Fake Love

Fake Love
Perjuangan Berat


__ADS_3

Dengan penyamarannya Aline keluar dari toilet. Gadis itu berjalan tanpa melirik ke arah mobilnya, dimana Pak Mulyo dan Risa sedang menunggunya.


Beruntung Aline mengganti sendal high heels-nya dengan sendal jepit rumahan merk wando sebelum pamit ke toilet, membuat gadis itu leluasa berjalan.


Di sebrang toilet Aline melihat pemuda tanggung sedang duduk di atas motor wcx-nya dengan netra yang melihat ke arahnya, mungkin pemuda itu merasa aneh dengan penampilan Aline.


"Sut ... sut ... " Aline bersiul seraya memberi kode agar pemuda itu mendekat ke arahnya. Lalu Pemuda itu menurutinya.


"Mbak cantik manggil gue," ucap pemuda tanggung dengan gaya selengeannya.


"Mau bantuin Saya gak?" bisik Aline.


"Bantu apa?"


"Boleh pinjam topinya gak, trus anterin Saya ke Rumah sakit Soedibyo. Tapi sebelumnya tolong anter Saya ke toko baju dulu," pinta Aline sontak membuat pemuda itu melohok melihatnya.


Netra pemuda itu memperhatikan penampilan Aline dari ujung sampai ujung rambut.


"Kayaknya gue pernah liat si Mbak cantik ini, deh!" gumamnya terdengar oleh Aline.


"Cepetan mau bantuin gak?" sewot Aline.


"Jangan galak-galak Mbak cantik! Nanti berubah panggilan jadi Mbak galak, mau?" godanya.


Aline merasa kesal dengan tingkah pemuda itu. Rasanya dia malah di goda pemuda bau kencur yang usianya jauh darinya.


"Ya, udah kalau gak mau bantuin, Saya pergi!" Aline berjalan cepat menuju arah luar pom bensin. Agar kedua orang yang sedang menunggunya di dalam mobil tidak melihatnya.


"Dih, ngambek! Makin cantik deh, si Mbak ini kalau sedang marah," ucap Pemuda itu, pandangannya mengikuti langkah cepat Aline. "Tunggu, Mbak cantik! mau diantar gak?"


Aline mengacuhkan ucapan pemuda tersebut, menyesal rasanya sudah meminta bantuan kepadanya.


"Cepet, naik!" titah pemuda tadi menghampiri Aline dengan motor wcx-nya.


Karena butuh tumpangan cepat Aline langsung naik dengan posisi membonceng karena saat ini Aline menggunakan Gaun yang ia potong menjadi bawah lutut.

__ADS_1


"Pegang nih!" pemuda itu melepas topi yang dipakainya berganti helm yang ia bawa.


"Topinya bekas gue pake, Mbak! panggil gue Boy, ya, Mbak cantik! biar enak ja manggilnya, Mbak cantik siapa namanya?" Pemuda itu masih saja menggombal di saat Aline sedang terburu-buru.


Aline langsung menggunakan topi yang diterimanya dari pemuda itu, meski selengean dan pintar menggombal, pemuda itu termasuk pria muda yang rapi, bersih dan wangi.


Buktinya topi yang diberikan kepada Aline tak tercium bau apek sama sekali malah wangi segar tercium indera penciumannya. Berada di belakangnya pun wangi dari parfum pemuda itu tercium olehnya.


"Woi, jangan diem aja, namanya siapa?" Boy meminta jawaban dari Aline sebelum motornya ia jalankan.


"Aline, cepetan jalan!" titah Aline.


"Ok... siap Mbak cantik!" godanya lagi, motor yang dikendarainya akhirnya melaju meninggalkan Pom bensin.


"Jangan ngebut bawa motornya! trus cari toko baju dulu!" Aline menjeda ucapannya. "Thanks banget, Boy, udah bantuin Aku.


Tak terdengar balasan dari pemuda yang berada di hadapannya itu. Pemuda itu hanya menyunggingkan senyum seraya berpikir, sesekali ia melihat wanita yang ia bonceng dari kaca spion.


.


Aline merasa tenang sudah bisa meninggalkan Risa dan Pak Mulyo. Tapi rasa bersalah menyelimuti hatinya.


"Maaf ya, Sa, Pak Mul. Aline harus membohongi kalian!" batin Aline. Gadis itu duduk santai dan tak banyak bicara lagi kepada Boy.


Sebuah senyum mengembang dari wajah Boy yang sedang menyetir motornya itu.


"Aline Barsha, ya bener dia! artis yang ada di poster dalam kamar adik gue," gumam Boy. Lantas Boy menarik rem mendadak hingga Aline terkejut di buatnya.


"Pelan-pelan dong, kenapa sih harus ngerem ngedadak gitu?" tanya Aline sewot karena tubuh bagian depannya harus menabrak punggung Boy.


"Mbak cantik, Aline Barsha? artis terkenal itu 'kan?" tanya Boy saat motornya berhenti mendadak.


"Kamu berhenti cuman mau nanyain itu aja?"


Boy menangguk pelan. "Gue mau mastiin aja, Mbak cantik! soalnya adik gue nge- fans banget sama lo. Nanti gue minta tanda tangan lo, ya, Mbak cantik"

__ADS_1


Aline menghela napas kemudian menganguk. "Iya, tapi bisa gak sekarang lu bener-bener bantu Saya dulu."


Boy menempelkan tangan di keningnya. "Oh, iya lupa! siap kita cusss lagi... " Boy kembali melajukan motornya membelah jalanan yang ramai malam itu.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Kini Aline sudah mengganti pakaiannya. Di toko pakaian Tens shop itu ia berhenti sejenak untuk mengganti pakaiannya. Celana jeans panjang, dengan baju kaos sederhana di tambah sepatu kets agar Aline lebih leluasa saat berjalan.


Dua kantung paper bag ada di tangan Aline. Ia teringat ucapan Boy, yang mengatakan adiknya adalah fans beratnya. Sepanjang perjalanan tadi, Boy bercerita tentang adiknya. Gadis kecil yang mempunyai kekurangan fisik. Adiknya sangat kagum dengan Aline di masa lalu dan masa sekarang.


Aline merasa tersentuh mendengarnya. Ia berjanji akan menemui Lila, adik dari Boy yang sekarang sedang membantunya itu.


"Ini untuk Lila." Aline menyodorkan paper bag kepada Boy.


Pemuda itu dengan setia menunggu Aline di luar toko. karena tau Aline adalah orang yang adiknya kagumi. Boy akan bercerita kepada adiknya kalau kakaknya baru saja bertemu dengan artis kesayangannya dan bisa mendapatkan tanda tangan dan foto dari Aline Barsha.


"Untuk Lila, Mbak cantik? terima kasih banyak!" Boy terlihat begitu bahagia menerimanya.


Pemuda yang di luar terlihat selengen dan pandai menggoda itu, ternyata begitu perhatian kepada adiknya.


"Iya, di dalamnya ada barang untuk mu juga. sekarang masih mau kan antar Saya ke rumah sakit?"


"Pasti mau lah, ...! kemon Mbak cantik!" Boy menerima paper bag yang berisi beberapa pakaian untuk Lila dan Hoodie untuk Boy.


Aline tersenyum dengan tingkah pemuda yang berada di hadapannya itu.


Mereka berdua bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit Soedibyo.


Sungguh perjuangan yang berat untuk menemui kekasih yang sangat dirindukannya itu.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2