
"Mas...," Teriak Aline dari kamarnya.
Galen yang sedang nonton serial drama action sampai tergelojat kaget. Dengan cepat ia berlari ke arah kamarnya.
"Kenapa, Sayang?" teriak Galen dari luar. Ia berusaha membuka pintu tapi masih terkunci. "Kenapa masih dikunci, sih?" gerutunya sambil menaik turunkan gangang pintu kamar itu.
"Sengaja biar, Mas nggak gangguin aku!" balas Aline dengan nada tinggi.
"Gangguin apa sih. Yang?" Galen tidak mengerti maksud ucapan Aline.
Aline masih memilah milih baju bagian dalam yang berbentuk kacamata untuk ia pakai. Semua yang tersedia di sana sudah tidak kuat untuk Aline pakai.
Bagian depan tubuh Aline itu berubah drastis pantas saja Galen betah berlama-lama bermain dan menenggelaman wajahnya di sana.
"Kok bisa gak muat begini sih? terus aku pake yang mana dong? masa polos aja."
Aline terlihat bingung, mau ia paksakan terasa pengap dipakainya. Akhirnya Aline memilih tidak memakainya daripada menyiksa diri, menurutnya.
"Sayang, kenapa tidak di jawab sih? Mas khawatir kamu di dalam kenapa-napa!"
Duk... duk... duk...
Galen menggedor pintu kamarnya sedikit keras.
"Sayang, jawab dong?" Galen mulai kesal bercampur khawatir.
Galen berpikir akan mendobrak pintu kamarnya. Karena Aline tidak kunjung membuka pintu. Saat Galen sudah ancang-ancang di depan pintu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
Kreek....
Seketika pintu terbuka, Aline keluar dari kamar itu.
"Kamu, baik-baik saja 'kan, Yang? Kamu sakit?" tanya Galen dengan nada khawatir karena Aline keluar menggunakan hoodie.
Galen tergesa mendekati Aline, Ia menempelkan punggung tangannya di kening istrinya yang masih polos tanpa make up. Memang sedikit pucat karena semalam Aline bergadang menunggu Galen.
Bangun pagi-pagi sekali harus terbangun membuatkan sarapan untuk dibawa ke apartemen, setibanya di sana mendapat kejadian yang membuatnya salah paham dengan Galen.
Tidak sampai di situ, Galen tidak membiarkannya beristirahat. Yang ada ngajak bergulat manja yang membuatnya lelah. Pantas saja Galen begitu khawatir kepadanya.
"Mas... Aku mau belanja baju dan pakaian dalam," ucap Aline sontak membuat Galen bingung.
"B-belanja?" tanya Galen tergagap.
Aline mengangguk pasti. "Semua pakaian yang ada di sini mengecil! Apalagi ini." Aline mengangkat pakaian berbentuk kacamata yang biasa Aline gunakan untuk membungkus gunung kembarnya
Glup!....
Galen menelan ludah melihat benda tersebut.
"Kamu tidak pakai itu sekarang?" tanya Galen sembari menatap benda itu.
"Pengap kalau pakai ini, sudah tidak muat." ujar Aline.
Galen tersenyun jahil ternyata pijat refleksinya selama ini berhasil membuat gunung kembar Aline berubah ukuran.
__ADS_1
"Kenaoa malah senyum? Ih... Mau anter aku gak?" pekik Aline.
"Mau... Mau... Tapi tunggu sebentar, Mas mandi dulu!"
"Cepetan gak pake lama. Sekalian ke rumah Ibu ya, Mas!"
"Siap... Nyonya!" ucap Galen sambil berdiri tegak lalu memberi hormat seakan Aline adalah atasannya.
Aline tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. "Apaan sih, Mas!"
"Nah... Gitu dong, senyum. Cantiknya jadi bertambah banyak." Galen mencium singkat pipi Aline lalu berjalan masuk ke dalam kamar. "Yang! sekalian bilangin Ibu Mas minta buatkan sayur asem sama sambel pake ikan asin juga," teriak Galen dari dalam kamar.
"Mas.... Kita sehati," balas Aline dengan nada sedikit tinggi.
Galen mengeluarkan sedikit kepalanya dari kamar mandi, penasaran dengan ucapan Aline yang terdengar samar. Mungkin karena terhalang oleh suara air shower.
"Kenapa, Yang!" Galen terlihat menajamkan pendengarannya.
"Kita sehati, aku juga mau ke rumah ibu minta dimasakin masakan khas Sunda. Akh... Jadi laper lagi! Mas cepetan mandinya ya, jangan lama-lama." titah Aline.
Bayangan makan sayur asem lengkap dengan ikan asin, sambel dan lalapan sudah terbayang di mulut Aline.
Begitu nikmatnya makanan itu di santap siang hari ini. Sambil menunggu Galen selesai mandi, Aline menelpon Bu Winda. Sangat beruntung bagi mereka berdua, Bu Winda saat ini sedang berada di rumah.
Aline begitu antusias berbicara dengan ibunya di telepon. Sudah hampir dua minggu ini mereka tidak bertemu.
"Apa... Galen masih sering mual dan pusing?" tanya Bu Winda dari seberang telepon."
"Iya, Bu! Mas Galen susah kalau diajak ke dokter. Katanya malas buat minum obatnya," tutur Aline.
"Bu... Ibu dengar aku tidak?"
"Ya... Ibu dengar! Ya sudah, tutup dulu teleponnya kapan ibu masak kalau kamu ngajak ngobrol terus."
