Fake Love

Fake Love
Terima kasih Galen


__ADS_3

Mau sekencang apapun Aline berteriak takkan ada yang mendengar di sana. Siang hari saja tak ada yang melewati apalagi malam hari begini.


Aline memejamkan mata, pasrah kepada nasib yang akan menimpanya saat itu.


.


.


Aldo baru saja melaporkan kejadian di ruang ganti kepada Galen. Beruntung asisten - nya itu cepat mendatangi salah satu kru agar lebih cepat datang melerai penindasan di ruang ganti. Galen merasa lega mendengarnya. setidaknya ia bisa menghalangi Derald dan Chyntia menindas Aline kembali.


Malam ini seperti biasa Galen menikmati indahnya malam di pusat kota Jakarta.


bersama dengan teman satu tongkrongannya dia berkumpul. Teman-temannya tak ada yang mengenali siapa Galen sebenarnya.


Mereka hanya tau Galen seorang teman yang royal dan sering membantu mereka melakukan kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana, dan mencari donatur penggalangan dana untuk orang yang membutuhkan bantuan.


Saat kumpul dan bernyanyi di pinggir taman kota bersama teman satu tongkrongannya. Ponsel di saku celananya bergetar. Tanpa ada niat untuk mengangkatnya Galen membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa melihat siapa yang menelponnya. Ia berpikir pastilah ayahnya lah yang telah menghubunginya.


Ponsel nya kembali bergetar. Dengan malas ia mengambil ponsel itu dari dalam kantung celananya. Galen mengerutkan alis melihat sepuluh kali panggilan dari kontak yang bernama si Cepol, nama Aline dalam ponselnya.


"Gue kira ayah, ternyata si cepol. Ada apa dia telpon gue malam-malam gini?" batin Galen.


Galen mengubah nama panggilan kepada Aline dengan si Cepol karena menyebut gadis bermata empat Aline akan sangat marah kepadanya.


Ponselnya kembali bergetar, baru saja mau mengangkatnya panggilan langsung terputus. Galen merasa heran dengan kejadian itu. Biasanya Aline akan langsung nyerocos saat Galen menghubunginya. Meskipun mereka jarang bertemu, terkadang Galen sering mengomentari status yang Aline kirim di story' Wa nya. Saling melempar ejekan dan candaan sehingga kedekatan mereka terus terjalin.


Khawatir terjadi sesuatu dengan si Cepol, Galen melacak posisi Aline sekarang melalui sebuah aplikasi GPS. Saat posisi Aline sudah terdeteksi, Galen menajamkan penglihatannya pada layar ponsel miliknya. Lalu memperbesar gambar Maps guna memperjelas posisi keberadaan Aline.


"Jalan gedung tua, Jakarta Pusat. Kenapa tuh anak ada daerah sana? itu 'kan daerah sepi. Bukannya acara sudah selesai dari tadi?" gumam Galen.


Merasa ada sesuatu terjadi pada Aline, Galen segera memasukan ponsel ke dalam sakunya lalu berpamitan kepada teman-temannya.


"Sorry, Bro. Gue pergi dulu! ada urusan." Galen mengangkat tangan sekilas untuk pamit kepada mereka semua, lekas menaiki motor lalu memakai helm dengan cepat.


"Sip ... Hati-hati, Bang!" ucap salah satu teman Galen. Usia Galen memang terbilang cukup dewasa dibanding mereka. Kerap kali Galen memberikan nasihat seperti membimbing para anak muda itu untuk melakukan kegiatan positif dan memodali semua kegiatan mereka.


Brummm.....


Suara motor gede milik Galen terdengar memekakkan telinga saat Galen melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang perjalanan Galen merasa gelisah. pikirannya terus tertuju kepada Aline. Kecepatan yang di tempuh tak dihiraukannya.


Motornya dengan gesit bergerak melewati mobil yang melintas satu arah dengannya.


Perjalanan yang harusnya memakan Waktu satu jam ke gudang tua itu, Galen tempuh dengan waktu dua puluh menit saja.


Saat tiba di halaman gedung tua itu, Galen melihat beberapa motor terparkir acak di ujung jalan, lalu di dekatinya, Ia juga melihat motor matic milik Aline berada di sana. Dengan cepat Galen turun dari motor gedenya, dia yakin Aline berada di dalam gedung kosong Dua lantai ini.


Galen berlari cepat ke dalam gedung. Tak ada tanda-tanda mereka berada di sana. Ia berjalan dengan tergesa menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam gedung tua itu. sesekali memanggil nama Aline.


.


.


Di dalam ruangan gedung tua. Aline pasrah saat kedua tangannya ditarik kebelakang dan dipegang paksa preman itu.


