Fake Love

Fake Love
Makan Malam Bahagia


__ADS_3

Tuan Wijaya merasa malu sendiri dengan ucapannya. Tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya, Kartika. Tuan Wijaya memilih pergi ke ruang kerjanya dengan wajah sedikit di tekuk, sambil menunggu Mbok Yem menyiapkan makanan.


Kartika tertawa kecil melihat Papanya yang cemberut meninggalkan mereka. Gadis itu kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Oma Ratih ke samping rumah. Tempat di mana kolam renang berada. Kolam renang tersebut akan berubah warna setiap tiga puluh menit sekali. Ada tujuh warna yang akan ditampilkan di setiap pergantian waktunya.


Wanita paruh baya itu meminta agar di bawa ke sana. Karena suasana yang begitu nyaman dengan suara gemericik air yang menenangkan jiwa dan perasaan jika berada di sana. Di sanalah tempat yang membuat Oma Ratih merasa betah, melihat kolam impian putrinya terpampang jelas di hadapannya.


Almarhumah Mama Galen lah yang mendesain tempat itu.


Kolam renang yang di beri hiasan lampu di dalam kolam. Jika malam hari lampu akan menyala memberikan cahaya lampu berwarna yang memantul dari dalam kolam renang memberikan pencahayaan warna yang begitu indah.


Tuan Wijaya sengaja tidak pernah merubah desain rumahnya dari dulu sampai sekarang. Meskipun selama dua puluhan tujuh tahun ia kembali berumah tangga dengan Nyonya Mariska, tapi wanita yang sempat menjadi istri keduanya itu sama sekali tidak diberikan hak untuk merombak dekorasi hunian mewahnya.



"Rasa cinta Papa kepada Mama Indira besar sekali, ya Oma! sampai Papa sama sekali tidak pernah mau merubah tempat ini," ucap Kartika ketika menghentikan kursi roda tepat di sisi kolam renang.


Kartika mengetahui semuanya. Setelah mengetahui perbuatan jahat mamanya pada istri pertama papanya. Kartika meminta Mbok Yen untuk menceritakan semua kepadanya. Secara perlahan pastinya. Ada penyesalan dalam diri Kartika telah di lahirakan dari wanita yang mempunyai sikap jahat seperti mama kandungnya itu.


"Andai aku terlahir dari rahim yang sama dengan Kak Galen. Rasanya pasti akan sangat di cintai juga oleh Papa." lirih Kartika, gadis itu menatap lurus dengan tatapan kosong.


Sebesar apapun rasa kesalnya terhadap Mama kandungnya, Nyonya Mariska. Tapi Kartika tetap gadis berhati lembut. Rasa rindu dan mengharapkan keluarga utuh masih tetap ada di hatinya. Ia berharap Mamanya berubah dan bisa kembali lagi bersama Papa nya. Meskipun hal itu sangat tidaklah mudah, bahkan tidak mungkin.


"Meskipun kalian tidak dilahirkan dari rahim yang sama tapi kalian tumbuh dari bibit yang sama. Wijaya juga mencintaimu sebagai putri satu-sarunya, Nak! Belajarlah memahami isi hati Papamu. Dia terlalu sulit untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Tapi Oma yakin, kalian adalah harta paling berharga untuk hidupnya. Kamu bisa lihat, bagaimana Papa Wijaya memperlakukan Kakak pertamamu yang sama sekali bukan dari keturunan nya!" Oma Ratih menjeda ucapannya, ingin melihat reaksi Kartika.


Terlihat Kartika berpikir dan mengangguk setuju. "Ya, Oma. Papa sama sekali tidak membedakan kasih sayangnya kepada Kami." ucapnya lirik sambil tertunduk menyesali ucapannya tadi.


"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi! jika kamu sudah banyak mengetahui sesuatu mengenai Mama mu, jangan pernah kamu hakimi dia. Bawalah dia kembali pada kebaikan. Bantulah ia menjadi seorang wanita dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Tapi mungkin tidak bersama Papa mu, lagi! akan sulit bagi Wijaya untuk itu kembali bersama Mama mu."


"Oma tidak dendam sama Mama?" tanya Kartika sambil duduk di tepi kursi panjang tak jauh dari posisi mereka.


