
Derap langkah terdengar pada lantai marmer yang di jadikan teras oleh Ayah Zaki di belakang warung soto miliknya.
"Saya kira Anda tidak akan sudi menjejakkan kaki di tempat kecil ini, Tuan!" sindir Ayah Zaki tanpa menoleh ke arah sosok yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Apakah ini sambutan untuk seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Sungguh tidak sopan sikapmu terhadap tamu!" seru Tuan Wijaya dingin.
Di balik tembok, Bu Winda terlihat ketar ketir melihat suaminya dan sahabat lamanya yang ia tahu masih berselisih paham itu dalam satu tempat dan saling beradu omongan. Ia takut terjadi perkelahian antara keduanya.
"Win, sedang apa?" tanya Jainab sontak membuatnya terkaget.
"Astagfirullahaladzim ... kamu itu ngagetin aja!" Bu Winda mengelus dadanya.
"Lagian kenapa harus ngintip begitu? biasanya juga langsung nyamperin!" ujar Jainab.
"Suttt." Bu Winda menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Menginstruksikan agar Jainab mengecilkan suaranya.
"Ada apa sih?" Jainab ikut mengintip dari balik pintu. Penasaran ada apa sebenarnya di teras belakang.
"Jangan berisik, kita liatin dari sini aja, tapi jangan banyak bicara, perhatiin baik-baik takutnya mereka berantem jadi kita bisa siap-siap buat misahin!" ucap Bu Winda serius tapi Jainab malah mengerutkan alis tak mengerti maksudnya apa.
__ADS_1
"Ah, Aku ke depan aja bantuin kasir. Gak ngerti juga di sini masalahnya apa!" ujar Jainab seraya meninggalkan Bu Winda yang saat ini menjadi pengintai untuk suaminya sendiri.
Terlihat ketegangan diantara Ayah Zaki dan Tuan Wijaya. Lama mereka terdiam, entah harus dari mana memulai permasalahannya. Tuan Wijaya jadi pendiam seperti ini.
"Untuk apa Anda berdiam diri seperti mengintai tempat usahaku? apa Anda ingin menghancurkannya seperti Anda menyengsarakan hidupku, dulu!" Ayah Zaki membuka suara ketus memecah keheningan.
"Maafkan Saya, Zak! tolong jangan bersikap seperti kita bukan siapa-siapa!" sahut Tuan Wijaya.
"Bukankah antara kita memang bukan siapa-siapa lagi! itu 'kan yang Anda ucapkan kepada Saya. Apa Anda lupa perkataan yang Anda ucapkan sendiri!" Ayah Zaki kembalikan badannya. Saat ini mereka saling berhadapan.
Suasana makin panas, merela berdua kembali saling diam.
Mereka berbicara tanpa saling tatap. Tatapan keduanya ditujukan ke sembarang arah, tapi pendengaran terfokus kepada lawan bicara.
"Ya, dan kamu lebih memilih wanita yang sudah memperkeruh keadaan salah paham kita saat itu. Aku benar-benar tak mengenalimu, Wijaya," sahut Ayah Zaki. Ia memilih diam dan mencoba menahan emosi agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
"Itu karena terpaksa. Keadaan membuatku harus menerimanya. Dan itu karena kebodohanku selanjutnya. Kamu tau, Zak!Beberapa bulan sebelumnya, Aku memang sudah merasa kesal terhadap kamu dan Indira," ucap Tuan Wijaya sontak membuat Ayah Zaki mendelik ke arahnya mendengar pengakuan Tuan Wijaya kemudian fokus mendengarkan dulu ungkapan hati dari sahabatnya itu.
"Aku selalu mendapat foto kalian saat perjalanan bisnisku antar negara waktu itu. Keceriaan Indira saat bersamamu. Kesiagaan kamu terhadap semua keinginan Indira, sampai tak mengenal waktu. Saat itu juga Aku mendapat berita kalau saja anak yang Indira kandung adalah anakmu. Aku semakin murka mendengarnya. Awalnya semua pikiran negatif itu ku abaikan. Tetapi kepulanganku saat itu sangat tepat ketika tanganmu menyentuh kandungan Indira yang sudah membuncit. Aku merasa marah, iri, kecewa semua menjadi satu. Sampai akhirnya aku termakan berita tak benar itu. Dan terjadilah kesalahpahaman diantara kita.
__ADS_1
Ayah Zaki mengepalkan tangannya. Ingin rasanya membalas pukulan yang dulu ia rasakan saat mendengar pengakuan Tuan Wijaya. Tetapi ia mencoba bersabar, ia kenal betul Wijaya, pasti masih banyak ungkapan yang akan ia sampaikan. Ayah Zaki mencoba untuk bersabar.
"Kebodohan terbesarku adalah tidur bersama Mariska di saat Aku mabuk setelah bertengkar hebat dengan Indira, Zak!
Keesokan paginya, Indira melihat itu semua. Dia begitu kecewa padaku, Zak.Karena hal itu membuat Indira harus berakhir di rumah sakit." Tuan Wijaya memukul dadanya sendiri, seakan dada itu sesak dan sulit bernapas.
"Dan kamu tahu, betapa tak berguna nya Aku sebagai seorang suami, saat baru mengetahui Istriku mengalami preeklamsia di saat terakhir hidupnya. Indira benar harusnya Aku bersyukur ada kamu yang menemainya, membantunya menyediakan sesuatu saat masa ngidamnya. Sampai Galen harus lahir sebelum waktunya. Bayi mungil itu harus kehilangan mamanya sejak lahir. Dan bodohnya, Aku sempat melakukan tes DNA agar meyakinkan bahwa dia anakku," ungkap Tuan Wijaya sedih dan menyayat hati.
Ayah Zaki yang mendengarnya tidak tega tapi hatinya begktu kesal saat mendengar Tuan Wijaya masih tak percaya dengan bayi yang baru saja di lahirkan Indira.
Dengan tangan mengepal Ayah Zaki mendekati Tuan Wijaya. Wajah marah, kesal terpancar di sana. Bu Winda yang melihatnya pun ketakutan, Ia yakin suaminya akan berkelahi dengan Tuan Wijaya. Dan saat tegang seperti itu, Aline datang dengan tergesa setelah menerima pesan dari Bu Winda bahwa Tuan Wijaya datang menemui ayahnya ke warung soto.
"Bu ... mana Ayah?" tanya Aline dengan langkah sedikit berlari mendekati Ibunya yang sedang mengawasi kedua pria yang tengah bersitegang di teras.
.
.
.
__ADS_1