Kedua preman di depannya tertawa menyeringai ke arahnya. Satu dari mereka kembali menunjukan benda tipis dan tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita cicipi dulu, cewek ini. baru kita rusak wajahnya," usul preman berkepala botak seraya memainkan benda tipis dan tajam di tangannya, lalu mendapat tatapan tajam dari preman yang selalu mengucek hidung.


"Lu, jangan main-main! kita diperintahkan untuk melukai wajahnya bukan untuk mengambil kesuciannya," sanggah permen berwajah brewok.


"Aline ..." Panggil Galen berteriak dari ujung ruangan depan gedung tua. Karena gedung tua itu mempunyai banyak ruangan dengan luas bangunan sekitar 800 meter persegi. membuat Galen kesulitan mencari keberadaan Aline.


"Siapa?" ucap preman berkepala botak. Lalu memandang ke arah dua temannya.


Salah satu dari mereka mengangkat bahu. "Cepetan woy ... keburu orang itu datang!" titah preman berwajah brewok yang sedang memegangi tangan Aline.


"Galen," ucap Aline pelan lalu kembali memberontak saat tahu ada suara orang yang dikenalinya berada di sini.


"Cepet lakuin, lama banget si, lu!" Preman berwajah berewok itu kembali memerintah dengan suara galaknya.


Preman berkepala botak berjalan mendekat ke arah Aline. Dipegangnya dagu gadis yang basah karena air mata dan ketakutan itu, lalu ditempelkannya benda tipis dan tajam ke pipi mulus gadis yang tak berdaya di hadapannya, saat benda tajam itu hendak menggoreskan sayatannya dengan cepat Aline melemparkan ludah ke wajah preman tersebut. Membuat si preman terkejut sehingga menggoreskan sayatan tepat di dagu bawah wajah Aline.


Cuiih...


"Sialan" Si preman memalingkan wajahnya saat ludah menyebut ke wajahnya.


"Aww," Aline merasakan sedikit perih pada dagu bagian bawah, sayatan kecil itu meninggalkan luka di sana.


Saat para preman lengah, dengan cepat menendang keras tubuh preman berkepala botak yang ada di hadapan itu, lalu tubuhnya memberontak dari jeratan preman brewok di belakangnya.


Aline bisa terbebas dari mereka. Ia berlari menuju pintu keluar ruangan itu. Tapi sayang salah satu preman menghalangi langkahnya, membuat Aline terpojok di sudut ruangan.


Cairan kental berbau anyir yang menetes dari dagu bawah mengotori baju yang dipakainya. Rasa perih dan sakit di pergelangan tangannya tak dirasakan. Wajah dengan peluh keringat di iringi nafas yang terengah-engah karena melawan para preman yang terus berupaya melukainya menyisakan sedikit sekali tenaga.


Tubuh Aline sudah lemah. Dengan sisa tenaga yang ada, Aline kembali berteriak meminta tolong, berharap Galen bisa mendengar suaranya.


Aline pasrah kali ini. Tangannya terus gemetar. Tubuhnya melemah, Ia mencoba terus bertahan untuk berdiri hingga suara dobrakan pintu membuat semua terkejut kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah itu.


Brakkk...


Satu kali tendangan keras membuat pintu kayu yang sudah rapuh itu terbuka lebar.


Sosok pria tinggi dengan dua anting di telinganya, berhasil masuk ke dalam ruangan itu.


Seperti sebuah harapan indah datang saat Aline melihat Galen datang untuk menolongnya.


"Galen ...!" panggil Aline lirih. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar.


"Cepol ...!" Galen terkejut melihat kondisi yang menimpa Aline. Rambut yang terurai berantakan, wajah polos tanpa kacamata, baju dengan kancing yang terlepas sehingga memperlihatkan sedikit gundukan putih seputih susu milik gadis itu.


Tubuh Aline merosot ke lantai seakan semua tulangnya runtuh saat itu. Rintihan tangis terdengar lirih dan menyayat hati.


Mata Galen memerah terbakar emosi melihat keadaan yang menyedihkan pada Aline.


Tangan mengepal dengan nafas yang memburu seakan ingin menerkam mangsa ditunjukan oleh Galen. Ia berjalan dengan langkah cepat ke arah tiga preman yang siap menghadangnya. Dengan wajah garang dan marah, serta pukulan bertubi-tubi didaratkan kepada para preman itu. Perkelahian sengit antara tiga preman dan Galen pun tak bisa dihindari. Aline hanya bisa bersembunyi di sudut ruangan melihat perkelahian mereka.


Satu lawan tiga orang tak gentar bagi Galen untuk mengalahkan mereka. Dengan ilmu bela diri yang dimilikinya. Satu persatu preman itu berhasil dilumpuhkannya.


Setelah tiga preman jatuh tak berdaya, Galen melangkah mendekati Aline yang terlihat sangat ketakutan saat itu.


