Fake Love

Fake Love
Masker Bengkoang


__ADS_3

Malam itu pun dua keluarga berbincang dan merencanakan perihal acara lamaran yang akan di laksanakan beberapa hari kedepan dengan obrolan ringan.


Aldo-asisten Galen tengah sibuk memberi pengarahan kepada Sandra yang akan membantunya bekerja di perusahaan.


"Kamu akan paham mengenai kerjaan ini seiring berjalan nya waktu. Untuk saat ini, Saya hanya memberikan sedikit penjelasan saja untuk besok. Karena Tuan Muda Alex belum pulih betul jadi kamu akan membantuku mulai besok!" Aldo menjelaskannya singkat. Sandra mengangguk pelan memahaminya.


Sandra hanya bertugas membawa dan menyiapkan file yang sudah di susun rapi oleh sekertaris yang akan stay di perusahaan. Beruntung waktu sekolah SMA, Sandra masuk jurusan administrasi perkantoran jadi untuk urusan kantor kurang lebih ia paham untuk hal itu.


Aldo memerlukan bantuan seseorang untuk memudahkan pekerjaannya. Sebenarnya Galen sudah siap kembali bekerja tapi, Oma melarang keras untuk itu. Oma Ratih akan mengijinkan Galen kembali bekerja setelah beberapa hari istirahat di rumah dan usai acara lamaran.


*


*


*


Dua hari kemudian


Malam ini acara lamaran akan di laksanakan di rumah Ayah Zaki. Persiapan penyambutan untuk keluarga Wijaya sedang di persiapkan. Bu Winda hanya menyiapakan jamuan untuk makan malam.


"Eh, calon penganten, loh enggak ke salon buat persiapan?" tanya Zainab saat Aline baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kayu yang berada di dapur.


"Apaan sih, Teh! hanya lamaran aja ko, nanti saja kalau persiapan pernikahan baru Aline mau tampil paripurna. Meni pedi sama luluran biar glow," jawab Aline seraya meraih bawang merah yang sedang di kupas oleh Zainab.


Awal kedatangan Zainab ke Jakarta hanya mau menjemput Aline karena Ayah Zaki ingin membatasi hubungan Aline dan Galen. Tapi semua tidak terlaksana karena Aline dan Galen sudah lebih dulu bersatu kembali. Zainab akan kembali ke Cianjur setelah acara lamaran selesai.


"Eh, ngga usah bantuin di dapur, nanti malah bau bumbu badan kamu, sana-sana biar Teteh aja yang beresin cuman nyiapin bumbu doang, ko yang masak kan si bibi," usir Zainab sambil mendorong pelan tubuh Aline.


"Ih, teteh, ga usah dorong- dorong gitu, Aline bete tau di kamar terus dari kemarin." Omel Aline sambil cemberut.


"Risa tidak kamu kabari?" tanya Bu Winda yang baru saja datang dari pintu samping.


"Sudah, Bu. Nanti sore dia baru datang ke sini!"


"Kemana saja anak itu, setelah tidak menjadi managermu, dia jarang sekali main ke sini!" oceh Bu Winda seraya mengecek kembali bahan masakan yang sedang di racik oleh Bi kesih. "Bi, nanti tolong sekalian buatin sambel ya, kita buat menu Sunda aja."


"Iya, Bu. Terus soto betawi nya gimana bu, kalau buat masakan khas sunda." tanya Bi kesih bingung.


"Masak juga, Bi!" titah Bu Winda.


Akhirnya Bi kesih dan satu orang lagi yang membantu nya masak hari ini segera menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Aline hanya memperhatikan kegiatan mereka di dapur karena saat ia hendak memegang beberapa bahan masakan ia langsung dilarang oleh Zainab, membuat Aline merasa kesal tidak boleh ini dan itu. Padahal ia hanya ingin membantu saja.


"Sudah calon penganten itu duduk manis aja di kamar," oceh Zainab pada Aline membuat sang calon penganten memanyunkan bibirnya lalu berdiri meninggalkan Zainav dan yang lainnya di dapur.


Aline kembali ke kamarnya, diraihnya ponsel yang ia letakkan di atas kasur sebelum gadis itu keluar dari kamarnya.


"Wah, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Galen." Aline lekas menekan tombol panggilan pada ponselnya.


Tut.... tut... Aline harus menunggu dan mencoba beberapa kali sambungan telponnya dengan Galen.


"Kemana dia? tadi telpon di hubungi balik malah gak diangkat?" omelnya saat ia mencoba menghubungi kembali Galen. "Huh ... menyebalkan!" gerutu Aline.


...๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ...


"Maaf! jika saya merepotkan," ujar Sandra pada Galen dan asistennya Aldo.


"Sama sekali tidak, yang terpenting ibumu harus di tolong segera!" ucapnya pada Aline. "Do... tambah kecepatan agar segera sampai dirumah Sandra jangan sampai kita terlambat menolongnya," titah Galen tegas membuat Aldo segera menuruti perintah bosnya itu.


