajahnya terlihat panik."
"Itu karena Aku cemas sama kamu Gal. Aku takut kamu kenapa napa," sahut Aline.
"Aku akan baik-baik saja kalau ada kamu, Yank!" Galen mengelus pelan pipi putih Aline.
"Beneran, gak pa-pa?" Aline masih merasa tidak yakin.
Galen mengangguk sambil tersenyum lembut. "Aku sudah merasa baikkan. Percaya deh!"
__ADS_1
"Jangan pernah membuat aku khawatir, Gal. Aku gak mau terjadi sesuatu lagi sama kamu!" ucap Aline sendu.
Rasa cemas dan khawatir Aline rasakan. Gadis itu tidak mau hal buruk terjadi lagi kepada Galen. Cukup rasanya perpisahan yang berjarak memisahkan mereka. Karena Aline merasa bersama Galen dirinya di cintai dengan tulus. Rasa cinta dan sayang yang baru ia rasakan selama ini.
Galen meraih tangan Aline lalu menciumnya, perlakuan hangat kembali Galen tunjukan kepada gadis itu. Membuat Aline merasa tenang.
Pram memutar bola mata malas melihat sikap bucin Galen. Sedangkan Wendi begitu terbengong melihatnya.
"Wah, kapan ya, gue punya pacar? biar gue bisa mesra-mesraan begitu" Wendi samapi tak berkedip melihat Aline dan Galen yang saling melempar senyum.
Lamunan nya harus buyar karena kibasan tangan Pram di hadapannya.
"Woi ... ngelamunin apa lu? jangan Diliatin orang bucin, ntr kepengen berabe dah!" sungut Pram.
"Ah, lu ngerusak lamunan gue aja, Pram!" kesal Wendi langsung meneguk cola drink miliknya.
Melihat kekonyolan Pram dan Wendi, Galen seakan tak percaya ia berteman dengan kedua orang somplak itu.
"Yang, apa benar aku berteman dengan mereka? rasanya melihat tingkahnya, rasanya tidak mungkin!" tanya Galen kepada Aline dengan berbisik.
"Menurut ku sih, iya! mungkin saja jahilnya kamu sama aku menular dari mereka," sindir Aline membuat pria yang tengah menggenggam erat tangannya itu memanyunkan bibirnya.
Lantunan musik terdengar tepat di samping alun-alun. Satu persatu pengunjung yang sedang berjalan menghentikan langkah mereka. Mereka berkumpul di satu tempat itu.
Saat penyanyi tersebut menyanyikan reff lagi tersebut. Pengunjung wanita pun bersorak dan bertepuk tangan.
Ketika bagian reff kembali di nyanyikan Aline menarik Galen agar itu melihat pertunjukan seni musik itu.
"Yang! ke sana yuk!" Aline berdiri seraya menarik tangan Galen.
"Kemana?" tanya Galen ikut berdiri.
"Ke sana, lihat pentas musik," tunjuk Aline ke arah para pengunjung yang semakin banyak berkumpul.
"Tunggu, Yang!" Galen melepas tangannya dari Aline lalu merogoh kantong belakang untuk uang di dompet miliknya. Ia mengeluarkan dua lembar uang berwarna pink dengan gambar dua pahlawan yang sedang tersenyum.
"Kalian ikut! tapi bayar dulu semuanya! Awas kalau kalian tidak menyusul," titah Galen pada Pram dan Wendi dengan tatapan tajamnya lalu berjalan mengikuti langkah Aline.
Pram mengacak rambutnya sendiri, merasa jengkel harus mengikuti orang pacaran.
"Ya ampun, sue banget nasib kita, Wen! harus ngintilin orang pacaran." Pram mengangkat satu tangannya, memanggil pelayan untuk membayar minuman dan cemilan yang sudah mereka makan di restoran itu.
Uang itu diletakkan di hadapan Pram.
"Makanya kita harus cepet dapetin pacar, Pram! biar bisa ngerasain kaya Bang Galen." celetuk Wendi.
__ADS_1
Pram menoyor lagi kepala Wendi. "Lu dari tadi mikir pacar mulu, kerja dulu yang bener baru nyari pacar!" ucap Pram seraya berdiri menuju tempat kasir.
Wendi mengelus kepalanya pelan.
"Doyan banget sih lu, noyorin kepala gue, Pram. Udah di fitrahin nih!" ucap Wendi
"Dih, emang lebaran!" cebik Pram kemudian melanjutkan langkahnya menuju kasir.
"Tunggu sebentar ya, Mas masih ada kembaliannya," ucap petugas kasir setelah Pram menyodorkan uang dan bill nya.
"Ambil aja kembaliannya, Neng! itung-itung upah mencet-mencet tuh kalkulator dari pagi." ledek Pram kepada petugas kasir wanita yang terlihat masih muda dan cantik.
"Makasih, Mas!" ucap petugas kasir itu dengan senyum manisnya.
"Sama-sama, Neng geulis! Boleh saya minta nomer hape nya, tulis aja di belakang itu bill," goda Pram dengan rayuan gombalnya.
Petugas kasir itu tersenyum kembali, ia menuliskan beberapa angka di belakang bill yang tadi Pram unjukan padanya. Lalu mengembalikan bill itu kepada Pram.
"Ini, Mas!"
"Nomer cantik kaya yang punya nomernya," goda Pram lagi membuat gadis si petugas kasir itu merona mendapat rayuan gombal Pram.
"Lumayan ada jalan buat dapetin pacar," batin Pram dengan senyum tipis di bibirnya.
Wendi yang memperhatikan Pram dengan jarak yang tak begitu jauh dengan tempat kasir mencebik kepada Pram saat pria itu berjalan mendekat ke arah Wendi.
"Basa basi loh bisa banget, Pram! Kerja dulu yang bener, baru nyari pacar...! ngomong lu tuh sama ember," cebik Wendi membuat Pram terkekeh mendengarnya..
"Selagi ada jalan apa salahnya di barengi usaha, Wen." Pram berjalan meninggalkannya di belakang. Mereka hendak menyusul Galen dan Aline
.
.
.
.
๐๐๐ **Usaha terus Pram... jangan kalah sama Galen, nyari pacar mumpung masih muda, asal jangan ajak pacar jalan makan angin aja... ada kali buat beli cilok cilok acan mah. ๐คฃ๐คฃ
promo lagi gaes... jangan lupa mampir ye**..
Bersambung>>>>
__ADS_1