
“Beruntung Anda cepat membawanya ke rumah sakit kalau tidak dia akan kehilangan bayinya,” ucap dokter wanita yang memeriksa keadaan Sandra.
“Istri Anda mengalami dehidrasi! Tubuhnya menjadi lemas dan tak bertenaga akibat asupan makanan yang kurang. Tekanan darahnya juga rendah. Apakah istri Anda mengalami mual muntah dan tidak nafsu makan?” Dokter kembali bertanya, tapi Bara bingung untuk menjawabnya. Sebab ia tidak tahu apa yang dialami Sandra selama ini.
Ucapan dokter benar-benar membuatnya tergampar. Bara hanya diam memperhatikan kegiatan dokter yang tengah memeriksa Sandra.
Usai Sandra mendapat penanganan dari dokter dan diberi vitamin melalui cairan infus, Bara diajak oleh dokter agar ikut berbicara dengannya sebentar.
“Ingat Pak Bara, dehidrasi selama masa kehamilan itu sangat berbahaya, loh! Idealnya, cairan yang masuk dan keluar dari tubuh harus selalu seimbang, terutama saat sedang hamil. Jangan biarkan ibu hamil mengalami stress. Itu akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang janin.” Dokter kembali menjelaskan.
“Untuk saat ini apa terjadi sesuatu yang buruk padanya Dok?”
Dokter wanita itu menggeleng pelan.
“Untuk saat ini biarkan istri Anda beristirahat dulu di sini! Dia hanya kelelahan dan dehidrasi saja. Saya sudah suntikkan vitamin agar tubuhnya kembali bertenaga. Tapi saya tekankan sekali lagi, Pak. Usia kandungan Bu Sandra masih sangat muda jangan biarkan ia kelelahan dan banyak pikiran. Makan makanan bergizi, perbanyak minum air putih dan susu kehamilan. Serta jangan lupa vitaminnya diminum!” ujar dokter itu.
“Baik, Dok! Saya akan lakukan apa yang dokter sarankan!” balas Bara.
“Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya periksa hari ini. Kalau istri Anda sudah sadar bisa panggil saya kembali!” Dokter wanita itu berlalu meninggalkan ruangan. Meninggalkan Bara dan Sandra berdua saja di sana.
Sepeninggal dokter, Bara duduk di samping brankar. Menggenggam erat jemari Sandra. Telapak tangannya masih terasa dingin.
Bara mengangkat jemari Sandra lalu menempelkan di pipinya agar rasa hangat tersalurkan pada wanita itu.
“Bangun, Sand! Maafkan aku ... Kita perbaiki semuanya, Maaf sudah menambah derita pada hidupmu. Bangunlah! Aku janji akan membuatmu bahagia. Kita menikah, kita besarkan bayi ini sama-sama.” Bara mengecup telapak tangan Sandra kemudian dia sesaat.
“Kamu tahu, semenjak malam itu, hatiku telah berlabuh padamu. Aku sangat berharap kamu pun mempunyai perasaan yang sama denganku!” lanjutnya dengan gumaman saja.
Belum ada perkembangan dari Sandra. Wanita itu benar-benar seperti orang tertidur.
Satu tangan Bara bertumpu pada jemari Sandra yang menempel di pipinya. Satu tangannya mengelus pipi Sandra pelan.
Pipi yang sedikit tirus. Bara menyadari itu. Begitu menderitakah dia selama ini, sampai tubuh dan pipinya terlihat sedikit kurus.
Sentuhan dari Bara membuat Sandra membuka mata perlahan. Dan yang pertama ia lihat adalah wajah Bara yang sedang memejamkan matanya. Ingin bersuara tapi lekas ia tahan saat melihat Bara meneteskan air mata. Sambil meresapi rasa dingin dari telapak tangannya.
Sandra tidak menyangka pria yang ada di hadapannya itu menereskan air mata. Pria itu menangis tanpa bersuara.
“Bangunlah! Aku mencintaimu, Sandra. Maafkan keacuhanku padamu!” ucap Bara yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bara. Bibir yang tadinya ingin berucap berubah kelu, tidak percaya ternyata Bara mempunyai perasaan yang sama kepadanya. Sama halnya seperti Bara. Sandra tidak bisa menahan rasa bahagia yang tiba-tiba melanda. Setetes air mata juga jatuh di pipinya.
Bara menyadari saat telapak tanganya merasakan cairan yang membasari jemarinya.
Pria itu lekas mendongak menatap Sandra yang sedang memandangnya sambil menangis.
“Kamu sudah sadar!” Bara lekas mengelap air mata di pipinya. Ia tersenyum malu pada Sandra.
“Maaf, Aku tadi---,” ucapanya terpotong begitu saja karena Sandra melontarkan pertanyaan kepadanya.
“Apa yang kamu ucapkan barusan, itu tulus dari hatimu?” tanya Sandra dan mendapat anggukan cepat dari Bara.