Galen begitu sensitif ketika mendengar ibu dari Sandra mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia tidak bisa membiarkannya meskipun itu bukan siapa-siapa baginya.


Bagi Galen meskipun orang lain ia akan menolong kepada siapapun terutama seorang ibu karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang dan keberadaan seorang ibu.


"Saya merasa tidak enak jika terus mendapat bantuan darimu, Gal."


Sandra akan memanggil Galen Bapak saat di kantor dan memanggil nama saat usai jam kerja.


Galen hanya menggelengkan kepala menanggapi jawaban Sandra sambil tertawa sinis.


"Kamu beruntung masih bisa bersama ibumu, harusnya apapun akan kamu lakukan untuk keselamatannya agar ia tetap bersamamu." seru Galen membuat Sandra termenung.


"Kamu tidak tahu apa yang sudah Aku lakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu, bahkan kehormatanku pun pernah Aku jual demi mendapatkan uang untuk operasi ibu," batin Sandra hatinya teriris mengingat banyak pengorbanan yang ia lakukan untuk sang ibu.


Tak ada lagi suara yang terdengar diantara meraka. Sampai tiba di depan rumah berukuran sedang, rumah yang hanya di huni oleh Bi Erma dan Ibu Sarah, ibunya Sandra yang kini dalam kondisi kurang baik.


Sandra duduk di belakang Aldo sedangkan Galen berada di samping nya. Setelah kembali ke rumah Ibunya beberapa hari yang lalu bersama Aline.


Sandra baru mengetahui keadaan sang Ibu yang kondisinya bertambah parah ketika ia pulang ke rumahnya bersama Aline. Saat itu Sandra hanya berpamitan kepada Aline di ujung jalan jauh dari rumahnya. Sebenarnya Aline akan mengantarkannya sampai di depan rumah, tapi Sandra menolak. Gadis yang menerima tawaran pekerjaan dari Galen itu merasa tidak enak hati sudah di tolong sampai sejauh ini.


Sandra segera turun dari mobil diikuti Galen dan Aldo. Bi Erma yang menunggunya dari tadi mengomel saat melihat Sandra muncul dari pintu depan.


"Kamu dari mana aja sih?" Sembur Bi Erma tapi omelannnya langsung terhenti saat melihat seseorang ikut masuk bersama keponakannya itu lalu berbisik pada Sandra. "Dia siapa?" Bisikannya tak di gubris oleh Sandra.

__ADS_1


"Ibu?" Sandra langsung menghampiri Bu Sarah yang sedang memegangi perut karena kesakitan.


Galen tanpa banyak bicara langsung menggedong tubuh wanita yang berbaring di tempat tidur sambil menahan sakit. Sandra terpaku akan perlakuan Galen yang begitu cepat tanggap terhadap ibunya. ia segera mengikuti Galen dan menyuruh Bi Erma dengan cepat membawa beberapa keperluan ibunya.


"Bi, cepat" panggil Sandra sebelum masuk kedalam mobil.


"Do, cepat bawa ke rumah sakit terdekat dari sini!" titah Galen yang di bukakan pintu oleh Aldo, Sandra yang sudah menunggu di dalam menahan kepala Bu Sarah yang bersandar padanya.


Tak alam Bi Erma ikut masuk ke dalam mobil. Aldo lekas tancap gas melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Dalam perjalanan Galen meraih ponsel yang tertinggal di mobil saat ia membantu Bu Sarah, Pria itu terkejut melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aline. Galen lekas menekan tombol hijau untuk kembali menghubunginya. Sambungan telpon itu langsung terhubung.


๐Ÿ“ž "Yank! maaf tadi ponselku tertinggal di mobil." Galen langsung to the point menjelaskan.


๐Ÿ“ž"Hm," jawab Aline berdeham.


๐Ÿ“ž"Kamu tidak marah 'kan?"


๐Ÿ“ž "Hhmmm" lagi-lagi Aline hanya membalas dengan deheman.


Karena penasaran dengan jawaban Aline. Galen mengubah panggilan nya dengan video call alangkah terkejutnya saat melihat wajah Aline memakai topeng putih alias masker bengkuang.


๐Ÿ“ฑ "Astaghfirullahalazim, Yank lagi apa sih?"


Aline menunjuk wajahnya yang masih tertutup masker wajah lalu memberi kode kepada Galen agar menutup telponnya. ia tidak mau maskernya pecah karena bibirnya bergerak untuk bicara.


๐Ÿ“ฑ"Ok, Aku tutup.. tunggu Aku nanti malam ya." ucap Galen sambil tersenyum jahil menggoda Aline. Ia lupa kalau ada orang sakit di bangku belakang. Jika menyangkut Aline, Galen selalu lupa dengan kondisi sekitarnya.


Aline melambaikan tangan kepada Galen tapi ia melihat tiga orang wanita di belakang kemudi, saat Aline ingin menanyakan siapa mereka. Sambungan telpon itu telah terputus, membuat Aline penasaran di buatnya.


"Siapa mereka? sepertinya Aku baru melihatnya?" batin Aline.


.


.


.


.


bersambung >>>

__ADS_1


__ADS_2