
"Galen tolong aku!" lirih Aline makin terisak tanpa bisa bersuara. Tubuhnya mulai kehabisan tenaga karena lelah meronta-ronta.
Ferdi menikmati setiap inci tubuh Aline. Saat ia bersiap membuka celana boxer yang tersiksa di tubuhnya.
Toktoktok
Lagi-lagi suara ketukan pintu dari luar mengacaukan semuanya.
"Bos gerak cepat, Bos! sepertinya ada yang menuju ke gang ini. Barusan Banu memberi kode kepada kita!" ucap salah seorang anak buah Ferdi dari luar kamar.
"Shitt..." Ferdi segera bangkit dari tubuh Aline.
Sebuah kesempatan melihat Ferdi menjauh dari tubuhnya. Dengan cepat Aline memberikan gerakan lutut yang diangkat menendang ke bagian inti Ferdi yang sudah menegang.
Pria yang hanya memakai celana boxer itu meringis, merasakan kesakitan pada bagian intinya. Ia berdiri sambil menggosok pelan inti tubuhnya dari tempat tidur, hantaman lutut Aline.
"Kamu, sudah tidak berdaya masih saja melawanku." Ferdi menyunggkngkan senyum, kamu masih ingin melanjutkan permainan ini denganku gadis manis.
Plakk!
Ferdi menampar keras pipi Aline. Dengan sekali tamparan Aline merasakan kepalanya berputar lalu memejamkan matanya.
"Aku akan melanjutkan permainan kita meski kamu dalam kondisi tak sadar. Aku akan memberikan kenangan buruk untuk calon suamimu. Mengambil kehormatan sang calon istri akan membuat dia hancur."
"Bos, gawat tempat ini sudah tidak aman. Kita harus segera pergi!" Anak buah Ferdi memberikan informasi cepat.
.
.
.
"Kamu yakin ini tempatnya?" Galen berjalan cepat diikuti beberapa pengawal di belakangnya. Semua anggota dan tim sudah tiba lebih dulu.
"Yakin, Tuan!"
Di Markas Ferdi.
Aline terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Kedua tangan dan kaki yang masih terikat, memperlihatkan ada luka lecet akibat tali yang membelit kaki dan tangannya.
Wajah cantik itu terdapat luka memar, dengan sudut bibir yang sedikit robek akibat tamparan keras dari Ferdi. Dress cantik yang ia pakai kini tak terlihat sempurna lagi.
Bagian atas dress itu sudah sobek sampai di bagian atas perut menampilkan bagian atas tubuh Aline yang putih dengan beberapa bercak jejak dari Ferdi yang terlihat jelas dikulit putih Aline.
__ADS_1
Ujung dress tersingkap ke atas memperlihatkan sedikit bagian inti yang selama ini Aline jaga untuk suaminya kelak.
Orang pasti akan berpikir Aline adalah korban pelecehan karena kondisi nya yang memang mengarah ke sana.
Kamar yang digunakan untuk membekap Aline berada di ujung ruangan. Ada Delapan kamar di sana.
Tempat yang dijadikan markas itu jauh dari keramaian, terlihat usang di makan usia dari luar. Tapi begitu diteliti ke dalam, setiap ruangan dalam keadaan bersih, dengan tempat tidur yang bersih pula.
Di salah satu ruangan, sangat jelas tempat itu dijadikan tempat judi. dan bebrapa kamar dipergunakan untuk suatu kegiatan malam dengan wanita bayaran.
Tiga orang berhasil kabur dari markas yang biasa di gunakan Ferdi sebagai tempat judi, transaksi barang haram dan pelayanan wanita bayaran untuk pelanggan yang mendatanginya.
Ferdi bersama dua anak buahnya berhasil kabur dari tempat itu.
Banu salah satu anak buahnya mungkin saja sudah tertangkap dan sedang si introgasi oleh orang-orang Galen.
Semenjak keluar dari penjara, Ferdi diam-diam melakukan pekerjaan ini.