“Ya, itu benar! Semua terucap tulus dari hati ini. Kamu tahu, satu minggu setelah wafatnya ibumu, aku kembali mencarimu. Tapi tidak menemukanmu, tetanggamu bilang kamu ikut dengan Pak Budi tapi mereka tidak tahu alamatnya. Mereka hanya tau tujuan kepergian kalian. Bandung, bukanlah kota sempit yang gampang mencari seseorang di sana.” Bara menghentikan ucapannya saat Sandra berusaha bangun untuk duduk, dengan sigap pria itu membantunya. Menaruh bantal di belakangan kepala agar Sandra bisa bersandar.
Wajah wanita itu masih terlihat pucat pasi.
“Terima kasih,” ucap Sandra singkat.
Bara memastikan agar wanita itu merasa nyaman dengan posisinya.
“Minum dulu!” Bara menyodorkan air putih kepada Sandra. Tidak ada penolakan darinya.
Sandra terdiam seraya memperhatikan wajah Bara yang begitu mengkhawatirkan nya. Air matanya kembali jatuh.
“Kenapa? Apa aku menyakitimu lagi, apa perkataanku salah? Aku tidak mau salah menduga dan salah paham lagi. Katakan jika apa yang aku lakukan salah dan membuatmu tidak suka. Aku bukan tipe pria yang bisa mengerti tanpa di beritahu.” Sederet ucapan Bara berikan ketika melihat Sandra meneteskan air mata.
Kedua tangan Bara menangkup wajahnya, mengusap pelan air mata itu.
“Katakanlah, jangan ada yang kamu sembunyikan lagi dariku.”
“Aku berasa sedang bermimpi!” ungkap Sandra.
“Kamu tidak bermimpi, Aku janji akan menikahimu secepatnya.” Bara menarik Sandra dalam pelukannya.
Haru, bahagia memenuhi ruangan itu. Tangis bahagia pun kembali terjadi. Sandra menangis bahagia dalam pelukan Bara.
“Aku takut kamu meninggalkanku!” ucap Sandra pelan di sela pelukannya.
Perlahan Bara melepas pelukan, menatap Sandra yang tertunduk.
__ADS_1
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Sebab kamu tidak pernah datang padahal kamu berjanji akan menemaniku. Saat itu pula aku merasa memang kita bukan siapa-siapa dan malam itu tak ada artinya bagimu.”
Bara menggelengkan kepalanya. “Kamu salah. Selama kepergianmu, aku harus berjuang menahan rasa ingin mencarimu. Peresmian perusahaan yang baru aku bangun menjadi kendalanya. Aku berniat untuk mencarimu setelah perusahaan ku beroperasi. Tapi ternyata pertemuan waktu itu malah membuat kita salah paham. Mendengar kamu hamil apalagi di ada pria yang memberi perhatian lebih padamu membuat aku berpikir negatif. Tapi semua telah berlalu, aku bahagia saat ini. Kamu tidak perlu takut, aku janji setelah ini kita kembali ke Jakarta. Hiduplah bersamaku.” Bara meraih tangan Sandra kembali mendaratkan ciuman di punggung tangannya itu.
Seulas senyum mengembang di wajah Sandra. Merasa bahagia, lekas ia menghamburkan diri lagi dalam pelukan Bara. Mereka saling memeluk erat.
“Ke depannya ungkapkan apa yang ada di hatimu dan yang kamu inginkan, karena aku bukanlah tipe pria yang peka terhadap keinginan wanita. Aku harap kamu mulai memahami sikapku. Kita akan memulai dari awal, belajar mengerti dan saling memahami. Sebab kita memang tidak dekat sebelumnya. Malam itu adalah malam indah yang meninggalkan sejuta kenangan untukku,” ucap Bara di sela pelukannya.
“Begitu juga denganku!” Sandra menimpali.
Bara dan Sandra saling melempar senyum.
“Panggil aku, Mas atau---“
“Atau apa?” tanya Sandra.
“Ayang ... Bebs,” Sandra menggelengkan kepala menolaknya.
“Aku panggil Mas saja, ya? Mas Bara!” ucap Sandra pelan sambil tertunduk malu.
Bara tersenyum melihatnya.
Merasa bersyukur kesalahpahaman telah berakhir. Ia mulai berpikir untuk secepatnya kembali ke Jakarta agar dapat menikahi Sandra di sana.
Memberitahu Papa Wijaya dan Ayah Wira sebelumnya. Tidak lupa ia akan berbicara dengan Mama Mariska meskipun penolakan dari wanita itu pasti ada. Tapi Bara tidak peduli. Ia ingin bertanggungjawab atas apa yang telah ia perbuat. Dan membina rumah tangga sesuai harapannya.
.
.
.
.
...Bersambung...
Like... komen.... gift dan tinggalkan bintang untuk karya ini..
__ADS_1
Terima ksih untuk kalian yang masih setia membaca karya ku.😍😘😘