
Galen merasakan tubuh Aline termor saat wajah mereka semakin dekat. Ciuman bukanlah hal pertama bagi keduanya. Sebelumnya mereka juga pernah merasakan itu. Tapi setelah kejadian buruk yang menimpa Aline malam itu. Tubuhnya seakan bereaksi ketakutan saat Galen akan menciumnya.
Tak mau memaksa, Galen mengecup kening Aline. Rasa cinta yang ingin melindungi lebih besar dibanding napsunya. Meskipun sangat ingin menyalurkan rasa rindu, tapi Galen masih bisa menahannya. Pria tampan itu akan bersabar sampai Aline membuka diri untuknya.
"Kita tidur!" Aline membuka mata tercekat dengan ucapan Galen.
"Maaf...!" ucap Aline sambil menunduk.
"Hei, tak perlu merasa bersalah. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Galen menyentuh tangan Aline.
Ternyata benar, tangan istrinya itu sampai terasa dingin.
"Maaf, sudah membuatmu merasa ketakutan seperti ini." Galen mengangkat kedua tangan Aline lalu menciumnya berulang kali.
Baru akan menciumnya saja, Aline termor seperti ini. Bagaimana kalau berbuat lebih jauh. Sungguh perjalanan panjang yang harus Galen lalui. Pria tampan itu harus benar-benar bersabar untuk menyembuhkan trauma Aline.
Aline sadar akan reaksi tubuhnya. Ada rasa bersalah pada dirinya untuk Galen. Segenap tenaga ia berusaha agar bisa mengendalikan diri.
Satu hal yang Aline bisa lalui malam ini. Bisa tidur di peluk oleh Galen. Berada bersama suaminya, Ia merasa tenang.
Usapan pelan dan lembut dari Galen sungguh menenangkannya. "Tidurlah, aku akan di sini bersamamu." Galen masih telaten mengusap lembut punggung Aline hingga istrinya itu terlelap.
Perlahan Galen menarik tangan yang dijadikan bantal oleh Aline. Istrinya itu hanya terusik sesaat, tapi kembali tertidur dengan nyaman dalam pelukan Galen.
Malam ini Galen tidak bisa memejamkan mata. Setelah bisa melepaskan diri dari Aline, Pria tampan itu bersandar di sofa sambil memandangi Aline, satu-satunya cara mengisi kesunyiannya malam ini.
"Apa aku harus membawanya ke psikiater untuk mengatasi rasa traumanya." Galen berpikir dalam diamnya. Ia tidak mau Aline terus mengalami hal semacam itu saat bersamanya.
"Jangan..... "
"Tolong... "
"Lepaskan Aku!"
Aline mengigau dalam tidurnya. Bulir keringat sudah membasahi dahi. Galen cepat berdiri mendekati Aline yang tengah berteriak sambil memejamkan mata.
"Sayang... Hei, bangun!" Galen menepuk pelan dan lembut pipi istrinya itu.
"Sayang..." panggil Galen seraya mengusap dahi Aline yang basah oleh keringatnya.
Perlahan Aline membuka mata, Ia langsung memeluk Galen dengan tangan gemetarnya.
"Jangan tinggalkan aku!" lirih Aline terdengar sedih dan pilu di sela pelukannya.
Hatinya ikut merasakan perih mendengar suara parau dari Aline. Ia memeluk tubuh istrinya begitu erat.
"Aku tidak akan pernah meinggalkanmu. Maaf... Maafkan aku! andai saja waktu itu aku tak memaksa untuk bertemu, andai saja waktu itu aku ikuti semua petuah orang tuamu. Kamu tidak akan mengalami kejadian buruk itu, Sayang!" Galen semakin erat memeluk Aline.
Keduanya meregangkan pelukan. "Kamu menangis?" Aline mengusap pelan pipi suaminya. Tak pernah ia melihat Galen serapuh ini.
Galen sempat menangis seperti ini ketika Aline berada di rumah sakit, setelah kejadian buruk itu. Itupun saat Aline tidak sadar, jadi istrinya itu tidak melihat keadaannya yang terlihat kacau saat itu.
__ADS_1
Galen kembali meraih tangan Aline yang menempel di pipinya. Diciuminya kembali tangan tersebut.
