
"Maaf...,Tuan!" ucap Aldo sambil menunduk saat dirinya memergoki bos nya sedang berciuman dengan Aline. Ia pun langsung mundur perlahan dan kembali menutup pintu ruang perawatan itu.
Refleks, Aline mendorong keras tubuh Galen agar sedikit menjauh darinya.
Wajah gadis itu merah merona menahan malu. Sedangkan Galen tersenyum melihat tingkah malu-malu Aline.
"Ish... muduran dikit, malu tau." Aline melirik pintu yang sudah tertutup.
"Dia harus terbiasa melihat hal seperti tadi." Galen mengusap pelan bibir merah muda yang membuatnya candu itu.
"Aw... sakit Pol! Galen sakit pada perut yang di cubit Aline.
" Dih... pelan juga. Drama banget!" sindir Aline.
Galen tertawa terbahak kala Aline menyindirnya.
Di luar ruangan Aldo berdiri di depan pintu. Merasa canggung setelah memergoki bosnya dengan Aline. Asistennya itu lebih memilih untuk menunggu sesaat baru ia akan mengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruang perawatan itu.
Aldo baru saja akan menghubungi Risa. Tetapi Oma Ratih datang mendekat ke arahnya.
Beliau baru saja kembali dari setelah memberikan waktu kepada Galen dan Aline menatap heran kepada asisten cucunya itu.
"Loh, kenapa tidak masuk, Do?" tanya Oma Ratih saat hendak masuk ke dalam ruangan.
"Tidak, Nyonya. Saya tidak mau mengganggu Tuan muda!" jawab Aldo sopan dengan sedikit menunduk seraya memegang file dengan kedua tanganya.
Oma Ratih mengerutkan alis mengintip ke dalam ruangan melalui kaca kecil yang ada di daun pintu tersebut.
Terlihat dari luar Galen sedang mengelus bibir Aline seraya tersenyum memandangi gadis tersebut. Oma Ratih juga memperhatikan tingkah malu Aline dari luar.
Pemandangan yang membuat sudut bibirnya tertarik ke atas. Senyum bahagia yang ia kembangkan untuk cucunya.
__ADS_1
"Oh..., masuklah ada pekerjaan yang harus kamu laporan kepada Galen 'kan?"
Aldo mengangguk pelan.
"Mari masuk," ajak Oma Ratih.
"Iya, Nyonya. Saya mau menghubungi seseorang dulu, nanti saya menyusul!" elak Aldo.
"Baiklah. Kalau sudah selesai tolong bantu bawakan barang-barang di dalam. Malam ini cucuku akan pulang ke rumah Oma."
" Baik, Nyonya."
"Panggil Oma, saja! kamu ini Saya ini sudah tua, rasanya kuping Oma gatel mendengar sebutan Nyonya terus, dari kamu dari pengawal Wijaya. Hah... sudahlah, ingat panggil Oma saja, " titah Oma Ratih kepada Aldo.
Aldo menggaruk lehernya yang tidak gatal. ia mengangguk agar Oma Ratih tidak melanjutkan ocehannya. Biasanya nenek tua yang masih terlihat gagah itu akan berucap panjang lebar untuk menasehatinya..
Setelah Oma Ratih masuk ke dalam ruang perawatan Aldo segera menghubungi Risa.
"Halo, Sa!" sapa Aldo dari sebrang telpon.
"Ya, nona Aline ada di sini?"
"Mas, tolong sampaikan sama Aline! Ayah Zaki sedang menuju ke sana untuk menjemputnya. Harusnya sih sekarang sudah sampai." Risa menjelaskan, ada nada kekhawatiran dari ucapannya.
"Ya, akan saya sampaikan."
"Terima kasih, Mas Aldo.
"Sama-sama." Aldo menutup sambungan telepon nya. Lekas ia memasuki ruangan di mana bos nya berada.
Aldo melangkah menghampiri Galen. Ada kecanggungan terlihat dari wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan, Saya Tuan, Nona. Tadi tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk!" ucap Aldo seraya menunduk sopan. Kemudian menyerahkan beberapa berkas pekerjaan yang harus Galen tanda tangani.
Galen menerima file yang di berikan oleh Aldo seraya berkata. "Nanti kamu akan biasa melihat itu!" Galen menjawab seraya memandang ke arah Aline. Membuat Aline salah tingkah di hadapan Oma Ratih, lalu memberikan pelototan tajam kepada Galen.
Oma Ratih pun melihatnya. Dia mengerti kali ini kenapa Bibir Aline bentol seperti digigit serangga.
"Kamu tidak digigit serangga lagi 'kan pas Oma tinggal tadi? kayaknya rumah sakit ini harus ada alat pembasmi serangga deh!" celetuk Oma Ratih. "Harusnya kamu bawa obat pengurus serangga pas tadi masuk ke ruangan ini, Do!" ucap Oma Ratih kepada Aldo.
Aline dan Galen salah tingkah mendengar ocehan Oma Ratih. Lalu alen tersenyum menanggapinya tatapan tajam Aline. yang langsung menunduk saat mendengar Oma Ratih menyinggung soal serangga yang membuat bibirnya bentol.
Pria yang kepalanya kini ditumbuhi rambut itu lekas memeriksa file dan menanda tangani semua berkas yang ada.
Oma Ratih memeprhatikan tingkah mereka berdua. Terlihat pancaran kebahagian di sana.
"Kenapa tidak di apartemen aja, kamu serahkan file ini. merepotkan sekali harus menandatangani nya di sini!" keluh Galen.
"Kamu akan pulang ke rumah Oma!" serobot Oma Ratih.
Seketika Galen menghentikan gerakannya. " Tapi, Oma --"
"Tidak ada kata tapi, Kamu harus tinggal bersama Oma sampai kondisi mu membaik. Makanya kalian cepet menikah biar kamu ada yang ngurus! Aline... kamu harus sabar ngadepin Galen yang berandal kaya gini sama susah diatur kaya gini!" sindir Oma seraya mendelik ke arah Aline.
Aline merasa kembali salah tingkah dibuatnya. Merasa ucapan Oma Ratih terus menyindir dirinya.
"Tenang aja, Oma! pawangnya Aku sudah ada di sini." Galen menunjuk Aline dengan tatapan matanya.
Aline hanya tersenyum menanggapinya.
Galen melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Lalu menyerahkan kembali File itu kepada Aldo.
Aldo lekas menghampiri Aline. "Maaf nona, Saya mau menyampaikan pesan dari Risa katanya Ayah Zaki dan Pak Mulyo sedang menuju kemari untuk menjemput Anda, " ucap Aldo pelan dan sopan sontak membuat Aline terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Aline lekas berdiri. Gadis itu merasa harus cepat keluar dari ruang sakit ini, lalu segera menghubungi Ayahnya.
Bersambung..