"Pol ... Cepol ...!" panggil Galen lirih seraya melepaskan jaket levis yang dipakainya.


Aline mendongak ke arah Galen.

__ADS_1


"Awas ...!" Aline berteriak keras saat melihat preman berkepala botak sudah berdiri dengan benda tipis dan tajam ditangannya hendak menancapkan benda tipis itu ke Galen dari belakang.


Gerakannya kalah cepat dari Galen. Tubuh kekar dari pria yang telah menolong Aline itu berhasil membekuk preman berkepala botak itu. Benda tipis dan tajam terhempas oleh tangan Galen membuat goresan luka sobek di sana.


Benda tipis dan tajam yang melukai tangannya sudah beralih ke tangan Galen. Tak ada rasa perih dirasa. Galen membekuk preman menjadi tengkurap di lantai seraya menarik kedua tangan preman tersebut kebelakang. Dengan benda itu, Galen mengancam akan menancapkan benda tajam itu ke lehernya dan menghabisi kedua temannya, jika dia tidak mengaku siapa yang sudah menyuruhnya melakukan perbuatan keji terhadap Aline.


"Ampun ... ampun! kita cuman orang suruhan. Jangan habisi kami. Preman berkepala botak memohon ampun.


"Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?" teriak Galen marah.


"Bos Derald." preman itu berucap gugup.


Tanpa ampun Galen kembali memukulnya. sampai preman tersebut mendapat luka lebam dengan bibir yang sobek mengeluarkan cairan kenal berwarna merah. Para preman itu berusaha bangun perlahan. Mereka saling membantu untuk berdiri, lekas segera pergi dari hadapan Pria yang sudah berhasil membuat mereka tak berdaya dengan banyak mendapat luka.


Galen tak menghiraukan para preman yang berusaha kabur itu. Ia mengambil jaket yang sempat terjatuh di lantai lalu berjalan mendekati Aline yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Cepol ..." panggilan itu membuat Aline menurunkan tangan dari wajahnya. Galen berjongkok dengan satu kaki menempel di lantai dan satu kaki ditekuk.


Tanpa bicara apapun Aline langsung memeluk Galen dengan erat. Menumpahkan tangis dipelukan pria yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.


"Terima kasih," ucap Aline pelan. Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya.


Galen membalas pelukan itu dengan hangat. memberikan ketenangan pada Aline yang masih gemetar mengalami peristiwa yang membuatnya takut.


Beberapa saat pelukan itu masih tak terlepas. Galen membiarkannya sampai tangis Aline mereda dan merasa sedikit tenang.


Aline meregangkan pelukannya saat ia teringat telah melihat tangan Galen terkena sayatan pisau oleh preman tadi.


"Tanganmu?" Aline melepaskan pelukannya lalu meraih tangan Galen yang terkena luka. Cairan kental berwarna merah itu sudah terlihat mengering di sana.


"Gue, enggak pa-pa. sekarang ... Kita keluar dulu dari sini!" Galen memegang lembut wajah Aline, diusapnya butiran bening yang menetes dari sudut mata gadis itu.


Aline hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa bersyukur Allah kirim Galen untuk menolongnya saat ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika pria di hadapannya ini tak datang untuk membantunya.


Galen membantu Aline berdiri, ditutupinya tubuh Aline dengan jaket levis yang tadi dibukanya.


Aline menerima dengan senyum hangat ke arah Galen. Bola mata cokelat milik Aline kini menatapnya dengan tatapan kelegaan. Gadis itu berjalan sangat pelan. Galen memutuskan untuk menggendongnya ala bridal style tatapan mereka bertemu saat Aline terkejut lalu mengaitkan kedua tangannya ke leher Galen agar tidak terjatuh.


"Terima kasih, Kamu sudah membantuku," ucap Aline tulus.


"Sama-sama," jawab Galen lalu memutuskan tatapan hangat itu. Pandangannya lurus ke depan seraya melangkah ke arah luar gedung. Tubuh kekarnya dengan kuat menggendong tubuh Aline dengan langkah tegapnya, melewati ruangan kosong yang berjajar di gedung tua itu.


Kejadian malam ini akan menjadi pengalaman yang takkan pernah terlupakan oleh Aline. Saat ia tahu siapa orang yang telah membuatnya seperti ini. Rasa benci terhadap orang itu semakin besar. Aline akan membuat perhitungan dengannya. Balas dendam secara halus dan pintar akan ia berikan kepada Derald dan Chyntia. Mereka harus merasakan ketakutan seperti yang dialaminya saat ini.


.


.


.


bersambung


jangan lupa dukungannya ya . ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


rekomendasi karya untukmu


karya dari Putri nilam sari

__ADS_1


__ADS_2