"Masih tengah malam, kita tidur lagi!" ajak Galen dengan lembut.
"Jangan jauh dariku!"
"Iya, Sayang."
Keduanya kembali melanjutkan tidurnya. Melewati malam pertama pernikahan hanya dengan berpelukan tanpa lebih.
Di kediaman Tuan Wijaya.
Sesampainya Oma Ratih dan yang lainnya ke rumah. Terlihat Sandra duduk di ruang tamu menunggu kedatangan mereka.
"Sandra.... "
"Oma.... " Sandra lekas berdiri lalu menghampiri Oma Ratih kemudian menyalaminya. Beralih kepada Kartika, ia hanya menyapa singkat. kemudian menyusul Tuan Wijaya di belakangnya, Sandra juga menyalaminya dengan takzim.
Tanpa banyak bicara Tuan Wijaya lebih memilih kembali ke kamarnya sendiri. Pria tua itu ingin segera beristirahat, setelah peperangan hati yang ia buat sendiri.
"Ada apa, kenapa malam-malam ke sini?" tanya Oma Ratih pelan saat Sandra membantunya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Oma Ratih beralih kepada Kartika. "Biar Sandra yang antar Oma ke kamar, kamu istirahat lah, Nak!"
"Baiklah, Oma. Aku ke kamar ya!" pamitnya pada Oma dan Sandra lalu mendapat anggukan dari keduanya.
Sandra pernah tinggal beberapa hari di sana. Sehingga wanita itu kenal dengan beberapa asisten rumah tangga seperti Mbok Yem. Dan Mbok Yem lah yang menyuruh Sandra untuk menunggu di dalam, dari dia juga Sandra tau kabar pernikahan Galen dan Aline hari ini. Karena Aldo sama sekali tidak memberi tahunya.
"I-itu... Aku hanya mau berkunjung menemui Oma saja, aku kangen. Tapi malah dengar Galen menikah hari ini. Kalau aku tahu hari ini Galen menikah, aku bisa bantu-bantu sedikit untuk acara itu." dalih Sandra.
"Alhamdulillah, akhirnya Oma bisa beristirahat juga." Oma Ratih duduk di tempat tidur sambil bersandar di heardboad. Sandra meletakkan satu bantal untuk menyangga kepala Oma. Wanita itu juga membantu Oma menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur lalu memijat pelan kaki Oma.
"Ya, ada sesuatu yang mengharuskan mereka melangsungkan pernikahan secepatnya." Oma Ratih menjelaskan tapi tidak secara jelas. Ia tidak mau mengumbar kejadian yang menimpa Aline kepada banyak orang.
"Oh... "Hanya satu kata itu balasan dari Sandra. Wanita itu berpikiran Galen dan Aline sudah bertindak terlalu jauh sehingga mereka harus segera dinikahkan.
Oma Ratih memang sudah menganggap Sandra sebagai cucunya juga, semenjak pertemuan mereka di Singapore tempo hari. Terkadang Sandra juga sering mengunjungi oma Ratih.
Wanita yang sempat mempunyai perasaan kepada Galen dengan telaten memijat kaki Oma Ratih. Dan itu sudah terbiasa untuknya tiap kali berkunjung ke sana. Entah perasaan itu masih singgah atau sudah pergi dari dalam hatinya. Tapi mendengar Galen dan Aline sudah resmi menikah ada sedikit kesedihan di hatinya.
"Bagaimana kabar, Ibumu?"
"Alhamdulillah, baik Oma!" Pertanyaan itu membuat Sandra tersadar.
"Syukurlah, kalau begitu. Kamu menginap 'kan malam ini?" Oma Ratih mulai merasa nyaman dengan pijitan Sandra.
"Enggak ah, mau pulang saja. Tidak enak juga sama Galen dan Kartika. Kecuali kalau Oma berada di rumah Oma, aku pasti menginap!" cetus Sandra.
"Oma sudah tua, Oma sendiri kalau tinggal di rumah itu. Kartika tidak mau Oma ajak tinggal di sana. Nanti kalau Galen dan Aline sudah pindah ke sini, baru Oma akan tinggal di sana lagi. Kamu mau menemani Oma?" tawar Oma Ratih kepada Sandra.