"Benci pernah ada, karena ulah mamamu, putri Oma satu-satunya tiada. Oma sangat menyanyangkan prilakunya.


Kebaikan putri Oma ia balas pengkhianatan dengan merebut suami dari majikannya sendiri." Mata Oma Ratih terlihat berkaca-kaca saat berucap. "Kedekatanya dengan Zaki dijadikannya alat untuk memfitnah putriku, sampai ia harus tertekan saat kehamilan besarnya." Oma Ratih berucap sedih. Membuat Kartika merasa bersalah.


"Maafkan, Mama, Oma ...." Kartika menyentuh tangan Oma Ratih lalu memegang nya erat. "Dia sudah begitu jahat. Rasanya Kartika malu mempunyai Mama seperti itu!"


Oma Ratih beralih menatap Kartika. "Semua telah berlalu, Nak! Oma sudah ikhlaskan yang telah terjadi. Ada Terima kasih Oma juga untuk Mama mu!" Oma Ratih kembali menatap hamparan air kolam renang di depannya. "Dia sudah membantu merawat Galen selama ini." ucapnya kemudian.


"Tapi dia--" ucapannya terpotong karena Oma Ratih kembali berbicara.


"Maafkan dia, seperti Oma sudah memaafkannya. Berkat dia kamu bisa merasakan berada di sini, kenal dengan Oma. Mempunyai Papa dan kedua kakak yang sayang sama kamu." Oma Ratih menyela ucapan Kartika.

__ADS_1


"Kalian ada di sini!" Galen dan Aline berjalan menghampiri Oma Ratih dan Kartika.


"Oma senang berada disini! tenang, nyaman, hati oma terasa damai," ungkap Oma Ratih sambil menoleh kepada Galen dengan senyuman.


Galen pun tersenyum bahagia. Ia tahu Oma Ratih sangat senang berada di rumah ini. Karena rumah ini adalah impian dari putrinya yang telah tiada.


Aline ikut bergabung duduk di kursi panjang yang bisa dijadikan tempat berjemur tubuh di siang hari itu. ikut mendengarkan apa yang di ucapkan suaminya kepada Oma Ratih.


"Oma ... Sebelumnya Galen minta maaf, jika keputusan Galen ini akan membuat Oma kecewa," ucap Galen sambil berjongkok di depan Oma Ratih.


"Maksud kamu, apa, Nak?" wajah Oma Ratih terlihat bingung.


"Galen sudah mengambil keputusan untuk tinggal di sini, tidak di rumah Oma! mungkin aku belum pernah merasakan sebelumnya kehadiran Mama, tapi di sini... Aku bisa tahu di setiap sudut rumah ini adalah impian Mama, Benarkan?" Oma Ratih mengangguk mengiyakan. " Oka tidak keberatan?" tanya Galen.


"Kartika sebentar lagi berangkat melanjutkan kuliahnya. Sebaiknya Oma ikut kami tinggal di sini. Ada Aku yang akan menemani Oma nantinya." Aline menimpali.


Galen dan Aline berunding berdua, mengambil keputusan saat berada di kamar tadi.


"Terserah kamu, saja. Yang pasti Oma hanya ingin menghabiskan sisa umur Oma bersama kalian. Oma tidak mau tinggal di rumah sana, sendirian!" tegas Oma Ratih tidak mau sendiri.


Galen, Aline dan Kartika lega mendengarnya.



Rencana setelah pergi berlibur dengan Aline pun ia beberkan. Galen telah memutuskan untuk tinggal di kediaman Wijaya. Karena berpikir banyak kenangan Sang Mama di sana. Sesekali mereka pun akan menginap di rumah Oma Ratih, dan Wanita paruh baya itu pun tidak mempermasalahkannya.


Bara, setelah keburukan Mama nya terbongkar. Jarang sekali ia pulang ke rumah Tuan Wijaya. Setelah menerima satu perusahaan yang menjadi awal kesuksesan dalam berbisnis itu, Bara berhasil membeli rumah yang ia tempati saat ini. Mungkin tidak begitu mewah seperti kediaman Wijaya tapi ia beli rumah tersebut dari hasil kerja kerasnya sendiri, meski tak bisa di bohongi semua berkat bantuan dari Papa sambungnya, Tuan Wijaya.