"Sepertinya Banu tertangkap, Bos!" ucap salah satu anak buahnya yang sedang mengendarai mobil melewati jalur tikus. Hanya Ferdi dan beberapa anak buahnya yang tau jalan ini.
"Biarkan saja! dia kan memilih mati daripada harus membuka mulut, itu sudah terpatri dalam dirinya. Banu tidak akan pernah membocorkan satu rahasia kepada siapapun jika berhubungan denganku." Ferdi tersenyum sinis sambil menyeka cairan kental berwarna merah yang menetes di hidungnya.
"Wanita, sialan!" umpat Ferdi seraya mengambil beberapa lembar tisu di atas dashboard untuk membersihkan hidungnya.
Ferdi tersenyum sinis tanpa membalas ledekan dari anak buahnya.
"Galen pasti akan terkejut melihat keadaan calon istrinya itu. Sayang sekali aku belum merasakan nikmatnya menjelajahi gadis perawan. Semua karena kalian yang selalu menggangguku! Membuat aku lengah dan gadis itu berhasil menendang benda pusaka ku." Ferdi sedikit meringis seraya meletakkan tangan di inti tubuhnya. Membayangkan sakit yang tadi ia rasakan dibagian inti tubuhnya.
"Jadi Bos kita belum sempat...," kedua anak buahnya saling menatap. Kemudian mereka tertawa terbahak mendengar ucapan Bosnya.
"Kalian berganti menertawakanku, kurobek mulut kalian agar tak bisa tertawa lagi." Ferdi mengeluarkan benda tajam tipis dari sarungnya. Membuat kedua anak buahnya langsung menutup mulutnya.
"Sorry, Bos!"
"Cepat, kita harus segera membersihkan jejak. Aku tidak mau tertangkap lagi oleh pemuda itu."
Mobil yang membawa ketiga pria brengsek itu melaju kencang meninggalkan markasnya.
Brakk!
Galen mendobrak pintu depan, bebrapa anak buah yang mengikutinya di belakang masuk satu persatu. Begitu juga Aldo, ia membantu mencari Aline di setiap tempat yang ada di dalam sana.
"Sayang..., kamu di mana? Aline!" Teriak Galen lagi. Dengan langkah cepat dan tergesa Galen berteriak mencari Aline.
__ADS_1
Aldo dan beberapa anak buah Galen membuka satu persatu ruangan di markas itu.
Sampai di ujung ruangan Aldo yang hendak masuk ke kamar itu, langsung berbalik badan saat ia baru beberapa langkah memasuki kamar tersebut.
Aldo juga menutup kembali pintu tersebut agar anak buah yang mengikuti di belakang tidak melihat keadaan di dalam kamar tersebut.
"Tuan," panggil Aldo dengan suara tinggi.
Galen berlari menghampiri Aldo.
"Apa kamu menemukan Aline?"
Aldo menunduk. "Nona Aline di dalam, tapi... "
Tanpa mau mendengar kelanjutan Aldi berbicara Galen segera menyingkirkan Alod yang menghalangi jalannya.
Di dorongnya pintu tersebut. Galen membulatkan matanya melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Ia berlari mendekati tempat tidur yang terlihat berantakan.
"Sa... yang...!" ucap Galen terbata, hatinya hancur, melihat kondisi wanita yang sangat dicintainya dalam kondisi mengenaskan.
Galen sedikit menunduk untuk meraih selimut yang tergeletak di lantai. Di tutupinya tubuh Aline sampai batas leher.
"Sayang... Bangun!" Galen mengusap pelan wajah Aline. Diliriknya kedua tangan dan kaki yang masih terikat.
Perlahan Galen melepas ke empat ikatan itu dengan sangat hati-hati.
Galen segera merangkul tubuh Alien.
"ALINE!" teriak Galen lantang. Tangisnya pecah. ia menagis meraung sambil memeluk erat tubuh Aline.
"Aargggghhh... "
.
.
.
.
Bersambung>>>>
Jangan kapok baca karyaku ya...
__ADS_1