"Huh, akan merepotkan sekali kalau aku harus bolak balik ke rumah Ibu dan ke Oma. Andai saja aku punya pintu doraemon. Jadi, bisa dengan cepat datang dan pergi kemanapun aku mau," ucap Sandra bercanda tapi tetap bersemangat berbicara.. Membuat Oma Ratih merasa terhibur dengan kedatanganya.
__ADS_1
Tak lama, setelah Oma Ratih dan Sandra berbincang, Oma Ratih akhirnya menceritakan kepada Sandra alasan yang membuat Galen menikah tidak sesuai jadwal rencana. Wanita parih baya itu percaya, Sandra tidak akan membocorkan kejadian buruk itu. Dan anggukan tegas sambil menutup mulut dengan gerakan tangannya diberikan Sandra kepada Oma. Tak lama Sandra pun pamit pulang karena Oma Ratih harus beristirahat.
"Lain kali aku berkunjung lagi, Oma. Terima kasih sudah mau menerima Sandra dan mengijinkan aku untuk menemui Oma!"
"Sama-sama, kamu pulang sama siapa?"
"Banyak yang mau jemput aku, Oma. Mereka mengantri di luar sana!" canda Sandra membuat Oma Ratih banyak tersenyum malam ini, setelah tadi di tempat Aline wanita paruh baya itu banyak bersedih karena kejadian yang menimpa cucu menantunya itu.
Sikap Aline dan Sandra banyak kemiripan. Sama-sama pintar membuat Oma Ratih tertawa. Oleh karena itu, Oma Ratih juga sangat senang dengan kehadiran Sandra.
Sandra pulang setelah melihat Oma Ratih tertidur di kamarnya. Ia hanya pamit kepada Mbok Yem yang masih setia menunggunya.
"Mbok Yen harusnya beristirahat saja, aku tahu ko pintu keluar rumah ini. Dan tenang saja, aku tidak akan mengambil satu barangpun di sini, tidak menarik!" cetus Sandra membuat Mbok Yem tersenyum.
"Apa kamu perlu bantuan untuk diantar, biar saya panggil pak supir untuk mengantarmu." usul Mbok Yem.
"E-eh, tidak perlu. Aku bawa motor sendiri."
Sandra pun pamit kepada Mbok Yem. Tak lupa ia berterima kasih kepada beliau. karena selalu baik saat Sandra berkunjung ke sana.
...***...
Pagi hari di rumah Aline
"Aku akan mengajak Aline pada seorang psikiater, Yah," ucap Galen setelah menyeruput kopi pagi ini.
Galen dan Ayah Zaki sedang duduk bersantai di gazebo belakang. Keduanya berbincang serius mengenai langkah selanjutnya untuk Aline.
"Kenapa? apa semalam Aline bermimpi buruk lagi?" Ayah Zaki menoleh ke arah Galen. Beliau sedang memberi makan ikan hiasnya di kolam, lekas ia menaruh makanan ikan itu yang dipegangnya ke tempat biasanya. Tak lupa Ayah Zaki mencuci tangannya terlebih dulu, lalu ikut duduk bergabung dengan Galen.
Galen mengangguk pelan. "Ya, Aline semalam mengigau, meminta tolong, menyebut namaku. Hatiku begitu sakit mendengarnya. Apa kemarin malam dia juga seperti itu, Yah?" Galen menatap Ayah Zaki meminta penjelasan.
"He em... Apa kamu sudah membicarakan nya dengan Aline untuk mengajaknya ke psikiater?" tanya Ayah Zaki menatapnya serius. Ia tidak mau putrinya makin tertekan.
Galen mengangguk. "Sudah, Yah. Aku sudah berbicara dengannya sebelum ke sini. Aline setuju, hanya dia ingin aku selalu menemaninya. Aku pikir tak jadi masalah karena seminggu kedepan, Aku terbebas dari urusan kantor."
Bu Winda sedikit terkejut mendengar penuturan kedua pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu setuju, Nak. Galen akan membawamu konsultasi ke psikiater?" Bu Winda menatap Aline yang berdiri disampingya hendak menghampiri kedua pria tersebut.
Aline mengangguk pelan. "Iya, Bu. Aku ingin terbebas dari rasa trauma ini. Aku tidak ingin membuat Galen kecewa."
Bu Winda tersenyum senang mendengarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung>>>