Dari atas balkon. Pria berumur yang masih terlihat gagah dan tampan itu sedang memperhatikan keseruan obrolan anak-anak dan mantan mertuanya. Ibu mertua yang sudah ia anggap sebagai orang tua nya sendiri.


"Lihatlah, Indira! Anak kita dan ibumu terlihat bahagia. Andai saja kamu masih ada. Kamu pasti akan senang melihatnya." gumam Tuan Wijaya sedih.


Tuan Wijaya duduk di kursi santainyang ada di balkon kamarnya. pematik api ia nyalakan agar sebatang rokok bisa ia hisap.


Mengisi kekosongan dengan menyalakan rokok dan menghisap nya pelan lalu membuang kepulan asapnya seakan beban pikiran ikut terhempas bersamanya.


Akhir-akhir ini ia merasakan perasaan tak nyaman, gelisah entah apa yang terjadi kepada dirinya.


tok tok tok


Ketukan pintu kamar membuatnya menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Lekas Tuan Wijaya berdir, beranjak dari tempat ternyamannya. Sebatang rokok yang tak habis ia bakar, langsung di matikan begitu saja. Ia melakukan itu hanya sekedar menghilangkan kejenuhan saja.


"Ada apa, Mbok?" tanya Tuan Wijaya setelah pintu kamar terbuka olehnya.


"Maaf ... Saya menggangu! Makan malam sudah siap.Yang lain sudah menunggu Tuan diruang makan," ucap Mbok Yem sopan lalu menuduk hormat.


"Ya, Saya akan segera turun!" ucap Tuan Wijaya pelan dan sopan kepada wanita paruh baya yang sudah mengabdikan hidupnya selama berpuluh tahun dengannya itu.


Mbok Yem mundur perlahan lalu berbalik hendak pergi dari hadapan Tuan Wijaya.


"Mbok Yem ...!" panggilan Tuan Wijaya membuat wanita paruh baya itu urung melangkah, ia kembali menghadap tuannya.


"Saya, Tuan!" balasnya kembali tertunduk.


"Jangan terlalu lelah bekerja, biarkan yang lain mengerjakannya! cukup awasi dan arahkan saja pekerja yang lain. Sudah waktunya dirimu beristirahat dalam bekerja, Mbok Yem!" Tutur Tuan Wijaya merasa tidak tega dengan Mbok Yem.


Di usianya yang sudah tua itu harusnya ia beristirahat saja, berkumpul dengan anak cucunya yang sudah menantikan dirinya di rumah.


"Setelah Kartika pergi ke Amerika. Kamu bisa berhenti bekerja. Saya tau, kamu berat meninggalkan Kartika. Tapi dia harus belajar mandiri." ucap Tuan Wijaya.


"Saya mengerti Tuan. Tapi ijinkan saya tetap bekerja, Saya akan mengundurkan diri jika saya sudah merasa lelah. Jujur saya memang berat meninggalkan Kartika, dia sudah saya anggap seperti cucu saya sendiri. Karena saya yang merawatnya dari bayi!" ucap Mbok Yem dengan raut wajah sedih.


"Baiklah ... Saya hanya mengingatkan agar dirimu tidak terlalu lelah. Suruhlah pelayan yang lain untuk melakukan pekerjaan yang menurutmu berat. Saya tidak mau melihat Kartika sedih karena dirimu sakit!"


"Ya, Tuan. Saya mengerti! Terima kasih atas kebaikan Tuan selama ini kepada saya dan keluarga." Mbok Yem kembali menunduk hormat lalu berbalik meninggalkan Tuan Wijaya yang sudah siap berkumpul dengan yang lain diruang makan.


Malam ini adalah malam kebersamaan Aline dan keluarga Wijaya, tanpa Bara.


Mereka menikmati makan malam dengan nikmatnya. Karena setelah ini Galen dan Alone kaan bertolak ke Maluku. Pergi ke tempat liburan yang di hadiahkan oleh Kakak tiri dari Galen.


Sesekali terdengar candaan yang Galen lontarkan. Malam ini Tuan Wijaya begitu bahagia, melihat Kartika tersenyum bersama Aline. Anggota baru di keluarga Wijaya.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2