"Oh iya, Ya sudah! Aline tutup teleponnya ya, Bu. Terima kasih kanjeng ratu, sudah mau memenuhi permintaan sangat putri!" rayu Aline dengan ucapan manisny.
"Ah, kamu, manis sama Ibu kalau ada maunya saja. Segera kemari, ibu juga mau ajak kamu melakukan sesuatu."
"Ngapain, Bu? Ah... Aline mau tidur manja saja di sana. males ngapa-ngapain bu!" tolak Aline.
"Lah kamu di rumah mertuamu juga kerjaannya malas-malasan tinggal suruh saja sama orang di sana. Sudah jangan banyak protes. Cepat kemari nanti ibu buatkan pencok kacang panjang sekalian!" ucap Bu Winda membuat Aline mau tidak mau mengiyakannya.
"Iya.. iya.. Aku segera ke sana. Sambel nya pakai jeruk limau ya, Bu!"
"Iya... Ih, kenapa kamu jadi bawel begini sih?"
"Apa sih Bu, perasaan sama saja!" elak Aline. "Ya udah, Aline tutup ya teleponnya. Sampai ketemu, Bu. Muach... " Aline menutup teleponnya.
Komunikasi itu pun terputus.
Bu Winda menggelengkan kepalanya setelah telepon itu berakhir. Ia segera berjalan mendekat ke arah laci mengambil sesuatu di sana.
Ayah Zaki yang juga berada di rumah tiba-tiba masuk ke kamar. Ia melihat benda yang di pegang istrinya.
"Kamu hamil, Bu?" Ayah Zaki langsung menyerobot dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Apa sih, Yah. Siapa yang hamil?" Bu Winda mendelik menatap suaminya.
"Lah itu yang ibu pegang apa kalau bukan alat tes kehamilan?" Ayah Zaki menunjuk benda yang di pegang Bu Winda dengan dagunya.
"Bukan ibu yang hamil, tapi alat ini mau ibu kasih ke Aline."
"Dia hamil?"
Bu Winda menggeleng pelan. "Belum tahu, belum di tes juga katanya. Sekalian sebentar lagi dia ke sini. Galen sama Aline minta di masakin sayur asem, lengkap sama temen-temennya." Bu Winda meletakkan kembali testpack yang ja pegang di atas nakas. Benda itu akan ia berikan saat Aline sudah sampai nanti.
Bu Winda merasakan tubuhnya dipeluk, tangan kekar sudah melingkar di pinggangnya.
"Bagaimana kalau kita bercocok tanam dulu, bisa jadi nanti kamu bisa hamil lagi bareng sama Aline," bisik Ayah Zaki sontak membuat Bu Winda memiringkan kepalanya sedikit mendongak menatap Ayah Zaki yang sudah menaruh kepala di bahunya.
Satu tangan Bu Winda refleks mencubit perut suaminya.
"Aw.... Sakit, Bu!" jerit Ayah Zaki sambil memegang perutnya yang terkena sikutan Bu Winda.
"Lagian mesum banget. Siang-siang ngajak kayak gituan. bukannya jadi kering, iya! Jangan macam-macam deh, yah. Awas ah, Ibu mau masak dulu, keburu Aline dan suaminya datang." Bu Winda menyenggol dan berjalan melewati Ayah Zaki yang menghalangi jalannya.
"Gak pa-pa Bu! 'Kan seru kalau kamu hamil lagi. Bakal jadi Cunak disebutnya."
Seketika Bu Winda menoleh. "Cunak?" Bu Winda tidak mengerti arti ucapan suaminya.
"Iya, Cunak. Cucu dan anak!" ungkap Ayah Zaki.
Bu Winda memutar bola matanya, malas menanggapi suaminya. Aneh-aneh saja pikir Bu Winda.
Tiap waktu bercocok tanam juga tidak jadi-jadi. Sempat mengalami telat datang bulan sampai Bu Winda membeli testpack tetapi tamu bulanan itu datang juga. Akhirnya benda tersebut tidak terpakai smaa sekali. Sebab itu alat test kehamilan itu masih ia simpan, mungkin saja sewaktu-waktu bisa digunakan.
Wanita yang masih terlihat muda itu merasa lega karena gagal hamil. Meskipun berharap ingin sekali merasakan hamil lagi, tapi tidak sekarang ini. Rasanya malu di usia yang seharusnya mempunyai cucu itu malah hamil kembali.
***
Cuaca Jakarta saat ini begitu cerah. Panas yang terpancar dari si pemilik siang hari itu begitu terasa.
"Kok, berhenti, Mas?" tanya Aline karena tiba-tiba Galen menghentikan mobilnya.
"Mas mau beli es buah dulu. Kayaknya seger banget, Yang!" Ucap Galen sembari menatap pedagang es campur di seberang jalan.
"Mas, liat aja sih! Tapi aku juga mau deh!" sahut Aline.
Apa sih yang tidak mau sama Aline sekarang ini. Segala macam jenis makanan pasti ia suka. Dan belakangan ini juga, jika Galen menginginkan sesuatu itu hanya sekedar lapar mata saja. Setiap apa yang Galen beli, ia hanya makan sedikit saja. Sisanya pasti Aline yang menampungnya.
Aline seperti penampung makanan dari Galen. Entah sampai kapan Galen mengalami ini. Mereka berdua belum menyadari kondisi yang sebenarnya.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya.
Mampir juga ke karya temanku.
__ADS_1